Menu

[Resensi Buku] Lamafa: Pahlawan dari Lamalera


Judul                     : Lamafa
Pengarang             : Fince Bataona
Tebal Halaman       : 145
Penerbit                : Kandil Semesta
Tahun Terbit          : 2015

“Laut bagi orang Lamalera adalah cara pandang yang mengekspresikan sekaligus merepresentasikan semangat, estetika, dan kerinduan komunitasnya“ (hal viii). Demikian disampaikan oleh Yoseph Yapi Taum dalam prolog novel ini. Novel Lamafa yang ditulis oleh Fince Bataona menjadi salah satu novel yang mengangkat kisah masyarakat kecil secara sangat sederhana, tetapi memberi kesan yang mendalam.
Sebagai orang yang lahir dari rahim Lamalera, penulis novel (Fince Bataona) dengan sangat baik membahas desa Lamalera dan keseharian orang-orang di sana. Keseharian yang dilakukan oleh kaum bapak dalam melaut dan kegiatan ibu-ibu tangguh ketika harus berjalan berkilo-kilo meter untuk melakukan barter daging ikan paus dengan jagung atau pisang. 
Pisang dan jagung adalah makanan pokok masyarakat Lamalera. Hal itu disebabkan kondisi geografis Lamalera yang gersang sehingga untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka harus melakukan barter dengan orang-orang dari daerah pegunungan. Selain itu, penulis novel juga berhasil mengisahkan kerasnya hidup di Lamalera dan merekam betapa pentingnya berkorban dan berjuang untuk masyarakat.


Sebagai novel etnografis, hal ini nampak dalam tema, latar tempat dan narasi tentang lamafa dan budaya menangkap ikan paus. Lamafa merupakan pemimpin dalam perburuan ikan paus dan ’jabatan‘ itu diwariskan turun temurun. Tokoh lamafa dalam novel ini pun dengan cukup detail dijelaskan sejak dia masih kecil, proses pendidikannya menjadi lamafa hingga pada akhirnya menjadi seorang lamafa yang handal.
Sebagaimana disampaikan dalam novel ini, “seorang lamafa adalah pribadi yang sakral. Kesakralan dirinya terkandung dalam pikiran, ucapan, dan tindakannya. Dari peran lamafa yang memimpin awak peledang (perahu penangkapan ikan paus) untuk menyambut knato (Tuhan di tengah laut), tersingkap suatu makna bahwa kepada lamafa para warga kampung mendapukkan harapan agar lamafa dan rekan-rekan seperahu kembali ke darat sambil membawa ikan paus. Ikan paus itu adalah penanda bahwa warga kampung nelayan Lamalera terus hidup selama satu musim ke depan“ (hal 122).
Lamafa melakukan tugas yang sakral. Saat memegang tempuling, lamafa menggenggam harapan hidup tidak hanya untuk keluarganya, tetapi untuk seluruh warga kampung. Lamafa adalah kehidupan. Di bahunya dan para matros-lah (para pendayung perahu) harapan hidup masyarakat sekampung ditimpakkan. Keberhasilan mereka dalam berburu paus akan membawa kehidupan untuk masyarakat sekampung.

Pokok Permasalahan
Lamalera desa kecil di selatan pulau Lembata telah mendunia karena kemampuan mereka mempertahankan tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Bahkan ketika laut Sawu hendak dikonservasi oleh pemerintah, masyarakat Lamalera dengan gigih mempertahankannya. 
Setidaknya sedikit gambaran konflik itu bisa terlihat dari upaya Johanes yang merupakan putra Lamalera dan juga putra seorang lamafa dijadikan juru kampanye pemerintah agar masyarakat Lamalera setuju dengan tawaran itu.
Berikut kutipannya “Bapak dan Mama harus paham bahwa ikan paus yang kita bunuh bisa punah jadi kita harus lindungi. Kita diatur untuk tidak lagi memburu paus tetapi diberi fasilitas tangkap lain dan kita boleh menangkap ikan-ikan lain kecuali ikan paus. Hasilnya akan lebih bagus dan kesejahteraan hidup akan meningkat. Bapak, Mama bisa paham penjelasan kami?“ (hal 72)
Tentu saja usulan konyol itu ditolak oleh masyarakat Lamalera. Laut adalah sumber hidup mereka. Ikan paus adalah sumber rejeki sekaligus yang menjadi penopang hidup mereka. Konservasi yang ditawarkan pemerintah adalah teror terhadap tradisi dan keberadaan mereka. 
Bila konservasi dilaksanakan, maka itu menjadi pembunuhan terhadap eksistensi lamafa dan warga nelayan Lamalera. Apalagi penangkapan ikan paus merupakan budaya yang di dalamnya mengandung semesta kehidupan dan keberadaan orang-orang Lamalera yang memiliki, memelihara dan terus mempraktikkan budaya lefa (penangkapan ikan paus).
Dengan lantang mereka menolaknya. “Kami tidak butuh uang untuk menukar laut kami. Tidak akan pernah. Silahkan bawa kembali uang-uang itu“. Tanggapan lain yang disampaikan dalam novel ini juga tidak kalah kerasnya. “Kesejahteraan hidup seperti apa? Apakah bapak-bapak kira begitu mudahnya meninggalkan warisan leluhur kami? Hidup kami ini di laut. Melaut adalah warisan yang tidak bisa digantikan dengan apapun“. (hal 73)
Tanggapan paling pedas datang dari sang kakak Paulus Ama Atakebelen lulusan Fakultas Sosial Universitas Nusa Cendana Kupang dengan IPK 3,99 yang memilih menjadi lamafa seperti bapaknya. Dengan tegas dia menentang adiknya. “Johanes.. berhentilah bicara soal konservasi. Engkau anak Lamalera dan engkau tentu saja paham meski itu sedikit. Nelayan Lamalera sudah melakukan yang namanya konservasi itu. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan hal yang semestinya tidak perlu. Kami bukan memburu ratusan ekor ikan paus untuk kepentingan industri. Bilang pada para pejabat itu, masih banyak hal yang diurus di Lamalera sini seperti jalan yang sangat buruk dan air yang sangat sulit“ (hal 73-74).


