Menu
Showing posts with label kualitas pendidikan. Show all posts
Showing posts with label kualitas pendidikan. Show all posts

Merdeka Belajar Sebagai Merek Swasta?



Dalam salah satu webinar yang diselenggarakan pada 07 Agustus 2020 turut hadir sebagai narasumber Pak Ferdiansyah, anggota DPR RI Komisi X, Ahmad Rizali Ketua Bidang Pendidikan NU Circle, Iwan Pranoto Ph.D guru besar Matematika ITB, Indra Charismiadji, dan beberapa narasumber lainnya. Topik yang dibahas adalah Merdeka Belajar Sebagai Merek Swasta: Dampak dan Solusi Dunia Pendidikan.

Mengapa tema ini dibahas? Rupanya karena para narasumber merasa kuatir dengan pendidikan kita ke depannya. Bagaimana mungkin sebuah produk milik swasta menjadi tagline pendidikan nasional oleh Kemdikbud? Bukankah ini menjadi ladang bisnis baru dari sekolah itu dan secara tidak langsung kementerian turut mempromosikannya? 

Jika demikian, apakah mas Menteri ceroboh ketika menjadikan konsep merdeka belajar sebagai titik awal untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa? Apakah tidak terjadi masalah di kemudian hari karena “konsep merdeka belajar” secara hukum telah menjadi milik salah satu sekolah swasta? 

Akan tetapi, jika ditilik lebih jauh, konsep ini pertama kali dicetuskan oleh bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara tetapi dengan nama yang berbeda. Pada intinya konsep merdeka belajar ala Ki Hajar Dewantara, menjadikan sekolah sebagai tempat untuk belajar sekaligus bermain. 

Baca juga: Memperbaiki Kualitas Pendidikan Menyongsong Revolusi Industri 4.0

Siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi dan bakat yang ada dalam diri mereka tanpa diharuskan untuk menghafal materi pelajaran. Siswa cukup memahami pelajaran di sekolah dan mempraktiknya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu narasumber menilai akan berbahaya bila konsep Merdeka Belajar dikapitalisasi. Sebab, dampaknya akan berujung kepada sanksi hukum. "Begitu Merdeka Belajar jadi merek dagang suatu perusahaan pendidikan swasta nasional, implikasinya pasti ke hukum. Siapapun yang menggunakan istilah tersebut implikasinya ke hukum. Inilah sisi negatif dari kapitalisasi pendidikan. 

Ketika itu berimplikasi misalnya pada royalti yang harus dibayar Negara, dalam hal ini Kemendikbud, maka itu jadi masalah. Karena Kemendikbud juga menggunakan jargon Merdeka Belajar,” kata salah satu narasumber dalam webinar tersebut.

Kita sepakat, fondasi pendidikan Indonesia berdiri di atas pemikiran Ki Hajar Dewantara. Adapun beberapa landasan filosofi pendidikan Ki Hajar, yaitu Kemerdekaan diri, Cita-cita manusia untuk mewujudkan perdamaian dan ketertiban, Sistem Among (Tut Wuri Handhayani), Merdeka (Berdiri sendiri), Zelfbedruipings systeem (Sistem Pemadam Diri). Dari beberapa landasan filosofis di atas terlihat jelas, siswa diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka ketika belajar.

Merdeka Belajar yang ditawarkan oleh Kemendikbud kurang lebih konsepnya telah diimplementasi oleh Taman Siswa jauh sebelum istilah ini menjadi merek dagang. Mungkin banyak sekolah di Indonesia telah menerapkannya sejak lama, tetapi dengan istilah yang berbeda. Maka akan menjadi problem, tatkala kosa kata ini menjadi merek dagang dan hak patennya menjadi milik sekolah tertentu. 

Baca juga: Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Pendidikan 4.0

Tetapi pertanyaannya adalah apakah sekolah ini telah meminta ijin kepada Ki Hajar Dewantara selaku pencetus ide Merdeka Belajar atau Taman Siswa sebagai sekolah bentukan beliau, meskipun menggunakan istilah yang berbeda?

Konsep Merdeka Belajar
Sebelum membahas lebih jauh tulisan ini alangkah lebih baik jika kita memahami konsep merdeka belajar yang dimaksud oleh Kemendikbud. Pentingnya memiliki SDM unggul merupakan solusi dalam menyelesaikan permasalahan bangsa, sebagaimana disampaikan oleh Mendikbud, bahwa: “Apapun kompleksitas masa depan, kalau SDM kita bisa menangani kompleksitas maka itu tidak menjadi masalah” (FORWAS Edisi ke-3/2019).

Tentu SDM yang dikehendaki merupakan kapital intelektual yang memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif, serta siap menghadapi era globalisasi. Apalagi saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan eksternal berupa hadirnya Revolusi Industri 4.0 yang bertumpu pada cyber-physical system. Dengan didukung oleh kemajuan teknologi, informasi, pengetahuan, inovasi, dan jejaring, yang menandai era abad kreatif.

Program Merdeka Belajar menurut Mendikbud akan menjadi arah pembelajaran ke depan yang fokus pada meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagaimana arahan bapak presiden dan wakil presiden (kemendikbud.go.id). 

Merdeka Belajar merupakan permulaan dari gagasan untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional yang terkesan monoton. Merdeka Belajar menjadi salah satu program untuk menciptakan suasana belajar di sekolah yang bahagia suasana yang happy, bahagia bagi peserta didik maupun para guru. Makanya tagline-nya merdeka belajar.

Adapun yang melatarbelakangi adalah keluhan para orangtua pada sistem pendidikan nasional yang berlaku selama ini. Salah satunya ialah keluhan soal banyaknya siswa yang dipatok dengan nilai-nilai tertentu. Ditambahkan pula bahwa program merdeka belajar merupakan bentuk penyesuaian kebijakan untuk mengembalikan esensi dari asesmen yang semakin dilupakan. 

Konsepnya, mengembalikan kepada esensi undang-undang kita untuk memberikan kemerdekaan sekolah menginterpretasi kompetensi-kompetensi dasar kurikulum, menjadi penilaian mereka sendiri, seperti disampaikan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud Supriano.

