Menu
Showing posts with label Corona. Show all posts
Showing posts with label Corona. Show all posts

Memahami Tri Sentra Pendidikan dan Kegalauan Orang Tua

                                      (Ket: Ki Hajar Dewantara)

Pandemi covid-19 mengharuskan sektor pendidikan menyelenggarakan pembelajaran dalam jaringan (daring), telah memunculkan berbagai keluhan dan keresahan orang tua murid. Keluhan-keluhan itu antara lain, tugas siswa yang terlalu banyak, pembelajaran kurang maksimal, orang tua kewalahan mendampingi sang buah hati, dan masih banyak keluhan lainnya.
Sekian lama orang tua melihat sekolah sebagai lembaga outsourcing untuk belajar sehingga segala beban belajar anak diberikan kepada pihak sekolah. Orang tua seolah "lepas tangan" dan memberikan sepenuhnya kepada pihak sekolah tugas yang berkaitan dengan "isi kepala" anak mereka.  Para orang tua lupa bahwa keluarga merupakan tempat pertama dan terutama bagi anak-anak. Merekalah pendamping atau guru pertama dan utama bagi anak-anak.
Pertama kali seseorang belajar berbicara, berjalan, tata krama, dan lainnya adalah di rumah bukan di gedung sekolah. Dengan demikian, keresahan yang timbul pada anak-anak selama belajar dari rumah seharusnya tidak terjadi.

Baca Juga: STEAM Sebagai Dasar Pendidikan di Masa New Normal

Sejatinya pembelajaran dari rumah yang ramai terjadi sekarang ini memberi kesempatan kepada orang tua untuk mengenal anaknya lebih baik dan meningkatkan kualitas hubungan dengan anak. Lebih dari pada itu, bagi saya sekarang menjadi momen untuk mengenalkan kembali pemikiran bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Buah pemikirannya turut mempengaruhi pendidikan Indonesia.
Dia telah meletakkan pondasi pendidikan Indonesia. Di atas pondasi inilah seharusnya pendidikan kita dibentuk dan diarahkan meskipun dalam praktiknya terkadang melenceng. Salah satu pemikirannya yang menjadi pondasi pendidikan kita adalah Tri Sentra Pendidikan.
Tri Sentra Pendidikan (Tiga Pusat Pendidikan) merupakan tanggung jawab terhadap pendidikan anak yang berlangsung di tiga lingkungan, yaitu keluarga, masyarakat, dan sekolah. Ketiganya berperan penting dalam proses pendidikan anak dan ketiganya saling mengisi serta memperkuat satu sama lain. Melalui pendidikan daring, kita pun disadarkan bahwa tanggung jawab mendidik anak sebenarnya tidak hanya menjadi tugas pihak sekolah, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat. 

Keluarga
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat terdiri dari suami, istri dan anak -- ayah dan anak -- atau ibu dan anak (lih. UU No. 52 thn 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga). Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam perkembangan individu karena dalam keluargalah anak tumbuh dan berkembang.
Dalam dunia pendidikan, pembelajaran dalam keluarga disebut sebagai pendidikan informal. Pembelajaran itu dilakukan setiap hari pada saat terjadi interaksi antara anak dengan anggota keluarga lainnya. Pada momen ini peran orang tua sebagai panutan bagi anak-anaknya sangat vital.

Baca Juga: Melakukan Revolusi Pendidikan

Orang tua berperan penting dalam membentuk dan mengembangkan karakter serta kepribadian anak. Semakin baik kualitas keluarga, maka kemungkinan semakin besar pula kualitas kepribadian dan karakter anak. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar. Karena itu, apa yang dipelajarinya di dalam keluarga akan berdampak pada kehidupan sosialnya baik di masyarakat maupun di sekolah.

Sekolah
Sekolah merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara formal atau disebut sebagai pendidikan formal. Tiga elemen penting di sekolah antara lain para guru, sarana dan prasarana, dan terutama siswa siswi.
Di sekolah, peran guru dalam memfasilitasi peserta didik dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah guru tidak lagi memberikan informasi satu arah seperti ketika ceramah. Guru saat itu menjadi fasilitator, motivator sekaligus tutor. Materi pelajaran yang disampaikan pun tidak hanya berasal dari guru. Guru dapat melibatkan siswa untuk aktif mencari informasi entah itu di perpustakaan, internet, maupun penelitian laboratorium. Dengan demikian, materi ajar pun lebih bervariasi dan pembelajaran menjadi lebih hidup.
Selain materi ajar yang bervariasi, guru dapat melakukan kolaborasi di antara mereka sehingga memperkaya materi dan metode ajar kepada siswa. Diharapkan dengan adanya kolaborasi dengan sesama guru, para siswa pun diajak untuk berkolaborasi ketika menyelesaikan tugas sekolah.
Tujuan dilakukannya kolaborasi agar peserta didik dapat mempelajari hubungan antara satu bidang studi dengan bidang studi lainnya. Karena pada kenyataannya yang dialami di dunia nyata banyak bidang studi yang tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait.
Oleh karena itu, sekolah pun perlu melakukan pembinaan pendidikan untuk peserta didiknya berdasarkan tuntutan zaman siswa di masa depan. Jadi, sejak di bangku sekolah mereka diajarkan untuk mempelajari sesuatu secara holistik dan kerja dalam tim.
Di masa pandemi sekarang, peran guru dalam kelas maya sebagai fasilitator, kolaborator, mentor, pengarah, dan teman belajar siswa. Selain itu, metode pengajaran pun tidak bisa statis seperti pembelajaran tatap muka karena hanya akan meningkatkan stress orang tua dan anak. Guru tidak hanya berkolaborasi dengan sesama guru, tetapi juga dengan orang tua. Sebab, selama pandemi dan belajar dari rumah orang tualah yang mendampingi anak belajar.

