Menu
Showing posts with label Covid 19. Show all posts
Showing posts with label Covid 19. Show all posts

Covid-19: Penderitaan yang Melahirkan Harapan



Pengantar
Di manakah Allah saat ini? Apakah Allah yang menciptakan bencana ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bermunculan tatkala penderitaan merundung kehidupan manusia. Sebuah konsep yang menyalahkan eksistensi Allah tatkala penderitaan yang dihadapi tidak memiliki jalan keluar. Semakin besar penderitaannya, semakin banyak manusia yang menyebut nama Allah, entah untuk penguatan, atau pun dalam kemarahan.[1] Mereka menyebut Allah untuk sebuah pertolongan atau pun untuk menyalahkan atas situasi yang dialami.
Situasi serupa mungkin dihadapi oleh sebagian manusia yang hidup pada masa Covid-19 melanda dunia. Sekadar informasi tentang Covid-19, Covid-19 merupakan sebuah Virus yang berasal dari sebuah kota China, yaitu Wuhan. Virus ini dapat dengan mudah menyebar ke tubuh manusia. Kematian seolah-olah menjadi sebuah candaan yang dapat dengan mudah direnggutnya.
Kehadiran virus ini telah menimbulkan ketakutan, keresahan, dan kecemasan bagi banyak orang. Berhadapan dengan situasi seperti ini, tatkala manusia tidak menemukan jalan keluarnya, banyak di antara mereka mempertanyakan eksistensi Allah. Jargon-jargon yang disematkan pada diri Allah seperti Maha baik, Maha pengasih, Maha pengampun dan lain-lain seketika hilang. Eksistensi Allah pun terus dipertanyakan. Tentang Allah, manusia bertanya, bahkan menuntut: Apakah Allah ada? Jika Ia ada, mengapa Ia tega membiarkan tragedi ini menimpa manusia?[2]
 Benarkah Allah menciptakan bencana ini? Untuk menjawab itu, mungkin perlu melihat kembali perkataan tokoh klasik, yaitu santo Agustinus. Agustinus mengatakan, penderitaan dan kejahatan yang ada di dunia ini tidak boleh pernah diterangkan sebagai yang berasal dari Allah, karena itu bertentangan dengan hakikat Allah sebagai yang maha baik.[3] 


Allah pada hakikatnya adalah pribadi yang baik. Penderitaan yang menimpa manusia pada saat ini berasal dari kebebasan yang dimiliki manusia. Kebebasan membuat manusia mampu melakukan apa pun sesuai dengan kemampuannya, bahkan menciptakan kejahatan dan penderitaan. Penderitaan dan kejahatan di dunia ini disebabkan oleh manusia yang salah menggunakan kebebasannya.[4] Allah tidak pernah menciptakan penderitaan karena Allah adalah kasih.

Allah  yang  Mahabaik
Allah pada hakikat adalah pribadi yang baik. Mungkin banyak di antara kita yang mempertanyakan, apakah Allah benar-benar baik? Jika Allah itu sungguh baik, mengapa Ia menciptakan bencana? Allah tidak pernah menciptakan penderitaan dan bencana.
Allah menciptakan hukum alam yang ketika dilanggar mendapat hukum karma. Ia menciptakan kebebasan kepada manusia untuk berkuasa atas ciptaan yang lain. Namun, manusia dituntut untuk bertanggung jawab terhadap ciptaan lain. Di lain pihak, manusia tidak dapat menyangkal bahwa ia ciptaan yang lemah, dan betapa sering ia tak setia pada komitmen merawat bumi serta solider dengan sesama.[5] 
Ciptaan-Nya mencerminkan wajah Allah. Dalam kosa kata santo Bonaventura, di balik alam semesta tersembunyi rasio kekal yang mengatur, yaitu kebijaksanaan Allah.[6] Namun, banyak manusia juga berpendapat bahwa bencana dan penderitaan merupakan peringatan dari Allah.
Frankil Graham putra penginjil Billy Graham pernah mengatakan “'Tuhan akan menggunakan badai itu untuk membawa bangunan rohani. Tuhan punya rencana, Tuhan memiliki tujuan.''[7] Hal ini ia ungkapkan seminggu setelah badai Kartrina melanda Amerika Serikat, seminggu setelah New Orleands dilanda banjir dan membunuh banyak orang di Amerika Serikat. 