Bagaimana Sebaiknya?
Kita harus mengapresiasi langkah Kemendikbud dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Meskipun konsep merdeka belajar bukan ide baru di dunia pendidikan Indonesia, tapi baru kali ini resmi menjadi tagline pendidikan nasional. Sebuah langkah positif dan patut diapresiasi. 

Apalagi kualitas pendidikan kita yang cenderung berjalan di tempat. Setidaknya hasil yang dikeluarkan oleh Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 dan dirilis pada (3/12/2019) menempatkan Indonesia di urutan ke-72 dari 79 negara dapat menjadi alasannya.

Saya sebagai warga negara mendukung penuh langkah yang telah diambil oleh Kemendikbud. Lalu terkait dengan permasalahan tagline merdeka belajar telah menjadi merek dagang salah satu sekolah swasta di Jakarta, mungkin kedua belah pihak perlu duduk bersama untuk membicarakannya. 

Baca juga: Wei Ji dan Krisis Kualitas Pendidikan

Agar, apa yang menjadi kekuatiran para narasumber dalam webinar dan juga mungkin kita semua tidak terjadi. Atau, langkah lainnya adalah pihak kementerian mengeluarkan slogan dan tagline baru meskipun masih menggunakan konsep belajar yang sama.

Sudah terlalu lama pendidikan kita berjalan di tempat, karena itu ketika mas Menteri mengeluarkan konsep merdeka belajar ada secercah harapan di sana. Ki Hadjar Dewantara, menuturkan belajar merdeka berarti merdeka atas diri sendiri. 

Minat dan bakat siswa itu harus merdeka untuk berkembang seluas mungkin. Konsep itu yang dibawa Ki Hadjar Dewantara bagi bangsa ini dengan harapan tak digerus perkembangan zaman. 

Angka tidak boleh menjadi tolok ukur dalam pengembangan bakat. Kurikulum jangan dijadikan alat untuk menjajah anak didik. Terjajahnya anak didik dalam kurikulum akan membunuh pengembangan bakat yang digaungkan oleh pahlawan nasional itu. 

Sebagaimana dikatakan Harari dalam bukunya Homo Deus (2015, 195) “sistem pendidikan masal abad industrilah yang memulai penggunaan nilai-nilai angka pasti secara regular. Pada mulanya, sekolah-sekolah bertujuan untuk fokus mencerahkan dan mengedukasi murid”. Akan tetapi, di kemudian hari sekolah justru melupakan itu semua dan lebih fokus mengejar angka-angka.

Oleh karena itu, mengakhiri tulisan ini merdeka belajar yang telah menjadi merek swasta serta telah legal secara hukum tidak bisa lagi menjadi tagline kemendikbud. 

Meskipun ide-ide merdeka belajar milik sekolah itu diadopsi dari dokumen kemendikbud dan ide-ide yang ada dalam Taman Siswa, tetap saja tidak elok jika sekelas kementerian menggunakan tagline milik sekolah swasta. Perlu ada regulasi yang jelas agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari sehingga menyebabkan negara membayar kepada pihak sekolah.




.



Belajar Sambil Bermain: Bagaimana Sekolah Mendidik Siswa Melalui Teknologi

                       (Ket: Belajar sambil bermain)

Sistem pendidikan di seluruh dunia perlu dikembangkan untuk lebih memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat di masa yang akan datang. Sistem pendidikan perlu beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sayangnya, sistem pendidikan di banyak sekolah masih ketinggalan zaman karena dirancang untuk periode zaman awal perkembangan industri. Akan tetapi, hal itu bertolak belakang dengan reformasi ekonomi nasional sering kali memprioritaskan peningkatan keterampilan tenaga kerja saat ini, baik di industri lama maupun yang sedang berkembang. 

Sayangnya, perusahaan-perusahaan kurang berinvestasi untuk masa depan ekonomi kita dengan mereformasi sistem pendidikan.

Sementara itu metrik pendidikan tradisional tentang literasi dan numerasi sangat penting, masyarakat juga mengharuskan siswa memiliki berbagai keterampilan holistik untuk berkembang di dunia modern. 

Baca juga: Memperbaiki Kualitas Pendidikan Menyongsong Revolusi Industri 4.0

Keterampilan itu seperti keterampilan kreatif, teknologi, inovasi, dan interpersonal. Saat ini, keterampilan dan pengetahuan ini perlu diperoleh dengan cara yang lebih mudah diakses, dipersonalisasi, dan aktif daripada sebelumnya.

Teknologi dapat mendukung pembelajaran dalam ruang kelas, sekolah, dan sistem pendidikan untuk berkembang sesuai dengan kecepatan yang diperlukan. Namun, Education Endowment Foundation Inggris menekankan bahwa teknologi itu sendiri tidak dapat meningkatkan pembelajaran siswa jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pengajar.

Banyak solusi dan layanan EdTech mendigitalkan cara kerja lama, menghapus pembelajaran hafalan, dan praktik lain yang lebih sesuai dengan masa lalu. Praktik-praktik ini jarang tidak pengembangan keterampilan dan pengetahuan dengan cara yang efektif dan menarik.

Tantangan ini kadang-kadang disebut sebagai perlombaan antara teknologi dan pendidikan. Sebab, pendidikan berusaha mengejar dan memanfaatkan kemajuan teknologi atau teknologi memperbudak pendidikan ke dalam paradigma pembelajaran dengan mendigitalkan cara kerja atau cara belajar.

Secara paralel, penelitian telah berulang kali menggarisbawahi bahwa belajar sambil permainan memiliki peran penting dalam pendidikan untuk menyiapkan anak-anak menghadapi tantangan dan peluang sepanjang hidup mereka.

Hal itu kemudian ditunjukkan dengan banyaknya bukti yang mendukung belajar sambil bermain sebagai dasar untuk perkembangan positif anak-anak. Bukti ini berfungsi sebagai patokan untuk mengembangkan berbagai keterampilan holistik yang diperlukan di dunia nanti.

