Menu
Showing posts with label pendidikan abad ke-21. Show all posts
Showing posts with label pendidikan abad ke-21. Show all posts

Apa Itu Pendidikan 4.0? Bagaimana Anda Beradaptasi dengan Sistem Ini?



Cara Revolusi Industri 4.0 mengubah dunia dan teknologi seperti Internet of Things (IoT), Big Data, dan Artificial Intelligence (AI) memengaruhi industri besar, dan pada gilirannya mengubah dunia pekerjaan. Hal ini dapat dianggap mirip dengan mengganti pekerjaan manual dengan mesin sebagai dampak dari revolusi di abad ke-21.

Dampak ini menyiratkan bahwa Industri 4.0 tidak hanya akan memengaruhi industri tetapi juga akan mengubah cara pandang pekerjaan dan pendidikan, sehingga menghasilkan revolusi pendidikan 4.0.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa revolusi industri keempat akan memengaruhi peran yang dipersiapkan oleh para siswa saat ini. Revolusi ini membutuhkan lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja untuk bekerja di era yang terus mengalami perubahan.

Baca Juga: Merdeka Belajar Sebagai Merek Swasta?

Lebih lanjut, revolusi ini juga membutuhkan tenaga kerja untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka agar sesuai dengan peran pekerjaan yang baru. Sebab dunia kerja pun terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk itu, revolusi dalam pendidikan sangat penting dan memungkinkan orang di seluruh dunia memanfaatkan peluang yang diciptakan oleh kemajuan teknologi. Tidak bisa tidak, untuk mampu beradaptasi dengan segala perubahan di masa depan dimulai dari revolusi pendidikan.

Transformasi industri pendidikan ini akan menjadikannya lebih personal, peer-to-peer, dan proses yang berkelanjutan. Jadi, apa itu pendidikan 4.0? Mari kita lihat beberapa petunjuk yang bisa menggambarkan masa depan pendidikan:

Revolusi pendidikan akan memenuhi kebutuhan Industri 4.0 yang memungkinkan tenaga kerja dan alat-alat menyelaraskan diri untuk mengeksplorasi kemungkinan baru.

Tujuannya untuk menyebarkan potensi teknologi digital, sumber konten terbuka dan data yang dipersonalisasi dari dunia yang terhubung secara global dan didukung oleh teknologi.

Menciptakan cetak biru pendidikan untuk masa depan pembelajaran - mulai dari pembelajaran berbasis di sekolah hingga pembelajaran di tempat kerja.

Baca Juga: Tahun Ajaran Baru, New Normal, dan Pendidikan Berbasis STEAM

Berikut beberapa tren dalam revolusi pendidikan:

Mempercepat Pembelajaran Jarak Jauh
Pendidikan 4.0 memungkinkan pembelajaran dapat diakses kapan saja, di mana saja karena alat dan aplikasi e-learning akan memberikan peluang untuk pembelajaran jarak jauh dan mandiri.

Peran ruang kelas akan berubah di mana pengetahuan teoritis akan diberikan di luar kelas sementara pengetahuan praktis atau pengalaman akan disampaikan secara tatap muka.

Pembelajaran yang Dipersonalisasi
Pendidikan 4.0 juga akan memungkinkan pembelajaran yang dipersonalisasi untuk siswa bergantung pada kemampuan mereka. Artinya, siswa yang di atas rata-rata akan tertantang dengan tugas-tugas yang sulit dibandingkan dengan siswa yang di bawah rata-rata. Karena itu, pembagian tugas pun untuk setiap siswa akan berbeda satu dengan yang lainnya.

Akan ada proses pembelajaran individual bagi setiap siswa. Hal ini akan berdampak positif karena memungkinkan siswa untuk belajar sesuai kemampuan dan kecepatan mereka memahami materi ajar.

Sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih baik tentang konsep dan hasil yang lebih baik secara keseluruhan. Di sisi lain juga membantu para guru untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan setiap siswa secara individu dan membimbing mereka sesuai dengan kemampuan siswa.

Pilihan Alat Pendidikan
Bagian dari pendidikan 4.0 adalah teknologi atau perangkat yang digunakan oleh siswa untuk mengenyam pendidikan. Sementara setiap mata pelajaran memiliki seperangkat pengetahuan dan informasi yang dapat dipahami siswa dan jalan untuk memahami pengetahuan itu dapat bervariasi.

Artinya, siswa dapat memilih alat dan teknik yang mereka inginkan untuk memperoleh pengetahuan ini. Teknik seperti pembelajaran campuran, BYOD (Bring Your Own Device) dan ruang kelas yang terbalik adalah beberapa contohnya.

Pembelajaran Berbasis Proyek
Ekonomi freelance sedang meningkat dan akan terus berlanjut. Hal ini berarti bahwa siswa zaman sekarang perlu beradaptasi dengan gaya belajar dan bekerja berbasis proyek.

Mereka perlu mengasah keterampilan dan belajar bagaimana menerapkan dan membentuknya sesuai situasi yang terjadi di lapangan. Jadi, siswa harus terbiasa dengan pembelajaran berbasis proyek selama pendidikan entah itu di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi.

Bagian dari Pendidikan 4.0 ini akan mengajari keterampilan berorganisasi, keterampilan manajemen waktu, dan keterampilan kolaboratif, yang dapat mereka gunakan lebih lanjut dalam karier akademis dan juga pekerjaan mereka di masa yang akan datang.