Masyarakat
Secara sederhana, masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang yang saling berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Anak dalam pergaulannya di masyarakat tentu banyak berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan orang lain. Interaksi secara langsung anak bermain dengan temannya, sedangkan secara tidak langsung anak melihat kejadian yang terjadi di masyarakat.


Baca Juga: Menakar Kesiapan Pendidikan di Era New Normal

Lingkungan masyarakat adalah laboratorium anak untuk belajar lebih luas lagi. Berbagai macam hal yang dipelajari anak di dalam keluarga dan sekolah mendapat kesempatan untuk mempraktiknya dalam hidup bermasyarakat. Dengan demikian, komitmen masyarakat untuk mendukung anak-anak belajar sangatlah berpengaruh dan menentukan perkembangan kualitas kemanusiaan seseorang.
Salah satu contoh positif di mana lingkungan masyarakat turut mendukung pendidikan anak adalah apa yang dilakukan sekelompok masyarakat di Jogja pada beberapa tahun silam. Mereka bersepakat semua TV di desa itu tidak dinyalakan pada jam belajar anak-anak pada malam hari, mulai pkl 10.00-20.00 WIB. Anak-anak fokus belajar tanpa gangguan apa pun. Bahkan, di rumah yang punya TV dan tidak ada anak yang sedang duduk di bangku sekolah pun ikut menjalankan program tersebut.

Akhirulkalam
Untuk mendidik anak bukan hanya menjadi tugas sekolah atau guru semata, melainkan menjadi tugas keluarga dan masyarakat. Keluarga merupakan komunitas pertama bagi anak untuk belajar. Demikian halnya dengan masyarakat yang merupakan ruang bagi anak untuk mempraktikkan apa yang mereka dapat dalam keluarga dan sekolah. Pengalaman-pengalaman itu sekaligus mencerap apa yang ia dapat di lingkungan masyarakat dan dibawanya serta dalam kehidupan di keluarga dan sekolah.
Keresahan orang tua dalam mendampingi anak belajar selama pembelajaran daring menyadarkan semua pihak bahwa tugas mendidik anak tidak bisa dibebankan kepada guru saja. Keluarga dan masyarakat turut berpengaruh dalam pendidikan anak. Ketiganya saling terkait dan membutuhkan untuk mendidik anak secara holistik dan mendukung berkembangnya pendidikan bagi generasi muda.

Sumber gambar: akupaham.com




Pendidikan Indonesia dan Sisi Positif Corona

                                (Ket: Seorang anak melakukan pembelajaran daring)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menguasai pendidikan. Ketika pendidikan bisa dikuasai, maka perkembangan SDM di negaranya akan dengan mudah diukur. Perkembangan SDM tidak dapat dilakukan tanpa didukung oleh kualitas pendidikan di negaranya.
Oleh karena itu, jika ingin menjadi bangsa yang kuat, maka tingkatkanlah kualitas pendidikannya. Akan tetapi, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang pendidikan kita perlu mengetahui apa saja permasalahan pendidikan di negeri ini.
Kualitas pendidikan yang rendah adalah fakta yang harus kita terima bersama. Untuk itu, presiden Jokowi memilih Nadiem Makarim seorang yang tidak memiliki backround di bidang pendidikan menjadi menteri Pendidikan.
Kita semua tahu sebelum beliau menjadi Menteri Pendidikan dia adalah CEO Gojek, perusahan startup yang sedang berkembang saat ini. Mengapa seorang CEO perusahan startup dipilih menjadi menteri Pendidikan?
Alasannya karena kemampuan beliau dalam mengembangkan perusahan itu. Presiden ingin agar bukan hanya seorang Nadiem Makarim yang bisa berkembang di perusahan strartup, tetapi tetapi lebih banyak lagi manusia Indonesia. Dengan jumlah startup 2.193 buah pada 2019, setelah Amerika Serikat, India, Inggris Raya (United Kingdom), dan Kanada Presiden Jokowi berharap agar mas Menteri mampu membuat aturan yang out of the box untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.