Baca juga: Memahami Tri Sentra Pendidikan dan Kegalauan Orang Tua

Bukti menunjukkan bahwa belajar melalui permainan terjadi ketika aktivitas yang dilakukan menyenangkan, membantu anak-anak menemukan makna terdalam dari apa yang mereka lakukan atau pelajari. 

Selain itu, juga melibatkan pemikiran yang aktif, terlibat dalam permainan, mind-on, serta pemikiran berulang (eksperimen, pengujian hipotesis, dll) dan memiliki peluang untuk interaksi sosial.

Belajar sambil bermain dengan teknologi, termasuk permainan hybrid (pengalaman yang menggabungkan digital dan fisik), memberikan kesempatan bagi pelajar untuk memperoleh pengetahuan lebih luas sambil mengembangkan berbagai keterampilan holistik, seperti kognitif, kreatif, fisik, sosial dan emosional, serta keterampilan lainnya.

Ketika siswa belajar melalui permainan dengan teknologi, hasil belajar tampaknya menjadi yang paling signifikan ketika pengalaman dibimbing oleh orang dewasa atau teman sebaya. Karena saat itu, siswa dalam keadaan happy dan tidak tertekan untuk belajar.

Pengalaman ini sering terjadi melalui pedagogi aktif (seperti pendekatan berbasis proyek), yang memberi anak-anak kesempatan untuk membuat pilihan mandiri dalam pembelajaran mereka sendiri dan untuk membuat artefak fisik dan atau digital. 

Jadi, siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi dalam diri dengan mengerjakan proyek kelompok atau pribadi tetapi berdasarkan minat mereka.


Belajar Melalui Game Teknologi
Teknologi yang dirancang untuk sepenuhnya merangkul peluang agensi, bimbingan, dan kreasi sambil memungkinkan interaksi yang menyenangkan adalah beberapa alat paling kuat untuk mendukung pembelajaran berkualitas tinggi saat ini.
Contoh teknologi tersebut termasuk platform pengkodean kreatif seperti Scratch di mana anak-anak memiliki kesempatan untuk membuat cerita, permainan, dan animasi mereka sendiri dengan dukungan komunitas online; game sandbox terbuka seperti Minecraft tempat anak-anak membangun dan menjelajahi dunia virtual yang luas bersama teman-temannya.

Selain itu, sistem permainan robotika seperti LEGO MINDSTORMS yang memungkinkan anak-anak bekerja secara kolaboratif untuk membuat robot dan memecahkan masalah yang kompleks). Selain itu, masih ada teknologi lain yang memungkinkan augmentasi digital dan berbagi kreasi fisik, seperti animasi digital, podcasting, pengeditan video, dan penerbitan online.

Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dengan teknologi tidak akan menghalangi anak-anak untuk mempelajari hal-hal dasar seperti membaca, menulis, dan matematika.

Menciptakan lingkungan yang menarik adalah peluang untuk memanfaatkan kemampuan alami anak-anak untuk belajar melalui permainan, sambil memanfaatkan kekuatan transformasional teknologi untuk mengembangkan pengalaman belajar yang memfasilitasi pembelajaran cepat yang penting dalam masyarakat saat ini.

Dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan apa yang kita tahu dalam pendidikan - seperti belajar sambil permainan - kita tidak hanya membantu merevolusi sistem pendidikan, tetapi juga memastikan anak-anak diberdayakan untuk berkembang baik di masa sekarang maupun di masa depan.

Kita dapat melakukan ini dengan merangkul teknologi dan menulis narasi baru tentang Pendidikan 4.0.

Sumber gambar: appletreebsd.com

Tahun Ajaran Baru, New Normal, dan Pendidikan Berbasis STEAM



Kita mungkin masih asing dengan istilah STEAM (science, technology, engineering, art, and mathematics) yang beberapa kali pernah disampaikan oleh Mendikbud Nadiem Makarim. STEAM adalah metode pembelajaran berbasis teknologi yang dikolaborasikan dengan sains, matematika, seni, dan rekayasa. Pendidikan berbasis STEAM menjadi penting karena mampu menjawab tantangan di masa depan.

Manusia zaman batu belajar dengan melukis di dinding gua menggunakan batu. Manusia era pertanian belajar menulis di atas kertas yang terbuat dari kulit hewan atau daun-daunan seperti papirus. Manusia era manufaktur belajar menggunakan kertas yang terbuat dari kayu. Di situlah segala sesuatu ditulis dan kemudian menjadi arsip yang masih dipakai hingga sekarang.
Bagaimana dengan manusia yang hidup di zaman yang sering disebut era digital? "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zamanmu," demikian nasihat yang disampaikan Ali bin Abi Thalib. Nasihat yang baik dan sangat logis ini mendorong kebutuhan untuk memodernisasi sistem pembelajaran kita. Kita tidak bisa menggunakan sistem dan metode pendidikan zaman manufaktur untuk diterapkan di era digital.

Mata Pelajaran Baru
Mulai tahun ajaran baru 2019/2020 ini, anak-anak Indonesia akan dikenalkan dengan mata pelajaran baru dengan nama Informatika. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 35, 36, dan 37 tahun 2018 yang ditandatangani di pengujung tahun 2018 yang lalu oleh Mendikbud Muhadjir Effendy, Indonesia telah mengikuti langkah progresif negara-negara lain yang telah lebih dahulu menerapkan mata pelajaran ini dalam kurikulum nasionalnya.

Baca juga: Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Pendidikan 4.0
Mata pelajaran Informatika yang dikembangkan adalah pelajaran yang berbasis STEAM. Kenapa harus berbasis STEAM? Karena metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarier.
Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap menghadapi persaingan global. Sebab, science, technology, engineering, art, and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan keseharian kita. Keempat bidang itu saling terkait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah. Jadi, seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal keempatnya penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.