Pengalaman Khusus Lapangan
Karena integrasi teknologi dalam domain tertentu memfasilitasi efisiensi yang lebih tinggi; kurikulum pendidikan sekarang sebaiknya mengakomodasi lebih banyak keterampilan yang membutuhkan pengetahuan manusia dan kemampuan analisis yang memadai.
Tujuannya untuk menghasilkan penekanan lebih pada penyampaian pengetahuan khusus kepada siswa dalam pengalaman kerja di lapangan. Artinya, sekolah memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk memperoleh keterampilan dunia nyata yang relevan dengan peluang kerja yang prospektif di masa depan.

Dengan demikian, kurikulum sekolah menyertakan pengetahuan subjek yang ditingkatkan yang dapat membantu siswa melalui magang, kerja proyek, dan sebagainya.

Analisis Data
Ada kalanya analis biasa mengumpulkan dan menyortir data secara manual, tetapi sekarang dapat dilakukan dengan menggunakan komputer. Selain itu, komputer juga akan digunakan untuk semua jenis analisis statistik - mendeskripsikan dan menganalisis data serta memprediksi tren masa depan.

Pendidikan 4.0 melatih siswa untuk menerapkan pengetahuan teoritis dan menggunakan penalaran manusia untuk memeriksa pola dan memprediksi tren yang sedang berlangsung. Data-data yang dikumpulkan akan menjadi titik pijak untuk menganalisis langkah yang akan diambil.

Perubahan Pola dan Penilaian Ujian
Pola hafalan siswa saat ini, dimana siswa secara membabi buta menghafal informasi yang diberikan dalam kurikulum dan menuliskan ujiannya, tidak layak dipertahankan. Penting untuk dipahami bahwa Q&A tradisional atau ujian menulis ulang apa yang dihafal mungkin tidak mencukupi kebutuhan persyaratan di masa depan.

Artinya, penilaian sebagai bagian dari pendidikan 4.0 tidak hanya akan didasarkan pada pola ujian saat ini. Melainkan dilakukan dengan menganalisis perjalanan belajar mereka melalui proyek berbasis pembelajaran praktis dan pengalaman atau kerja lapangan.

Dampak teknologi pada industri pendidikan tidak hanya akan mengubah cara penyampaiannya, tetapi juga cara siswa memandang pendidikan. Pendidikan 4.0, atau masa depan pendidikan, akan mengubah metodologi belajar-mengajar untuk mempersiapkan masa depan siswa.

Inilah saatnya untuk menyaksikan perubahan dan menanamkannya dalam hidup sehingga kita dapat bergerak menuju dunia yang progresif, intelektual, berbasis data, dan siap menghadapi masa depan.

Sumber gambar: manufacturingglobal.com

Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Pendidikan 4.0



Dalam menyiapkan lulusan masa depan untuk bekerja, sekolah perlu menyelaraskan pengajaran dan proses mereka dengan kemajuan teknologi.
Di milenium baru, teknologi mulai menyusup ke dalam proses pendidikan, baik siswa maupun guru mulai memanfaatkan teknologi dengan cara-cara dasar (atau dikenal sebagai Pendidikan 2.0). Saat teknologi semakin maju, termasuk infiltrasi massal ke internet yang lebih banyak dibuat pengguna, pendidikan 3.0 dibentuk.
Siswa sekarang memiliki akses sendiri ke informasi, opsi untuk belajar secara virtual, dan platform untuk terhubung secara mudah dengan pengajar dan siswa lain. 

Karena itu, pendidikan tidak lagi berpusat pada bolak-balik antara siswa dan guru, tetapi mengambil pendekatan yang lebih berjejaring. Di sini siswa memiliki koneksi langsung ke berbagai sumber informasi yang berbeda.


Hal ini mendorong pengembangan cara belajar yang lebih dipersonalisasi di mana kemandirian siswa dan pendekatan unik untuk belajar dirayakan. Namun, kita sekarang berada di puncak fase baru, yaitu pendidikan 4.0.

Apa itu Pendidikan 4.0?
Pendidikan 4.0 adalah pendekatan pembelajaran yang diinginkan yang sejalan dengan revolusi industri keempat yang muncul. Revolusi industri ini berfokus pada teknologi cerdas, kecerdasan buatan, dan robotika; yang semuanya sekarang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
Agar sekolah dapat terus menghasilkan lulusan yang sukses, mereka harus mempersiapkan siswanya untuk menghadapi dunia di mana sistem fisik cyber ini lazim digunakan di banyak tempat kerja. 

Hal ini berarti mengajari siswa tentang teknologi sebagai bagian dari kurikulum, mengubah pendekatan pembelajaran secara keseluruhan, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Mempersiapkan Siswa untuk Industri yang Berkembang
Sistem fisik cyber terus menjadi lebih terintegrasi ke dalam berbagai industri, yang pasti memengaruhi persyaratan keterampilan bagi karyawan.
Penelitian oleh McKinsey mengungkapkan bahwa, 60% siswa SD saat ini akan bekerja diperusahaan yang saat ini belum tersedia. Artinya, pekerjaan-pekerjaan tradisonal besar kemungkinan akan diambil alih oleh robot sehingga manusia akan bekerja di sektor yang baru sama sekali. 