Untuk mewujudkan impiannya itu, maka pendidikan menjadi sektor penting yang harus dikembangkan. Metode dan sistem pendidikan yang dikembangkaan oleh menteri-menteri sebelumnya ternyata belum mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan dan di masa depan. Karena itu, butuh suatu terobosan baru di bidang pendidikan.
Bukan untuk mengatakan bahwa pendidikan kita jelek, tetapi jika diperhatikan secara fair, kita akan mengamini kalau pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 dan dirilis pada Selasa (3/12/2019).
Hasil survei menempatkan Indonesia di urutan ke-72 dari 79 negara. Studi ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak.
Untuk kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, sedangkan peringkat pertama diduduki oleh China dengan skor rata-rata 555.
Posisi kedua ditempati oleh Singapura dengan skor rata-rata 549 dan Makau, China peringkat tiga dengan skor rata-rata 525. Sementara Finlandia yang kerap dijadikan percontohan sistem pendidikan, berada di peringkat 7 dengan skor rata-rata 520.
Lantas, untuk kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Kemudian untuk peringkat satu, masih diduduki China dengan skor rata-rata 591. Lalu untuk kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat 9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Lagi-lagi peringkat satu diduduki China dengan rata-rata skor 590.

Apa Penyebabnya?
Ada beberapa alasan kenapa pendidikan kita bisa terlihat begitu memprihatinkan. Mulai dari kemampuan literasi baik dari para siswa maupun para guru. Memang mempelajari sesuatu yang baru sangat tidak enak. Tetapi, justru di situlah pendidikan kita ditantang.
Kita diajak untuk belajar sehingga keluar dari zona nyaman. Ketika guru maupun para pemberi kebijakan tidak punya keinginan untuk mengembangkan dirinya dengan meningkatkan kemampuan literasi, maka pendidikan kita sedang berjalan di jalan yang salah.
Selain itu masalah lain yang sedang dihadapi adalah orientasi kebijakan politik pendidikan yang masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi. Orientasi kebijakan pendidikan di Indonesia masih cenderung penyeragaman administrasi sistem pendidikan.


Seharusnya orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam mengajar. Kemudian membangun siswa sesuai dengan kodrad manusia secara optimal. Menurut dosen sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal kodrad manusia adalah rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, dan kolaborasi, serta menciptakan sesuatu.
Penilaian PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya Ujian Nasional. Tetapi mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan. Jadi ketika hasil survei PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh disalahkan.
Sebagaimana diketahui PISA mengukur kemampuan literasi siswa. Kemampuan ini bukan sekadar membaca. Tetapi memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual. Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar kritisnya.
Metodologi pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya guru cenderung mengejar aspek administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya. Hasil PISA yang terus menurun, kontras dengan dana pendidikan yang terus meningkat.

Apa yang Harus Dilakukan?
Pandemi Corona seperti membawa angin segar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia secara perlahan-lahan dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Jika sebelum pandemi sekolah menerapkan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran cenderung satu arah, maka di masa pandemi ini semua sekolah di Indonesia menerapkan Pembelajaran Dalam Jaringan.
Jauh sebelum corona merebak di negara kita, banyak pendidik di negeri ini entah guru atau dosen dengan keras menolak gadget digunakan selama jam pelajaran. Bahkan di media masa pun mereka menulis sekolah anti gadget. Dalam praktik sehari-hari pun tidak jarang HP siswa yang kedapatan dibawa ke sekolah dihancurkan oleh pihak sekolah.


Mungkin terdengar cukup aneh ketika terlontar pernyataan bahwa siswa dididik untuk persiapan masa depan mereka. Tetapi cara didik yang dilakukan oleh para pendidik masih mengikuti pola pendidikan zaman revolusi industri. Jika demikian, masih relevankah pernyataan Ali bin Abi Thalib agar "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zamanmu"? 

Bagi saya pernyataan ini akan selalu relevan sepanjang zaman sebab dunia akan terus berubah. Oleh karena itu, metode dan materi pembelajaran pun perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Corona telah “membantu” untuk melakukan transformasi pendidikan di Indonesia. Selama pandemi, sekolah-sekolah terpaksa harus harus melakukan pembelajaran daring. Para guru yang sebelumnya anti gadget dalam pembelajaran terpaksa harus belajar agar bisa tetap mengajar.
Suatu usaha awal yang baik, tetapi pada dasarnya tidak sesuai dengan pedagogi digital (e-pedagogy). Sebab, konten sudah tidak penting lagi karena dengan adanya internet betapa mudahnya mendapatkan konten untuk dipelajari dan sebagian besar gratis.
Fokus pendidikan era 4.0 bukan lagi apa yang dipelajari (what to learn), melainkan bagaimana caranya belajar (how to learn). Di sinilah pentingnya posisi seorang pendidik karena mereka harus membimbing peserta didik agar memahami caranya belajar termasuk belajar dengan memanfaatkan internet.
Perkembangan dan penyebaran Covid-19 adalah musibah bagi umat manusia. Akan tetapi, di balik itu ternyata ada dampak positif bagi dunia pendidikan Indonesia. Proses pembelajaran di lembaga pendidikan di Tanah Air akan menjadi lebih modern, karena dipaksa untuk melakukan kegiatan belajar mengajar dalam jaringan dan memanfaatkan gawai. Karena itu, kita pun melihat banyak guru yang terpaksa belajar konsep e-pedagogy, semua karena the power of kepepet. Inilah negara “+62”. Ketika keadaan kepepet, maka saat itulah baru akan belajar.

