Menu
Showing posts with label Belanda. Show all posts
Showing posts with label Belanda. Show all posts

Manusia Indonesia yang Terjajah dalam Novel Bumi Manusia (2)


Suatu kekeliruan jika menilai Indonesia sebagai bangsa tidak jelaskan dalam novel Bumi Manusia. Novel Bumi Manusia merupakan bagian dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, selain novel Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Novel-novel ini adalah akuarium yang menggambarkan pergulatan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk membangun menjadi sebuah bangsa.

Kata “Indonesia” memang tidak ada dalam novel ini. Semua itu karena kehebatan seorang Pramoedya sebagai penulis. Secara sadar dia menunjukkan bahwa Indonesia sebagai bangsa bukan hadir karena proses alamiah. Entitas bangsa itu dibentuk untuk mencapai proses revolusi sosial melalui berbagai perjuangan dan tetesan darah. Sebuah proses pembentukan struktur sosial yang benar-benar baru dan pada akhirnya diberi nama “Indonesia”.

Pramoedya dengan begitu cerdas menunjukkan jejak langkah awal lahirnya embrio Indonesia sebagai bangsa. Dengan latar waktu awal abad ke 20, novel tersebut menampilkan proses awal terbentuknya kesadaran baru dalam melakukan perlawanan. Perlawanan yang ditampilkan dalam novel ini pun tidak lagi menonjolkan perlawanan secara fisik. Menentang orang-orang Eropa di pengadilan oleh seorang Nyai dan perlawanan Minke melalui media masa adalah model perlawanan jenis baru.


Tentu saja semua itu karena latar belakang Nyai Ontosoroh dan Minke yang telah banyak belajar dari budaya dan pendidikan Eropa. Nyai Ontosoroh yang begitu dicintai Herman Mellema mengajarnya membaca, menulis, berbicara Bahasa Belanda dan mengelolah perusahan. Nyai Ontosoroh merepresentasikan perempuan era baru dalam dekapan budaya patriarki Jawa yang meminggirkan perempuan.


Dia mengajarkan ide-ide dan nilai-nilai pencerahan Eropa kepada minke, yang sebagian telah ia pelajari sendiri, namun juga menunjukan kemunafikan Eropa dalam mengurusi koloni-koloninya (hal. 157). Di sinilah bisa kita lihat peran nyai Ontosoroh dalam membagikan keberaniannya kepada Minke. Jika Nyai Ontosoroh berani melawan pengadilan Belanda, maka Minke sebagai ningrat Jawa melawan budayanya sendiri.

Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barang kali buta huruf pula! God, God! Menghadap bupati sama dengan bersiap menampung penghinaan tanpa boleh membela diri. Tak pernah aku memaksa orang lain berbuat semacam itu terhadapku. Mengapa harus kulakukan untuk orang lain? Sambar gledek!”.

Minke menolak tata cara menyembah, merangkak, merendahkan diri, dan tidak boleh mengkritik dalam adat Jawa. “Orang Jawa sujud berbakti kepada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran. Orang harus berani mengalah, Gus” ungkap Ibu Minke. “Yang berani mengalah terinjak-injak, Bunda” jawabnya.


Pernyataan di atas tentu telah melukai hati ibunya yang dibesarkan dalam budaya Jawa. Mungkin seumur hidupnya belum pernah ada orang yang berani mengatakan demikian. Dan dari sini, kita melihat keberanian Minke yang ingin adanya kesetaraan harkat dan martabat setiap manusia. Perlawanannya terhadap budayanya sendiri adalah perlawannya yang lebih kecil sebelum dia melawan bangsa kolonial yang lebih besar.

Perubahan Pola Pikir Minke
Perjumpaan dengan Nyai Ontosoroh turut mempengaruhi cara berpikir dan kehidupan Minke di kemudian hari. Nyai Ontosoroh adalah sosok Nyai yang memang benar-benar berusaha untuk bangkit. Dia sebagai sosok individu bukan dalam menyandang status sebagai pribumi namun manusia seutuhnya. Pergolakan yang terjadi di antara pihak kolonial dan pribumi merupakan bukti nyata perjuangan yang berbeda antara melawan dengan fisik dan pemikiran.