Karena itu, revolusi industri 4.0 akan berdampak pada soft skill yang akan dibutuhkan siswa di masa depan.
Pada tahun 2016, Forum Ekonomi Dunia menghasilkan laporan yang mengeksplorasi perubahan ini. Mereka memperkirakan bahwa pada tahun 2020, "lebih dari sepertiga rangkaian keterampilan inti yang diinginkan dari sebagian besar pekerjaan akan terdiri dari keterampilan yang belum dianggap penting untuk pekerjaan saat ini."

Beberapa soft skill yang mereka klaim akan sangat diperlukan seperti pemecahan masalah yang kompleks, keterampilan sosial, dan keterampilan berproses. 

Teknologi juga memungkinkan kita untuk terus terhubung, dan sebagai hasilnya, peran pekerjaan menjadi lebih fleksibel dan mudah beradaptasi.


Pendidikan 4.0 adalah tentang berkembang seiring dengan waktu. Bagi  institusi pendidikan hal ini berarti memahami apa yang dibutuhkan lulusan di masa depan.

Pendekatan Baru untuk Belajar
Dengan menyelaraskan metode pengajaran dan pembelajaran dengan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan, sekolah yakin bahwa mereka berhasil mempersiapkan siswanya untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Salah satu metode untuk melakukannya adalah dengan mendorong pembelajaran jarak jauh. Hal ini merupakan gagasan bahwa siswa akan mempelajari pengetahuan teoretis dari jarak jauh menggunakan sarana digital, sambil memastikan bahwa keterampilan praktis apa pun masih dipelajari secara tatap muka. Ini adalah cara belajar yang lebih fleksibel yang membutuhkan akuntabilitas dan manajemen waktu yang baik.

Langkah ke arah cara kerja ini juga akan menuntut siswa untuk belajar bagaimana beradaptasi dengan cepat terhadap situasi baru yang mungkin mereka hadapi dalam karier mereka ke depannya.

Pembelajaran berbasis proyek menyoroti pentingnya mempelajari serangkaian keterampilan yang luas yang kemudian dapat diterapkan pada setiap metode pembelajaran. Sebagai lawan berpegang pada seperangkat keterampilan yang secara langsung terkait dengan peran pekerjaan tertentu.

Pendekatan terhadap ujian dan penilaian juga akan berubah, dan penilaian menggunakan angka diganti. Kita mungkin melihat siswa dinilai "berdasarkan menganalisis perjalanan belajar mereka melalui proyek berbasis pembelajaran praktis dan pengalaman atau kerja lapangan."

Tentu saja, perubahan terbesar yang mungkin kita lihat sebagai bagian dari Pendidikan 4.0 adalah penggabungan teknologi ke dalam proses belajar. Tujuan akhir dari penggunaan teknologi ini dan mengadopsi metode baru adalah untuk menempatkan siswa di tengah proses pendidikan, "mengalihkan fokus dari mengajar ke belajar."

Beradaptasi dengan Realitas Baru
Institusi pendidikan bergerak menuju cara belajar yang lebih personal. Dengan memanfaatkan data dan melacak kinerja siswa, sekolah akan dapat mengidentifikasi siswa yang kesulitan dan memberikan strategi pembelajaran yang dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Pendidikan 4.0 merangkul kemajuan teknologi dan menggunakannya dalam pembelajaran serta memperlakukan setiap siswa sebagai individu. Selain itu, juga dipahami bahwa kebutuhan belajar setiap orang dan hasil yang diinginkan akan selalu berbeda sehingga pendekatannya pun berbeda.

Namun, pendekatan baru terhadap struktur program pendidikan ini kemungkinan besar akan menciptakan siswa yang lebih fleksibel dan berpengetahuan luas serta dapat menyesuaikan diri dengan berbagai pilihan karier; sesuatu yang akan sangat berharga di masa depan.

Terlepas dari itu semua, untuk menghasilkan lulusan yang siap menghadapi masa depan, sekolah harus berkembang, dan menerima bahwa perubahan pada beberapa proses tradisional tidak dapat dihindari. Sekolah perlu mendidik siswa untuk mampu beradaptasi dan bekerja sesuai dengan zaman mereka nanti.

Tulisan ini disari dari https://www.qs.com/everything-you-need-to-know-education-40/ dengan judul asli “Everything You Need to Know About Education 4.0
Sumber gambar: manufacturingglobal.com 

x
x

Memperbaiki Kualitas Pendidikan Menyongsong Revolusi Industri 4.0

                          (Ket: pelajar dengan gaya belajar modern)

Indonesia saat ini tengah menghadapi revolusi industri 4.0. Sederet upaya untuk menghadapinya mulai dipersiapkan, misalnya dengan mengubah metode pembelajaran atau juga kurikulum pendidikan yang ada saat ini.

Dalam kurikulum itu pembelajaran informatika mulai diterapkan di sekolah-sekolah. Alasannya, mata pelajaran informatika menjadi pintu masuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Mengapa demikian? Karena untuk menghadapi perkembangan zaman, maka metode pembelajaran juga harus sesuai dengan kebutuhan zaman. Di antaranya, mempersiapkan model pembelajaran science, technology, engineering, art, dan math (STEAM) untuk mengejar ketertinggalan.

Menurut praktisi pendidikan Indonesia, Indra Charismiadji ada tiga poin yang perlu diubah dari sisi edukasi:

Pertama dan paling utama adalah mengubah pola pikir generasi muda Indonesia. Melalui perubahan pola pikir, anak-anak akan mencari aktivitas lain selain bermain gedget karena mereka menggunakan gedget untuk bekerja.