Menakar Kesiapan Pendidikan di Era New Normal


                       Ket gambar: Mendikbud Nadiem Anwar Makarim

Pada Senin 15 Juni 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengadakan webinar panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran dan tahun akademik baru di masa pandemi covid-19. 
Webinar ini secara garis besar Mendikbud membahas satuan pendidikan di zona kuning, orange dan merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka dan kriteria pembelajaran di wilayah zona hijau.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Komisi X DPR RI mengumumkan rencana penyusunan Keputusan Bersama Empat Kementerian tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) secara virtual.
Panduan yang disusun dari hasil kerjasama dan sinergi antarkementerian ini bertujuan mempersiapkan satuan pendidikan saat menjalani masa kebiasaan baru.

Baca juga: STEAM Sebagai Dasar Pendidikan Masa Depan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, “Prinsip dikeluarkannya kebijakan pendidikan di masa Pandemi Covid-19 adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat.” 
Tahun ajaran baru bagi pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, dan pendidikan menengah di tahun ajaran 2020/2021 tetap dimulai pada bulan Juli 2020. Namun demikian, “Untuk daerah yang berada di zona kuning, orange, dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan belajar dari rumah.”
Nadiem menegaskan, proses pengambilan keputusan dimulainya pembelajaran tatap muka bagi satuan pendidikan di kabupaten atau kota dalam zona hijau dilakukan secara sangat ketat dengan persyaratan berlapis. 
Keberadaan satuan pendidikan di zona hijau menjadi syarat pertama dan utama yang wajib dipenuhi bagi satuan pendidikan yang akan melakukan pembelajaran tatap muka.
Persyaratan kedua adalah jika pemerintah daerah atau Kantor Wilayah atau Kantor Kementerian Agama memberi izin. Ketiga, jika satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka. Keempat, jika orang tua/wali murid menyetujui putra/putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. “Jika salah satu dari empat syarat tersebut tidak terpenuhi, peserta didik dapat melanjutkan kegiatan belajar dari rumah secara penuh.
Nadiem juga mengajak semua pihak termasuk seluruh kepala daerah, kepala satuan pendidikan, orang tua, guru, dan masyarakat bergotong-royong mempersiapkan pembelajaran di tahun ajaran dan tahun akademik baru. Nadiem pun menegaskan bahwa dengan semangat gotong-royong di semua lini, saya yakin kita pasti mampu melewati semua tantangan ini.

Panduan Pembelajaran Tatap Muka pada Zona Hijau
Di luar pelarangan yang berlaku di zona kuning, orange, dan merah, tahapan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan di zona hijau dilaksanakan berdasarkan pertimbangan kemampuan peserta didik dalam menerapkan protokol kesehatan. 
Dengan demikian, urutan pertama yang diperbolehkan pembelajaran tatap muka adalah pendidikan tingkat atas dan sederajat, tahap kedua pendidikan tingkat menengah dan sederajat, lalu tahap ketiga tingkat dasar dan sederajat. Itupun harus dilakukan sesuai dengan tahapan waktu yang telah ditentukan.

Baca Juga: Beberapa Catatan Penting Dunia Pendidikan Indonesia Tahun 2020

Namun, bila terjadi penambahan kasus atau level risiko daerah naik, satuan pendidikan wajib ditutup kembali dan prosesnya akan diulang lagi dari awal.
Rincian tahapan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan di zona hijau adalah:
• Tahap I: SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, Paket B
• Tahap II dilaksanakan dua bulan setelah tahap I: SD, MI, Paket A dan SLB
• Tahap III dilaksanakan dua bulan setelah tahap II: PAUD formal (TK, RA, dan TKLB) dan non formal.
Adapun sekolah dan madrasah berasrama pada zona hijau harus melaksanakan belajar dari rumah serta dilarang membuka asrama dan pembelajaran tatap muka selama masa transisi (dua bulan pertama). Pembukaan asrama dan pembelajaran tatap muka dilakukan secara bertahap pada masa kebiasaan baru dengan mengikuti ketentuan pengisian kapasitas asrama.
Selanjutnya untuk satuan pendidikan di zona hijau, kepala satuan pendidikan wajib melakukan pengisian daftar periksa kesiapan sesuai protokol kesehatan Kementerian Kesehatan. Kemendikbud akan menerbitkan berbagai materi panduan seperti program khusus di TVRI, infografik, poster, buku saku, dan materi lain mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan pada fase pembelajaran tatap muka di zona hijau.

