Menu
Showing posts with label Jepang. Show all posts
Showing posts with label Jepang. Show all posts

Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam? [2]


                        Ket: Novel Silence karya Shusako Endo


Pengantar
Novel ini merupakan salah satu novel terlaris karya Shusako Endo. Banyak orang yang mengapresiasi novel silence, akan tetapi banyak juga yang menganggap karya Shusako Endo ini hanyalah untuk ketenaran semata. Novel silence telah membawa kita pada suatu sejarah yang mungkin selama ini dilupakan bahwa agama Katolik pernah hadir di negeri Matahari Terbit.
Novel ini menghadirkan secuil kisah dari perjuangan orang Katolik pada zaman itu. Orang-orang Katolik di Jepang mengalami nasib seperti jemaat Katolik ketika ditindas oleh kekaisaran Romawi. Penulis memberikan judul novelnya tentu saja memiliki maksud tertentu, sehingga saya pun tertarik mengulas novel ini dengan judul “Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam?” 

Kegagalan Misi Katolik di Jepang dari Sisi Sosiologis
Masalah utama yang diangkat dalam novel ini adalah konflik antara Timur dan Barat, secara khusus Kekatolikan. Memang ini bukan masalah baru. Sudah banyak penulis menyampaikannnya. Akan tetapi, Shusaku Endo adalah orang Katolik pertama yang mengemukakan hal ini dengan dahsyat dan menarik kesimpulan tegas bahwa Kristianitas harus beradaptasi secara radikal kalau ingin menumbuhkan akar di “rawa-rawa” lumpur Jepang.

Baca Juga: Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam? [1]

Pengakuan Ferreira imam yang murtad dalam novel ini menjadi salah satu bukti bahwa “satu hal yang aku tahu pasti adalah agama kita tidak bisa berakar di negeri ini. Negeri Jepang ini seperti rawa-rawa. Suatu hari nanti kau akan menyadarinya sendiri. 
Dan rawa-rawa ini lebih parah dari yang biasa kau bayangkan. Setiap kali kau menanam tunas muda di rawa-rawa ini, akar-akarnya mulai membusuk, daun-daunnya menguning dan layu. Dan kita telah menanam tunas muda Kristianitas di rawa-rawa ini”[1].
Pernyataan Ferreira ini bukan tanpa maksud. Jepang disebutnya rawa-rawa karena memang semua yang datang dari luar tidak pernah berkembang di Jepang. Karena semakin ke tengah, maka akan tenggelam dalam rawa-rawa.
Begitu pula dengan kekatolikan yang ditawarkan oleh para misionaris. Ketika mereka berada di wilayah terluar Jepang mereka tidak mengalami kesulitan untuk menyebarkan ajaran Kekatolikan. Akan tetapi, ketika memasuki pedalaman tantangan besar menghadang.
Penyatuan antara ajaran Shinto dan budaya Jepang begitu melekat. Dengan penyatuan agama dan budaya yang begitu melekat, dapat dipastikan agama atau budaya lain sulit untuk masuk ke dalam kehidupan mereka. Ajaran Shinto dan budaya bangsa Jepang telah menjadi identitas yang takkan pernah terpisahkan.
Masyarakat Jepang telah memiliki agamanya sendiri dan tidak benar jika kita memaksa mereka untuk mengikuti kita. Mereka telah menemukan apa yang mereka cari dalam ajaran Shinto.
Tuhan yang dipercaya orang-orang Jepang bukanlah Tuhan orang Katolik, tuhan-tuhan mereka sendiri. “Sekian lama kita tidak menyadari hal ini dan kita yakin sepenuhnya bahwa mereka telah menjadi orang-orang Katolik”[2].