Lalu, terkait situasi Covid-19, apakah kehadiran virus itu merupakan ciptaan Allah? Tidak, Allah tidak pernah menciptakan penderitaan. Seperti yang St. Agustinus katakan, kebebasan yang dimiliki manusia justru menciptakan hadirnya penderitaan. Namun, bagaimana dengan kebebasan yang dimiliki manusia, apakah kebebasan itu berasal dari Allah? Karena ketika kebebasan itu berasal dari Allah, dengan sendirinya Allah bertanggung jawab atas penderitaan tersebut. Inilah problem yang kita hadapi pada saat ini. Pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi Allah bermunculan tatkala penderitaan berhadapan dengan situasi batas serta buntunya jawaban atas penderitaan tersebut.


Sejarah pun telah membuktikan kebaikan hati Allah. Dalam kitab Keluaran dikisahkan campur tangan Allah atas kehidupan bangsa Isreal. Allah menuntun bangsa Israel melalui Musa untuk keluar dari Mesir dan menuju tanah terjanji. Kebaikan diri Allah pun nyata terwujud dalam diri Putra-Nya Yesus Kristus. Yesus telah menderita untuk keselamatan manusia. Yesus mengorbankan diri untuk menghapus dosa manusia.

Salah satu metafora utama untuk menjelaskan makna kematian Kristus adalah korban atau lebih tepat korban penghapus dosa.[8] Allah telah mengutus putra-Nya untuk menghapus dosa manusia melalui penderitaan-Nya di salib. Yesus bangkit dari kematian dan mengalahkan maut dosa. Manusia pun demikian, manusia pun akan dibangkitkan bersama Kristus. Penderitaan dan kebangkitan Kristus inilah yang perlu kita refleksikan dalam menghadapi situasi manusia zaman ini, secara khusus dalam menghadapi situasi Covid-19.

Penderitaan dan Kebangkitan Kristus: Refleksi atas Covid-19
Situasi Covid-19 telah menimbulkan ketakutan dalam diri manusia, takut terkena virus lalu meninggal dunia. Bukan hanya itu, efek lain dari kehadiran virus ini berdampak pula pada tatanan ekonomi, sosial, dan politik. Kecemasan yang berlebihan pun mulai muncul, penyakit-penyakit yang memiliki indikasi seperti Covid-19 akan dicurigai, ketika bersin atau flu biasa pun diindikasikan gejala terserang Covid-19. Para kriminal melancarkan aksi dengan alasan di-PHK dari kantor.
Semua orang menggunakan segala cara agar dapat bertahan hidup, kematian sesuatu yang sangat ditakutkan. Namun, ketika  kita merefleksikan salib dan Kebangkitan Kristus, kita tidak perlu cemas dan takut akan kematian itu, karena kita yakin dan percaya bahwa kita pun akan diselamatkan oleh Kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus melahirkan pengharapan yang besar. Demikian pun dalam situasi saat ini, keyakinan umat beriman akan kebangkitan Kristus menguatkan mereka dalam menghadapi Covid-19.
Melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah membuktikan diri-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan. Ia manusia sekaligus Allah. Kebangkitan yang menjadi momen mengungkapkan jati diri Yesus.[9] Melalui kebangkitan-Nya pula, Yesus memberi pengharapan kepada umat beriman sebuah keselamatan kekal.
Kebangkitan Kristus juga merupakan wujud nyata kebaikan hati Allah kepada manusia. Allah menyerahkan Putra-Nya untuk menderita, disalib, wafat, dan bangkit demi dosa dan keselamatan manusia. Kebangkitan Kristus adalah satu-satunya harapan umat manusia pada saat ini.


Di tengah masalah Covid-19 yang belum menemukan jalan akhir, penawar Covid-19 yang belum ditemukan, rusaknya tatanan ekonomi, sosial, dan politik, serta banyak manusia yang meninggal, tentunya harapan kita ada pada keselamatan yang Yesus tawarkan. Bagi seorang Kristen, sumber dari harapan manusia ialah Yesus Kristus.[10] Yesus adalah kebangkitan yang membawa keselamatan. Ia telah bangkit dari maut, demikian pun umat-Nya akan di bangkitkan bersama-Nya.

Penutup
Situasi Covid-19 telah menimbulkan keresahan bagi manusia pada saat ini. Covid-19 telah menimbulkan kecemasan dan ketakutan, ketakutan terbesar adalah terkena virus lalu meninggal. Untuk itu, semua manusia berusaha semampu mereka untuk dapat bertahan hidup. Kehidupan akibat Covid-19 ini seperti seorang pujangga yang berpetualang di hutan sendirian dan kapan saja hidupnya dapat direnggut oleh binatang buas.
Setiap orang memikirkan bagaimana cara agar dapat bertahan hidup di tengah pandemi ini. Namun di balik semua itu, mereka memiliki harapan besar agar masalah ini dapat selesai. Satu-satunya harapan manusia pada saat ini ada pada campur tangan Allah. Sebab hingga saat, pengetahuan sains belum menemukan penawar dari Covid-19. Allah adalah pengharapan satu-satunya. [Apri Lowa]



DAFTAR PUSAKA

Sunarko, Adrianus. Teologi Kontekstual. Jakarta: OBOR, 2016.
..........., Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik. Jakarta: OBOR, 2017.
Stern, Gary. Can God Intervene?: How Religiom Explains Natural Disaster. London: Praeger, 2007.
Andreas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/.