Paulus Ama Atakebelen selain sebagai anak kandung Lamalera juga seorang lamafa tentu sangat paham dengan kebutuhan masyarakat di sana. Konservasi yang ditawarkan Johanes dan pemerintah tidak akan pernah diterima oleh masyarakat Lamalera. Masyarakat di sana mengetahui maksud dari konservasi itu karena konservasi itu hanya akan membunuh masa depan anak-anak Lamalera. Mimpi-mimpi mereka akan terbunuh dengan adanya konservasi itu.
Perburuan yang dilakukan orang Lamalera selama ratusan tahun tidak pernah mengurangi pupolasi ikan paus di lautan. Setiap tahun mereka hanya menangkap tidak lebih dari 10 ekor dan itu pun dagingnya dibagikan kepada seluruh warga kampung. Bahkan para janda selalu diprioritaskan ketika pembagian daging ikan paus. 
Itulah beberapa alasan kenapa masyarakat Lamalera menolak tawaran pemerintah untuk melakukan konservasi. Sebab mereka pun tahu kapan waktu untuk berburu ikan paus. Jadi, tidak sepanjang tahun mereka melakukan perburuan, melainkan hanya bulan Mei sampai September. Ikan paus yang diburu pun hanya jenis paus sperma dan tidak sedang hamil.
Permasalahan yang ditampilkan di atas menjadi masalah khas di sana. Lamalera sebagai wilayah tandus dan gersang tentu berharap pemerintah memperhatikan masalah air bersih dan jalan raya. Jika laut sebagai tempat masyarakat Lamalera menyambung hidup diambil pemerintah, di manakah mereka mencari sumber rejeki? Di manakah mereka mencari penghasilan untuk bisa bertahan hidup dan membiayai pendidikan anak-anak mereka?


Wisata Premium Labuan Bajo Hanya Untuk Kaum Berduit



Kamis (28/11/2019) yang lalu kita dikejutkan dengan pernyataan presiden Jokowi bahwa "Labuan Bajo ini super premium. Ini hati-hati. Saya sudah ingatkan hati-hati. Jangan sampai campur aduk super premium dengan yang menengah bawah," ujar Jokowi saat membuka Kompas 100 CEO Forum di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta. 
Bahkan, Jokowi meminta Menteri Pariwisata Wishnutama Kusubandio memberlakukan sistem kuota bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Labuan Bajo. Target yang dicanangkan presiden Jokowi yaitu, lima ratus ribu orang untuk wisatawan mancanegara dan satu juta orang untuk wisatawan nasional. Perencanaan ini tentu beresiko besar karena setelah presiden Jokowi menyampaikan idenya itu, beragam komentar disampaikan oleh masyarakat di dunia nyata atau dunia maya.
Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah penetapan Konsorsium Cardig Aero Service (CAS) dengan anggota Changi Airport Internasional Pte Ltd (CAI) dan Changi Airports MENA Pte Ltd sebagai pemenang tender pengembangan proyek Bandara Komodo di Labuan Bajo (LBJ), Nusa Tenggara Timur. Konsorsium CAS mendapat hak konsesi pengelolaan Bandara LBJ selama 25, sebelum kembali diserahkan kepada Pemerintah Indonesia sekitar tahun 2045.
Langkah ini merupakan sebuah terobosan kebijakan investasi infrastruktur Pemerintah yang ditujukan untuk meningkatkan kedatangan wisatawan manca negara (wisman) ke Indonesia. Namun masih banyak persoalan yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum peng-"asing"-an bandara dijalankan.
Belum lagi penetapan wisata premium yang dirancang pemerintah dengan biaya mencapai 14 juta untuk tiket masuk ke Taman Nasional Komodo (TNK) telah memberatkan wisatawan. Biaya sebesar itu bahkan berdampak pada beberapa turis mancanegara yang berencana berkunjung ke pulau komodo memilih untuk membatalkannya. Padahal itu hanya wacana, apa jadinya jika wacana ini direalisasikan. Mungkin pengunjung yang akan ke sana berkurang drastis karena hanya orang-orang kalangan menengah ke atas yang mampu membayar tiket masuk TNK.

