Menu
Showing posts with label evaluasi diri. Show all posts
Showing posts with label evaluasi diri. Show all posts

Membangun Bangsa Dimulai Dengan Membangun Pendidikan



Bangsa yg besar adalah bangsa yang mampu menguasai pendidikan. Ketika pendidikan bisa dikuasai, maka perkembangan SDM di negaranya akan dengan mudah diukur. Perkembangan SDM tidak dapat dilakukan tanpa didukung oleh kualitas pendidikan di negaranya. Karena itu, jika ingin menjadi bangsa yang kuat, maka tingkatkanlah kualitas pendidikannya.

Akan tetapi, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang pendidikan kita perlu mengetahui apa saja permasalahan pendidikan di negeri ini.

Kualitas pendidikan yang rendah adalah fakta yang harus kita terima bersama. Untuk itu, presiden Jokowi memilih Nadiem Makarim seorang yang tidak memiliki backround di bidang pendidikan menjadi menteri Pendidikan. Kita semua tahu sebelum beliau menjadi Menteri Pendidikan dia adalah CEO Gojek, perusahan startup yang sedang berkembang saat ini. Mengapa seorang CEO perusahan startup dipilih menjadi menteri Pendidikan?

Alasannya karena kemampuan beliau dalam mengembangkan perusahan itu. Presiden ingin agar bukan hanya seorang Nadiem Makarim yang bisa berkembang di perusahan strartup, tetapi semakin banyak orang. Untuk mewujudkan impiannya itu, maka pendidikan menjadi sektor penting yang harus dikembangkan. Metode dan sistem pendidikan yang dikembangan oleh para menteri-menteri sebelumnya ternyata belum mampu menjawab kebutuhan real di lapangan dan di masa depan. Karena itu, butuh suatu terobosan baru di bidang pendidikan.

Bukan untuk mengatakan bahwa pendidikan kita jelek, tetapi jika diperhatikan secara fair, kita akan mengamini kalau pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 dan dirilis pada Selasa (3/12/2019). Hasil survei menempatkan Indonesia di urutan ke-72 dari 79 negara. Studi ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak.


Untuk kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, sedangkan peringkat pertama diduduki oleh China dengan skor rata-rata 555. Posisi kedua ditempati oleh Singapura dengan skor rata-rata 549 dan Makau, China peringkat tiga dengan skor rata-rata 525. Sementara Finlandia yang kerap dijadikan percontohan sistem pendidikan, berada di peringkat 7 dengan skor rata-rata 520.

Lantas, untuk kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Kemudian untuk peringkat satu, masih diduduki China dengan skor rata-rata 591. Lalu untuk kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat 9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Lagi-lagi peringkat satu diduduki China dengan rata-rata skor 590.


Apa Penyebabnya?
Ada beberapa alasan kenapa pendidikan kita bisa terlihat begitu memprihatinkan. Mulai dari kemampuan literasi baik dari para siswa maupun para guru. Memang mempelajari sesuatu yang baru sangat tidak enak. Tetapi, justru di situlah pendidikan kita ditantang. 

Kita diajak untuk belajar sehingga keluar dari zona nyaman. Ketika guru maupun para pemberi kebijakan tidak punya keinginan untuk mengembangkan dirinya dengan meningkatkan kemampuan literasi, maka pendidikan kita sedang berjalan di jalan yang salah.

Selain itu masalah lain yang sedang dihadapi adalah orientasi kebijakan politik pendidikan yang masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi. Orientasi kebijakan pendidikan di Indonesia masih cenderung penyeragaman administrasi sistem pendidikan.

Sharusnya orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam mengajar. Kemudian membangun siswa sesuai dengan kodrad manusia secara optimal. Menurut dosen sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal kodrad manusia adalah rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, dan kolaborasi, serta menciptakan sesuatu.


Penilaian PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya Ujian Nasional. Tetapi mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan. Jadi ketika hasil survei PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh disalahkan.

Sebagaimana diketahui PISA mengukur kemampuan literasi siswa. Kemampuan ini bukan sekadar membaca. Tetapi memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual. Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar kritisnya.

Metodologi pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya guru cenderung mengejar aspek administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya. Hasil PISA yang terus menurun, kontras dengan dana pendidikan yang terus meningkat.

Apa yang Harus Dilakukan?
Berkaca dari hasil survei PISA dan kualitas pendidikan kita saat ini mungkin tepat jika keputusan mas Menteri menjadikan tahun ini sebagai tahun terakhir UN. Ujian Nasional hanya membelenggu kreativitas siswa untuk menciptakan sesuatu. Tidak bisa jika setiap tahun siswa dibelenggu mempersiapkan diri mengikuti UN. Karena mempelajari sesuatu yang tidak disukai adalah neraka. Kita pun pasti tidak ingin seperti itu. Dipaksa untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu yang tidak kita senangi hanya membuat kita menderita.

Untuk memacu prestasi pendidikan Indonesia, sistem pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics atau STEAM mulai diterapkan dalam pendidikan kita. Ini merupakan sebuah model pembelajaran populer di tingkat dunia yang efektif dalam menerapkan Pembelajaran Tematik Integratif (PTI) karena menggabungkan lima bidang pokok dalam pendidikan yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, seni dan rekayasa.


Metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarir.


Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap dalam persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, art and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan keseharian kita. Keempat bidang itu, saling kait mengait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal, keempatnya penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.