Baca Juga: [Resensi Buku] Memahami Pemikiran Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas

Lebih lanjut Ferreira menegaskan “aku mengatakan ini bukan untuk membela diri atapun mencoba membuatmu yakin. Kurasa tak seorang pun akan percaya apa yang kukatakan ini. Aku melihat bahwa sedikit demi sedikit, hampir tidak kentara, akar-akar yang kita tanam telah membusuk[3]”. Menginjili Jepang, yang diyakini sebagai "rawa-rawa", benih kekatolikan tidak pernah bisa bertumbuh dan berakar jika tidak beradaptasi.
Sampai hari ini bangsa Jepang tidak mengenal konsep Tuhan. Mereka tidak percaya pada Tuhan orang Katolik. Bangsa Jepang tidak bisa sepenuhnya memisahkan konsep Tuhan dari manusia. Mereka tidak bisa membayangkan eksistensi sesuatu yang melampaui manusia.
Bangsa Jepang membayangkan manusia yang indah dan mulia dan inilah yang mereka sebut Tuhan. Sebutan Tuhan itu mereka berikan kepada sesuatu yang memiliki eksistensi yang sama dengan manusia. Tetapi, dia bukanlah Tuhannya Gereja.
Kematian Kristianitas bukan disebabkan oleh larangan atau penganiayaan. Ada sesuatu di negeri itu yang menghambat pertumbuhan Kristianitas. Kristianitas yang mereka percayai itu bagaikan kerangka kupu-kupu yang terjerat di jaring laba-laba: hanya bentuk luarnya mereka ambil. Darah dan dagingnya sudah lenyap. 
Kepercayaan orang Jepang sangat sederhana dan mendasar, namun meniupkan keyakinan yang telah ditanamkan di Jepang oleh Gereja Katolik, bukan oleh para pejabat itu, bukan juga oleh Buddhisme[4].
Shinto sebagai agama, budaya dan simbol yang takkan pernah bisa dipisahkan dari masyarakat Jepang. Penyatuan yang erat ini menjadi tidak dapat dipisahkan karena masyarakat Jepang menemukan Tuhan dan kebahagiaan dalam ajaran Shinto.
Jika mereka sudah menemukan Tuhan dan kebahagiaan dalam ajaran Shinto, Tuhan mana lagi yang dapat membuat mereka menemukan lebih dari itu? Pengalaman kegagalan ini kiranya menjadi pelajaran bagi agama Katolik dalam bermisi.

Kesulitan Agama Monoteistik
Dari penjelasan di atas, sangat nampak betapa agama Shinto berakar dalam kehidupan masyarakat Jepang. Agama Buddha yang ajaran dan tradisinya banyak diadopsi oleh agama Shinto setelah sekian abad tetap tidak bisa mengambil alih pengaruh agama Shinto. Apalagi jika dibandingkan dengan agama monoteistik yang ajaran dan tradisinya jauh berbeda.
Sejarah telah mencatat betapa sulitnya agama monoteistik tertentu untuk berkembang di Jepang. Penyatuan agama dan budaya yang telah mendarah daging menjadi salah satu kesulitan berkembangnya agama monoteis di sana.

Baca Juga: Memaknai Trinitas dalam Kehidupan Berpancasila

Meskipun sejak zaman St. Fransiskus Xaverius agama monoteis (Katolik Roma) sudah membaptis beberapa masyarakat Jepang tidak berarti agama Katolik akan eksis. Agama Katolik yang sejak saat itu berusaha untuk hadir di Jepang ternyata tidak mampu masuk lebih dalam untuk berlama-lama hadir di sana.
Perbedaan cara berpikir dan konsep Tuhan dapat menjadi penyebab sulitnya agama Katolik atau agama monoteis berkembang di sana. Agama Shinto adalah simbol negeri Jepang.         
Konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto sangat sederhana yaitu semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak pada hakikatnya memiliki roh atau kekuatan, jadi wajib dihormati. Sejak awal sebenarnya secara alamiah orang Jepang sudah menyadari bahwa mereka bukanlah mahluk kuat. 
Di luar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Pengakuan, kekaguman, ketakutan dan juga kerinduan pada Spirit atau "Kekuatan Besar" yang disebut dengan nama Kami.