Apakah Wisata Labuan Bajo Sudah Tepat Sasar?
Menjadikan Labuan Bajo sebagai tempat wisata premium sebenarnya hanya menambah derita masyarakat di sana. Dari pengalaman selama ini ada beberapa contah maslah yang telah dihadapi masyarakat Labuan Bajo. Krisis air bersih, jalan raya yang jelek, bahkan mereka sulit mengakses ke beberapa lokasi pantai yang telah menjadi milik privat pengusaha.
Pertanyaannya adalah, apa yang didapat rakyat Manggarai Barat khususnya Labuan Bajo atau masyarakat Pulau Komodo dari bisnis pariwisata premium ini? Di TNK saja, penerimaan dari pajak dan retribusi masuk senilai Rp 28 miliar tapi pemasukan untuk Manggarai Barat, daerah lokasi TNK tidak jelas. Sehingga jangan heran kalau masyarakat di sana masih tetap miskin dan kekayaan alamnya hanya dinikmati oleh segelintir orang.
Selain itu masyarakat yang tinggal di Pulau Komodo tidak diperhatikan oleh pemerintah bertahun-tahun. Dalam hal ini mungkin telalu lancang bila mengatakan bahwa Pemerintah Pusat sungguh tidak adil. Aset Taman Nasional Komodo berupa biawak komodonya diambil pemerintah pusat, sementara masyarakat miskin di wilayah TNK menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Saya yang pernah mengenyam pendidikan di Labuan Bajo pernah merasakan betapa sulitnya kehidupan masyarakat di sana. Tanah dan alamnya dijadikan sapi perah oleh pemerintah dan pengusaha sedangkan masyarakat masih hidup dalam kemiskinan.
Tidak hanya itu, terjadi suatu ironi yang tidak masuk di akal karena Pembangkit Listik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di kabupaten Manggarai diharuskan melayani kebutuhan listrik di Labuan Bajo yang secara atministrasi berada di wilayah kabupaten Manggarai Barat. Sedangkan, masyarakat Ulumbu sebagai pemilik sumber panas bumi tidak mendapatkan hasilnya. Keadaan yang sangat ironis. Kekayaan mereka hanya dinikmati oleh orang-orang kaya yang berwisata di Labuan Bajo dan mereka hanya menikmati bau belerangnya.
Labuan Bajo oleh pemerintah pusat dan pengusaha adalah ladang untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin dan mengabaikan kesejahteraan rakyat. Sudah 20 tahun Labuan Bajo dijual dan mendatangkan banyak kekayaan bagi para investor dan pelaku industri, tetapi Kabupaten Manggarai Barat sendiri tak mentas dari status “Daerah Tertinggal”. Jika demikian, masih pantaskah Labuan Bajo dijadikan wisata premium sedangkan masyarakat di sana masih berkutat dengan kemiskinan.
Keterbatasan jumlah pengunjung hanya akan mengurangi pendapatan masyarakat Labuan Bajo atau juga masyarakat Pulau Komodo. Mungkin kehidupan di Labuan Bajo sedikit lebih baik dibandingkan dengan masyarakat di Pulau Komodo. Keterbatasan segala sarana dan prasana seperti listrik, sekolah, fasilitas kesehatan dan lain-lain menjadi contoh nyata kalau kekayaan mereka mereka hanya dinikmati oleh orang-orang berduit dan pemerintah. Pemerintah mungkin menutup mata atau pura-pura tidak tahu dengan keadaan masyarakat di sana.
Semua ini disebabkan desain dan konsep pembangunan wisatanya, tidak melekat bersama konsep integral pembangunan daerah dan masyarakat Labuan Bajo. Akses air bersih lancar hingga ke kamar-kamar hotel dan kolam renang, tapi tidak ke rumah-rumah warga. Akhirnya, masyarakat di sana hanya menjadi penonton pembangunan di daerahnya sendiri. Mereka cukup menyaksikan apa yang dibangun di atas tanah leluhur mereka, tanah yang telah diperjuangkan untuk masa depan anak cucuk mereka.
Air bersih yang seharusnya diutamakan untuk masyarakat justru dialirkan ke hotel-hotel berbintang. Dan masyarakat terpaksa membeli air di mobil-mobil tangki. Alhasil, masyarakat hanya bisa menjerit tapi tak ada telinga yang ingin mendengar. Suara mereka adalah suara sumbang yang tidak perlu didengarkan karena pemerintah sedang membangun pariwisata. Pemerintah kita sedang berusaha meningkatkan devisa negara dan meningkatkan jumlah turis asing. Sayangnya pemerintah tidak peduli apakah masyarakat merasakan manfaatnya atau tidak.
Rupanya pemerintah tidak belajar dengan keadaan di beberapa kota di Eropa seperti Barcelona dan Venice yang telah muncul sikap warga lokal anti turisme. Jika hal ini terjadi di Indonesia, maka satu-satunya tempat di mana turis merasa nyaman hanyalah di kamar dan di sekitar kolam renang atau lobi hotel. Di luar itu, lupakan cerita indah tentang penduduk lokal yang ramah menyapa para wisatawan. Lupakan kekhasan masyarakat Indonesia yang ramah menyapa orang asing yang berkunjung ke tempatnya.




[Resensi Buku] Pingin Kuliah? Makanya Kaya




Judul           : Orang-Orang Biasa
Penulis         : Andrea Hirata
Penerbit       : Bentang Pustaka
Jumlah hal   : xii + 300 halaman; 20,5 cm.
Cetakan       : Pertama, Maret 2019

Novel ini ditulis berangkat dari kekecewaan Andrea Hirata yang gagal memperjuangkan seorang anak miskin yang pintar untuk melanjutkan pendidikannya di universitas. Anak tersebut sudah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Bengkulu, tapi tidak bisa melanjutkan ke tahapan selanjutnya lantaran tidak mampu membayar uang muka. Akhirnya semua mimpi itu dikubur dalam-dalam lantaran biaya tidak mencukupi.

Untuk pertama kalinya, Andrea Hirata menulis novel dalam genre kejahatan. Pembaca akan berjumpa tokoh-tokoh unik dengan pemikiran menakjubkan, yang mudah bahagia dengan hal-hal sederhana. Dengan latar belakang para tokoh yang bervariasi, membuat pembaca tidak jenuh dengan kisah-kisah yang diceritakan secara runtut oleh si penulis novel.

Harus diakui, penulis novel lihai dalam memainkan kata-kata dan perasaan pembaca. Andrea Hirata mampu mengisahkan kegetiran hidup sepuluh sekawan yang dimulai sejak bangku sekolah. Kegagalan di sekolah, di dunia kerja, hidup bermasyarakat dan masih banyak lainnya. Hingga bisa digolongkan ke dalam kelompok orang-orang gagal.

Seorang motivator yang tidak pernah diundang untuk berbicara motivasi, guru honorer yang gajinya pas-pasan, penjual mainan anak-anak yang ditinggal pergi suaminya karena meninggal dan masih banyak lainnya. Semuanya diceritakan dengan gaya bahasa yang istimewa, jenius dan sangat jenaka. Dari halaman-halaman awal saja, kita akan tertawa ngakak. Kisah sepuluh orang geng bangku belakang setidaknya akan menghibur pembaca dengan aksi-aksi mereka yang kocak.