Penggunaan gedget untuk bekerja akan membuat anak bosan, jika gedget juga digunakan untuk bermain. Oleh karena itu, untuk menyambut revolusi 4.0 langkah yang perlu dilakukan adalah mengubah pola pikir anak.

Baca juga: Memahami Tri Sentra Pendidikan dan Kegalauan Orang Tua

Jika pola pikir sebelumnya menggunakan gedget untuk bermain menjadi gedget sebagai lahan mereka menciptakan sesuatu yang baru dan menjawab kebutuhan publik.

Kedua, pentingnya peran sekolah dalam mengasah dan mengembangkan bakat siswa. Di sini sekolah memfasilitasi dan memberikan dukungan. Akan tetapi, rupanya ada yang keliru dengan sistem pendidikan kita saat ini.

Anak-anak ke sekolah seharusnya untuk belajar dan mempersiapkan mereka menghadapi dunia nyata yang berubah dengan sangat cepat. Tetapi, sekolah tidak banyak berubah selama ratusan tahun.

Para ahli setuju bahwa pendidikan saat ini dirancang di era industri untuk pekerjaan di pabrik. Dan mentalitas sebagai pekerja masih bertahan di sekolah-sekolah.

Ketiga, pengembangan kemampuan institusi pendidikan untuk mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman ini. Menyiapkan siswa sesuai dengan kebutuhan zaman adalah langkah positif yang sebaiknya dilakukan oleh semua sekolah. 

Pembelajaran berbasis teknologi atau mengarahkan siswa untuk belajar berbasis teknologi adalah cara sekolah menyiapkan siswanya untuk menghadapi tantangan zaman.

Pembelajaran pada abad 21 hendaknya disesuaikan dengan kemajuan dan tuntutan zaman. Begitu juga dengan metode yang dikembangkan oleh sekolah agar mengubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru atau pendidik menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan anak bahwa mereka harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar. Kemampuan berkomunikasi, kreatif, problem solving dan berkolaborasi adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa.

Persoalan yang Dihadapi
Dari penjelasan di atas sebenarnya terdapat beberapa persoalan yang dihadapi oleh pendidikan kita saat ini:

1. Anak-anak dididik dengan setumpuk tugas dan mengatur kehidupan mereka dengan bunyi lonceng. Sepanjang hari siswa tidak melakukan apa pun selain mengikuti petunjuk. “Silahkan duduk, berhenti berbicara dengan temanmu, ambil buku dan kerjakan tugas halaman sekian.”

Di sekolah siswa akan dihargai sejauh dia mampu menghafal semua pelajaran yang diberikan guru. Keberhasilan mereka tergantung pada instruksi dan melakukan persis dengan apa yang diperintahkan.

Di dunia modern orang-orang harus menjadi kreatif, dapat menyampaikan ide-ide dan kolaborasi dengan orang lain. Sayangnya, siswa tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam suatu sistem sekolah yang didasarkan pada nilai-nilai era industri.

Keterampilan dan minat siswa kurang diberi perhatian sehingga tak jarang siswa terpaksa mengembangkan dirinya dengan melakukan kursus-kursus di luar sekolah yang tentu saja menguras banyak tenaga dan biaya tambahan.

2. Sebagian pembelajaran yang terjadi di sekolah tidak otentik karena masih menggunakan metode menghafal. Sistem ini mendefinisikan satu set generik pengetahuan bahwa semua anak harus tahu dan menghafal materi yang diberikan guru.

Beberapa bulan kemudian guru mengukur berapa banyak pengetahuan yang bertahan dengan memberikan ujian atau ulangan. Kita tahu bahwa sistem belajar tersebut tidak otentik karena sebagian besar setelah ulangan atau ujian, materi hafalan kita itu akan hilang.

Belajar bisa jauh lebih dalam dan otentik. Hal ini bisa menjadi jauh lebih dari sekedar menghafal. Sayangnya itulah yang satu-satunya yang diukur oleh pihak sekolah dan ulangan atau ujian adalah jalan untuk menghargai kualitas siswa.

Baca juga: Pendidikan Indonesia dan Sisi Positif Corona

Anak-anak menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghafal dan kemudian mereka akan segera melupakannya. Tidak ada ruang untuk mengembangkan passion dan hobi.

Kita memiliki sistem pembelajaran di mana setiap anak harus belajar hal yang sama pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama. Hal ini sebenarnya bertentangan karena kita semua memiliki passion dan ketertarikan yang berbeda.

Akan tetapi, apakah saat ini sekolah-sekolah telah membantu peserta didiknya untuk menemukan dan mengembangkan passion mereka? Apa keahlianku? Apa yang ingin aku lakukan? Apakah keahlianku sesuai dengan kebutuhanku di masa depan? Sistem ini tampaknya tidak adil dan tidak peduli dengan kebutuhan masa depan manusia.

Begitu banyak orang berbakat gagal dalam sistem sekolah tradisional. Untungnya mereka mampu mengatasi kegagalan ini ketika berada dalam lingkungan masyarakat. Tetapi tidak semua orang mampu melakukannya.

Mereka sukses karena mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan harus bekerja lebih keras lagi dibandingkan dengan orang lain. Mereka berkembang karena tahu apa bakat dan passion yang dimiliki sehingga saat berada di tengah masyarakat bakat dan passion itu yang terus dikembangkan.

Pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar belum dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kita masih belum mampu berbuat banyak.