Arti Silence
Menurut saya, arti silence berdasarkan novel ini adalah Tuhan tidak memberikan jalan keluar ketika umatnya mengalami kesulitan. Tuhan seakan-akan tidak memberikan apa yang dibutuhkan oleh umat-Nya. Tuhan tidak terlihat dan sepertinya hanya diam ketika Padre Rodrigues menghadapi ujian hidup yang paling berat. 
Satu-satu orang beriman itu ditangkap, tidak untuk dibunuh. Mereka selalu punya pilihan; memilih hidup dengan syarat meninggalkan iman atau bersiap mati jika kukuh mempertahankannya.
Surat Padre Rodrigues menampilkan kenyataan bahwa semua yang beriman memilih mati demi mempertahankan keyakinan akan Kristus. Mungkin juga hal itu diperteguh oleh keyakinan bahwa kematian akan membawa mereka ke Surga, dan membebaskan mereka dari semua bentuk penindasan dan penderitaan di dunia.
“…Kalau kami masuk surga, kami akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan abadi. Di Surga tidak perlu bayar pajak setiap tahun, tidak perlu takut kelaparan dan sakit. Tidak bakal ada kerja keras di sana. Di dunia ini kami selalu saja kena masalah” kata seorang perempuan Katolik bernama Monica[5].
Agama telah menjadi candu untuk masyarakat Jepang pada zaman itu. Mereka terpesona dengan janji-janji tentang Surga yang tidak akan mengalami penderitaan atau membayar pajak terhadap Kaisar.
Arti lain dari silence menurut saya adalah para misionaris merasa ditinggalkan. Ketika mereka dalam kesulitan dan harus mengambil keputusan yang sulit, Tuhan justru ‘tidak ada’. Baik Ferreira maupun Rodrigues dibiarkan berjuang sendirian. 
“Hentikan! Hentikan! Tuhan, sekaranglah Kau harus menghentikan keheningan-Mu. Kau tidak boleh tetap bungkam. Buktikan Kau adil, mahabaik, penuh kasih. Kau harus membuka suara, untuk menunjukkan pada dunia bahwa Kau mahakuasa.”[6]
Mengapa Tuhan terus berdiam diri sementara hamba-Nya harus menghadapi pilihan yang menentukan kehidupan banyak orang. Apakah Tuhan hanya mengejek Rodrigues dan misionaris lainnya? Tidak ada yang tahu selain Tuhan sendiri.
Orang Katolik Jepang merasa mereka menderita tanpa “ada keterlibatan Allah” yang kelihatan. Mereka dibiarkan menanggung sendirian penderitaan itu. Penderitaan yang mungkin saja tidak mereka alami seandainya mereka bukan Katolik. 
Saya juga melihat arti silence sebagai operasi hening orang Katolik. Orang Katolik dalam menyebarkan ajaran agama Katolik di sana dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Pengalaman mereka seperti orang Katolik pada masa pengejaran di wilayah kekaisaran Roma.

Baca Juga: Kotak Pandora di Balik Kehancuran Jepang di Tangan Sekutu

Mereka adalah warga negara ‘bawah tanah’ dalam menyebarkan ajaran agamanya. Keheningan dalam menyebarkan ajaran agama Katolik karena takut diketahui oleh pemerintah Jepang yang sangat memusuhi agama Katolik saat itu.
Umat Katolik Jepang dengan penuh kehati-hatian dalam menyebarkan agama Katolik. “Iman Anda memberi saya kekuatan, Mokichi[7],” katanya kepada seorang Katolik yang siap dibawa menuju tempat penyiksaan. Tapi, berapa lama mereka sanggup bertahan dalam tempat yang tersembunyi, sedang otoritas senantiasa mengincar dan mencari orang Katolik hingga ke tempat tersembunyi sekalipun.
Selain itu arti silence bagi saya adalah agama Katolik tidak mendapat respon pemerintah. Meskipun agama Katolik telah lama hadir di Jepang mereka tidak pernah mendapat tanggapan dari pemerintah. Orang-orang Katolik Jepang adalah korban perselisihan politik antara Jepang versus Spanyol.
Meskipun jumlah orang Katolik Jepang sempat mencapai 400.000 orang, tetapi itu hanyalah tampak luar. “Ibarat kupu-kupu yang terjerat di jaring laba-laba. Mulanya kau yakin dia kupu-kupu—sayapnya, badannya. Realitasnya yang sejati sudah hilang dan menjadi sekadar kerangka. Di Jepang, Tuhan kita persis seperti kupu-kupu yang terjerat jaring laba-laba itu. Hanya bentuk luar Tuhan yang tersisa, tetapi sudah menjadi kerangka.”[8]