Menjelang Tahun Baru, Saatnya Menentukan Target



Kita sekarang sedang berada di penghujung tahun 2019. Sebentar lagi akan memasuki tahun 2020. Angka istimewa sekaligus cantik. Tapi, apakah hari-harinya nanti akan dilalui secara istimewa juga? Ataukah hanya angkanya yang istimewa?
Semuanya masih misteri. Tak ada kata yang mampu melukiskan apa yang akan terjadi di tahun 2020. Semua kita tentu berharap agar di tahun 2020 kehidupan menjadi lebih baik dibanding tahun 2019. Ada banyak keinginan dan cita-cita yang mau diwujudkan di tahun tahun yang akan datang.
“Untuk segala sesuatu ada waktunya, ada waktu untuk memulai, ada waktu untuk mengakhiri. Ada waktu untuk mengawali tahun, ada waktu untuk mengakhirinya” demikian kata Pengkhotbah. Hanya orang yang memulai untuk melakukan sesuatu yang akan mengakhirinya. Tetapi di antara awal dan akhir, ada ruang dan waktu yang harus diisi.
Dan itulah yang kita pahami sebagai kesempatan. Hanya orang yang telah mengisi kesempatan yang akhirnya bisa menuai hasilnya. Hanya orang yang menanam dan merawat tanamannya yang akan memetik hasilnya. Apa saja yang telah kita mulai dan akhiri selama tahun 2019? Adakah hal baru yang terwujud di tahun baru?
Dalam menyongsong tahun 2020 alangkah baiknya jika kita memulai merancang apa saja yang akan dilakukan. Membidik dan menentukan target-target yang hendak dicapai di tahun 2020 akan  memudahkan kita dalam menentukan tujuan hidup. Hidup tanpa tujuan dan target hanya akan membuat kita tersesat dalam rimba kehidupan.
Karena itu, di tahun yang akan datang alangkah lebih baik kita memulainya dengan membuatkan daftar hal-hal yang ingin dicapai. Sudah saatnya membuat resolusi tahun baru bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri sekaligus menentukan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Semua itu dilakukan agar kita mampu memetakan rute yang akan ditempuh. Dengan cara itu, kita akan menciptakan kesempatan untuk mengaktualisasi diri dan menjadikan hidup lebih bermakna.
Menciptakan Kesempatan. Evaluasi memudahkan kita menentukan prioritas dalam mewujudukan perubahan. Menentukan prioritas berarti menciptakan kesempatan baru bagi diri sendiri, menantang diri dan memacuh motivasi. Orang bermental sukses menciptakan kesempatan; orang gagal menunggu kesempatan datang.


Ketertinggalan terjadi dalam tata masyarakat, dunia kerja, juga dalam pelayanan publik oleh para pemimpin, yang disebabkan karena mental suka menunda yang masih kuat dalam budaya kita. Tidak mengherankan jika sejak zaman Romawi kuno sudah dikenal pepatah “periculum latet mora” yang berarti bahaya mengintai penundaan.
Kita berada di era milenium. Kemajuan dunia digital memberi inspirasi yang menyadarkan kita bahwa orang yang mau maju dan berkembang dalam hidupnya ialah mereka yang mendatangkan kesempatan bagi dirinya; membuat kesempatan kerja dan sukses mendatangi dirinya.
Di tahun 2020, kita ditantang untuk menciptakan kesempatan bagi diri kita sendiri. Kesempatan untuk melakukan sesuatu demi mewujudkan cita-cita, karier dan makna hidup.
Fokus. Fokus merupakan strategi untuk menjadikan cara kerja kita lebih efektif dan efisien. Tetapi kita tidak sekedar membuat perubahan. Perubahan itu harus memiliki arah yang jelas. Kita hidup dan bergerak dalam keterbatasan ruang dan waktu.
Sebagai makhluk terbatas kita memiliki kemampuan, bakat atau perhatian pada hal-hal tertentu saja, spesifik. Tidak semua hal dapat kita lakukan dalam sekejap dengan hasil yang gemilang. Karena itu fokus merupakan prinsip yang menentukan dalam etos kerja.
Banyak motivator meyakini bahwa kita perlu menahan diri dari aktivitas-aktivitas yang tidak terencana, yang membuang waktu dan energi, dan pada akhirnya tidak mendatangkan perubahan berarti. Tahun 2020 merupakan kesempatan belajar untuk fokus dan menentukan mana hal-hal yang penting untuk dikerjakan.
Langkah lebih jauh adalah menentukan Target. Target merupakan horizon terjauh yang ingin kita capai dalam sebuah pekerjaan. Orang yang bermental sukses membuat target yang jelas. Bukan hanya ‘jelas’, tetapi juga ‘tinggi’. Semangatnya bukan suam-suam kuku. Ia berani keluar dari zona nyaman untuk mencoba sesuatu yang baru dan menghadapi tantangan yang ada di hadapannya.



Pada akhirnya semua perencanaan itu membutuhkan action! Semua rencana perubahan perlu direalisasikan dalam tindakan. Perlu tindakan konkret untuk memulai sebuah pembaruan. Anda belum melakukan sesuatu jika belum pernah mencobanya. Sebelum ada aksi, pembaruan belum terjadi.
Orang yang menghendaki perubahan selalu mau melakukan yang terbaik pada kesempatan pertama. Sebab kesuksesan pertama merupakan energi awal untuk tetap antusias: “Act antusiastic and you w’ll be antusiastic” (Delcarnegie). Dan perlu diingat, langkah pertama akan turut menentukan hasil akhir. Tetapi di atas semuanya itu, semunya perlu dimulai dengan langkah pertama. Target dan perencanaan boleh saja tinggi, tetapi jika tidak ada tindakan konret maka semua itu akan sia-sia.