Melalui novel ini, Andrea Hirata mengajak kita untuk tetap kritis terhadap kenyataan pendidikan saat ini. Di negeri yang berlimpah susu dan madu, untuk menikmati pendidikan yang berkualitas membutuhkan uang yang banyak. Maka, tak heran di sekolah-sekolah atau universitas-universitas tertentu hanya dapat dinikmati oleh orang-orang berduit. Novel ini mengkritik pendidikan kita yang kelewat mahal untuk orang-orang sederhana. Sebab sekolah bukan lagi menjadi ladang untuk mencerdaskan bangsa, tetapi menjadi sumber meraup pundi-pundi rupiah.

Sinopsis Novel
Belantik kota penuh kenaifan. Orang-orang yang hidup di dalamnya seakan lupa bagaimana cara berbuat jahat. Kehidupan yang begitu damai membuat Inspektur Abdul Rojali bersama seorang Sersan andalannya harus bersabar menanti masa-masa di mana kriminalitas dapat mereka taklukan. Mata Inspektur sendu menunggu kejahatan. Sosok polisi dalam dirinya perlahan terbaring, lalu lama-lama mati.

Sebatang kapur dan penghapus tergeletak di bawah papan tulis itu. Tampak benar telah sangat lama tak dipakai. Demikian minim angka-angka itu sehingga tak bisa dijadikan diagram batang, atau diagram naik-naik ke puncak bukit. Rupanya di kota ini, penduduknya telah lupa cara berbuat jahat. Wahai kaum maling, ke manakah gerangan kalian?

Di sisi lain Kota Belantik, hidup sekawanan siswa: Salud, Honorun, Junilah, Sobri, Nihe, Rusip, Tohirin, Dinah dan Handai; dikenal sebagai siswa-siswa terbelakang, baik perihal prestasi maupun posisi bangku mereka di kelas. Mereka dipertemukan karena satu nasib tragis: memiliki kebodohan luar biasa.


Payah dalam Matematika, gagal naik kelas berkali-kali, suka dibuli, juga memiliki masa depan yang redup; Semua deskripsi itu tampaknya paling tepat menggambarkan kegetiran hidup mereka.  Lalu, bergabunglah seorang idealis bernama Debut Awaluddin dalam geng siswa bangku belakang. Ia kemudian menjadi pemimpin sekaligus pembela terdepan atas ketidakadilan hidup yang menimpa kawan-kawan terbelakangnya. Meskipun pada akhirnya dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Duo Boron dan Trio Bastarian. Tetapi, sikap idealisnya telah tertanam untuk membela kawan-kawannya yang tertindas.

Ada yang menarik dari pernyataan penulis novel tentang sekawan itu “… jika sepuluh, mungkin lebih cocok disebut gerombolan. Lagi pula, sulit sepuluh sekawan dibuat cerita, pengarang yang tak kuat mentalnya akan mundur sebab bukan main sulitnya mengingat nama sepuluh orang itu” (hal.16).

Sejak zaman sekolah sepuluh sekawan selalu dibully Trio Bastardin dan Duo Boron. Nasib buruk itu berlangsung hingga mereka dewasa. Tak heran, jika sepuluh sekawan selalu kompak sejak zaman sekolah hingga dewasa. Kesamaan nasib sebagai orang tertindas dan miskin menjadikan mereka tetap kompak entah dalam hal kebaikan maupun dalam kejahatan.

Kedunguan dan keluguan mereka sebagai kawanan yang “bodoh” ternyata masih bisa melakukan sesuatu yang luar biasa. Kisah itu berubah drastis ketika Aini anak Dinah lulus di Fakultas Kedokteran di salah satu Perguruan Tinggi. Kesulitan yang dialami Dinah untuk membiayai anaknya masuk Perguruan Tinggi membuat sepuluh sekawan ini nekat melakukan tindakan kejahatan yang akan selalu diingat oleh masyarakat Belantik.

Kasus kegagalan pencurian di bank di saat masyarakat Belantik dan Inspektur menyaksikan pawai topeng monyet adalah titik baliknya. Semua mata langsung tertuju ke kasus itu. Para wartawan, polisi dan masyarakat Belantik yang selama ini selalu aman dikejutkan dengan masalah ini. 

Menarik untuk ditelusuri bahwa semua itu, dilakukan dengan tujuan membiayai pendidikan Aini yang kelewat mahal untuk mereka yang hidup miskin. Salah satu kutipan menarik dari novel ini kiranya menggambarkan perasaan sekawan ini dalam melancarkan aksi mereka:

“Tangkap! Tangkaplah orang miskin yang berjuang agar anaknya bisa sekolah! Kita ini bukan merampok, Dinah! Kita ini melawan ketidakadilan! Tengoklah banyaknya anak-anak pintar miskin yang tak dipedulikan Pemerintah! Tengoklah jurusan tertentu hanya dapat dimasuki orang-orang kaya! Tengoklah langkahnya anak-anak orang miskin jadi dokter! Mendaftar ke fakultas itu saja mereka tak berani! Padahal kecerdasan mereka siap diadu! Ilmu hendaknya hanya tunduk pada kecerdasan, bukan pada kekayaan!”.

Singkat cerita, sekawan ini berhasil merampok uang sebanyak 18 milyar. Bank yang semula menjadi target mereka, justru tidak dirampok padahal sekawan ini sudah berhasil menguasainya. Dan di sinilah kecerdasan penulis novel dalam menggambarkan sekawan ini yang malah batal merampok bank dan justru merampok di toko milik Trio Bastarian.