Sumber gambar 1: localprayers.com
Sumber gambar 2: teepublic.com



[1] Gary Stern, Can God Intervene?: How Religion Explains Natural Disaster, (London: Praeger, 2007), hal. 2.
[2] Bdk. Andreas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.
[3] Adrianus Sunarko, Teologi Kontekstual, (Jakarta: OBOR, 2016), hal. 55.
[4] Adrianus Sunarko, Teologi Kontekstual, hal. 56.
[5] Bdk. Andeas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.
[6] Andreas B. Atawolo, Hasrat Allah akan Jiwa Manusia: Belajar dari Teknologi St. Bonaventura, (Jakarta: OBOR, 2017), hal. 25.
[7] Gary Stern, Can God Intervene?: How Religiom Explains Natural Disaster, (London: Praeger, 2007), hal. 6.
[8] Adrianus Sunarko, Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik, (Jakarta: OBOR, 2017), hal. 13.
[9] Adrianus Sunarko, Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik. hal. 10.
[10] Bdk. Andeas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.


Akankah Coronavirus Mengubah Pengalaman Belajar Tatap Muka?


Sejauh ini jawabannya tidak. Tetapi beberapa media pendidikan yang dapat digunakan secara online cenderung akan bertahan bahkan terus digunakan di masa depan. Masalah yang disebabkan oleh pandemi coronavirus telah mendorong banyak pihak untuk bersama-sama berjuang dalam belajar dan mengajar.
Seorang profesor di Loyola University, New Orleans mengajarkan kelas virtual pertamanya dari halaman rumahnya. Uniknya dia mengenakan pakaian santai sambil menyeruput segelas anggur. Mungkin dia merindukan kesempatan seperti ini, mengajar sambal meneguk segelas anggur.
“Apa yang kita bicarakan ketika berbicara tentang pendidikan online adalah menggunakan teknologi digital untuk mengubah pengalaman belajar,” kata Vijay Govindarajan, seorang profesor di Sekolah Bisnis Tuck di Dartmouth. Dalam proses belajar mengajar semuanya dilakukan secara online. Bahkan ujian pun harus dilakukan secara online. Apakah ini pertanda pendidikan tatap muka, akan dikurangi atau ditiadakan?
Akan ada beberapa dampak penting yang bertahan lama, seperti: sekolah dapat memasukkan media pembelajaran online ke dalam kelas konvensional. Selain itu, siswa mengalami jenis pembelajaran fleksibel yang mungkin tidak mereka sukai, sehingga mereka bisa menggantinya dengan memilih memperlajari materi lain yang mereka sukai.

Baca Juga: Pembelajaran Online Harus Bermanfaat bagi Semua Siswa

Semester ini "memiliki potensi untuk meningkatkan harapan dalam menggunakan sumber daya online untuk melengkapi apa yang kami lakukan sebelumnya, dengan cara evolusi, bukan cara revolusi," kata Eric Fredericksen, wakil presiden asosiasi untuk pembelajaran online di University of Rochester. 
Pendidikan online memungkinkan siswa bergerak dengan langkah mereka sendiri dan memasukkan fitur seperti penilaian berkelanjutan sehingga mereka dapat melompat ke depan segera setelah mereka menguasai keterampilan atau materi belajar, kata Dr. Fredericksen. Menyusun, merencanakan, merancang, dan mengembangkan kursus atau program online secara profesional dapat menghabiskan waktu dan seringkali membutuhkan orientasi dan dukungan siswa serta infrastruktur teknologi yang memadai.
Pengalaman selama ini menunjukkan adanya kesalahan atau “keliru” dengan pembelajaran online. Ada keluhan seperti pertemuan kelas panjang di ruang konferensi video, paket data atau jaringan yang kurang memadai. Tidak bisa menyamakan metode pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online. Pandemi ini menjadi kesempatan bagi guru atau para pendidik untuk lebih kreatif memberikan pengajaran kepada siswa seperti memberikan tugas kelompok atau tugas yang membutuhkan nalar kritis dan guru hanya sebagai fasilitator.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Eduventures di Amerika Serikat memperkirakan hanya sekitar 20 persen peserta didik di sana yang mengikuti kursus online pada musim gugur 2018. Ketika menghadapi pandemi seperti sekarang, hanya orang-orang ini yang memahami apa yang harus dilakukan. Mereka sudah memiliki pengalaman kursus online. Karena itu, mereka tidak akan kaget ketika melakukan pembelajaran online.

