evaluasi diri,
kualitas pendidikan,
pendidikan abad ke-21,
Pisa,
SDM Unggul,
STEAM
Membangun Bangsa Dimulai Dengan Membangun Pendidikan
Bangsa
yg besar adalah bangsa yang mampu menguasai pendidikan. Ketika pendidikan bisa
dikuasai, maka perkembangan SDM di negaranya akan dengan mudah diukur.
Perkembangan SDM tidak dapat dilakukan tanpa didukung oleh kualitas pendidikan
di negaranya. Karena itu, jika ingin menjadi bangsa yang kuat, maka
tingkatkanlah kualitas pendidikannya.
Akan
tetapi, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang pendidikan kita perlu
mengetahui apa saja permasalahan pendidikan di negeri ini.
Kualitas
pendidikan yang rendah adalah fakta yang harus kita terima bersama. Untuk itu,
presiden Jokowi memilih Nadiem Makarim seorang yang tidak memiliki backround di
bidang pendidikan menjadi menteri Pendidikan. Kita semua tahu sebelum beliau
menjadi Menteri Pendidikan dia adalah CEO Gojek, perusahan startup yang sedang
berkembang saat ini. Mengapa seorang CEO perusahan startup dipilih menjadi
menteri Pendidikan?
Alasannya
karena kemampuan beliau dalam mengembangkan perusahan itu. Presiden ingin agar
bukan hanya seorang Nadiem Makarim yang bisa berkembang di perusahan strartup,
tetapi semakin banyak orang. Untuk mewujudkan impiannya itu, maka pendidikan
menjadi sektor penting yang harus dikembangkan. Metode dan sistem pendidikan
yang dikembangan oleh para menteri-menteri sebelumnya ternyata belum mampu
menjawab kebutuhan real di lapangan dan di masa depan. Karena itu, butuh suatu
terobosan baru di bidang pendidikan.
Bukan
untuk mengatakan bahwa pendidikan kita jelek, tetapi jika diperhatikan secara fair,
kita akan mengamini kalau pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Dari
hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student
Assessment (PISA) tahun 2018 dan dirilis pada Selasa (3/12/2019). Hasil
survei menempatkan Indonesia di urutan ke-72 dari 79 negara. Studi ini menilai
600.000 anak berusia 15 tahun yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Studi
ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap
anak.
Baca Juga: Sudah Saatnya Ujian Nasional Dihapus
Untuk
kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias
peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, sedangkan peringkat pertama
diduduki oleh China dengan skor rata-rata 555. Posisi kedua ditempati oleh
Singapura dengan skor rata-rata 549 dan Makau, China peringkat tiga dengan skor
rata-rata 525. Sementara Finlandia yang kerap dijadikan percontohan sistem
pendidikan, berada di peringkat 7 dengan skor rata-rata 520.
Lantas,
untuk kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73)
dengan skor rata-rata 379. Kemudian untuk peringkat satu, masih diduduki China
dengan skor rata-rata 591. Lalu untuk kategori kinerja sains, Indonesia berada
di peringkat 9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Lagi-lagi peringkat
satu diduduki China dengan rata-rata skor 590.
Apa
Penyebabnya?
Ada
beberapa alasan kenapa pendidikan kita bisa terlihat begitu memprihatinkan.
Mulai dari kemampuan literasi baik dari para siswa maupun para guru. Memang
mempelajari sesuatu yang baru sangat tidak enak. Tetapi, justru di situlah
pendidikan kita ditantang.
Kita diajak untuk belajar sehingga keluar dari zona
nyaman. Ketika guru maupun para pemberi kebijakan tidak punya keinginan untuk
mengembangkan dirinya dengan meningkatkan kemampuan literasi, maka pendidikan
kita sedang berjalan di jalan yang salah.
Selain
itu masalah lain yang sedang dihadapi adalah orientasi kebijakan politik
pendidikan yang masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi.
Orientasi kebijakan pendidikan di Indonesia masih cenderung penyeragaman
administrasi sistem pendidikan.
Sharusnya
orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam
mengajar. Kemudian membangun siswa sesuai dengan kodrad manusia secara optimal.
Menurut dosen sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur
Rizal kodrad manusia adalah rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, dan
kolaborasi, serta menciptakan sesuatu.
Penilaian
PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya Ujian Nasional.
Tetapi mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan.
Jadi ketika hasil survei PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh
disalahkan.
Sebagaimana
diketahui PISA mengukur kemampuan literasi siswa. Kemampuan ini bukan sekadar
membaca. Tetapi memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual.
Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar
kritisnya.
Metodologi
pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling
bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya guru cenderung mengejar aspek
administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk
mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya. Hasil PISA yang terus menurun,
kontras dengan dana pendidikan yang terus meningkat.
Apa
yang Harus Dilakukan?
Berkaca
dari hasil survei PISA dan kualitas pendidikan kita saat ini mungkin tepat jika
keputusan mas Menteri menjadikan tahun ini sebagai tahun terakhir UN. Ujian
Nasional hanya membelenggu kreativitas siswa untuk menciptakan sesuatu. Tidak
bisa jika setiap tahun siswa dibelenggu mempersiapkan diri mengikuti UN. Karena
mempelajari sesuatu yang tidak disukai adalah neraka. Kita pun pasti tidak
ingin seperti itu. Dipaksa untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu yang
tidak kita senangi hanya membuat kita menderita.
Untuk memacu prestasi pendidikan Indonesia, sistem
pendidikan berbasis Science, Technology,
Engineering, Art and Mathematics atau STEAM mulai diterapkan dalam
pendidikan kita. Ini merupakan sebuah model pembelajaran populer di tingkat
dunia yang efektif dalam menerapkan Pembelajaran Tematik Integratif (PTI)
karena menggabungkan lima bidang pokok dalam pendidikan yaitu ilmu pengetahuan,
teknologi, matematika, seni dan rekayasa.
Metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan
mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses
pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu,
kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman
budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarir.
Baca Juga: Bekerja Menggunakan Gadget
Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam
mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap dalam persaingan
global. Sebab, Science, technology,
engineering, art and mathematics adalah mata pelajaran yang saling
berkaitan dalam kehidupan keseharian kita. Keempat bidang itu, saling kait
mengait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari
terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal, keempatnya
penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam
dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.
January 06, 2020




No comments:
Post a Comment