Daftar Pusataka
https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Catholic_Church_in_Japan. Diunduh Selasa 05 September 2017, pkl 08.13 WIB.
Endo, Shusaku. Silence. Penter. Tanti Lesmana. Jakarta: Kompas, 2009.




[1] Shusaku Endo, Silence, 234.
[2] Shusaku Endo, Silence, 235.
[3] Shusaku Endo, Silence, 235.
[4] Shusaku Endo, Silence, 238-242.
[5] Shusaku Endo, Silence, 183.
[6] Shusaku Endo, Silence, 164.
[7] Seorang Katolik yang menjadi Katekis ketika Rodriques tiba di Jepang.
[8] Shusaku Endo, Silence, 237

Kotak Pandora di Balik Kehancuran Jepang di Tangan Sekutu



Perang dunia kedua memang telah lama berakhir, 74 tahun silam. Jepang yang menyerah kepada sekutu Amerika menjadi simbol berakhirnya perang mahadahsyat itu. Narasi yang berkembang di kemudian hari bahwa Jepang menyerah karena peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Narasi ini memang tidak seluruhnya salah, sebab faktanya pasca kedua kota itu dihancurkan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Apakah murni karena faktor dibom ataukah ada faktor lain yang tidak disampaikan oleh sejarawan? Semuanya masih serba abu-abu. Karena pada akhirnya sejarah ditulis hanya untuk para pemenang.
Dalam FP Insider Acces, Ward Wilson, peneliti senior British American Security Information Council, memaparkan secara mendalam penyebab terjadinya bom di Hiroshima dalam tulisannya dengan judul yang cukup mencolok "The Bomb Didn’t Beat Japan … Stalin Did". Di dalamnya, Wilson mengemukakan fakta-fakta seputar peristiwa jahanam itu yang selama ini jarang diekspos.
Wilson membongkar kengawuran persepsi yang berkembang dan kuat tertanam dalam pikiran banyak orang (kelompok tradisionalis) bahwa kehancuran kedua kota itulah yang menjadi alasan di balik Jepang menyerah kepada Amerika dan sekutunya. Menurut penulis Five Myths About Nuclear Weapons (2014) itu, persepsi yang muncul dari kaum tradisionalis itu ada benarnya. Namun, sebuah kengawuran dan kecerobohan jika menganggapnya sebagai faktor tunggal.
Wilson mencatat, ketika bom pertama jatuh pada 06 Agustus 1945 di kota Hiroshima untuk pertama kalinya terjadi perseteruan antara enam Anggota Dewan Tertinggi Jepang. Akan tetapi, hal itu tidak membuat Anggota Dewan mau menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Barulah, pasca bom diledakkan untuk kedua kalinya pada 09 Agustus di kota Nagasaki, mereka mendiskusikan untuk menyerah kepada Sekutu.
Alasan di balik mereka agak lama mengambil keputusan untuk menyerah adalah karena mereka juga punya program nuklir. Jadi, pasca ledakan pertama, mereka bukannya tidak tahu-menahu efek bom atom. Bom atom hanyalah dua kerusakan di antara kerusakan masif lain yang dihasilkan oleh serangkaian serangan-serangan udara AS sepanjang tahun 1945.
Dalam catatan Wilson, pada periode Perang Dunia II, terdapat 68 kota di Jepang yang diserang dan semua atau separuhnya hancur. Tak kurang 1,7 juta jiwa menjadi pengungsi, 300 ribu orang terbunuh, dan 750 ribu lainnya luka-luka. Setiap serangan di satu kota diperkirakan terdiri dari 4-5 kiloton bom. Bom Hiroshima seberat 16,5 kiloton dan Nagasaki 20 kiloton. Jadi, beberapa serangan bom non-atom sebenarnya sudah setara dengan satu bom atom.
Jika melihat jumlah korban jiwa di 68 kota yang dibom pada 1945, Hiroshima berada di urutan kedua. Dari segi luas daerah yang hancur, Hiroshima berada di peringkat keempat. Dari segi persentase kehancuran, Hiroshima berada di urutan ke-17.
Menurut Menteri Luar Negeri Shidehara Kijuro, tulis Wilson, masyarakat Jepang secara bertahap sudah terbiasa dibom setiap hari. Malah seiring waktu, persatuan dan keteguhan mereka semakin kuat. Di level Dewan Tertinggi Jepang juga demikian, tidak ada diskusi khusus atau menyeluruh terkait pengeboman kota-kota. Karena itu, tidak mengherankan jika bom atom tidak dianggap lebih mematikan daripada rangkaian serangan bom-non atom yang dilancarkan berbulan-bulan sebelumnya.