Nyai Ontosoroh dalam novel ini merepresentasikan wanita modern yang berani berpikir sendiri tanpa bergantung pada laki-laki. Kemampuannya bahkan melampaui wanita pribumi pada masa itu dan juga wanita-wanita Eropa yang ada di Pulau Jawa. Keunggulannya itulah yang membuat Minke selalu terkagum-kagum. Bagaimana mungkin seorang wanita pribumi dan bergelar nyai, menjadi pemimpin sebuah perusahan di zaman itu.  


Dalam Novel ini oleh penulis novel mengajak untuk melihat dan memahami kembali arti sebuah perjuangan dan cara memperjuangkan hak sebagai seorang manusia tanpa melihat status sosial dan kehidupan penjajahan. Bangkit menjadi manusia bebas diawali dari diri sendiri untuk berani lebih menyuarakan yang ada dalam pemikiran. “Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan Itulah memang arti terpelajar itu.”

Maka malam itu aku sulit dapat tidur. Pikiranku bekerja keras memahami wanita luar biasa ini. Orang luar sebagian memandangnya dengan mata sebelah karena ia hanya seorang nyai, seorang gundik. Atau orang menghormati hanya karena kekayaannya. Aku melihatnya dari segi lain: dari segala apa yang ia mampu kerjakan, dan segala apa yang ia bicarakan,” kekaguman Minke pada perempuan yang mengaku tidak pernah bersekolah itu (hal. 105).

Perjumpaan dengan nyai Ontosoroh kiranya menjadi titik balik perubahan pola pikir seorang Minke. Jika sebelumnya selalu mengagungkan Eropa, kali ini Minke ditantang untuk mencintai bangsanya sendiri. Perlawanan yang disampaikan dalam koran melalui buah penanya dalam Bahasa Melayu menjadi bukti nyata akan hal itu. Nyai Ontosoroh adalah wonder women. Kehadirannya melampaui wanita zaman itu.



Perlawannya bersama Minke adalah bukti bahwa siapa pun bisa melawan penjajah tanpa harus menggunakan otot. Perempuan pun bisa melawan dan menjadi pemimpin yang pada zaman itu mungkin masih tabu. Semuanya karena budaya patriarkat yang kuat. Tetapi, novel ini ingin menjungkirbalikan fakta-fakta itu. Siapa pun bisa menjadi pemimpin dan melakukan perlawanan.

Manusia Indonesia yang Terjajah dalam Novel Bumi Manusia (1)



Judul               : Bumi Manusia
Penulis             : Pramoedya Ananta Toer
Halaman          : 535
Penerbit           : Lentera Dipantara
Cetakan           : ke-17, Januari 2011