Dalang dari semuanya itu adalah Debut Awaluddin yang rupanya dengan sangat cerdas merancang semuanya. Trio Bastarian yang selama ini melakukan pencucian uang korupsi ternyata menjadi target utama Debut yang tidak diceritakannya kepada Sembilan kawannya.

Jika mereka sebelum-sebelumnya dikenal sebagai orang-orang gagal, tapi kali ini mereka bisa berbangga diri karena baik polisi maupun Trio Bastarian dan anak buah mereka tidak berhasil memecahkan dalang dan pencuri mereka. Uang 18 milyar ambyar seketika.

Mungkin Andrea Hirata terlalu cepat mengakhiri novelnya ini karena ada beberapa kejanggalan yang ditampilkannya. Tapi, apapun itu bagi saya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan orang-orang biasa yang mempunyai kemampuan yang luar biasa.

Untuk versi lengkapnya silahkan dibaca aja novelnya…


Kualitas Kepala Sekolah dan Guru Menentukan Kualitas Pendidikan




Meskipun terdapat banyak faktor, berbagai studi yang dilakukan satu dekade terakhir menunjukkan kepemimpinan di level sekolah menjadi salah satu faktor yang paling signifikan dalam mempengaruhi kualitas siswa. Kepemimpinan seorang kepala sekolah maupun para guru menjadi salah satu sumber untuk meningkatkan kualitas peserta didik.

Tim peneliti dari Stanford University, Amerika Serikat, melakukan observasi 1.800 sekolah di tujuh negara termasuk Brasil dan India. Mereka menemukan bahwa perbedaan antara sekolah dengan performa tinggi dan rendah hampir 50%-nya ditentukan oleh kualitas dan kebijakan kepala sekolah. Kebijakan kepala sekolah sebagai seorang nahkoda di sekolah akan berdampak pada peningkatan kualitas siswa dan para guru. Sayangnya, di Indonesia hingga kini peran kepala sekolah masih dianggap sekadar pekerjaan administratif dan kebanyakan tidak terlibat dalam upaya perbaikan kualitas pengajaran.

Dalam media Suara Pembaruan edisi Januari 11, 2020 menjelaskan bahwa Daniel Suryadarma, anggota tim penelitian SMERU mengobservasi 20 sekolah dasar dan 5 madrasah di Karawang. Mereka pun mendapati hanya terdapat persentase kecil pimpinan sekolah yang memiliki semangat membenahi pembelajaran siswa. Hal ini tentu saja mengejutkan semua pihak yang menaruh minat pada dunia pendidikan.

Hasilnya adalah 60% lebih dari 25 kepala sekolah menyatakan target mereka adalah memastikan siswa kelas 6 memiliki nilai ujian yang baik. Hanya 20% yang bertujuan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di sekolah mereka. Ini salah satu gap [celah] yang sangat kontras. Bagaimana mungkin seorang kepala sekolah hanya memikirkan nilai ujian nasional yang bisa dimanipulasi dibandingkan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di sekolahnya.

Sangat sedikit dari kepala sekolah tersebut - hanya 26% - yang berinisiatif mengamati proses belajar di dalam kelas, setidaknya sekali dalam satu bulan. Ironisnya, tim SMERU juga menemukan bahwa mayoritas kepala sekolah sudah merasa puas dengan kinerja guru-guru yang tergolong buruk – 2,5 dari 8,0 berdasarkan instrumen SMERU.

Apa yang mau disampaikan dari data-data di atas adalah kualitas pribadi seorang pemimpin akan turut mempengaruhi kualitas organisasi yang dipimpinnya. Kepala sekolah-kepala sekolah yang menjadi sampel penelitian SMERU bisa menjadi gambaran umum kepala sekolah di negara kita. Memang masih banyak kepala sekolah yang berintegritas dan berkualitas, tapi jumlahnya tidak sebanding dengan kepala sekolah yang punya kemampuan suam-suam kuku.


Jika kualitas sebagian besar kepala sekolah di Indonesia seperti yang ditampilkan oleh tim SMERU, pertanyaan sederhananya adalah pendidikan kita mau dibawa kemana? Kalau ingin kualitas pendidikan kita meningkat, tidak salah jika semuanya dimulai dari memperbaiki kualitas perangkat pendidik di sekolah. Marwah seorang kepala sekolah sebagai pemimpin yang visioner dan memajukan kualitas Pendidikan di sekolahnya adalah kriteria untuk menjadi seorang kepala sekolah.

Pelajaran dari luar negeri: harus cakap memimpin guru
Sameer Sampat, seorang peneliti sekaligus pendiri organisasi pendidikan Global School Leaders (GSL) menceritakan beberapa inisiatif yang dilakukan organisasinya di negara lain dalam memperbaiki kualitas kepala sekolah. Di India misalnya, organisasinya menjalankan Institut Kepemimpinan Sekolah India (ISLI) yang telah melatih 600 kepala sekolah di lima kota sejak 2012.

Organisasinya juga menginisiasi program serupa di Kenya dan mendampingi lebih dari 70 kepala sekolah mulai tahun 2019. Mereka menemukan beberapa karakter kunci yang harus dimiliki kepala sekolah yang baik, yang benar-benar bisa meningkatkan performa siswa.

Pertama, fokus pada inisiatif yang meningkatkan proses pembelajaran. Kedua, mereka harus benar-benar cakap dalam memimpin dan mengarahkan guru lain. Hasilnya bisa dilihat dalam perkembangan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah dampingan mereka di India, seperti kenaikan persentase siswa - dari 19% menjadi 29% - yang memiliki capaian matematika dan sains di atas rata-rata, setelah intervensi ini dilakukan.