Menghadapi New Normal
Terhitung sejak Maret sebagian besar sekolah-sekolah mengadakan pembelajaran dalam jaringan (daring). Karena itu, sekolah-sekolah melakukan banyak persiapan dalam rangka memasuki tahun ajaran baru. Berkaca pada pengalaman pembelajaran dalam jaringan selama tiga bulan terakhir yang ternyata mengalami banyak kendala dan kekurangan, maka di tahun ajaran baru nanti pembelajaran dalam jaringan diharapkan lebih baik lagi.
Apa yang terjadi pada teknologi pendidikan setelah pandemi virus corona berakhir, sebagian akan bergantung pada kualitas teknologi itu sendiri. Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas) Indra Charismiadji menilai, pembelajaran jarak jauh di tengah wabah Covid-19 belum berjalan ideal. Di antaranya karena ada kecenderungan siswa diberikan PR yang ugal-ugalan. Kemudian, ada guru yang hanya merekam proses pembelajaran di kelas kemudian disebar ke ponsel siswa.

Baca juga: Wei Ji dan Krisis Kualitas Pendidikan
Model pembelajaran daring seharusnya berorientasi pada kemampuan siswa agar mampu memecahkan masalah, kritis, kolaboratif, komunikatif, kreatif, dan inovatif. Guru harus jadi fasilitator dan motivator bagi siswa, bukan menjelaskan materi yang siswa bisa baca di buku atau cari di Google.
Dalam menghadapi tahun ajaran baru di era new normal saya menemukan beberapa poin penting yang sebaiknya disiapkan Pelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring .
Pertama, infrastruktur. Artinya, peralatan apa yang dipakai sekolah saat ini untuk pembelajaran jarak jauh. Apalagi di tahun ajaran baru PJJ dalam jaringan masih tetap diberlakukan. Oleh karena itu, infrastruktur yang digunakan oleh sekolah dan siswa harus sama. Jangan sampai lembaga pendidikan kurang informasi terkait infrastruktur yang digunakan oleh siswa dalam pembelajaran.
Kedua, infostruktur, yakni aplikasi atau platform apa yang digunakan untuk proses PJJ daring. Dengan keadaan seperti sekarang ini, maka aplikasi yang digunakan harus mampu memenuhi kebutuhan belajar siswa. Selain itu platform yang digunakan untuk siswa dan guru sebaiknya satu dan sama agar tidak membingungkan siswa.
Infostruktur juga menyangkut learning management system (LMS) yang sebaiknya dimiliki setiap satuan pendidikan. Namun, bagi sekolah yang belum mampu memilikinya dapat menggunakan Rumah Belajar milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Ketiga, infokultur. Maksud dari infokultur PJJ daring memiliki prinsip any time, any where, dan any deviceAny time adalah setiap siswa tidak harus belajar pada waktu yang sama dan mengerjakan hal yang sama. Any where adalah siswa dapat belajar di mana saja asal terkoneksi internet.
Sedangkan, any device maksudnya media yang digunakan sebaiknya multifungsi. Dalam pedagogi konvensional disebutkan media tersebut berfungsi menerima informasi seperti buku, TV maupun materi multimedia. Konsep ini tentunya berbeda dengan pedagogis konvensional yang hanya mengenal sinkronis learning, sedangkan di sini akan menggunakan asinkronis learning. Hal itu yang harus kita pahami dalam PJJ daring di tahun ajaran baru nanti.

Baca juga: Memperbaiki Kualitas Pendidikan Menyongsong Revolusi Industri 4.0
Poin-poin yang disampaikan di atas merupakan pengejawantahan dari STEAM. Di era Industri 4.0 ini kebutuhan akan para inovator dan kreator menempati urutan utama. Untuk itu kurikulum harus disesuaikan. Pertama, penguatan kemampuan calistung sebagai fondasi pembelajaran pendidikan berbasis STEAM. Kedua, pemanfaatan teknologi secara optimal dalam pembelajaran kompetensi inti, yakni penalaran tingkat tinggi dan kemampuan 4K (Komunikasi, Kolaborasi, Kritis, dan Kreatif).

Tulisan ini pernah dimuat di kolom Detik.com pada 16 Juli 2020
Sumber gambar: amongguru.com

Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Pendidikan 4.0



Dalam menyiapkan lulusan masa depan untuk bekerja, sekolah perlu menyelaraskan pengajaran dan proses mereka dengan kemajuan teknologi.
Di milenium baru, teknologi mulai menyusup ke dalam proses pendidikan, baik siswa maupun guru mulai memanfaatkan teknologi dengan cara-cara dasar (atau dikenal sebagai Pendidikan 2.0). Saat teknologi semakin maju, termasuk infiltrasi massal ke internet yang lebih banyak dibuat pengguna, pendidikan 3.0 dibentuk.
Siswa sekarang memiliki akses sendiri ke informasi, opsi untuk belajar secara virtual, dan platform untuk terhubung secara mudah dengan pengajar dan siswa lain. 

Karena itu, pendidikan tidak lagi berpusat pada bolak-balik antara siswa dan guru, tetapi mengambil pendekatan yang lebih berjejaring. Di sini siswa memiliki koneksi langsung ke berbagai sumber informasi yang berbeda.


Hal ini mendorong pengembangan cara belajar yang lebih dipersonalisasi di mana kemandirian siswa dan pendekatan unik untuk belajar dirayakan. Namun, kita sekarang berada di puncak fase baru, yaitu pendidikan 4.0.

Apa itu Pendidikan 4.0?
Pendidikan 4.0 adalah pendekatan pembelajaran yang diinginkan yang sejalan dengan revolusi industri keempat yang muncul. Revolusi industri ini berfokus pada teknologi cerdas, kecerdasan buatan, dan robotika; yang semuanya sekarang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
Agar sekolah dapat terus menghasilkan lulusan yang sukses, mereka harus mempersiapkan siswanya untuk menghadapi dunia di mana sistem fisik cyber ini lazim digunakan di banyak tempat kerja. 

Hal ini berarti mengajari siswa tentang teknologi sebagai bagian dari kurikulum, mengubah pendekatan pembelajaran secara keseluruhan, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Mempersiapkan Siswa untuk Industri yang Berkembang
Sistem fisik cyber terus menjadi lebih terintegrasi ke dalam berbagai industri, yang pasti memengaruhi persyaratan keterampilan bagi karyawan.
Penelitian oleh McKinsey mengungkapkan bahwa, 60% siswa SD saat ini akan bekerja diperusahaan yang saat ini belum tersedia. Artinya, pekerjaan-pekerjaan tradisonal besar kemungkinan akan diambil alih oleh robot sehingga manusia akan bekerja di sektor yang baru sama sekali. 