Wilson dan sejarawan revisionis lain, yaitu Tsuyoshi Hasegawa dalam Racing the Enemy: Stalin, Truman, and the Surrender of Japan (2006), menjelaskan bahwa ada faktor yang lebih signifikan dibanding bom atom, yaitu ancaman dari Uni Soviet yang semakin nyata. Secara gamblang dijelaskan bahwa sejak awal tahun 1945, Jepang semakin lemah serta mengalami kekalahan militer di banyak tempat, baik saat invansi maupun mempertahankan koloni.
Sejak awal tahun 1945, pasukan sekutu telah menuntut Jepang menyerah tanpa syarat atau akan diserang habis-habisan. Anggota Dewan Tertinggi Jepang tidak pernah satu suara memenuhi tuntutan tersebut. Menyerah tanpa syarat dianggap sebagai sikap yang terlalu merugikan dan pecundang. Karena itu, Jepang berpaling ke Uni Soviet agar mau memediasi akhir perang yang bisa menguntungkan pihak Jepang maupun sekutu.
Langkah ini terbilang logis mengingat tahun 1941 Jepang dan Uni Soviet punya pakta netralitas untuk mencegah keduanya saling bertikai. Sayangnya, sikap Uni Soviet cenderung dingin dan condong mendukung sekutu di bawah pimpinan Amerika. Sebab, Soviet sebenarnya telah membuat kesepakatan dengan sekutu dalam Konferensi Yalta. Isinya adalah sekutu tidak akan menerima perdamaian bersyarat dari Jepang.
Pada akhirnya, Soviet memilih mendukung sekutu. Pada 09 Agustus 1945, ketika Nagasaki dibom pasukan Sekutu, Soviet melanggar pakta netralitas dengan Jepang dan menyatakan perang terhadap Jepang. Mereka pun meluncurkan serangan militer dengan tujuan untuk menginvasi Mauchuria. Tidak hanya itu, pasukan Soviet yang sebelumnya bertempur di Eropa segera dipindahkan ke Asia Timur jauh untuk menaklukkan Jepang.
Atas dasar itulah, Jepang berpikir bahwa invasi Rusia jauh lebih nyata dan berbahaya dibandingkan ancaman invasi AS yang dijadwalkan masih dalam waktu yang lama. Apalagi, saat itu, pasukan Jepang sedang konsentrasi di wilayah selatan untuk menghadapi sekutu, membuat wilayah utara yang menjadi pintu masuk Soviet kian melemah. Kondisi inilah memaksa Jepang untuk mengambil keputusan secepat mungkin.
Situasi akhirnya meyakinkan seluruh Anggota Dewan Tertinggi untuk menyatakan penyerahan diri pada 15 Agustus 1945. Pengumuman yang disebar melalui radio itu terasa getir dan pilu, terutama bagi warga maupun tentara Jepang yang masih berdaya juang tinggi. Amerika Serikat terkejut atas keputusan ini. Mengingat pasukan Jepang sebenarnya masih sanggup untuk melakukan perlawanan. Meskipun mereka juga mengetahui bahwa posisi Jepang cukup sulit karena saat itu juga sedang diserang oleh Soviet dari arah utara.
Menurut sejarawan Jepang Yuki Tanaka, deklarasi perang Soviet kepada Jepang memang lebih kuat pengaruhnya terhadap keputusan menyerah tanpa syarat ketimbang dua bom atom yang dijatuhkan oleh AS. Jepang menghindari perang dengan Soviet sebab jika Soviet menang mereka akan mengeksekusi Kaisar Hirohito. Kaisar adalah hati dan jiwa masyarakat Jepang. Ia terlalu berharga untuk masyarakat Jepang, apalagi jika harus dibunuh musuh. Tidak hanya itu, ancaman lain dari Soviet adalah akan menghancurkan sistem kekaisaran dan mengeksekusi semua anggota keluarga kaisar. Inilah ketakutan terbesar Jepang.
Bom atom bukan ditujukan untuk mengakhiri perang. Bagi Jepang, dua bom atom tidak memberikan dampak signifikan jika dibandingkan dengan kerusakan besar yang telah dilakukan sebelum kedua bom itu dijatuhkan. Selain itu, bom atom hanya dijadikan pertunjukan kekuatan di hadapan Soviet. Amerika menyadari bahwa Soviet dengan segala persenjataan yang mereka miliki saat itu akan menjadi lawan perang dalam bentuk lain di masa mendatang. Dan memang benar, pasca Perang Dunia II, kedua negara adikuasa itu terus berjibaku dalam perang dingin hingga kehancuran Uni Soviet tahun 1989.
“Kami (AS) punya senjata keren, nih. Kami punya monopoli atasnya, dan kami akan berkembang menjadi super-power terkuat. Dalam arti lain, bom atom adalah pembukaan perang dingin itu sendiri,” pungkas Kingston. Bom atom hanya dijadikan sebagai ajang pamer kekuatan untuk menakut-nakuti Uni Soviet.