Untuk bisa menghasilkan komunitas belajar yang bagus di level sekolah, sekolah itu sendiri justru yang harus jadi komunitas belajar. Pimpinannya belajar, gurunya belajar, siswanya belajar, semua belajar. Prinsip yang mereka tanamkan adalah sama-sama belajar dan belajar bersama. Hasilnya pun dapat dilihat dari meningkatnya kemampuan siswa di bidang matematika dan sains.

Perlunya Peningkatan Kualitas Guru
Setelah pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi kembali di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), maka anggaran pendidikan yang semulanya Rp 35,7 triliun menjadi Rp 74 triliun. Hal ini karena adanya penambahan dari anggaran pendidikan tinggi senilai Rp 39 triliun. Jumlah yang fantastis dan berguna jika dikelolah dengan baik.


Direktur Eksekutif Center of Education Regulations and Development Analysis (CERDAS), Indra Charismiadji mengatakan, dengan mengelola anggaran pendidikan yang jumlahnya semakin meningkat, Kemdikbud harus segera merampungkan blue print atau cetak biru pendidikan, sehingga anggaran triliun rupiah dapat memberi dampak yang positif.

“Mengelola anggaran ini butuh adanya blue print, tujuannya untuk menghindari uang triliun rupiah melayang tanpa ada hasilnya, karena terlihat 20 tahun anggaran pendidikan terus meningkat tetapi kemampuan anak-anak Indonesia stagnan,” kata Indra kepada Beritasatu.com, (11/1/2020).

Tentu pada akhirnya kita semua berharap Kemdikbud fokus pada masalah dasar pendidikan yakni mutu guru. Alokasi anggaran harus berpihak pada pelatihan guru mulai dari revitalisasi lembaga pendidikan tenaga kependidikan hingga pelatihan guru yang berkelanjutan. Pelatihan guru yang berkelanjutan selalu dengan harapan kualitas yang mereka miliki akan semakin meningkat. Dengan demikian, kualitas pendidikan yang diharapkan dapat terwujud dan kita tidak lagi tertinggal dari negara-negara maju lainnya.

Masalah pendidikan selalu berkaitan dengan mutu. Jadi fokus Kemdikbud adalah membenahi pelatihan guru agar benar-benar mampuni dan terukur. Kalau ingin membangun sumber daya manusia yang unggul maka pendidikan juga harus unggul. Peningkatan sumber daya manusia selalu berbanding lurus dengan kualitas pendidikan.




Manusia Indonesia yang Terjajah dalam Novel Bumi Manusia (2)


Suatu kekeliruan jika menilai Indonesia sebagai bangsa tidak jelaskan dalam novel Bumi Manusia. Novel Bumi Manusia merupakan bagian dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, selain novel Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Novel-novel ini adalah akuarium yang menggambarkan pergulatan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk membangun menjadi sebuah bangsa.

Kata “Indonesia” memang tidak ada dalam novel ini. Semua itu karena kehebatan seorang Pramoedya sebagai penulis. Secara sadar dia menunjukkan bahwa Indonesia sebagai bangsa bukan hadir karena proses alamiah. Entitas bangsa itu dibentuk untuk mencapai proses revolusi sosial melalui berbagai perjuangan dan tetesan darah. Sebuah proses pembentukan struktur sosial yang benar-benar baru dan pada akhirnya diberi nama “Indonesia”.

Pramoedya dengan begitu cerdas menunjukkan jejak langkah awal lahirnya embrio Indonesia sebagai bangsa. Dengan latar waktu awal abad ke 20, novel tersebut menampilkan proses awal terbentuknya kesadaran baru dalam melakukan perlawanan. Perlawanan yang ditampilkan dalam novel ini pun tidak lagi menonjolkan perlawanan secara fisik. Menentang orang-orang Eropa di pengadilan oleh seorang Nyai dan perlawanan Minke melalui media masa adalah model perlawanan jenis baru.


Tentu saja semua itu karena latar belakang Nyai Ontosoroh dan Minke yang telah banyak belajar dari budaya dan pendidikan Eropa. Nyai Ontosoroh yang begitu dicintai Herman Mellema mengajarnya membaca, menulis, berbicara Bahasa Belanda dan mengelolah perusahan. Nyai Ontosoroh merepresentasikan perempuan era baru dalam dekapan budaya patriarki Jawa yang meminggirkan perempuan.


Dia mengajarkan ide-ide dan nilai-nilai pencerahan Eropa kepada minke, yang sebagian telah ia pelajari sendiri, namun juga menunjukan kemunafikan Eropa dalam mengurusi koloni-koloninya (hal. 157). Di sinilah bisa kita lihat peran nyai Ontosoroh dalam membagikan keberaniannya kepada Minke. Jika Nyai Ontosoroh berani melawan pengadilan Belanda, maka Minke sebagai ningrat Jawa melawan budayanya sendiri.

Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barang kali buta huruf pula! God, God! Menghadap bupati sama dengan bersiap menampung penghinaan tanpa boleh membela diri. Tak pernah aku memaksa orang lain berbuat semacam itu terhadapku. Mengapa harus kulakukan untuk orang lain? Sambar gledek!”.

Minke menolak tata cara menyembah, merangkak, merendahkan diri, dan tidak boleh mengkritik dalam adat Jawa. “Orang Jawa sujud berbakti kepada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran. Orang harus berani mengalah, Gus” ungkap Ibu Minke. “Yang berani mengalah terinjak-injak, Bunda” jawabnya.


Pernyataan di atas tentu telah melukai hati ibunya yang dibesarkan dalam budaya Jawa. Mungkin seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berani mengatakan demikian. Dan dari sini, kita melihat keberanian Minke yang ingin adanya kesetaraan harkat dan martabat setiap manusia. Perlawanannya terhadap budayanya sendiri adalah perlawannya yang lebih kecil sebelum dia melawan bangsa kolonial yang lebih besar.