Pendidikan sebagai ujung tombak pembangunan suatu bangsa belum digarap dengan semestinya. Akan tetapi, segala sesuatu diukur berdasarkan apa yang ditulis di kertas.

Passion dan bakat yang dimiliki siswa kurang diberi tempat. Alhasil, setelah menyelesaikan kuliah banyak di antara kita yang belum mengenal passionnya sendiri. Sebab sejak TK selalu diajarkan untuk menghafal beragam materi pelajaran sehingga tidak mampu untuk mengetahui bakat dan passionnya.

3. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sebaiknya menjadi wadah yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dalam kelas karena media internet dan digital, anak-anak dapat memiliki akses ke semua informasi di dunia.

Baca juga: STEAM Sebagai Dasar Pendidikan di Masa New Normal

Teknologi telah memungkinkan siapa saja untuk mempelajari sesuatu. Tetapi, karena takut kehilangan kontrol sistem ini belum digunakan secara luas. Sistem pendidikan kita yang berkembang di era industri menjadi tidak relevan dan kurang efektif lagi untuk zaman sekarang.

Jika kita ingin belajar yang efektif dan menarik, maka tidak ada keraguan agar kita secara fundamental mengubah sistem pendidikan kita dalam menyambut revolusi 4.0.

Besar harapan agar pemerintah lebih giat lagi dalam mengurus pendidikan negeri ini agar kita dapat berdiri sejajar dengan negara maju lainnya dalam hal pendidikan.

Dari seratus perguruan tinggi terbaik dunia, tidak satu pun berasal dari Indonesia. Padahal kita negara besar dan punya potensi alam yang besar pula. Kini kita bersama-sama berlari sekencang mungkin mengejar ketertinggalan itu.

Sumber gambar: eduaksi.com

STEAM Sebagai Dasar Pendidikan di Masa New Normal

                       Ket: Model Pembelajaran abad-21

Kita mungkin masih asing dengan istilah STEAM (science, technology, engineering, art, and mathematich) yang akhir-akhir ini sering disampaikan oleh mendikbud Nadiem Makarim. STEAM adalah metode pembelajaran berbasis teknologi yang dikolaborasikan dengan sains, matematika, seni dan rekayasa. Pendidikan berbasis STEAM menjadi penting karena mampu menjawab tantangan di masa depan.
Manusia zaman batu belajar dengan melukis di dinding gua menggunakan batu. Manusia era pertanian belajar menulis di atas kertas yang terbuat dari kulit hewan atau daun-daunan seperti papirus. Manusia era manufaktur belajar menggunakan kertas yang terbuat dari kayu. Di situlah segala sesuatu ditulis dan kemudian menjadi arsip yang masih dipakai hingga sekarang.
Bagaimana dengan manusia yang hidup di zaman yang sering disebut era digital? "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zamanmu." Demikian nasihat yang disampaikan Ali bin Abi Thalib.

Baca Juga:Melakukan Revolusi Pendidikan 

Nasihat yang baik dan sangat logis ini mendorong kebutuhan untuk memordenisasi sistem pembelajaran kita. Kita tidak bisa menggunakan sistem dan metode pendidikan zaman manufaktur untuk diterapkan di era digital. Karena itu, sistem pendidikan perlu diubah dan disesuaikan dengan zamannya.
Mulai tahun ajaran baru 2019/2020 ini, anak-anak Indonesia akan dikenalkan dengan mata pelajaran baru dengan nama Informatika. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 35, 36, dan 37 tahun 2018 yang ditandatangani di penghujung tahun 2018 yang lalu oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Indonesia telah mengikuti langkah progresif negara-negara lain yang telah lebih dahulu menerapkan mata pelajaran ini dalam kurikulum nasional mereka.
Mata pelajaran Informatika yang dikembangkan adalah pelajaran yang berbasis STEAM. Kenapa harus berbasis STEAM? Karena metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. 
Proses pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarier.
Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap menghadapi persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, art and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan keseharian kita.
Keempat bidang itu, saling terkait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah. Jadi, seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal keempatnya penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.

Persiapan Menghadapi New Normal
Terhitung sejak Maret sebagian besar sekolah-sekolah mengadakan pembelajaran dalam jaringan. Karena itu, sekolah-sekolah melakukan banyak persiapan dalam rangka memasuki tahun ajaran baru. 
Berkaca pada pengalaman pembelajaran dalam jaringan selama tiga bulan terakhir yang ternyata mengalami banyak kendala dan kekurangan, maka di tahun ajaran baru nanti pembelajaran dalam jaringan diharapkan lebih baik lagi.

Baca Juga: STEAM Sebagai Dasar Pendidikan Masa Depan

Menyikapi masalah dan persiapan pembelajaran selama new normal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) telah meluncurkan Seri Webinar Guru Belajar dengan Tema “Adaptasi Pembelajaran Masa Pandemi”.  
“Memasuki tahun ajaran baru, kita harus bersiap untuk menyiapkan seluruh kondisi sebaik mungkin, sehingga kita siap mendampingi seluruh peserta didik kita menyambut tahun ajaran baru yang akan datang,” ungkap Nunuk pada peluncuran webinar tersebut, Senin (29/6/2020) sebagaimana disampaikan dalam beritasatu.com.
Dalam menghadapi tahun ajaran baru di era new normal saya menemukan beberapa poin penting yang sebaiknya disiapkan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) secara daring (dalam jaringan).
Pertama, infrastruktur. Artinya, peralatan apa yang dipakai sekolah saat ini untuk pembelajaran jarak jauh. Apalagi di tahun ajaran baru PJJ dalam jaringan masih tetap diberlakukan. 