Bom atom bukan ditujukan untuk mengakhiri perang. 
Bom atom hanya dijadikan pertunjukan kekuatan di hadapan Soviet.


Sketsa Manusia Indonesia dalam Novel Cantik Itu Luka (1)




Judul                           : Cantik itu Luka
(English Version)        : ‘Beauty is A Wound’
Pengarang                   : Eka Kurniawan
Tebal Halaman            : 479
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kesepuluh, Juni 2016
Diterbitkan pertama kali oleh AKYPress dan Penerbit Jendela, Desember 2002

Novel dibuka dengan kisah magis kebangkitan sang tokoh sentral, Dewi Ayu. “Ketika pada suatu sore di akhir pekan bulan maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematiannya”. Dewi Ayu adalah perempuan keturunan Indo-Belanda. Bergidik ngeri namun menimbulkan sejumlah deretan pertanyaan terutama mengenai waktu latar belakang kejadian yang sengaja tidak disajikan oleh sang penulis.
Lambat laun, pelan dan pasti sesuai dengan sinopsisnya terceritakanlah mengenai bagaimana kematian sosok Dewi Ayu, seorang pelacur yang terkenal akan kecantikannya di seluruh pelosok Halimunda. Dia mati setelah beberapa hari melahirkan anak keempatnya yang tidak diketahui siapa gerangan ayahnya.
Anak tersebut lahir begitu buruk rupanya tidak seperti dengan ketiga kakaknya yang semuanya cantik. Itulah yang terjadi, meskipun secara cukup ironis ia memberikan nama Si Cantik kepada anak yang baru dilahirkannya. Tampang dan bentuk tubuh yang buruk ternyata tidak menjadi soal bagi seorang Ayu Dewi memberikan nama Si Cantik kepada putri bungsunya yang buruk rupa.
Hingga suatu masa dia hidup kembali, bertemulah Dewi Ayu dengan Si Cantik yang kini telah menjadi perempuan dewasa dengan sosok sesuai dengan doa-doanya: Anak bayi yang hidungnya menyerupai colokan listrik, telinganya sebagai telinga panci, mulutnya bagaikan mulut celengan dan rambutnya menyerupai sapu dengan kulit serupa komodo dan kaki serupa kura-kura. Maka, berbanggalah dia atas itu semua.
Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin.” - Dewi Ayu. (hal. 4)
Kenyataannya mau cantik atau tidak, kutukan tersebut selalu mengitari kehidupan Dewi Ayu. Ketika Si Cantik ternyata hamil secara misterius tanpa gerangan mengetahui ayahnya - sama seperti yang terjadi dengan ibunya sendiri sepanjang hayat.
Maka, ketimbang melanjutkan perjalanan hidup Si Cantik, Eka selaku penulis memundurkan waktu pada masa sebelum Dewi Ayu menjadi sesosok pelacur.  Semua itu berawal ketika Dewi Ayu hanyalah sosok gadis Belanda yang jatuh cinta pada seorang pria tua bernama Ma Gedik yang belum pernah ditemuinya.