Baca Juga: Tahun 2019 Rekor Jumlah Pengungsi Terbanyak dalam Sejarah

Menurut survei  terhadap hampir 1300 siswa di Amerika Serikat oleh penyedia persiapan ujian online OneClass menunjukkan lebih dari 75% mengatakan mereka tidak berpikir mereka mendapatkan pemahaman belajar yang berkualitas. Dalam jejak pendapat terpisah terhadap 14.000 mahasiswa pada awal April oleh situs niiche.com, yang memberikan peringkat sekolah dan perguruan tinggi, fakta mencengangkan menunjukkan ternyata 67% mengatakan mereka tidak merasakan kelas online sama efektifnya ketika melakukan pembelajaran konvensional.
Sudah, lebih dari setengah orang dewasa Amerika yang berharap membutuhkan lebih banyak pendidikan atau pelatihan setelah pandemi ini mengatakan mereka akan melakukannya secara online, menurut survei terhadap 1.000 orang oleh Strada Education Network, yang menganjurkan koneksi antara pendidikan dan pekerjaan. 
Bahkan mereka yang sudah lama menghindari pembelajaran atau kursus online harus melakukannya semester ini, dalam beberapa bentuk atau lainnya. Tidak ada pilihan lain, agar dapat mengikuti pembelajaran dalam kelas maka pilihan belajar via online mutlak dilakukan.

Baca Juga: Beberapa Catatan Penting Dunia Pendidikan Indonesia Tahun 2020

Menarik pernyataan berikut bahwa bersama siswa mereka, para staf pengajar “dilempar ke ujung kolam untuk belajar media digital dan diminta untuk berenang,” kata Pak Moe. "Beberapa akan tenggelam, beberapa akan berenang ke tepi kolam dan memanjat keluar dan mereka tidak akan pernah kembali ke kolam lagi. Tetapi banyak yang akan mencari tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana berenang dan bagaimana tetap bertahan.”
Pada akhirnya, pandemi ini mengharuskan dunia pendidikan untuk menentukan langkah selanjutnya. Apakah mereka akan tetap bertahan dengan cara konvensional total atau mulai mengadopsi cara pembelajaran online dan memadukannya dengan cara konvensional. Memang belajar dengan tatap muka tidak akan tergantikan, tetapi tidak salah jika juga mulai mengadopsi metode pembelajaran via online.

Sumber gambar: https://online.jwu.edu


Pandemi Virus Corona Memformat Ulang Model Pendidikan



Pada Minggu, 23/02/2020, ada desas-desus bahwa sekolah-sekolah di wilayah Lombardi, Italia, mungkin ditutup. Alasannya adalah jumlah kasus positif dan kematian akibat virus corona yang terus melonjak. Iain Sachdev, kepala sebuah sekolah di wilayah Lombardi, mengumumkan kepada para guru, siswa, dan orang tua murid bahwa mereka akan menerapkan sistem pembelajaran online
Italia memang harus segera menentukan arah dalam upaya menghentikan penyebaran virus tersebut. Salah satunya adalah menghentikan pembelajaran dalam kelas dan menggantinya dengan pembelajaran jarak jauh (online). Menerapkan kelas belajar online adalah prestasi besar sekaligus tantangan. Seluruh civitas akademika harus memanfaatkan waktu yang tersedia untuk belajar. Tidak hanya siswa, tetapi juga para guru. Mereka pun memulai kelas digital.  
Setiap hari, para guru mengajar melalui video konferensi. Anak-anak berpartisipasi menggunakan Padlet, sebuah sistem catatan post-it virtual yang memungkinkan siswa berbagi ide; dan Flipgrid, yang memungkinkan guru dan siswa membuat video pendek untuk dibagikan. Siswa mengerjakan tugas individu, tugas kelompok, dan juga berdiskusi dengan guru. Guru tidak lagi menggunakan email untuk memberikan materi pengajaran, tetapi produk Microsoft.
Di seluruh dunia diperkirakan ada 1,5 miliar siswa tidak bersekolah secara konvensional dan ratusan juta berusaha belajar secara online. Percobaan ini tentu menuntut agar membentuk kembali sekolah, gagasan pendidikan, dan metode pembelajaran di abad ke-21. Pandemi ini memaksa para pendidik, orang tua, dan siswa untuk berpikir kritis, menyelesaikan masalah, menjadi kreatif, berkomunikasi, kolaborasi, dan gesit.