Karena itu, revolusi industri 4.0 akan berdampak pada soft skill yang akan dibutuhkan siswa di masa depan.
Pada tahun 2016, Forum Ekonomi Dunia menghasilkan laporan yang mengeksplorasi perubahan ini. Mereka memperkirakan bahwa pada tahun 2020, "lebih dari sepertiga rangkaian keterampilan inti yang diinginkan dari sebagian besar pekerjaan akan terdiri dari keterampilan yang belum dianggap penting untuk pekerjaan saat ini."

Beberapa soft skill yang mereka klaim akan sangat diperlukan seperti pemecahan masalah yang kompleks, keterampilan sosial, dan keterampilan berproses. 

Teknologi juga memungkinkan kita untuk terus terhubung, dan sebagai hasilnya, peran pekerjaan menjadi lebih fleksibel dan mudah beradaptasi.


Pendidikan 4.0 adalah tentang berkembang seiring dengan waktu. Bagi  institusi pendidikan hal ini berarti memahami apa yang dibutuhkan lulusan di masa depan.

Pendekatan Baru untuk Belajar
Dengan menyelaraskan metode pengajaran dan pembelajaran dengan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan, sekolah yakin bahwa mereka berhasil mempersiapkan siswanya untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Salah satu metode untuk melakukannya adalah dengan mendorong pembelajaran jarak jauh. Hal ini merupakan gagasan bahwa siswa akan mempelajari pengetahuan teoretis dari jarak jauh menggunakan sarana digital, sambil memastikan bahwa keterampilan praktis apa pun masih dipelajari secara tatap muka. Ini adalah cara belajar yang lebih fleksibel yang membutuhkan akuntabilitas dan manajemen waktu yang baik.

Langkah ke arah cara kerja ini juga akan menuntut siswa untuk belajar bagaimana beradaptasi dengan cepat terhadap situasi baru yang mungkin mereka hadapi dalam karier mereka ke depannya.

Pembelajaran berbasis proyek menyoroti pentingnya mempelajari serangkaian keterampilan yang luas yang kemudian dapat diterapkan pada setiap metode pembelajaran. Sebagai lawan berpegang pada seperangkat keterampilan yang secara langsung terkait dengan peran pekerjaan tertentu.

Pendekatan terhadap ujian dan penilaian juga akan berubah, dan penilaian menggunakan angka diganti. Kita mungkin melihat siswa dinilai "berdasarkan menganalisis perjalanan belajar mereka melalui proyek berbasis pembelajaran praktis dan pengalaman atau kerja lapangan."

Tentu saja, perubahan terbesar yang mungkin kita lihat sebagai bagian dari Pendidikan 4.0 adalah penggabungan teknologi ke dalam proses belajar. Tujuan akhir dari penggunaan teknologi ini dan mengadopsi metode baru adalah untuk menempatkan siswa di tengah proses pendidikan, "mengalihkan fokus dari mengajar ke belajar."

Beradaptasi dengan Realitas Baru
Institusi pendidikan bergerak menuju cara belajar yang lebih personal. Dengan memanfaatkan data dan melacak kinerja siswa, sekolah akan dapat mengidentifikasi siswa yang kesulitan dan memberikan strategi pembelajaran yang dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Pendidikan 4.0 merangkul kemajuan teknologi dan menggunakannya dalam pembelajaran serta memperlakukan setiap siswa sebagai individu. Selain itu, juga dipahami bahwa kebutuhan belajar setiap orang dan hasil yang diinginkan akan selalu berbeda sehingga pendekatannya pun berbeda.

Namun, pendekatan baru terhadap struktur program pendidikan ini kemungkinan besar akan menciptakan siswa yang lebih fleksibel dan berpengetahuan luas serta dapat menyesuaikan diri dengan berbagai pilihan karier; sesuatu yang akan sangat berharga di masa depan.

Terlepas dari itu semua, untuk menghasilkan lulusan yang siap menghadapi masa depan, sekolah harus berkembang, dan menerima bahwa perubahan pada beberapa proses tradisional tidak dapat dihindari. Sekolah perlu mendidik siswa untuk mampu beradaptasi dan bekerja sesuai dengan zaman mereka nanti.

Tulisan ini disari dari https://www.qs.com/everything-you-need-to-know-education-40/ dengan judul asli “Everything You Need to Know About Education 4.0
Sumber gambar: manufacturingglobal.com 

x
x

Wei Ji dan Krisis Kualitas Pendidikan




"Wei Ji," kosa kata bahasa Cina yang artinya krisis. Kata ini merupakan gabungan dari Wei (bahaya) dan Ji (peluang). Artinya, dalam setiap krisis selalu tersimpan peluang. Di saat orang-orang sedang berkutat dengan dampak yang disebabkan oleh krisis, orang Tionghoa sudah memikirkan PELUANG apa yang ada di balik krisis itu. 

Di saat yang lain mengeluh akan lambatnya perekonomian gara-gara pandemi corona, di saat yang bersamaan ada orang lain yang memahami Wei Ji dengan perspektif yang berbeda. Orang-orang ini berpikir taktis untuk melewati masa krisis dan bersiap untuk memenangkan peluang selepas badai berlalu.

Baca juga:Memahami Tri Sentra Pendidikan dan Kegalauan Orang Tua

Pandemi corona menyebabkan penutupan ribuan sekolah di seluruh dunia dan memaksa sekolah untuk menyediakan pembelajaran jarak jauh bagi lebih dari 32,5 juta jiwa siswa yang ada di rumah. Karena krisis inilah kita terbantu untuk melihat kualitas pendidikan kita dan apa yang mungkin terjadi di masa depan.


Banyak sekolah membuat pembelajaran online untuk murid-murid mereka yang terpaksa tinggal di rumah. Meskipun konsep pembelajaran jarak jauh telah ada selama setidaknya 30 tahun terakhir, tetapi bagi sebagian besar sekolah di Indonesia hal itu cukup baru sebagai model pembelajaran instruksional utama. Sehingga tidak mengherankan jika kita sering menemukan banyak keluhan dari orang tua. 