Dewi Ayu pun memaksa Ma Gedik kawin dengannya akibat terobsesi dengan kisah cinta pria itu dengan Ma Iyang, yang menghilang ditelan kabut ketika lari bersama Ma Gedik ke atas bukit demi cinta mereka berdua. Walaupun akhirnya, di hari selepas pernikahan mereka, Ma Gedik memutuskan kabur menjerit-jerit bagai dikejar setan dan terjun dari puncak bukit, terhempas ke bebatuan dan wajah-nya babak belur seperti daging cincang.

Awal Mula Menjadi Pelacur
Setelah itu cerita berjalan bagaikan mozaik yang terkonstruksi dengan dinamis. Pelan-pelan para pembaca akan dibawa kembali kepada masa kekuasaan Jepang di tanah ibu pertiwi.
Dalam situasi pendudukan Jepang, Dewi Ayu tetap memilih bertahan di Halimunda, walau semua anggota keluarganya kembali pulang ke negeri Belanda. Ia mengambil resiko untuk ditundukkan dalam pendudukan Jepang. Ternyata tentara Jepang tahu juga bahwa meskipun memiliki nama lokal, Dewi Ayu adalah orang Belanda.
Sebagaimana nasib orang Belanda lainnya pada waktu itu, Dewi Ayu ditangkap dan ditahan di suatu tahanan yang digambarkan sangat tidak manusiawi: gelap, becek, persediaan makanan yang mini, ancaman malaria. Bahkan dikisahkan ia mesti merebus darah kutu sapi sebagai makanan di tahanan agar bisa bertahan hidup.
Dalam rasa frustrasi di penjara itu, nasib baru menjemput Dewi Ayu dan beberapa perempuan lain. Setelah lolos serangkaian seleksi, Dewi Ayu dan beberapa perempuan cantik lain diam-diam dijadikan pelacur untuk memenuhi kebutuhan birahi para tentara Jepang yang tak tertahankan dalam situasi perang. Penderitaan jenis lain lantas menimpa perempuan-perempuan cantik ini.
Gedung yang indah dan disediakan perawatan layaknya perempuan istana, tidak bisa mengkompensasi begitu saja luka yang mendalam akibat perkosaan tentara-tentara Jepang yang dilakukan setiap malam.
Banyak perempuan yang tidak tahan sampai mencoba bunuh diri. Tapi lain halnya dengan Dewi Ayu. Diam-diam Dewi Ayu bisa beradaptasi dengan dunia prostitusi ini sebagai jalan bertahan hidup. Bahkan ia pun menerima kehamilannya oleh salah seorang petinggi tentara Jepang. Dengan sabar ia merawat janinnya hingga terlahir seorang anak cantik, bernama Alamanda.
Masa pendudukan Jepang lewat. Dewi Ayu tetap menjadi pelacur. Awalnya pilihan itu merupakan keterpaksaan sebagai satu-satunya jalan membayar hutang kepada Mama Kalong (pengelola tempat pelacuran) untuk mendapatkan lagi rumahnya dulu yang masih amat dia cintai. Tapi ia juga sebenarnya menikmati menjadi pelacur profesional (mematok bayaran paling mahal), bahkan justru kian hari ia menjadi pelacur paling ternama dan disegani di Halimunda.
Selain karena Dewi Ayu teramat cantik, tidak bisa dimungkiri juga ia memang selalu bercinta dengan penuh cinta dengan para pelanggan yang sengaja ia batasi perharinya. Hal ini yang lantas membuatnya menjadi sumber kebahagiaan kota sebab para laki-laki selalu mengalami persetubuhan dengan Dewi Ayu menghadirkan sensasi malam pertama mereka.
Meskipun menjadi pelacur, Dewi Ayu tidak menolak kehamilan. Dari seorang pejuang revolusi ia melahirkan satu orang anak perempuan lagi. Dan dari seorang lain lagi, Dewi Ayu mempunyai anak perempuan juga. Keduanya, Adinda dan Maya Dewi mewarisi kecantikannya yang amat mempesona.
Plot novel lalu digerakkan oleh peristiwa-peristiwa yang katakanlah manjadi konsekuensi kecantikan Dewi Ayu, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Masing-masing anaknya tersebut memiliki kisah asmara tersendiri yang pada akhirnya berakhir tragis dan mengenaskan.
Melalui kisah asmara yang dibalut orkes sakit hati keempat putri Dewi Ayu ini pembaca akan melihat jalinan plot novel yang berkelindan dengan kompleksitas situasi sosial, politik, ekonomi dan carut marut realitas Halimunda dari waktu ke waktu.