   
Siswa akan mengambil peran yang signifikan bagi pembelajaran mereka, memahami lebih banyak tentang bagaimana mereka belajar, apa yang mereka sukai, dan dukungan seperti apa yang mereka butuhkan. Siswa akan mempersonalisasikan pembelajaran mereka, bahkan jika sistem di sekitar mereka tidak mendukung.

Teknologi
Apa yang terjadi pada teknologi pendidikan setelah pandemi virus corona berakhir, sebagian akan bergantung pada kualitas teknologi itu sendiri. Direktur Eksekuti Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas) Indra Charismiadji menilai, pembelajaran jarak jauh di tengah wabah Covid-19 belum berjalan ideal. Di antaranya karena ada kecenderungan siswa diberikan PR yang ugal-ugalan. Kemudian, ada juga guru hanya merekam proses pembelajaran di kelas kemudian disebar ke ponsel siswa.
Model pembelajaran dalam jaringan (daring) seharusnya berorientasi pada kemampuan siswa agar mampu memecahkan masalah, kritis, kolaboratif, komunikatif, kreatif, dan inovatif. Guru harus jadi fasilitator dan motivator bagi siswa, bukan menjelaskan materi yang siswa bisa baca di buku atau cari di google.
Oleh karena itu, masa pandemi ini adalah masa di mana kita dituntut untuk kreatif dan mampu menyelesaikan suatu persoalan. Masalah pendidikan yang sedang kita hadapi saat ini pada akhirnya mengharuskan pihak sekolah dan semua pihak untuk mencari solusi yang terbaik agar siswa masih bisa belajar dengan baik.
Akan tetapi, ketika saat ini teknologi mampu menghubungkan orang-orang di berbagai tempat untuk belajar, teknologi sekaligus menunjukkan sisi lainnya. Krisis telah memberikan cahaya baru untuk melihat adanya ketidaksetaraan dalam mengakses internet dan belajar via online. Ada jurang pemisah antara sekolah yang memiliki akses kelas online dan sekolah yang tidak memilikinya.
Tidak hanya itu, kejadian ini juga menjadi pengingat nyata akan pentingnya sekolah bahwasanya tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai tempat untuk sosialisasi, perawatan dan pelatihan, komunitas dan ruang belajar bersama. Memang tempat belajar pertama dan terutama dari seorang siswa adalah keluarga, tetapi dengan melakukan interaksi sosial di sekolah terdapat sisi lain dari setiap pribadi yang perlu dikembangkan.


Pandemi ini memberikan wawasan teknologi besar-besaran tentang bagaimana perkembangan manusia dan pembelajaran di masa depan. Ketika badai pandemi berlalu, sekolah-sekolah mungkin mengalami revolusi. Atau, mereka dapat kembali ke apa yang mereka ketahui. Tetapi dunia di mana mereka akan ada—yang ditandai dengan meningkatnya pengangguran dan kemungkinan resesi—akan menuntut lebih banyak. Pendidikan mungkin lambat untuk berubah, tetapi ekonomi pasca-virus corona akan menuntutnya.


Ketidakadilan
Menurut data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), di Denmark, Slovenia, Norwegia, Polandia, Lithuania, Islandia, Austria, Swiss dan Belanda, lebih dari 95% siswa melaporkan memiliki komputer atau laptop yang digunakan untuk belajar. Sementara, di Indonesia hanya 34% siswa yang memiliki laptop atau komputer untuk belajar. Data ini menunjukkan sebuah perbedaan yang cukup tajam. Belum lagi, tingkat literasi dan kemampuan guru di banyak tempat yang masih kesulitan menggunakan media pembelajaran dalam jaringan.
Ketidakadilan lain yang ditemukan adalah kesenjangan di antara siswa. Hal tersebut tidak hanya pada soal akses internet, tetapi juga kemampuan ekonomi keluarga. Selain itu, tidak setiap orang tua memiliki tingkat literasi digital yang diperlukan untuk membantu anak-anak mereka beralih ke pembelajaran online. Inilah beberapa model kesenjangan yang ditemukan ketika sekolah dengan terpaksa melakukan pembelajaran via online.