Akan tetapi, sesuai dengan pepatah China di atas keadaan sekarang menyadarkan bahwa kualitas pendidikan kita masih kalah jauh dibanding negara-negara lain. Pandemi covid-19 menampar para pemangku kebijakan, pemerintah, dan para pendidik bahwa pendidikan kita telah tertinggal jauh. Kita telah ketinggalan beberapa langkah di belakang negara-negara lain di Asia.
Selama ini pemerintah atau pendidik selalu bangga dengan kualitas pendidikan kita dan anehnya publik pun percaya saja. Apalagi ketika presiden Jokowi mengajak sakyat Indonesia untuk menghadapi revolusi 4.0. Dana triliunan rupiah digelontorkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sayangnya dana sebanyak itu tidak didukung oleh SDM yang memadai. Alhasil kualitas pendidikan kita setia untuk berjalan di tempat.

Pendidikan yang terus berubah-ubah ternyata tidak berpengaruh terhadap metode ajar guru. Alhasil, ketika pemerintah menerapkan pembelajaran jarak jauh banyak sekolah gelagapan. Banyak sekolah belum siap dengan perubahan-perubahan demikian.

Pandemi ini selain menampilkan kelemahan serta kualitas pendidikan kita, juga memberi satu peluang bahwa era digital mengharuskan semua tenaga pendidik beradaptasi. Jika selama ini banyak tenaga pendidik cenderung menolak ketika diminta untuk mempelajari metode pengajaran baru, selama pandemi mereka dipaksa untuk belajar.
Satu poin yang disyukuri adalah pandemi ini membantu pemerintah dan pihak sekolah untuk memetakan langkah apa yang hendak diambil. Untuk sepuluh hingga 20 tahun yang akan datang, sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya akan berada di mana.

Keadaan mendesak adalah ibu dari segala peluang. Itulah ungkapan dari seorang penulis Mark Twain (1835-1910). Covid-19 ini mau tidak mau mendesak para pendidik untuk meningkatkan kompetensi mereka. 


Keadaan yang berbuah peluang ini sebenarnya lebih tepat jika kita manfaatkan sebagai momen pemerataan pendidikan kita karena mungkin salah satu ibu permasalahan pendidikan kita ialah ketidakmerataan.


Tidak meratanya pendidikan bagi anak miskin dan kaya menjadi salah satu sorotan dalam hasil kajian Programme for International Student Assessment (PISA). Laporan PISA menunjukkan, 64 persen siswa dari keluarga miskin bersekolah di sekolah yang kurang baik --kekurangan guru dan bahan ajar. 

Apakah akan berjalan di tempat atau berlangkah maju? Jika pihak sekolah dan pemerintah peka dengan keadaan saat ini sebenarnya pandemi covid-19 membantu mereka untuk menentukan langkah dan target sekolah 10-20 yang akan datang. Agar cita-cita menjadi Indonesia emas di tahun 2045 dapat tercapai.

Sumber gambar: tatkala.co





Memahami Tri Sentra Pendidikan dan Kegalauan Orang Tua

                                      (Ket: Ki Hajar Dewantara)

Pandemi covid-19 mengharuskan sektor pendidikan menyelenggarakan pembelajaran dalam jaringan (daring), telah memunculkan berbagai keluhan dan keresahan orang tua murid. Keluhan-keluhan itu antara lain, tugas siswa yang terlalu banyak, pembelajaran kurang maksimal, orang tua kewalahan mendampingi sang buah hati, dan masih banyak keluhan lainnya.
Sekian lama orang tua melihat sekolah sebagai lembaga outsourcing untuk belajar sehingga segala beban belajar anak diberikan kepada pihak sekolah. Orang tua seolah "lepas tangan" dan memberikan sepenuhnya kepada pihak sekolah tugas yang berkaitan dengan "isi kepala" anak mereka.  Para orang tua lupa bahwa keluarga merupakan tempat pertama dan terutama bagi anak-anak. Merekalah pendamping atau guru pertama dan utama bagi anak-anak.
Pertama kali seseorang belajar berbicara, berjalan, tata krama, dan lainnya adalah di rumah bukan di gedung sekolah. Dengan demikian, keresahan yang timbul pada anak-anak selama belajar dari rumah seharusnya tidak terjadi.

Baca Juga: STEAM Sebagai Dasar Pendidikan di Masa New Normal

Sejatinya pembelajaran dari rumah yang ramai terjadi sekarang ini memberi kesempatan kepada orang tua untuk mengenal anaknya lebih baik dan meningkatkan kualitas hubungan dengan anak. Lebih dari pada itu, bagi saya sekarang menjadi momen untuk mengenalkan kembali pemikiran bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Buah pemikirannya turut mempengaruhi pendidikan Indonesia.
Dia telah meletakkan pondasi pendidikan Indonesia. Di atas pondasi inilah seharusnya pendidikan kita dibentuk dan diarahkan meskipun dalam praktiknya terkadang melenceng. Salah satu pemikirannya yang menjadi pondasi pendidikan kita adalah Tri Sentra Pendidikan.
Tri Sentra Pendidikan (Tiga Pusat Pendidikan) merupakan tanggung jawab terhadap pendidikan anak yang berlangsung di tiga lingkungan, yaitu keluarga, masyarakat, dan sekolah. Ketiganya berperan penting dalam proses pendidikan anak dan ketiganya saling mengisi serta memperkuat satu sama lain. Melalui pendidikan daring, kita pun disadarkan bahwa tanggung jawab mendidik anak sebenarnya tidak hanya menjadi tugas pihak sekolah, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat. 

Keluarga
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat terdiri dari suami, istri dan anak -- ayah dan anak -- atau ibu dan anak (lih. UU No. 52 thn 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga). Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam perkembangan individu karena dalam keluargalah anak tumbuh dan berkembang.
Dalam dunia pendidikan, pembelajaran dalam keluarga disebut sebagai pendidikan informal. Pembelajaran itu dilakukan setiap hari pada saat terjadi interaksi antara anak dengan anggota keluarga lainnya. Pada momen ini peran orang tua sebagai panutan bagi anak-anaknya sangat vital.