Luput Dari Perhatian
Setelah saya mengikuti webinar ini satu pertanyaan kecil saya adalah bagaimana dengan siswa yang secara ekonomi kurang mampu atau daerahnya susah sinyal. Corona Virus telah secara gamblang menampilkan kepada khalayak dunia kesenjangan antara pelajar yang kurang beruntung dan yang lebih beruntung secara ekonomi. Corona Virus menyingkap kesenjangan ekonomi para peserta didik.
Ketersediaan perangkat keras adalah tantangan pertama untuk membuat pembelajaran online dapat diakses dan efektif untuk semua orang. Jika keluarga tidak dapat memberi gadget, setiap siswa tidak akan dapat berpartisipasi atau mendapatkan hasil maksimal dari pelajaran mereka. Demikian juga dengan masalah koneksi internet yang tidak memadai atau bahkan tidak ada sama sekali.
Kasus seperti ini sangat familiar di negara kita. Tol langit nampaknya belum bisa dinikmati semua anak bangsa. Hanya anak-anak dari kalangan ekonomi menengah ke atas dan terjangkau oleh tol langit yang dapat menikmati pembelajaran online. 
Dengan memenuhi kebutuhan semua peserta didik, pembelajaran digital tidak akan memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan, tetapi semoga menjembataninya. Memang tidak mudah, tetapi akan lebih baik dan memberi banyak manfaat.

Baca Juga: [Resensi Buku] Pingin Kuliah? Makanya Kaya

Akan tetapi, dalam webinar Senin (15/06) Mendikbud tidak menjelaskan masalah ini. Cukup disayangkan memang. Apalagi ketika mendengar keluhan dari beberapa teman guru dan siswa di daerah yang belum terjangkau tol langit membuat mereka tidak banyak beraktifitas yang benar-benar bermanfaat untuk siswa. 
Ketika segala sarana dan prasarana terbatas mereka tidak dapat berbuat banyak. Oleh karena itu, apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah agar guru-guru semakin kreatif di tengah pandemi seperti ini? Mungkin melatih para tenaga pengajar agar kreatif dalam menyampaikan materi pembelajaran hingga mencari solusi agar orang tua tidak kewalahan ketika di rumah.
Pengalaman tiga bulan belajar dari rumah seharusnya sudah ada evaluasi di kalangan pemerintahan dan solusi untuk guru-guru atau siswa di daerah tertinggal. 
Di tengah kekurangan fasilitas yang dimiliki baik sekolah maupun siswa sudah seharusnya solusi itu telah dipikirkan dan disampaikan ke para guru. Agar di tahun ajaran yang baru setidaknya masalah-masalah yang dihadapi selama 3 bulan terakhir dapat diminimalisir. Atau sekurang-kurangnya pemerintah telah menyiapkan solusi jangka pendek agar pembelajaran di daerah susah sinyal menjadi lebih efektif.

Sumber gambar: radarcirebon.com


Covid-19: Penderitaan yang Melahirkan Harapan



Pengantar
Di manakah Allah saat ini? Apakah Allah yang menciptakan bencana ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bermunculan tatkala penderitaan merundung kehidupan manusia. Sebuah konsep yang menyalahkan eksistensi Allah tatkala penderitaan yang dihadapi tidak memiliki jalan keluar. Semakin besar penderitaannya, semakin banyak manusia yang menyebut nama Allah, entah untuk penguatan, atau pun dalam kemarahan.[1] Mereka menyebut Allah untuk sebuah pertolongan atau pun untuk menyalahkan atas situasi yang dialami.
Situasi serupa mungkin dihadapi oleh sebagian manusia yang hidup pada masa Covid-19 melanda dunia. Sekadar informasi tentang Covid-19, Covid-19 merupakan sebuah Virus yang berasal dari sebuah kota China, yaitu Wuhan. Virus ini dapat dengan mudah menyebar ke tubuh manusia. Kematian seolah-olah menjadi sebuah candaan yang dapat dengan mudah direnggutnya.
Kehadiran virus ini telah menimbulkan ketakutan, keresahan, dan kecemasan bagi banyak orang. Berhadapan dengan situasi seperti ini, tatkala manusia tidak menemukan jalan keluarnya, banyak di antara mereka mempertanyakan eksistensi Allah. Jargon-jargon yang disematkan pada diri Allah seperti Maha baik, Maha pengasih, Maha pengampun dan lain-lain seketika hilang. Eksistensi Allah pun terus dipertanyakan. Tentang Allah, manusia bertanya, bahkan menuntut: Apakah Allah ada? Jika Ia ada, mengapa Ia tega membiarkan tragedi ini menimpa manusia?[2]
 Benarkah Allah menciptakan bencana ini? Untuk menjawab itu, mungkin perlu melihat kembali perkataan tokoh klasik, yaitu santo Agustinus. Agustinus mengatakan, penderitaan dan kejahatan yang ada di dunia ini tidak boleh pernah diterangkan sebagai yang berasal dari Allah, karena itu bertentangan dengan hakikat Allah sebagai yang maha baik.[3] 