Apa alasan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, masih tetap dibaca dan dibicarakan hingga saat ini? Mungkin secara politis, novel ini ditulis pada masa pembuangannya di Pulau Buru. Novel ini, menurut penulisnya dituturkan secara lisan pada tahun 1973, kemudian ditulis secara sistematis sebagai cerita yang utuh dalam bentuk novel pada tahun 1975.
Bumi Manusia merupakan novel pertama dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya selain Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Tetralogi itu menjadi pusat perbincangan, mungkin karena dilarang oleh rezim Orde Baru semenjak tahun 1981. Anehnya ketika novel ini dilarang beredar di masyarakat luas, justru karyanya meraih sukses besar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Novel ini secara garis besar mengisahkan kisah cinta yang tragis antara Minke dengan Annelies Mellema. Tetapi kisah cinta mereka tidak sekadar menuturkan kisah asmara yang menonjolkan romantisme belaka ala anak remaja zaman sekarang. Kisah cinta mereka diselimuti berbagai latar belakang saat itu seperti politik kolonial yang represif dan diskriminatif, penjajahan, dan masih banyak lainnya.
Karakteristik penulis novel dalam mendeskripsikan situasi psikologis dan sosiologis tokoh-tokohnya sangat memikat. Dengan sudut pandang orang pertama (aku), Pramoedya memperkenalkan tokoh utama, seperti ini: “Orang memanggil aku: Minke” (hlm. 1). Nama Minke diberikan padanya ketika bersekolah di ELS. Saat itu, ada seorang gadis bernama Vera yang mencubit pahanya sebagai tanda perkenalan. Karena tidak mampu menahan rasa sakit, Minke pun menjerit kesakitan. Gurunya, Meneer Ben Rooseboom membentak dan melotot: “Diam kau, monk …. Minke!” (hlm. 33). Saat itu, Minke merupakan satu-satunya murid pribumi, sedangkan guru dan teman-temannya adalah keturunan Eropa totok. Panggilan Minke juga sebenarnya menunjukkan derajad pribumi yang rendah di mata orang Eropa.
Sejak dalam bangku sekolah Minke sudah merasakan diskriminasi rasial parah. Panggilan Minke untuknya sudah menggambarkan hal itu. Kisah perjumpaan dengan Annalies menjadi titik balik hidupnya. Annelies seorang Indo hasil perkawinan antara Nyai Ontosoroh dengan Herman Mellema. Yang digambarkan dalam novel itu bak bidadari dari khayangan yang turun dan mencari pangeran di bumi. Tidak hanya jatuh cinta, Minke pun berkeinginan untuk memperistri Annalies. Keinginannya untuk memperistri Annelies pun terwujud setelah Minke menyelesaikan sekolah HBS-nya.
Dari runtutan cerita yang ditampilkan Pramoedya, Annalies dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya, Herman Mellema, mempunyai tekanan jiwa yang akhirnya secara tragis meninggal di rumah pelacuran Babah Ah Tjong. Sementara kakak sulungnya, Robert Mellema, lebih memilih bersikap hedonisitik dengan mengumbar hobi berburunya. Pada akhirnya, Robert Mellema juga kabur tanpa diketahui secara pasti jejaknya.
Meninggalnya Herman Mellema ayah Annalies tidak berarti masalah selesai begitu saja. Justru mulai dari momentum itulah berbagai permasalahan yang berat selalu menimpa Nyai Ontosoroh. Dan bersama Minke, Nyai Ontosoroh berani melawan pengadilan kulit putih yang pada masa itu mustahil dilakukan oleh wanita pribumi.