Schleicher direktur OECD mengatakan bahwa optimis terhadap penyerapan teknologi bersanding dengan pesimisme tentang apa artinya ini bagi keadilan. Mereka yang berlatar belakang sosial-ekonomi yang mapan akan menemukan alat yang mereka butuhkan, melalui orang tua atau tutor atau sekolah mereka yang memiliki sumber daya yang lebih baik. Akan tetapi, mereka yang berasal dari latar belakang yang kurang beruntung akan menghadapi banyak tantangan.
Jelas bahwa ini tidak akan menjangkau semua orang dan itu bukan hanya masalah akses ke kebutuhan dalam belajar. Jika siswa tidak tahu bagaimana belajar mandiri, tidak tahu bagaimana mengatur waktunya dengan baik, tidak memiliki motivasi intrinsik, siswa tersebut tidak akan sukses dalam pembelajaran online. Sebab, pembelajaran online tidak hanya melibatkan lingkungan sekitar, tetapi juga diri pribadi itu sendiri. Pada akhirnya, semua kembali ke pribadi masing-masing.






Selalu Ada Makna dari Sebuah Bencana


Selama beberapa pekan terakhir kita berada dalam situasi genting karena pandemi Covid-19. Data Satgas COVID-19 (BNPB) dalam https://www.covid19.go.id/ per 30 Maret 2020 pkl. 15.32 WIB, total korban positif 1.414 orang, sembuh 75 orang dan meninggal 122 orang. Jumlah yang cukup banyak dan menggetarkan hati. Betapa tidak, dengan korban sebanyak itu ternyata fasilitas medis masih minim ditambah gaya hidup masyarakat Indonesia yang masih “bar-bar”. Tidak mengherankan jika pandemi ini seakan belum ingin berakhir.
Akan tetapi, menghadapi situasi demikian apakah kita lantas menyerah? Tentu saja tidak. Viktor Frankl dalam Means Search Meaning, mengatakan: “... Manusia bukanlah tikus atau anjing. Manusia adalah manusia, yang memiliki dimensi kemanusiaan tersendiri” (2004: hlm.10).
Bagi Frankl, yang pernah mengalami hidup dalam kekejaman camp konsentrasi Auschwits saat Perang Dunia II, manusia bukan sekadar tulang, darah, dan daging. Di dalam tubuh manusia ada jiwa yang jauh lebih luhur dan tinggi daripada sekadar onggokan daging yang kasar. Tubuh manusia memang bisa disakiti dan disiksa oleh siapa saja, tetapi jiwa dan akal budi tidak bisa diambil dari manusia.

Baca Juga: Orang Kecil dan Terpinggirkan di Antara Wabah Corona

Manusia juga memiliki pilihan untuk bertindak, kebebasan berpikir, dan menentukan sikap dalam setiap keadaan.  Dengan demikian, kebebasan yang ada dalam diri dapat digunakan untuk mencari makna hidupnya. Manusia dituntut untuk menentukan makna hidupnya, bukan hidup yang memberikan makna baginya. Dalam hal ini manusia menjadi penentu pilihannya.
Setiap orang adalah penentu bagi pilihannya sendiri. Sebesar apa pun tekanan dari luar untuk menentukan pilihan, semuanya tetap bergantung pada manusia itu sendiri. Kebebasan yang dimiliki oleh manusia saat menentukan pilihannya itu tidak dimiliki oleh makhluk lain. Hewan memang bisa menentukan pilihannya, tetapi dia tidak tahu apakah pilihannya itu berdampak baik atau buruk untuk dirinya.

Memaknai Penderitaan
Cara lain untuk menemukan makna hidup adalah melalui cara menyikapi penderitaan yang tidak bisa dihindari. Penderitaan menjadi kesempatan yang besar untuk menemukan makna hidup. Cara rasional menyikapinya adalah dengan menerima bahwa dalam kondisi seperti itu pun tetap ada makna dan tujuannya. Situasi-situasi yang sangat buruk pasti menimbulkan keputusasaan dan tampaknya tidak ada harapan. Namun, Frankl melihatnya sebagai situasi-situasi yang memberikan kesempatan besar untuk menemukan arti hidup.

Sekarang, saat menghadapi wabah Covid-19, kita tidak mampu menghindarinya. Tentu kita semua ingin selamat. Saat ini pandemi, Covid-19 menggantikan peran malaikat pencabut nyawa. Akan tetapi, layakkah kita pesimis dan terus berharap ada mukjizat? Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia, mengatakan, “…Orang-orang berdoa kepada Tuhan agar menurunkan keajaiban, tetapi mereka sendiri tidak berbuat serius untuk menghentikan kelaparan, wabah dan perang.” (2018: hal 21) Jadi kita semua punya peran masing-masing untuk menghentikan penyebaran wabah ini dengan mengikuti arahan pemerintah dan pihak medis.