Baca Juga: Melakukan Revolusi Pendidikan

Orang tua berperan penting dalam membentuk dan mengembangkan karakter serta kepribadian anak. Semakin baik kualitas keluarga, maka kemungkinan semakin besar pula kualitas kepribadian dan karakter anak. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar. Karena itu, apa yang dipelajarinya di dalam keluarga akan berdampak pada kehidupan sosialnya baik di masyarakat maupun di sekolah.

Sekolah
Sekolah merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara formal atau disebut sebagai pendidikan formal. Tiga elemen penting di sekolah antara lain para guru, sarana dan prasarana, dan terutama siswa siswi.
Di sekolah, peran guru dalam memfasilitasi peserta didik dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah guru tidak lagi memberikan informasi satu arah seperti ketika ceramah. Guru saat itu menjadi fasilitator, motivator sekaligus tutor. Materi pelajaran yang disampaikan pun tidak hanya berasal dari guru. Guru dapat melibatkan siswa untuk aktif mencari informasi entah itu di perpustakaan, internet, maupun penelitian laboratorium. Dengan demikian, materi ajar pun lebih bervariasi dan pembelajaran menjadi lebih hidup.
Selain materi ajar yang bervariasi, guru dapat melakukan kolaborasi di antara mereka sehingga memperkaya materi dan metode ajar kepada siswa. Diharapkan dengan adanya kolaborasi dengan sesama guru, para siswa pun diajak untuk berkolaborasi ketika menyelesaikan tugas sekolah.
Tujuan dilakukannya kolaborasi agar peserta didik dapat mempelajari hubungan antara satu bidang studi dengan bidang studi lainnya. Karena pada kenyataannya yang dialami di dunia nyata banyak bidang studi yang tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait.
Oleh karena itu, sekolah pun perlu melakukan pembinaan pendidikan untuk peserta didiknya berdasarkan tuntutan zaman siswa di masa depan. Jadi, sejak di bangku sekolah mereka diajarkan untuk mempelajari sesuatu secara holistik dan kerja dalam tim.
Di masa pandemi sekarang, peran guru dalam kelas maya sebagai fasilitator, kolaborator, mentor, pengarah, dan teman belajar siswa. Selain itu, metode pengajaran pun tidak bisa statis seperti pembelajaran tatap muka karena hanya akan meningkatkan stress orang tua dan anak. Guru tidak hanya berkolaborasi dengan sesama guru, tetapi juga dengan orang tua. Sebab, selama pandemi dan belajar dari rumah orang tualah yang mendampingi anak belajar.

Masyarakat
Secara sederhana, masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang yang saling berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Anak dalam pergaulannya di masyarakat tentu banyak berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan orang lain. Interaksi secara langsung anak bermain dengan temannya, sedangkan secara tidak langsung anak melihat kejadian yang terjadi di masyarakat.


Baca Juga: Menakar Kesiapan Pendidikan di Era New Normal

Lingkungan masyarakat adalah laboratorium anak untuk belajar lebih luas lagi. Berbagai macam hal yang dipelajari anak di dalam keluarga dan sekolah mendapat kesempatan untuk mempraktiknya dalam hidup bermasyarakat. Dengan demikian, komitmen masyarakat untuk mendukung anak-anak belajar sangatlah berpengaruh dan menentukan perkembangan kualitas kemanusiaan seseorang.
Salah satu contoh positif di mana lingkungan masyarakat turut mendukung pendidikan anak adalah apa yang dilakukan sekelompok masyarakat di Jogja pada beberapa tahun silam. Mereka bersepakat semua TV di desa itu tidak dinyalakan pada jam belajar anak-anak pada malam hari, mulai pkl 10.00-20.00 WIB. Anak-anak fokus belajar tanpa gangguan apa pun. Bahkan, di rumah yang punya TV dan tidak ada anak yang sedang duduk di bangku sekolah pun ikut menjalankan program tersebut.

Akhirulkalam
Untuk mendidik anak bukan hanya menjadi tugas sekolah atau guru semata, melainkan menjadi tugas keluarga dan masyarakat. Keluarga merupakan komunitas pertama bagi anak untuk belajar. Demikian halnya dengan masyarakat yang merupakan ruang bagi anak untuk mempraktikkan apa yang mereka dapat dalam keluarga dan sekolah. Pengalaman-pengalaman itu sekaligus mencerap apa yang ia dapat di lingkungan masyarakat dan dibawanya serta dalam kehidupan di keluarga dan sekolah.
Keresahan orang tua dalam mendampingi anak belajar selama pembelajaran daring menyadarkan semua pihak bahwa tugas mendidik anak tidak bisa dibebankan kepada guru saja. Keluarga dan masyarakat turut berpengaruh dalam pendidikan anak. Ketiganya saling terkait dan membutuhkan untuk mendidik anak secara holistik dan mendukung berkembangnya pendidikan bagi generasi muda.

Sumber gambar: akupaham.com




Pendidikan Indonesia dan Sisi Positif Corona

                                (Ket: Seorang anak melakukan pembelajaran daring)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menguasai pendidikan. Ketika pendidikan bisa dikuasai, maka perkembangan SDM di negaranya akan dengan mudah diukur. Perkembangan SDM tidak dapat dilakukan tanpa didukung oleh kualitas pendidikan di negaranya.
Oleh karena itu, jika ingin menjadi bangsa yang kuat, maka tingkatkanlah kualitas pendidikannya. Akan tetapi, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang pendidikan kita perlu mengetahui apa saja permasalahan pendidikan di negeri ini.
Kualitas pendidikan yang rendah adalah fakta yang harus kita terima bersama. Untuk itu, presiden Jokowi memilih Nadiem Makarim seorang yang tidak memiliki backround di bidang pendidikan menjadi menteri Pendidikan.
Kita semua tahu sebelum beliau menjadi Menteri Pendidikan dia adalah CEO Gojek, perusahan startup yang sedang berkembang saat ini. Mengapa seorang CEO perusahan startup dipilih menjadi menteri Pendidikan?
Alasannya karena kemampuan beliau dalam mengembangkan perusahan itu. Presiden ingin agar bukan hanya seorang Nadiem Makarim yang bisa berkembang di perusahan strartup, tetapi tetapi lebih banyak lagi manusia Indonesia. Dengan jumlah startup 2.193 buah pada 2019, setelah Amerika Serikat, India, Inggris Raya (United Kingdom), dan Kanada Presiden Jokowi berharap agar mas Menteri mampu membuat aturan yang out of the box untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.