Keberanian Nyai Ontosoroh dalam melawan pengadilan kulit putih secara garis besar oleh Pramoedya. Meskipun saat itu sistem pengadilan Eropa tidak memberikan kesempatan orang pribumi untuk membela diri. Annalies yang saat itu sudah menikah pun dipaksa untuk dibawa ke Belanda dan diasuh Maurits Mellema. Karena saat itu usianya masih remaja dan menurut hukum Eropa dia mesti hidup dibawah asuhan.
Ada beberapa fakta dari seorang Nyai Ontosoroh dari novel ini:
Pertama, Nyai Ontosoroh tetaplah figur perempuan pribumi yang tidak mempunyai hak milik apapun terhadap perusahaan dan peternakannya yang dikelola dengan sekuat kemampuan dan tenaganya hingga menjadi sedemikian besar.  Hal ini lantaran kedudukannya “hanya seorang nyai dan bukan istri sah”.
Kedua, Nyai Ontosoroh tidak mempunyai hak perwalian terhadap Annelies, putri yang merupakan darah dagingnya sendiri. Hal ini disebabkan Herman Mellema masih mempunyai istri yang sah di negeri Belanda. Dengan istrinya ini, Herman Mellema mempunyai putra yang bernama Maurits Mellema. Kehidupan suami-istri Herman-Amelia juga tidak harmonis, namun Herman dianggap menggantung nasib istrinya dengan cara tidak menceraikannya.
Secara hukum yang diterapkan oleh pengadilan Putih di Hindia Belanda, posisi serta kekuatan Nyai Ontosoroh sebagai pribumi jelas-jelas dikalahkan. Hal lain yang membuat kedudukuan pribumi semakin terpojok adalah keputusan Pengadilan Amsterdam yang menyerahkan seluruh harta-benda peninggalan mendiang Herman Mellema kepada Maurits Mellema yang tidak pernah mengeluarkan keringat dalam mengembangkan usaha itu.
Novel Bumi Manusia bukan sekadar novel yang menuturkan kisah-kasih tak sampai antara Minke-Annelies, pribumi-Indo Belanda. Justru yang harus diperhatikan secara lebih detail adalah konteks historis yang melingkupi berbagai peristiwa tragis itu. Novel-novel karya Pramoedya tidak hanya hasil imajinasi yang bersifat fiktif belaka. Selalu ada sesuatu yang dikisahkan dalam bentuk sastra.
Memang, karya sastra bukanlah sebuah historiografi yang hendak mengklaim fakta-fakta dan kebenaran suatu sejarah dalam periode waktu tertentu. Tetapi, dalam menulis novel ini, Pramoedya memperlihatkan keunggulannya dalam melakukan studi historis, sosiologis, bahkan antropologis.
Hal ini terbukti dari beberapa kesimpulan yang dapat diambil, seperti:
Pertama, kurun waktu terjadinya rentetan peristiwa dalam novel ini adalah akhir abad ke-19. Pada masa ini, di Eropa sedang mabuk abad Pencerahan (Aufklärung) yang sudah dimulai senjak abad ke-18. Ciri khusus zaman itu adalah berkembangnya ilmu pengetahuan secara meluas, semangat revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional, memisahkan pengaruh-pengaruh keagamaan dari pemerintahan, dan penaklukan tanah jajahan.
Kedua, deskripsi sosiologis kehidupan Nyai yang menjadi gundik orang Belanda. Sebenarnya, tidaklah tepat jika praktik ini dipandang sebatas relasi seksual antara pria Eropa dengan perempuan pribumi. Jelas, secara harkat kemanusiaan, praktik tersebut sangat menyakitkan karena menempatkan perempuan pribumi hanya sebagai objek seks.
Namun, di sisi lain kalangan Nyai ternyata memiliki pengetahuan dan kemampun teknis yang jauh lebih baik. Ada transfer pengetahuan di sana. Dalam novel in Nyai Ontosoroh menunjukkan ketrampilannya dalam membaca, menulis, berbahasa Belanda, mengelola perusahaan bahkan sampai pada keberaniannya melakukan perlawanan secara beradab kepada bangsa Belanda (hlm. 405).
Ketiga, beberapa aspek lain yang secara agak luas disinggung Pramoedya dalam novelnya adalah perkembangan pers yang di satu sisi mencoba memberikan keberpihakan kepada kalangan tertindas. Tetapi, di sisi lain juga digunakan sebagai ajang bisnis dengan memuat berita-berita sensasional, terutama kasus-kasus Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh.
Sebagai hal terakhir yang dapat dikomentari dari novel ini adalah Apakah sebenarnya makna Bumi Manusia? Tampaknya yang dapat menjawab itu adalah Minke sebagai tokoh utamanya. Karena “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Semua itu dia tunjukkan baik ketika sedang bersekolah, setelah menikah bahkan ketika harus berhadapan dengan pengadilan kulit putih.

Sketsa Manusia Indonesia dalam Novel Cantik Itu Luka (1)




Judul                           : Cantik itu Luka
(English Version)        : ‘Beauty is A Wound’
Pengarang                   : Eka Kurniawan
Tebal Halaman            : 479
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kesepuluh, Juni 2016
Diterbitkan pertama kali oleh AKYPress dan Penerbit Jendela, Desember 2002