Allah pada hakikatnya adalah pribadi yang baik. Penderitaan yang menimpa manusia pada saat ini berasal dari kebebasan yang dimiliki manusia. Kebebasan membuat manusia mampu melakukan apa pun sesuai dengan kemampuannya, bahkan menciptakan kejahatan dan penderitaan. Penderitaan dan kejahatan di dunia ini disebabkan oleh manusia yang salah menggunakan kebebasannya.[4] Allah tidak pernah menciptakan penderitaan karena Allah adalah kasih.

Allah  yang  Mahabaik
Allah pada hakikat adalah pribadi yang baik. Mungkin banyak di antara kita yang mempertanyakan, apakah Allah benar-benar baik? Jika Allah itu sungguh baik, mengapa Ia menciptakan bencana? Allah tidak pernah menciptakan penderitaan dan bencana.
Allah menciptakan hukum alam yang ketika dilanggar mendapat hukum karma. Ia menciptakan kebebasan kepada manusia untuk berkuasa atas ciptaan yang lain. Namun, manusia dituntut untuk bertanggung jawab terhadap ciptaan lain. Di lain pihak, manusia tidak dapat menyangkal bahwa ia ciptaan yang lemah, dan betapa sering ia tak setia pada komitmen merawat bumi serta solider dengan sesama.[5] 
Ciptaan-Nya mencerminkan wajah Allah. Dalam kosa kata santo Bonaventura, di balik alam semesta tersembunyi rasio kekal yang mengatur, yaitu kebijaksanaan Allah.[6] Namun, banyak manusia juga berpendapat bahwa bencana dan penderitaan merupakan peringatan dari Allah.
Frankil Graham putra penginjil Billy Graham pernah mengatakan “'Tuhan akan menggunakan badai itu untuk membawa bangunan rohani. Tuhan punya rencana, Tuhan memiliki tujuan.''[7] Hal ini ia ungkapkan seminggu setelah badai Kartrina melanda Amerika Serikat, seminggu setelah New Orleands dilanda banjir dan membunuh banyak orang di Amerika Serikat. 

Lalu, terkait situasi Covid-19, apakah kehadiran virus itu merupakan ciptaan Allah? Tidak, Allah tidak pernah menciptakan penderitaan. Seperti yang St. Agustinus katakan, kebebasan yang dimiliki manusia justru menciptakan hadirnya penderitaan. Namun, bagaimana dengan kebebasan yang dimiliki manusia, apakah kebebasan itu berasal dari Allah? Karena ketika kebebasan itu berasal dari Allah, dengan sendirinya Allah bertanggung jawab atas penderitaan tersebut. Inilah problem yang kita hadapi pada saat ini. Pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi Allah bermunculan tatkala penderitaan berhadapan dengan situasi batas serta buntunya jawaban atas penderitaan tersebut.


Sejarah pun telah membuktikan kebaikan hati Allah. Dalam kitab Keluaran dikisahkan campur tangan Allah atas kehidupan bangsa Isreal. Allah menuntun bangsa Israel melalui Musa untuk keluar dari Mesir dan menuju tanah terjanji. Kebaikan diri Allah pun nyata terwujud dalam diri Putra-Nya Yesus Kristus. Yesus telah menderita untuk keselamatan manusia. Yesus mengorbankan diri untuk menghapus dosa manusia.

Salah satu metafora utama untuk menjelaskan makna kematian Kristus adalah korban atau lebih tepat korban penghapus dosa.[8] Allah telah mengutus putra-Nya untuk menghapus dosa manusia melalui penderitaan-Nya di salib. Yesus bangkit dari kematian dan mengalahkan maut dosa. Manusia pun demikian, manusia pun akan dibangkitkan bersama Kristus. Penderitaan dan kebangkitan Kristus inilah yang perlu kita refleksikan dalam menghadapi situasi manusia zaman ini, secara khusus dalam menghadapi situasi Covid-19.