Bangunan Cerita
Tampak bahwa novel ini mendasarkan cerita pada sebuah tragedi keluarga. Ada penggunaan silsilah keluarga sebagai kerangka. Ada kontinuitas yang jelas antar tokoh dalam novel ini. Tokoh-tokoh yang ada terjalin dengan keluarga Dewi Ayu. Tragedi selalu menjadi kata akhir kehidupan para tokoh dalam novel ini. Semua tokoh dibunuh oleh penulisnya dan meninggalkan janda-janda menyedihkan.
Kedua, dalam pengkisahan keluarga Dewi Ayu, tampak tema sakit hati ikut menentukan alur cerita. Hal ini misalnya kuat dalam kisah asmara Kamerad Kliwon sang pujaan dengan Alamanda, sang penakhluk. Relasi-relasi antara tokoh, misalnya Maman Gendeng – Shodanco dan juga Shodanco dengan Kamerad Kliwon sangat kental suasana konflik dan logika sakit hati.

Unsur ketiga yang juga kuat dalam novel ini adalah erupsi-erupsi irasionalitas manusia. Ada banyak penggambaran sisi dalam diri manusia yang kadang terasa irasional. Erupsi-erupsi irasionalitas manusia ini tampak jelas dalam kehidupan seksualitas para tokoh dalam novel.
Unsur yang kental juga dalam novel ini adalah narasi sejarah bangsa Indonesia. Kelindan antara plot novel dan perjalanan sejarah bangsa ini misalnya terlihat dari dinamika tiga laki-laki dalam suatu pertarungan menikahi anak Dewi Ayu. Hasrat birahi dianalogkan dengan gejolak pertarungan kekuatan politik dalam sejarah Indonesia.
Ketiga laki-laki tersebut memiliki latar sosial politik berbeda. Shodanco adalah seorang komandan militer yang pernah melakukan pemberontakan pada masa pendudukuan Jepang dan lalu dipuja sebagai pahlawan kota karena berhasil menumpas babi hutan yang merajalela waktu itu. Kamerad Kliwon seorang pemuda pujaan yang lantas menjadi aktivis partai komunis. Dan Maman Gendeng seorang preman yang paling disegani di Halimunda karena kekuatan bertarungnya. Ketiga tokoh yang berdinamika mendapatkan hati anak-anak Dewi Ayu ini seolah memberi ilustrasi pertarungan kekuatan-kekuatan politik yang pernah tercatat dalam sejarah indonesia.