Novel dibuka dengan kisah magis kebangkitan sang tokoh sentral, Dewi Ayu. “Ketika pada suatu sore di akhir pekan bulan maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematiannya”. Dewi Ayu adalah perempuan keturunan Indo-Belanda. Bergidik ngeri namun menimbulkan sejumlah deretan pertanyaan terutama mengenai waktu latar belakang kejadian yang sengaja tidak disajikan oleh sang penulis.
Lambat laun, pelan dan pasti sesuai dengan sinopsisnya terceritakanlah mengenai bagaimana kematian sosok Dewi Ayu, seorang pelacur yang terkenal akan kecantikannya di seluruh pelosok Halimunda. Dia mati setelah beberapa hari melahirkan anak keempatnya yang tidak diketahui siapa gerangan ayahnya.
Anak tersebut lahir begitu buruk rupanya tidak seperti dengan ketiga kakaknya yang semuanya cantik. Itulah yang terjadi, meskipun secara cukup ironis ia memberikan nama Si Cantik kepada anak yang baru dilahirkannya. Tampang dan bentuk tubuh yang buruk ternyata tidak menjadi soal bagi seorang Ayu Dewi memberikan nama Si Cantik kepada putri bungsunya yang buruk rupa.
Hingga suatu masa dia hidup kembali, bertemulah Dewi Ayu dengan Si Cantik yang kini telah menjadi perempuan dewasa dengan sosok sesuai dengan doa-doanya: Anak bayi yang hidungnya menyerupai colokan listrik, telinganya sebagai telinga panci, mulutnya bagaikan mulut celengan dan rambutnya menyerupai sapu dengan kulit serupa komodo dan kaki serupa kura-kura. Maka, berbanggalah dia atas itu semua.
Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin.” - Dewi Ayu. (hal. 4)
Kenyataannya mau cantik atau tidak, kutukan tersebut selalu mengitari kehidupan Dewi Ayu. Ketika Si Cantik ternyata hamil secara misterius tanpa gerangan mengetahui ayahnya - sama seperti yang terjadi dengan ibunya sendiri sepanjang hayat.
Maka, ketimbang melanjutkan perjalanan hidup Si Cantik, Eka selaku penulis memundurkan waktu pada masa sebelum Dewi Ayu menjadi sesosok pelacur.  Semua itu berawal ketika Dewi Ayu hanyalah sosok gadis Belanda yang jatuh cinta pada seorang pria tua bernama Ma Gedik yang belum pernah ditemuinya.


Dewi Ayu pun memaksa Ma Gedik kawin dengannya akibat terobsesi dengan kisah cinta pria itu dengan Ma Iyang, yang menghilang ditelan kabut ketika lari bersama Ma Gedik ke atas bukit demi cinta mereka berdua. Walaupun akhirnya, di hari selepas pernikahan mereka, Ma Gedik memutuskan kabur menjerit-jerit bagai dikejar setan dan terjun dari puncak bukit, terhempas ke bebatuan dan wajah-nya babak belur seperti daging cincang.

Awal Mula Menjadi Pelacur
Setelah itu cerita berjalan bagaikan mozaik yang terkonstruksi dengan dinamis. Pelan-pelan para pembaca akan dibawa kembali kepada masa kekuasaan Jepang di tanah ibu pertiwi.
Dalam situasi pendudukan Jepang, Dewi Ayu tetap memilih bertahan di Halimunda, walau semua anggota keluarganya kembali pulang ke negeri Belanda. Ia mengambil resiko untuk ditundukkan dalam pendudukan Jepang. Ternyata tentara Jepang tahu juga bahwa meskipun memiliki nama lokal, Dewi Ayu adalah orang Belanda.
Sebagaimana nasib orang Belanda lainnya pada waktu itu, Dewi Ayu ditangkap dan ditahan di suatu tahanan yang digambarkan sangat tidak manusiawi: gelap, becek, persediaan makanan yang mini, ancaman malaria. Bahkan dikisahkan ia mesti merebus darah kutu sapi sebagai makanan di tahanan agar bisa bertahan hidup.
Dalam rasa frustrasi di penjara itu, nasib baru menjemput Dewi Ayu dan beberapa perempuan lain. Setelah lolos serangkaian seleksi, Dewi Ayu dan beberapa perempuan cantik lain diam-diam dijadikan pelacur untuk memenuhi kebutuhan birahi para tentara Jepang yang tak tertahankan dalam situasi perang. Penderitaan jenis lain lantas menimpa perempuan-perempuan cantik ini.
Gedung yang indah dan disediakan perawatan layaknya perempuan istana, tidak bisa mengkompensasi begitu saja luka yang mendalam akibat perkosaan tentara-tentara Jepang yang dilakukan setiap malam.
Banyak perempuan yang tidak tahan sampai mencoba bunuh diri. Tapi lain halnya dengan Dewi Ayu. Diam-diam Dewi Ayu bisa beradaptasi dengan dunia prostitusi ini sebagai jalan bertahan hidup. Bahkan ia pun menerima kehamilannya oleh salah seorang petinggi tentara Jepang. Dengan sabar ia merawat janinnya hingga terlahir seorang anak cantik, bernama Alamanda.
Masa pendudukan Jepang lewat. Dewi Ayu tetap menjadi pelacur. Awalnya pilihan itu merupakan keterpaksaan sebagai satu-satunya jalan membayar hutang kepada Mama Kalong (pengelola tempat pelacuran) untuk mendapatkan lagi rumahnya dulu yang masih amat dia cintai. Tapi ia juga sebenarnya menikmati menjadi pelacur profesional (mematok bayaran paling mahal), bahkan justru kian hari ia menjadi pelacur paling ternama dan disegani di Halimunda.
Selain karena Dewi Ayu teramat cantik, tidak bisa dimungkiri juga ia memang selalu bercinta dengan penuh cinta dengan para pelanggan yang sengaja ia batasi perharinya. Hal ini yang lantas membuatnya menjadi sumber kebahagiaan kota sebab para laki-laki selalu mengalami persetubuhan dengan Dewi Ayu menghadirkan sensasi malam pertama mereka.
Meskipun menjadi pelacur, Dewi Ayu tidak menolak kehamilan. Dari seorang pejuang revolusi ia melahirkan satu orang anak perempuan lagi. Dan dari seorang lain lagi, Dewi Ayu mempunyai anak perempuan juga. Keduanya, Adinda dan Maya Dewi mewarisi kecantikannya yang amat mempesona.
Plot novel lalu digerakkan oleh peristiwa-peristiwa yang katakanlah manjadi konsekuensi kecantikan Dewi Ayu, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Masing-masing anaknya tersebut memiliki kisah asmara tersendiri yang pada akhirnya berakhir tragis dan mengenaskan.
Melalui kisah asmara yang dibalut orkes sakit hati keempat putri Dewi Ayu ini pembaca akan melihat jalinan plot novel yang berkelindan dengan kompleksitas situasi sosial, politik, ekonomi dan carut marut realitas Halimunda dari waktu ke waktu.