Penderitaan dan Kebangkitan Kristus: Refleksi atas Covid-19
Situasi Covid-19 telah menimbulkan ketakutan dalam diri manusia, takut terkena virus lalu meninggal dunia. Bukan hanya itu, efek lain dari kehadiran virus ini berdampak pula pada tatanan ekonomi, sosial, dan politik. Kecemasan yang berlebihan pun mulai muncul, penyakit-penyakit yang memiliki indikasi seperti Covid-19 akan dicurigai, ketika bersin atau flu biasa pun diindikasikan gejala terserang Covid-19. Para kriminal melancarkan aksi dengan alasan di-PHK dari kantor.
Semua orang menggunakan segala cara agar dapat bertahan hidup, kematian sesuatu yang sangat ditakutkan. Namun, ketika  kita merefleksikan salib dan Kebangkitan Kristus, kita tidak perlu cemas dan takut akan kematian itu, karena kita yakin dan percaya bahwa kita pun akan diselamatkan oleh Kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus melahirkan pengharapan yang besar. Demikian pun dalam situasi saat ini, keyakinan umat beriman akan kebangkitan Kristus menguatkan mereka dalam menghadapi Covid-19.
Melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah membuktikan diri-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan. Ia manusia sekaligus Allah. Kebangkitan yang menjadi momen mengungkapkan jati diri Yesus.[9] Melalui kebangkitan-Nya pula, Yesus memberi pengharapan kepada umat beriman sebuah keselamatan kekal.
Kebangkitan Kristus juga merupakan wujud nyata kebaikan hati Allah kepada manusia. Allah menyerahkan Putra-Nya untuk menderita, disalib, wafat, dan bangkit demi dosa dan keselamatan manusia. Kebangkitan Kristus adalah satu-satunya harapan umat manusia pada saat ini.


Di tengah masalah Covid-19 yang belum menemukan jalan akhir, penawar Covid-19 yang belum ditemukan, rusaknya tatanan ekonomi, sosial, dan politik, serta banyak manusia yang meninggal, tentunya harapan kita ada pada keselamatan yang Yesus tawarkan. Bagi seorang Kristen, sumber dari harapan manusia ialah Yesus Kristus.[10] Yesus adalah kebangkitan yang membawa keselamatan. Ia telah bangkit dari maut, demikian pun umat-Nya akan di bangkitkan bersama-Nya.

Penutup
Situasi Covid-19 telah menimbulkan keresahan bagi manusia pada saat ini. Covid-19 telah menimbulkan kecemasan dan ketakutan, ketakutan terbesar adalah terkena virus lalu meninggal. Untuk itu, semua manusia berusaha semampu mereka untuk dapat bertahan hidup. Kehidupan akibat Covid-19 ini seperti seorang pujangga yang berpetualang di hutan sendirian dan kapan saja hidupnya dapat direnggut oleh binatang buas.
Setiap orang memikirkan bagaimana cara agar dapat bertahan hidup di tengah pandemi ini. Namun di balik semua itu, mereka memiliki harapan besar agar masalah ini dapat selesai. Satu-satunya harapan manusia pada saat ini ada pada campur tangan Allah. Sebab hingga saat, pengetahuan sains belum menemukan penawar dari Covid-19. Allah adalah pengharapan satu-satunya. [Apri Lowa]



DAFTAR PUSAKA

Sunarko, Adrianus. Teologi Kontekstual. Jakarta: OBOR, 2016.
..........., Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik. Jakarta: OBOR, 2017.
Stern, Gary. Can God Intervene?: How Religiom Explains Natural Disaster. London: Praeger, 2007.
Andreas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/.

Sumber gambar 1: localprayers.com
Sumber gambar 2: teepublic.com



[1] Gary Stern, Can God Intervene?: How Religion Explains Natural Disaster, (London: Praeger, 2007), hal. 2.
[2] Bdk. Andreas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.
[3] Adrianus Sunarko, Teologi Kontekstual, (Jakarta: OBOR, 2016), hal. 55.
[4] Adrianus Sunarko, Teologi Kontekstual, hal. 56.
[5] Bdk. Andeas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.
[6] Andreas B. Atawolo, Hasrat Allah akan Jiwa Manusia: Belajar dari Teknologi St. Bonaventura, (Jakarta: OBOR, 2017), hal. 25.
[7] Gary Stern, Can God Intervene?: How Religiom Explains Natural Disaster, (London: Praeger, 2007), hal. 6.
[8] Adrianus Sunarko, Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik, (Jakarta: OBOR, 2017), hal. 13.
[9] Adrianus Sunarko, Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik. hal. 10.
[10] Bdk. Andeas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.


Akankah Coronavirus Mengubah Pengalaman Belajar Tatap Muka?


Sejauh ini jawabannya tidak. Tetapi beberapa media pendidikan yang dapat digunakan secara online cenderung akan bertahan bahkan terus digunakan di masa depan. Masalah yang disebabkan oleh pandemi coronavirus telah mendorong banyak pihak untuk bersama-sama berjuang dalam belajar dan mengajar.
Seorang profesor di Loyola University, New Orleans mengajarkan kelas virtual pertamanya dari halaman rumahnya. Uniknya dia mengenakan pakaian santai sambil menyeruput segelas anggur. Mungkin dia merindukan kesempatan seperti ini, mengajar sambal meneguk segelas anggur.
“Apa yang kita bicarakan ketika berbicara tentang pendidikan online adalah menggunakan teknologi digital untuk mengubah pengalaman belajar,” kata Vijay Govindarajan, seorang profesor di Sekolah Bisnis Tuck di Dartmouth. Dalam proses belajar mengajar semuanya dilakukan secara online. Bahkan ujian pun harus dilakukan secara online. Apakah ini pertanda pendidikan tatap muka, akan dikurangi atau ditiadakan?
Akan ada beberapa dampak penting yang bertahan lama, seperti: sekolah dapat memasukkan media pembelajaran online ke dalam kelas konvensional. Selain itu, siswa mengalami jenis pembelajaran fleksibel yang mungkin tidak mereka sukai, sehingga mereka bisa menggantinya dengan memilih memperlajari materi lain yang mereka sukai.