Baca juga: Covid-19: Penderitaan yang Melahirkan Harapan

Wabah ini memang menakutkan. Akan tetapi, tetap ada makna di baliknya. Misalnya: Dengan belajar dan bekerja dari rumah, orangtua punya lebih banyak waktu dengan anak, punya kesempatan untuk berdoa dan makan bersama. Selain itu, meningkatkan rasa solidaritas dengan orang-orang kecil. Juga, membiarkan ibu bumi untuk beristirahat sejenak. Setidaknya dengan berkurangnya jumlah kendaraan di jalan raya saat ini turut mengurangi polusi udara dan membiarkan ibu bumi memulihkan dirinya.
Dalam kehidupan, banyak hal memang dapat dirampas oleh orang lain. Akan tetapi, kebebasan batin dan spiritual tidak dapat dirampas dari manusia. Kebebasan batin dan spiritual membuat kehidupan memiliki makna dan tujuan. Makna dan tujuan hidup inilah menjadi kekuatan bagi manusia dalam menghadapi tantangan hidupnya.
Dengan memiliki makna dan tujuan hidup, manusia akan berusaha untuk selalu kuat dalam menghadapi tantangan hidupnya. Usaha dan kehendak yang kuat untuk mencari, menemukan, dan kemudian mengalami makna dalam kehidupan menjadi ciri dan hakikat manusia. Kehidupan manusia senantiasa memiliki makna yang mendalam sampai pada momen terakhir hidupnya. Semoga kita semua menemukan makna di balik pandemi ini. Yakinlah, tidak ada yang sia-sia di bawah kolong langit ini.

Sumber gambar 1: https://pixabay.com/id/users/geralt-9301/
Sumber gambar 2: https://blog.mizanstore.com/

Orang Kecil dan Terpinggirkan di Antara Wabah Corona



Lambaian selamat tinggal terlihat di Tiongkok. Tiga puluh empat pasien terakhir yang terkena virus Corona telah meninggalkan Rumah Sakit. Sebelumnya dunia menertawakan Tiongkok ketika pertama kali wabah ini terjadi di sana. Sebagian orang menyebut Tiongkok sedang mendapat kutukan dari Tuhan karena makan hewan liar. Bahkan terdengar juga guyonan ‘ternyata Tiongkok tak sehebat yang dibayangkan, dengan kelelawar aja bisa kalah’. Tak tanggung-tanggung total korban meninggal dunia akibat virus ini mencapai 3.245 orang.
Setelah sekian minggu menghadapi wabah ini, akhirnya pada tanggal 23 Februari 2020 Tiongkok kembali membuka diri. Kehidupan berangsur normal dan penyembuhan sudah di atas 50%, terus membaik dan mendekati 100%. Bahkan beberapa Rumah Sakit darurat korban Corona yang dibangun pemerintah sudah ditutup karena tidak ada lagi pasien yang datang. Dalam hitungan Minggu Tiongkok sebagai negara pertama terpapar virus ini sudah berhasil mengatasinya. Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia khususnya Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), ketika pemerintah mengumumkan adanya pasien terjangkit virus Corona?
 Menyikapi hal itu, per tanggal 02 Maret pihak KAJ mengeluarkan surat himbauan untuk mencegah penyebaran virus tersebut khususnya saat umat mengikuti perayaan ekaristi harian atau mingguan. Pada poin pertama, dijelaskan bahwa gereja Katolik di KAJ tetap memberi izin untuk menggelar misa sesuai dengan jadwal masing-masing.
Namun, untuk umat yang telah terjangkit virus Corona dianjurkan untuk tidak menghadiri ibadah dan segera ke dokter. Namun, sejak 19 Maret yang lalu pihak KAJ mengeluarkan surat agar tidak melaksanakan kegiatan misa atau ibadah Bersama. Semua itu untuk mengurangi dan menghindari penyebaran virus Corona yang semakin meluas dan menewaskan semakin banyak orang.
Selain gereja KAJ mengeluarkan surat himbauan, presiden Jokowi juga mengeluarkan perintah agar para pekerja bisa melaksanakan tugasnya hanya dari rumah dan tidak perlu ke kantor. Dengan kondisi saat ini saatnya kita bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah. Inilah momen untuk bekerja bersama, saling menolong, dan bersatu padu.  Kita ingin menjadi sebuah gerakan masyarakat agar masalah Covid-19 ini bisa ditangani dengan maksimal. Kurang lebih seperti itu pernyataan presiden Jokowi. Semua itu memiliki tujuan yang jelas, agar virus corona tidak menyebar ke lebih banyak orang. Sayangnya, masih ada sisi lain yang tidak diperhatikan oleh pemerintah, yaitu keberadaan orang-orang kecil, miskin dan terlantar.
Pemerintah mengatakan agar saat ini semua hal harus dilakukan dari rumah. Akan tetapi, pertanyaan besarnya adalah bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki rumah dan menghabiskan sebagian besar hidup mereka di gerobak, di pinggiran rel kereta api, dan di jalanan. Apakah pemerintah dan mungkin juga kita pernah berpikir sampai sejauh itu? Untuk menghadapi virus mematikan ini, di manakah mereka akan berlindung? Apakah sebagai orang Katolik sudah punya solusi untuk melindungi dan menyelamatkan saudara-saudara kita ini?