Perubahan Pola Pikir Minke
Perjumpaan dengan Nyai Ontosoroh turut mempengaruhi cara berpikir dan kehidupan Minke di kemudian hari. Nyai Ontosoroh adalah sosok Nyai yang memang benar-benar berusaha untuk bangkit. Dia sebagai sosok individu bukan dalam menyandang status sebagai pribumi namun manusia seutuhnya. Pergolakan yang terjadi di antara pihak kolonial dan pribumi merupakan bukti nyata perjuangan yang berbeda antara melawan dengan fisik dan pemikiran.

Nyai Ontosoroh dalam novel ini merepresentasikan wanita modern yang berani berpikir sendiri tanpa bergantung pada laki-laki. Kemampuannya bahkan melampaui wanita pribumi pada masa itu dan juga wanita-wanita Eropa yang ada di Pulau Jawa. Keunggulannya itulah yang membuat Minke selalu terkagum-kagum. Bagaimana mungkin seorang wanita pribumi dan bergelar nyai, menjadi pemimpin sebuah perusahan di zaman itu.  


Dalam Novel ini oleh penulis novel mengajak untuk melihat dan memahami kembali arti sebuah perjuangan dan cara memperjuangkan hak sebagai seorang manusia tanpa melihat status sosial dan kehidupan penjajahan. Bangkit menjadi manusia bebas diawali dari diri sendiri untuk berani lebih menyuarakan yang ada dalam pemikiran. “Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan Itulah memang arti terpelajar itu.”

Maka malam itu aku sulit dapat tidur. Pikiranku bekerja keras memahami wanita luar biasa ini. Orang luar sebagian memandangnya dengan mata sebelah karena ia hanya seorang nyai, seorang gundik. Atau orang menghormati hanya karena kekayaannya. Aku melihatnya dari segi lain: dari segala apa yang ia mampu kerjakan, dan segala apa yang ia bicarakan,” kekaguman Minke pada perempuan yang mengaku tidak pernah bersekolah itu (hal. 105).

Perjumpaan dengan nyai Ontosoroh kiranya menjadi titik balik perubahan pola pikir seorang Minke. Jika sebelumnya selalu mengagungkan Eropa, kali ini Minke ditantang untuk mencintai bangsanya sendiri. Perlawanan yang disampaikan dalam koran melalui buah penanya dalam Bahasa Melayu menjadi bukti nyata akan hal itu. Nyai Ontosoroh adalah wonder women. Kehadirannya melampaui wanita zaman itu.



Perlawannya bersama Minke adalah bukti bahwa siapa pun bisa melawan penjajah tanpa harus menggunakan otot. Perempuan pun bisa melawan dan menjadi pemimpin yang pada zaman itu mungkin masih tabu. Semuanya karena budaya patriarkat yang kuat. Tetapi, novel ini ingin menjungkirbalikan fakta-fakta itu. Siapa pun bisa menjadi pemimpin dan melakukan perlawanan.

Manusia Indonesia yang Terjajah dalam Novel Bumi Manusia (1)



Judul               : Bumi Manusia
Penulis             : Pramoedya Ananta Toer
Halaman          : 535
Penerbit           : Lentera Dipantara
Cetakan           : ke-17, Januari 2011

Apa alasan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, masih tetap dibaca dan dibicarakan hingga saat ini? Mungkin secara politis, novel ini ditulis pada masa pembuangannya di Pulau Buru. Novel ini, menurut penulisnya dituturkan secara lisan pada tahun 1973, kemudian ditulis secara sistematis sebagai cerita yang utuh dalam bentuk novel pada tahun 1975.
Bumi Manusia merupakan novel pertama dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya selain Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Tetralogi itu menjadi pusat perbincangan, mungkin karena dilarang oleh rezim Orde Baru semenjak tahun 1981. Anehnya ketika novel ini dilarang beredar di masyarakat luas, justru karyanya meraih sukses besar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Novel ini secara garis besar mengisahkan kisah cinta yang tragis antara Minke dengan Annelies Mellema. Tetapi kisah cinta mereka tidak sekadar menuturkan kisah asmara yang menonjolkan romantisme belaka ala anak remaja zaman sekarang. Kisah cinta mereka diselimuti berbagai latar belakang saat itu seperti politik kolonial yang represif dan diskriminatif, penjajahan, dan masih banyak lainnya.
Karakteristik penulis novel dalam mendeskripsikan situasi psikologis dan sosiologis tokoh-tokohnya sangat memikat. Dengan sudut pandang orang pertama (aku), Pramoedya memperkenalkan tokoh utama, seperti ini: “Orang memanggil aku: Minke” (hlm. 1). Nama Minke diberikan padanya ketika bersekolah di ELS. Saat itu, ada seorang gadis bernama Vera yang mencubit pahanya sebagai tanda perkenalan. Karena tidak mampu menahan rasa sakit, Minke pun menjerit kesakitan. Gurunya, Meneer Ben Rooseboom membentak dan melotot: “Diam kau, monk …. Minke!” (hlm. 33). Saat itu, Minke merupakan satu-satunya murid pribumi, sedangkan guru dan teman-temannya adalah keturunan Eropa totok. Panggilan Minke juga sebenarnya menunjukkan derajad pribumi yang rendah di mata orang Eropa.
Sejak dalam bangku sekolah Minke sudah merasakan diskriminasi rasial parah. Panggilan Minke untuknya sudah menggambarkan hal itu. Kisah perjumpaan dengan Annalies menjadi titik balik hidupnya. Annelies seorang Indo hasil perkawinan antara Nyai Ontosoroh dengan Herman Mellema. Yang digambarkan dalam novel itu bak bidadari dari khayangan yang turun dan mencari pangeran di bumi. Tidak hanya jatuh cinta, Minke pun berkeinginan untuk memperistri Annalies. Keinginannya untuk memperistri Annelies pun terwujud setelah Minke menyelesaikan sekolah HBS-nya.
Dari runtutan cerita yang ditampilkan Pramoedya, Annalies dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya, Herman Mellema, mempunyai tekanan jiwa yang akhirnya secara tragis meninggal di rumah pelacuran Babah Ah Tjong. Sementara kakak sulungnya, Robert Mellema, lebih memilih bersikap hedonisitik dengan mengumbar hobi berburunya. Pada akhirnya, Robert Mellema juga kabur tanpa diketahui secara pasti jejaknya.
Meninggalnya Herman Mellema ayah Annalies tidak berarti masalah selesai begitu saja. Justru mulai dari momentum itulah berbagai permasalahan yang berat selalu menimpa Nyai Ontosoroh. Dan bersama Minke, Nyai Ontosoroh berani melawan pengadilan kulit putih yang pada masa itu mustahil dilakukan oleh wanita pribumi.