Oleh karena itu, infrasruktur yang digunakan oleh sekolah dan siswa harus sama. Jangan sampai lembaga pendidikan kurang informasi terkait infrastruktur yang digunakan oleh siswa dalam pembelajaran.
Poin penting kedua adalah infostruktur. Maksud dari infostruktur adalah aplikasi atau platform apa yang digunakan untuk proses PJJ dalam jaringan. Dengan keadaan seperti sekarang ini, maka aplikasi yang digunakan harus mampu memenuhi kebutuhan belajar siswa. Selain itu platform yang digunakan untuk siswa dan guru sebaiknya satu dan sama agar tidak membingungkan siswa.
Infostruktur juga menyangkut learning management system (LMS) yang sebaiknya dimiliki setiap satuan pendidikan. Namun, bagi sekolah yang belum mampu memilikinya dapat menggunakan Rumah Belajar milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dengan LMS kita dapat menjalankan pembelajaran yang asinkrosnis. Maksudnya adalah pembelajaran itu tidak harus dilakukan pada waktu yang sama, pada tempat yang sama, dan melakukan hal yang sama. Jadi, siswa diberi kesempatan untuk membuat project dengan melakukan kolaborasi beberapa mata pelajaran.

Baca Juga: Akankah Coronavirus Mengubah Pengalaman Belajar Tatap Muka?

Ketiga, infokultur. Maksud dari infokultur PJJ daring memiliki prinsip any time, any where, dan any device. Any time adalah setiap siswa tidak harus belajar pada waktu yang sama dan mengerjakan hal yang sama. Any where adalah siswa dapat belajar di mana saja asal terkoneksi internet. 

Sedangkan, any device maksudnya media yang digunakan sebaiknya multifungsi. Dalam pedagogi konvensional disebutkan media tersebut berfungsi menerima informasi seperti buku, TV maupun materi multimedia.
Konsep ini tentunya berbeda dengan pedagogis konvensional karena dalam pedagogis konvensional hanya mengenal sinkronis learning, sedangkan di sini akan menggunakan asinkronis learning. Hal itu yang harus kita pahami dalam PJJ daring di tahun ajaran baru nanti.
Poin-poin yang disampaikan di atas merupakan pengejawantahan dari STEAM. Di era Industri 4.0 ini kebutuhan akan para inovator dan kreator menempati urutan utama. 

Untuk itu kurikulum harus disesuaikan menjadi seperti berikut: Penguatan kemampuan calistung sebagai pondasi pembelajaran Pendidikan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art Mathematic). Selain itu, pemanfaat teknologi secara optimal dalam pembelajaran Kompetensi inti; penalaran tingkat tinggi, serta kemampuan 4K (Komunikasi, Kolaborasi, Kritis dan Kreatif).


Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/

STEAM Sebagai Dasar Pendidikan Masa Depan


(Ket: STEAM sebagai model pendidikan masa depan)
Kita mungkin masih asing dengan istilah STEAM (science, technology, engineering, art, and mathematich) yang akhir-akhir ini sering disampaikan oleh mendikbud Nadiem Makarim. STEAM adalah metode pembelajaran berbasis teknologi yang dikolaborasikan dengan sains, matematika, seni dan rekayasa. Pendidikan berbasis STEAM menjadi penting karena mampu menjawab tantangan di masa depan.
Manusia zaman batu belajar dengan melukis di dinding gua menggunakan batu. Manusia era pertanian belajar menulis di atas kertas yang terbuat dari kulit hewan atau daun-daunan seperti papirus. Manusia era manufaktur belajar menggunakan kertas yang terbuat dari kayu. Di situlah segala sesuatu ditulis dan kemudian menjadi arsip yang masih dipakai hingga sekarang.
Bagaimana dengan manusia yang hidup di zaman yang sering disebut era digital? "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zamanmu." Demikian nasihat yang disampaikan Ali bin Abi Thalib. Nasihat yang baik dan sangat logis ini mendorong kebutuhan untuk memordenisasi sistem pembelajaran kita. Kita tidak bisa menggunakan sistem dan metode pendidikan zaman manufaktur untuk diterapkan di era digital. Karena itu, sistem pendidikan perlu diubah dan disesuaikan dengan zamannya.

Baca Juga: Membangun Bangsa Dimulai Dengan Membangun Pendidikan

Mulai tahun ajaran baru 2019/2020 ini, anak-anak Indonesia akan dikenalkan dengan mata pelajaran baru dengan nama Informatika. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 35, 36, dan 37 tahun 2018 yang ditandatangani di penghujung tahun 2018 yang lalu oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Indonesia telah mengikuti langkah progresif negara-negara lain yang telah lebih dahulu menerapkan mata pelajaran ini dalam kurikulum nasionalnya.
Mata pelajaran Informatika yang dikembangkan adalah pelajaran yang berbasis STEAM. Kenapa harus berbasis STEAM? Karena metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarier.
Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap menghadapi persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, art and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan keseharian kita. Keempat bidang itu, saling terkait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal, keempatnya penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.