Ketamakan Membunuh Orang Kecil
Saat orang-orang berduit memutuskan berdiam diri di rumah untuk menghindari paparan virus yang mematikan, membeli banyak persediaan makanan dan obat-obatan masih ada orang yang mencari nafkah dengan menyusuri jalanan. Semua demi kelangsungan hidupnya dan juga keluarga tercinta. Bukan tidak mungkin mereka juga berisiko tertular virus yang mengancam nyawa.
Namun, jika mereka tidak melakukannya, apa jadinya hidup mereka beserta keluarga? Adakah yang peduli dengan mereka? Mereka juga ingin selamat dan terhindar dari virus itu, tetapi keadaan tidak mendukung. Keadaanlah yang mengharuskan mereka terus berjuang di jalanan tanpa mempedulikan lagi sekarang sedang ada wabah yang mematikan.
Mungkin kata-kata Yesus dalam Mat 25:35-40 menjadi inspirasi untuk kita dalam memberikan bantuan kepada orang kecil dan terpinggirkan. “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus kamu memberi Aku minum, ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit kamu melawat Aku; ketika aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. …. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.
Dari perikop di atas saja dengan cukup jelas mengajak kita agar memperhatikan orang-orang di sekitar. Dengan wabah Corona yang semakin meningkat telah menimbulkan ketakutan yang luar biasa dalam diri banyak orang. Perhatikan dengan saksama ketika Presiden Jokowi pertama kali mengumumkan dua orang warga Indonesia terjangkit virus ini.
Orang-orang seperti berlomba membeli dan mengumpulkan makanan, obat-obatan dan masker baik untuk dirinya maupun untuk keluarganya. Mewaspadai segala sesuatu memang penting, tetapi jangan sampai mengorbankan orang lain. Tindakan panic buying hanya menyengsarakan orang-orang kecil yang tidak mampu membeli dalam jumlah banyak dan menimbunnya di rumah.
Apakah tindakan itu dilakukan dengan sadar atau tidak, yang jelas ketika membeli dalam jumlah banyak hanya untuk diri sendiri banyak orang di luar sana tidak mendapat kebagian. Orang-orang kecil dan terpinggirkan adalah korban nyata dari ketamakan kita. Mungkin tepat pepatah Latin kuno bahwa manusia adalah “homo homini lupus”. Bukan virus yang menyebabkan kita menderita, tetapi ketamakan dan egois yang ada dalam diri kita masing-masing.
Dalam keadaan seperti ini apakah kita masih punya hati untuk pengemis yang lapar, pemulung yang tidak punya tempat tinggal yang tetap mencari sesuap nasi tanpa menggunakan masker? Apakah kita masih sempat memikirkan orang-orang kecil seperti mereka?
Mengutip homili MGR Ignatius Suharyo ketika membuka tahun keadilan di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Jakarta “ketika seseorang mengaku dirinya beriman, pasti salah satu buahnya yang paling jelas adalah persaudaraan. Di tahun keadilan sosial kita semakin beriman, semakin bersaudara dan semakin berbela rasa. Adil dan berbela rasa tidak boleh dipisahkan, keduanya meski terus diasah supaya tidak menjadi tumpul”
Kepekaan sosial dan moral haruslah berbuah pada tindakan yang adil dan berbela rasa terhadap sesama. Peletakan patung Yesus yang miskin seperti para gelandangan di dekat gereja Katedral Jakarta adalah simbol Yesus yang menyamakan diri-Nya dengan orang lapar, miskin, gelandangan dan orang yang di penjara. Pertanyaan sederhana untuk kita adalah apakah kita juga mau berbela rasa dengan orang-orang kecil dan terpinggirkan di tengah situasi sekarang? Apakah kita peduli dengan mereka yang tidak punya rumah ketika wabah Corona semakin meluas?