Keberanian Nyai Ontosoroh dalam melawan pengadilan kulit putih secara garis besar oleh Pramoedya. Meskipun saat itu sistem pengadilan Eropa tidak memberikan kesempatan orang pribumi untuk membela diri. Annalies yang saat itu sudah menikah pun dipaksa untuk dibawa ke Belanda dan diasuh Maurits Mellema. Karena saat itu usianya masih remaja dan menurut hukum Eropa dia mesti hidup dibawah asuhan.
Ada beberapa fakta dari seorang Nyai Ontosoroh dari novel ini:
Pertama, Nyai Ontosoroh tetaplah figur perempuan pribumi yang tidak mempunyai hak milik apapun terhadap perusahaan dan peternakannya yang dikelola dengan sekuat kemampuan dan tenaganya hingga menjadi sedemikian besar.  Hal ini lantaran kedudukannya “hanya seorang nyai dan bukan istri sah”.
Kedua, Nyai Ontosoroh tidak mempunyai hak perwalian terhadap Annelies, putri yang merupakan darah dagingnya sendiri. Hal ini disebabkan Herman Mellema masih mempunyai istri yang sah di negeri Belanda. Dengan istrinya ini, Herman Mellema mempunyai putra yang bernama Maurits Mellema. Kehidupan suami-istri Herman-Amelia juga tidak harmonis, namun Herman dianggap menggantung nasib istrinya dengan cara tidak menceraikannya.
Secara hukum yang diterapkan oleh pengadilan Putih di Hindia Belanda, posisi serta kekuatan Nyai Ontosoroh sebagai pribumi jelas-jelas dikalahkan. Hal lain yang membuat kedudukuan pribumi semakin terpojok adalah keputusan Pengadilan Amsterdam yang menyerahkan seluruh harta-benda peninggalan mendiang Herman Mellema kepada Maurits Mellema yang tidak pernah mengeluarkan keringat dalam mengembangkan usaha itu.
Novel Bumi Manusia bukan sekadar novel yang menuturkan kisah-kasih tak sampai antara Minke-Annelies, pribumi-Indo Belanda. Justru yang harus diperhatikan secara lebih detail adalah konteks historis yang melingkupi berbagai peristiwa tragis itu. Novel-novel karya Pramoedya tidak hanya hasil imajinasi yang bersifat fiktif belaka. Selalu ada sesuatu yang dikisahkan dalam bentuk sastra.
Memang, karya sastra bukanlah sebuah historiografi yang hendak mengklaim fakta-fakta dan kebenaran suatu sejarah dalam periode waktu tertentu. Tetapi, dalam menulis novel ini, Pramoedya memperlihatkan keunggulannya dalam melakukan studi historis, sosiologis, bahkan antropologis.
Hal ini terbukti dari beberapa kesimpulan yang dapat diambil, seperti:
Pertama, kurun waktu terjadinya rentetan peristiwa dalam novel ini adalah akhir abad ke-19. Pada masa ini, di Eropa sedang mabuk abad Pencerahan (Aufklärung) yang sudah dimulai senjak abad ke-18. Ciri khusus zaman itu adalah berkembangnya ilmu pengetahuan secara meluas, semangat revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional, memisahkan pengaruh-pengaruh keagamaan dari pemerintahan, dan penaklukan tanah jajahan.
Kedua, deskripsi sosiologis kehidupan Nyai yang menjadi gundik orang Belanda. Sebenarnya, tidaklah tepat jika praktik ini dipandang sebatas relasi seksual antara pria Eropa dengan perempuan pribumi. Jelas, secara harkat kemanusiaan, praktik tersebut sangat menyakitkan karena menempatkan perempuan pribumi hanya sebagai objek seks.
Namun, di sisi lain kalangan Nyai ternyata memiliki pengetahuan dan kemampun teknis yang jauh lebih baik. Ada transfer pengetahuan di sana. Dalam novel in Nyai Ontosoroh menunjukkan ketrampilannya dalam membaca, menulis, berbahasa Belanda, mengelola perusahaan bahkan sampai pada keberaniannya melakukan perlawanan secara beradab kepada bangsa Belanda (hlm. 405).
Ketiga, beberapa aspek lain yang secara agak luas disinggung Pramoedya dalam novelnya adalah perkembangan pers yang di satu sisi mencoba memberikan keberpihakan kepada kalangan tertindas. Tetapi, di sisi lain juga digunakan sebagai ajang bisnis dengan memuat berita-berita sensasional, terutama kasus-kasus Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh.
Sebagai hal terakhir yang dapat dikomentari dari novel ini adalah Apakah sebenarnya makna Bumi Manusia? Tampaknya yang dapat menjawab itu adalah Minke sebagai tokoh utamanya. Karena “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Semua itu dia tunjukkan baik ketika sedang bersekolah, setelah menikah bahkan ketika harus berhadapan dengan pengadilan kulit putih.