Permasalahan Tentang Guru
Rupanya ketika pemerintah memulai mengenalkan Pendidikan berbasis STEAM kepada sekolah-sekolah diutamakan masalah besar yang bisa menjadi hambatan. Menurut pengamat pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis, Indra Charismiadji, dari total guru yang ada di Indonesia hanya 2,5 persen yang tidak gagap teknologi. Selebihnya guru-guru masih gagap teknologi.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah dana yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam meningkatkan kualitas guru. Ditambah lagi dengan masuknya mata pelajaran Teknologi Informasi dalam kurikulum. Tentu saja ini menjadi masalah besar dalam mengembangkan kualitas Pendidikan di Indonesia. Guru yang diharapkan menjadi pionir untuk mengubah wajah buram Pendidikan di negeri ini ternyata menghadapi problem yang tidak mudah.

Baca juga: Akankah Coronavirus Mengubah Pengalaman Belajar Tatap Muka?

"Gemes saya lihat kualitas SDM guru kita. Sudah dikasih pelatihan, tunjangan sertifikasi guru, masih banyak yang gaptek. Ini loh datanya enggak bisa nipu, kelompok yang enggak gaptek itu hanya 2,5 persen. Yang gaptek 97,5 persen loh. Lantas anggaran miliaran hingga triliunan yang sudah dikasi untuk apa kalau gurunya masih gaptek juga," kata Indra yang dalam JPNN (21/10/2019).
Rendahnya penguasaan teknologi ini, karena metode pelatihan yang tidak berpola dan kualitas pelatihnya juga sangat dipertanyakan. Alhasil dana negara hanya terbuang percuma tanpa hasil yang sesuai diharapkan. Pelatihan yang diharapkan akan meningkatkan kualitas guru ternyata tidak dikemas dengan baik karena prinsip yang digunakan adalah asalkan uangnya habis dan ada kegiatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Lain halnya jika gurunya hebat dan memahami perkembangan teknologi. Kalau gurunya hebat, dia dengan mudah bisa mentransfer ilmunya ke siswa. Hasilnya bisa dilihat dari aplikasi yang dihasilkan siswanya. Sebab siswa akan mendapatkan sesuatu dari guru yang mampu mentransfer ilmunya. Di sinilah kompetensi guru perlu diperhatikan.
Namun, untuk berbicara lebih jauh pemahaman guru terkait teknologi sekali lagi kita kembali ke persiapan dan pelatihan yang diadakan oleh pemerintah selama ini apakah sudah tepat atau hanya sekadar menghamburkan uang. Ketika guru hanya disibukan dengan hal-hal teknis di luar kelas untuk mengurus RPP dan banyak lainnya, di sini pemerintah telah mencabut tugas guru yang sesungguhnya untuk mendidik. Syukurlah mas Menteri menyadari masalah itu dan ingin mengembalikan tugas guru yang sesungguhnya. Gebrakan-gebrakan seperti inilah yang harus kita dukung, demi kemajuan Pendidikan.
Sebagaimana dikutip oleh Tempo.com (25/11/2019) Nadiem juga sadar, birokrasi, tugas administratif menumpuk dan beratnya kurikulum, menjadi kendala bagi guru untuk berkreasi. "Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas. Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka-angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.” Dari sini saja kita sudah melihat kalau Pendidikan kita selama ini telah berjalan di arah yang salah.

Baca juga: Beberapa Catatan Penting Dunia Pendidikan Indonesia Tahun 2020

“Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan. Anda frustrasi karena Anda tahu betul bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal. Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.”
Semua yang disampaikan oleh Mendikbud telah ada dalam sistem pendidikan berbasis STEAM. Dalam STEAM dan juga model Pendidikan di abad ke-21 mengharuskan siswa untuk bisa berkolaborasi dengan sesama, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, dan kreatif. Hal ini berangkat dari gagalnya pendidikan kita selama ini. Pendidikan kita hanya mencetak para budak kerja tetapi gagal menciptakan siswa yang mampu berinovasi, berkolaborasi dan mencipta sesuatu yang baru.

Sumber gambar: amongguru.com


Pembelajaran Online Harus Bermanfaat bagi Semua Siswa



Pada pertengahan April, UNESCO memperkirakan bahwa 190 negara telah menutup sekolah secara nasional karena pandemi COVID-19. Penutupan sekolah sebagai langkah strategis untuk menghindari penyebaran virus corona. Bahkan, beberapa sekolah di berbagai negara sudah menegaskan bahwa tidak akan mengadakan pertemuan tatap muka di kelas hingga akhir semester ini. 
Akibatnya, sistem pendidikan telah bergeser menggunakan alat pembelajaran jarak jauh - terutama melalui media digital - baik untuk melanjutkan pembelajaran di semester ini atau untuk memastikan peserta didik tidak melakukan kesalahan besar. Sayangnya, yang sering ditemukan adalah para pendidik hanya memindahkan media pembelajaran. Jika sebelumnya pembelajaran dilaksanakan melalui tatap muka, maka sekarang harus dilakukan di depan gadget.
Tentu perubahan media pendidikan yang dilakukan tanpa persiapan telah membawa pendidikan kita pada jalan yang hampir sesat. Butuh keberanian bagi para guru untuk mempelajari media pembelajaran online agar proses belajar mengajar menjadi efektif. Keadaan sekarang memang mengharuskan semua orang tua untuk menjadi guru yang baik, tetapi para guru professional tetap harus bisa memberikan sesuatu yang lebih berkualitas.