Bangunan Cerita
Tampak bahwa novel ini mendasarkan cerita pada sebuah tragedi keluarga. Ada penggunaan silsilah keluarga sebagai kerangka. Ada kontinuitas yang jelas antar tokoh dalam novel ini. Tokoh-tokoh yang ada terjalin dengan keluarga Dewi Ayu. Tragedi selalu menjadi kata akhir kehidupan para tokoh dalam novel ini. Semua tokoh dibunuh oleh penulisnya dan meninggalkan janda-janda menyedihkan.
Kedua, dalam pengkisahan keluarga Dewi Ayu, tampak tema sakit hati ikut menentukan alur cerita. Hal ini misalnya kuat dalam kisah asmara Kamerad Kliwon sang pujaan dengan Alamanda, sang penakhluk. Relasi-relasi antara tokoh, misalnya Maman Gendeng – Shodanco dan juga Shodanco dengan Kamerad Kliwon sangat kental suasana konflik dan logika sakit hati.

Unsur ketiga yang juga kuat dalam novel ini adalah erupsi-erupsi irasionalitas manusia. Ada banyak penggambaran sisi dalam diri manusia yang kadang terasa irasional. Erupsi-erupsi irasionalitas manusia ini tampak jelas dalam kehidupan seksualitas para tokoh dalam novel.
Unsur yang kental juga dalam novel ini adalah narasi sejarah bangsa Indonesia. Kelindan antara plot novel dan perjalanan sejarah bangsa ini misalnya terlihat dari dinamika tiga laki-laki dalam suatu pertarungan menikahi anak Dewi Ayu. Hasrat birahi dianalogkan dengan gejolak pertarungan kekuatan politik dalam sejarah Indonesia.
Ketiga laki-laki tersebut memiliki latar sosial politik berbeda. Shodanco adalah seorang komandan militer yang pernah melakukan pemberontakan pada masa pendudukuan Jepang dan lalu dipuja sebagai pahlawan kota karena berhasil menumpas babi hutan yang merajalela waktu itu. Kamerad Kliwon seorang pemuda pujaan yang lantas menjadi aktivis partai komunis. Dan Maman Gendeng seorang preman yang paling disegani di Halimunda karena kekuatan bertarungnya. Ketiga tokoh yang berdinamika mendapatkan hati anak-anak Dewi Ayu ini seolah memberi ilustrasi pertarungan kekuatan-kekuatan politik yang pernah tercatat dalam sejarah indonesia.