Untuk mewujudkan impiannya itu, maka pendidikan menjadi sektor penting yang harus dikembangkan. Metode dan sistem pendidikan yang dikembangkaan oleh menteri-menteri sebelumnya ternyata belum mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan dan di masa depan. Karena itu, butuh suatu terobosan baru di bidang pendidikan.
Bukan untuk mengatakan bahwa pendidikan kita jelek, tetapi jika diperhatikan secara fair, kita akan mengamini kalau pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 dan dirilis pada Selasa (3/12/2019).
Hasil survei menempatkan Indonesia di urutan ke-72 dari 79 negara. Studi ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak.
Untuk kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, sedangkan peringkat pertama diduduki oleh China dengan skor rata-rata 555.
Posisi kedua ditempati oleh Singapura dengan skor rata-rata 549 dan Makau, China peringkat tiga dengan skor rata-rata 525. Sementara Finlandia yang kerap dijadikan percontohan sistem pendidikan, berada di peringkat 7 dengan skor rata-rata 520.
Lantas, untuk kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Kemudian untuk peringkat satu, masih diduduki China dengan skor rata-rata 591. Lalu untuk kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat 9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Lagi-lagi peringkat satu diduduki China dengan rata-rata skor 590.

Apa Penyebabnya?
Ada beberapa alasan kenapa pendidikan kita bisa terlihat begitu memprihatinkan. Mulai dari kemampuan literasi baik dari para siswa maupun para guru. Memang mempelajari sesuatu yang baru sangat tidak enak. Tetapi, justru di situlah pendidikan kita ditantang.
Kita diajak untuk belajar sehingga keluar dari zona nyaman. Ketika guru maupun para pemberi kebijakan tidak punya keinginan untuk mengembangkan dirinya dengan meningkatkan kemampuan literasi, maka pendidikan kita sedang berjalan di jalan yang salah.
Selain itu masalah lain yang sedang dihadapi adalah orientasi kebijakan politik pendidikan yang masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi. Orientasi kebijakan pendidikan di Indonesia masih cenderung penyeragaman administrasi sistem pendidikan.


Seharusnya orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam mengajar. Kemudian membangun siswa sesuai dengan kodrad manusia secara optimal. Menurut dosen sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal kodrad manusia adalah rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, dan kolaborasi, serta menciptakan sesuatu.
Penilaian PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya Ujian Nasional. Tetapi mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan. Jadi ketika hasil survei PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh disalahkan.
Sebagaimana diketahui PISA mengukur kemampuan literasi siswa. Kemampuan ini bukan sekadar membaca. Tetapi memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual. Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar kritisnya.
Metodologi pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya guru cenderung mengejar aspek administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya. Hasil PISA yang terus menurun, kontras dengan dana pendidikan yang terus meningkat.

Apa yang Harus Dilakukan?
Pandemi Corona seperti membawa angin segar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia secara perlahan-lahan dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Jika sebelum pandemi sekolah menerapkan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran cenderung satu arah, maka di masa pandemi ini semua sekolah di Indonesia menerapkan Pembelajaran Dalam Jaringan.
Jauh sebelum corona merebak di negara kita, banyak pendidik di negeri ini entah guru atau dosen dengan keras menolak gadget digunakan selama jam pelajaran. Bahkan di media masa pun mereka menulis sekolah anti gadget. Dalam praktik sehari-hari pun tidak jarang HP siswa yang kedapatan dibawa ke sekolah dihancurkan oleh pihak sekolah.


Mungkin terdengar cukup aneh ketika terlontar pernyataan bahwa siswa dididik untuk persiapan masa depan mereka. Tetapi cara didik yang dilakukan oleh para pendidik masih mengikuti pola pendidikan zaman revolusi industri. Jika demikian, masih relevankah pernyataan Ali bin Abi Thalib agar "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zamanmu"? 

Bagi saya pernyataan ini akan selalu relevan sepanjang zaman sebab dunia akan terus berubah. Oleh karena itu, metode dan materi pembelajaran pun perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Corona telah “membantu” untuk melakukan transformasi pendidikan di Indonesia. Selama pandemi, sekolah-sekolah terpaksa harus harus melakukan pembelajaran daring. Para guru yang sebelumnya anti gadget dalam pembelajaran terpaksa harus belajar agar bisa tetap mengajar.
Suatu usaha awal yang baik, tetapi pada dasarnya tidak sesuai dengan pedagogi digital (e-pedagogy). Sebab, konten sudah tidak penting lagi karena dengan adanya internet betapa mudahnya mendapatkan konten untuk dipelajari dan sebagian besar gratis.
Fokus pendidikan era 4.0 bukan lagi apa yang dipelajari (what to learn), melainkan bagaimana caranya belajar (how to learn). Di sinilah pentingnya posisi seorang pendidik karena mereka harus membimbing peserta didik agar memahami caranya belajar termasuk belajar dengan memanfaatkan internet.
Perkembangan dan penyebaran Covid-19 adalah musibah bagi umat manusia. Akan tetapi, di balik itu ternyata ada dampak positif bagi dunia pendidikan Indonesia. Proses pembelajaran di lembaga pendidikan di Tanah Air akan menjadi lebih modern, karena dipaksa untuk melakukan kegiatan belajar mengajar dalam jaringan dan memanfaatkan gawai. Karena itu, kita pun melihat banyak guru yang terpaksa belajar konsep e-pedagogy, semua karena the power of kepepet. Inilah negara “+62”. Ketika keadaan kepepet, maka saat itulah baru akan belajar.