Dengan seorang anak kecil di rumah, seperti banyak orang tua, terpaksa menjadi guru ketika sekolah tutup. Meskipun sudah bertahun-tahun meneliti kebijakan pembelajaran digital, ternyata masih banyak orang belum siap menghadapi tantangan ini. Pengalaman ini telah memperkuat keyakinan bahwa tiga faktor penting untuk setiap metode pembelajaran digital:
1. Inklusif
2. Mendukung (bukannya menggantikan) pengalaman belajar
3. Bukti metode apa yang berhasil dan dalam konteks mana harus menginformasikan intervensi pembelajaran digital

Pembelajaran Digital Harus Inklusif
Kita tahu selama ini pembelajaran online lazim digunakan untuk menjangkau siswa ketika mereka secara fisik tidak bisa ke sekolah. Hal Ini sebelumnya merupakan kasus untuk anak-anak yang sakit lalu terkurung di rumah atau di rumah sakit, mereka yang berada di lokasi terpencil yang tidak dapat bersekolah setiap hari, dan anak-anak migran. 
Akan tetapi, karena pandemi covid-19mengharuskan sekolah melaksanakan pembelajaran online dan ditemukan kesenjangan antara pelajar yang kurang beruntung dan yang lebih beruntung secara ekonomi. Coronavirus menyingkap kesenjangan ekonomi para peserta didik.
Ketersediaan perangkat keras adalah tantangan pertama untuk membuat pembelajaran online dapat diakses dan efektif untuk semua. Jika keluarga tidak dapat memberi gadget, setiap siswa tidak akan dapat berpartisipasi atau mendapatkan hasil maksimal dari pelajaran mereka. Demikian juga dengan masalah koneksi internet yang tidak memadai atau bahkan tidak ada sama sekali.


Kasus seperti ini sangat familiar di negara kita. Tol langit nampaknya belum bisa dinikmati semua anak bangsa. Hanya anak-anak dari kalangan ekonomi menengah ke atas dan terjangkau oleh tol langit yang dapat menikmati pembelajaran online. Kecuali pelajar yang rentan dibantu dengan masalah akses, pembelajaran digital hanya akan meningkatkan pengalaman belajar mereka yang sudah diuntungkan.
Dengan memenuhi kebutuhan semua peserta didik, pembelajaran digital tidak akan memperlebar kesenjangan yang merugikan, tetapi semoga menjembataninya. Memang itu tidak mudah, tetapi akan lebih baik dan memberi banyak manfaat. Karena pada dasarnya lembaga pendidikan perlu mulai melakukan evolusi.

Tidak Ada yang Mengganti Pendidik Profesional
Memainkan peran guru dalam beberapa minggu terakhir telah mengingatkan saya betapa pentingnya bagi anak-anak untuk didukung oleh para profesional dalam pembelajaran mereka. Intervensi digital adalah alat yang mendukung proses pembelajaran, tetapi mereka tidak dapat menggantikan guru. Media digital yang digunakan oleh para siswa sekarang, belum mampu menggantikan peran guru seutuhnya.
Selain itu, tidak realistis untuk berharap bahwa lingkungan digital, bahkan jika itu mencakup aspek sosial, dapat menggantikan pengalaman sekolah, terutama ketika menyangkut pengembangan keterampilan sosial dan emosional. Sistem pendidikan harus memikirkan cara untuk mendukung pengembangan ini dengan baik selama periode ini dan yang akan datang.
Peran profesional guru adalah menjadi fasilitator siswa dalam belajar jarak jauh. Guru tidak harus melakukan konferensi selama berjam-jam dan mengharuskan siswa untuk mendengarnya. Dalam keadaan sekarang, guru mengajar siswa untuk dapat berkolaborasi, berkomunikasi sesama mereka untuk memecahkan masalah dalam tugas yang diberikan guru serta berpikir kritis.

Mengumpulkan Bukti Vital Selama Krisis
Intervensi pembelajaran digital baru dan permasalahan yang telah bermunculan sejak krisis COVID-19 mulai memberi sebagian besar anak akses ke beberapa jenis pembelajaran jarak jauh dari sekolah. Sementara reaksi cepat ini disambut baik, mereka meninggalkan sedikit ruang untuk pengambilan keputusan berbasis bukti.


Bagaimana pun, kita tahu bahwa pembelajaran online tidak selalu berhasil. Misalnya evaluasi RAND Eropa tentang program umpan balik digital dalam matematika primer menunjukkan bahwa intervensi media digital dalam pembelajaran jarak jauh tidak meningkatkan kualitas murid. Malah yang sering ditemukan adalah murid sekolah menengah dan sekolah Dasar semakin stres dengan banyaknya tugas yang diberikan guru, tetapi tetap mewajibkan siswa untuk ikut dalam pembelajaran selama berjam-jam.
Bukti apa yang berhasil, untuk siapa, dan mengapa diperlukan untuk pembuatan kebijakan yang efektif dan pengembangan pendidikan yang memadai. Mengumpulkan data untuk mengevaluasi program-program ini, agar dapat menjadi bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang.
Kita dapat berharap bahwa ketika murid-murid di seluruh dunia akhirnya kembali ke sekolah, teknologi digital akan membantu mereka untuk terus semakin berkembang. Akan lebih baik jika pembuat kebijakan pendidikan juga datang dengan pengetahuan yang lebih dalam tentang keefektifan alat-alat digital dan bagaimana mereka dapat mendukung anak-anak yang paling rentan.
Sekolah mungkin telah berubah selamanya setelah COVID-19. Mari berharap pendidikan kita menjadi lebih baik.

Sumber Gambar: blibli.com