Baca Juga: Pembelajaran Online Harus Bermanfaat bagi Semua Siswa

Semester ini "memiliki potensi untuk meningkatkan harapan dalam menggunakan sumber daya online untuk melengkapi apa yang kami lakukan sebelumnya, dengan cara evolusi, bukan cara revolusi," kata Eric Fredericksen, wakil presiden asosiasi untuk pembelajaran online di University of Rochester. 
Pendidikan online memungkinkan siswa bergerak dengan langkah mereka sendiri dan memasukkan fitur seperti penilaian berkelanjutan sehingga mereka dapat melompat ke depan segera setelah mereka menguasai keterampilan atau materi belajar, kata Dr. Fredericksen. Menyusun, merencanakan, merancang, dan mengembangkan kursus atau program online secara profesional dapat menghabiskan waktu dan seringkali membutuhkan orientasi dan dukungan siswa serta infrastruktur teknologi yang memadai.
Pengalaman selama ini menunjukkan adanya kesalahan atau “keliru” dengan pembelajaran online. Ada keluhan seperti pertemuan kelas panjang di ruang konferensi video, paket data atau jaringan yang kurang memadai. Tidak bisa menyamakan metode pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online. Pandemi ini menjadi kesempatan bagi guru atau para pendidik untuk lebih kreatif memberikan pengajaran kepada siswa seperti memberikan tugas kelompok atau tugas yang membutuhkan nalar kritis dan guru hanya sebagai fasilitator.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Eduventures di Amerika Serikat memperkirakan hanya sekitar 20 persen peserta didik di sana yang mengikuti kursus online pada musim gugur 2018. Ketika menghadapi pandemi seperti sekarang, hanya orang-orang ini yang memahami apa yang harus dilakukan. Mereka sudah memiliki pengalaman kursus online. Karena itu, mereka tidak akan kaget ketika melakukan pembelajaran online.

Baca Juga: Tahun 2019 Rekor Jumlah Pengungsi Terbanyak dalam Sejarah

Menurut survei  terhadap hampir 1300 siswa di Amerika Serikat oleh penyedia persiapan ujian online OneClass menunjukkan lebih dari 75% mengatakan mereka tidak berpikir mereka mendapatkan pemahaman belajar yang berkualitas. Dalam jejak pendapat terpisah terhadap 14.000 mahasiswa pada awal April oleh situs niiche.com, yang memberikan peringkat sekolah dan perguruan tinggi, fakta mencengangkan menunjukkan ternyata 67% mengatakan mereka tidak merasakan kelas online sama efektifnya ketika melakukan pembelajaran konvensional.
Sudah, lebih dari setengah orang dewasa Amerika yang berharap membutuhkan lebih banyak pendidikan atau pelatihan setelah pandemi ini mengatakan mereka akan melakukannya secara online, menurut survei terhadap 1.000 orang oleh Strada Education Network, yang menganjurkan koneksi antara pendidikan dan pekerjaan. 
Bahkan mereka yang sudah lama menghindari pembelajaran atau kursus online harus melakukannya semester ini, dalam beberapa bentuk atau lainnya. Tidak ada pilihan lain, agar dapat mengikuti pembelajaran dalam kelas maka pilihan belajar via online mutlak dilakukan.

Baca Juga: Beberapa Catatan Penting Dunia Pendidikan Indonesia Tahun 2020

Menarik pernyataan berikut bahwa bersama siswa mereka, para staf pengajar “dilempar ke ujung kolam untuk belajar media digital dan diminta untuk berenang,” kata Pak Moe. "Beberapa akan tenggelam, beberapa akan berenang ke tepi kolam dan memanjat keluar dan mereka tidak akan pernah kembali ke kolam lagi. Tetapi banyak yang akan mencari tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana berenang dan bagaimana tetap bertahan.”
Pada akhirnya, pandemi ini mengharuskan dunia pendidikan untuk menentukan langkah selanjutnya. Apakah mereka akan tetap bertahan dengan cara konvensional total atau mulai mengadopsi cara pembelajaran online dan memadukannya dengan cara konvensional. Memang belajar dengan tatap muka tidak akan tergantikan, tetapi tidak salah jika juga mulai mengadopsi metode pembelajaran via online.

Sumber gambar: https://online.jwu.edu