Menu
Showing posts with label teologi. Show all posts
Showing posts with label teologi. Show all posts

Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam? [2]


                        Ket: Novel Silence karya Shusako Endo


Pengantar
Novel ini merupakan salah satu novel terlaris karya Shusako Endo. Banyak orang yang mengapresiasi novel silence, akan tetapi banyak juga yang menganggap karya Shusako Endo ini hanyalah untuk ketenaran semata. Novel silence telah membawa kita pada suatu sejarah yang mungkin selama ini dilupakan bahwa agama Katolik pernah hadir di negeri Matahari Terbit.
Novel ini menghadirkan secuil kisah dari perjuangan orang Katolik pada zaman itu. Orang-orang Katolik di Jepang mengalami nasib seperti jemaat Katolik ketika ditindas oleh kekaisaran Romawi. Penulis memberikan judul novelnya tentu saja memiliki maksud tertentu, sehingga saya pun tertarik mengulas novel ini dengan judul “Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam?” 

Kegagalan Misi Katolik di Jepang dari Sisi Sosiologis
Masalah utama yang diangkat dalam novel ini adalah konflik antara Timur dan Barat, secara khusus Kekatolikan. Memang ini bukan masalah baru. Sudah banyak penulis menyampaikannnya. Akan tetapi, Shusaku Endo adalah orang Katolik pertama yang mengemukakan hal ini dengan dahsyat dan menarik kesimpulan tegas bahwa Kristianitas harus beradaptasi secara radikal kalau ingin menumbuhkan akar di “rawa-rawa” lumpur Jepang.

Baca Juga: Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam? [1]

Pengakuan Ferreira imam yang murtad dalam novel ini menjadi salah satu bukti bahwa “satu hal yang aku tahu pasti adalah agama kita tidak bisa berakar di negeri ini. Negeri Jepang ini seperti rawa-rawa. Suatu hari nanti kau akan menyadarinya sendiri. 
Dan rawa-rawa ini lebih parah dari yang biasa kau bayangkan. Setiap kali kau menanam tunas muda di rawa-rawa ini, akar-akarnya mulai membusuk, daun-daunnya menguning dan layu. Dan kita telah menanam tunas muda Kristianitas di rawa-rawa ini”[1].
Pernyataan Ferreira ini bukan tanpa maksud. Jepang disebutnya rawa-rawa karena memang semua yang datang dari luar tidak pernah berkembang di Jepang. Karena semakin ke tengah, maka akan tenggelam dalam rawa-rawa.
Begitu pula dengan kekatolikan yang ditawarkan oleh para misionaris. Ketika mereka berada di wilayah terluar Jepang mereka tidak mengalami kesulitan untuk menyebarkan ajaran Kekatolikan. Akan tetapi, ketika memasuki pedalaman tantangan besar menghadang.
Penyatuan antara ajaran Shinto dan budaya Jepang begitu melekat. Dengan penyatuan agama dan budaya yang begitu melekat, dapat dipastikan agama atau budaya lain sulit untuk masuk ke dalam kehidupan mereka. Ajaran Shinto dan budaya bangsa Jepang telah menjadi identitas yang takkan pernah terpisahkan.
Masyarakat Jepang telah memiliki agamanya sendiri dan tidak benar jika kita memaksa mereka untuk mengikuti kita. Mereka telah menemukan apa yang mereka cari dalam ajaran Shinto.
Tuhan yang dipercaya orang-orang Jepang bukanlah Tuhan orang Katolik, tuhan-tuhan mereka sendiri. “Sekian lama kita tidak menyadari hal ini dan kita yakin sepenuhnya bahwa mereka telah menjadi orang-orang Katolik”[2].

Baca Juga: [Resensi Buku] Memahami Pemikiran Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas

Lebih lanjut Ferreira menegaskan “aku mengatakan ini bukan untuk membela diri atapun mencoba membuatmu yakin. Kurasa tak seorang pun akan percaya apa yang kukatakan ini. Aku melihat bahwa sedikit demi sedikit, hampir tidak kentara, akar-akar yang kita tanam telah membusuk[3]”. Menginjili Jepang, yang diyakini sebagai "rawa-rawa", benih kekatolikan tidak pernah bisa bertumbuh dan berakar jika tidak beradaptasi.
Sampai hari ini bangsa Jepang tidak mengenal konsep Tuhan. Mereka tidak percaya pada Tuhan orang Katolik. Bangsa Jepang tidak bisa sepenuhnya memisahkan konsep Tuhan dari manusia. Mereka tidak bisa membayangkan eksistensi sesuatu yang melampaui manusia.
Bangsa Jepang membayangkan manusia yang indah dan mulia dan inilah yang mereka sebut Tuhan. Sebutan Tuhan itu mereka berikan kepada sesuatu yang memiliki eksistensi yang sama dengan manusia. Tetapi, dia bukanlah Tuhannya Gereja.
Kematian Kristianitas bukan disebabkan oleh larangan atau penganiayaan. Ada sesuatu di negeri itu yang menghambat pertumbuhan Kristianitas. Kristianitas yang mereka percayai itu bagaikan kerangka kupu-kupu yang terjerat di jaring laba-laba: hanya bentuk luarnya mereka ambil. Darah dan dagingnya sudah lenyap. 
Kepercayaan orang Jepang sangat sederhana dan mendasar, namun meniupkan keyakinan yang telah ditanamkan di Jepang oleh Gereja Katolik, bukan oleh para pejabat itu, bukan juga oleh Buddhisme[4].
Shinto sebagai agama, budaya dan simbol yang takkan pernah bisa dipisahkan dari masyarakat Jepang. Penyatuan yang erat ini menjadi tidak dapat dipisahkan karena masyarakat Jepang menemukan Tuhan dan kebahagiaan dalam ajaran Shinto.
Jika mereka sudah menemukan Tuhan dan kebahagiaan dalam ajaran Shinto, Tuhan mana lagi yang dapat membuat mereka menemukan lebih dari itu? Pengalaman kegagalan ini kiranya menjadi pelajaran bagi agama Katolik dalam bermisi.

Kesulitan Agama Monoteistik
Dari penjelasan di atas, sangat nampak betapa agama Shinto berakar dalam kehidupan masyarakat Jepang. Agama Buddha yang ajaran dan tradisinya banyak diadopsi oleh agama Shinto setelah sekian abad tetap tidak bisa mengambil alih pengaruh agama Shinto. Apalagi jika dibandingkan dengan agama monoteistik yang ajaran dan tradisinya jauh berbeda.
Sejarah telah mencatat betapa sulitnya agama monoteistik tertentu untuk berkembang di Jepang. Penyatuan agama dan budaya yang telah mendarah daging menjadi salah satu kesulitan berkembangnya agama monoteis di sana.

Baca Juga: Memaknai Trinitas dalam Kehidupan Berpancasila

Meskipun sejak zaman St. Fransiskus Xaverius agama monoteis (Katolik Roma) sudah membaptis beberapa masyarakat Jepang tidak berarti agama Katolik akan eksis. Agama Katolik yang sejak saat itu berusaha untuk hadir di Jepang ternyata tidak mampu masuk lebih dalam untuk berlama-lama hadir di sana.
Perbedaan cara berpikir dan konsep Tuhan dapat menjadi penyebab sulitnya agama Katolik atau agama monoteis berkembang di sana. Agama Shinto adalah simbol negeri Jepang.         
Konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto sangat sederhana yaitu semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak pada hakikatnya memiliki roh atau kekuatan, jadi wajib dihormati. Sejak awal sebenarnya secara alamiah orang Jepang sudah menyadari bahwa mereka bukanlah mahluk kuat. 
Di luar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Pengakuan, kekaguman, ketakutan dan juga kerinduan pada Spirit atau "Kekuatan Besar" yang disebut dengan nama Kami.

Arti Silence
Menurut saya, arti silence berdasarkan novel ini adalah Tuhan tidak memberikan jalan keluar ketika umatnya mengalami kesulitan. Tuhan seakan-akan tidak memberikan apa yang dibutuhkan oleh umat-Nya. Tuhan tidak terlihat dan sepertinya hanya diam ketika Padre Rodrigues menghadapi ujian hidup yang paling berat. 
Satu-satu orang beriman itu ditangkap, tidak untuk dibunuh. Mereka selalu punya pilihan; memilih hidup dengan syarat meninggalkan iman atau bersiap mati jika kukuh mempertahankannya.
Surat Padre Rodrigues menampilkan kenyataan bahwa semua yang beriman memilih mati demi mempertahankan keyakinan akan Kristus. Mungkin juga hal itu diperteguh oleh keyakinan bahwa kematian akan membawa mereka ke Surga, dan membebaskan mereka dari semua bentuk penindasan dan penderitaan di dunia.
“…Kalau kami masuk surga, kami akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan abadi. Di Surga tidak perlu bayar pajak setiap tahun, tidak perlu takut kelaparan dan sakit. Tidak bakal ada kerja keras di sana. Di dunia ini kami selalu saja kena masalah” kata seorang perempuan Katolik bernama Monica[5].
Agama telah menjadi candu untuk masyarakat Jepang pada zaman itu. Mereka terpesona dengan janji-janji tentang Surga yang tidak akan mengalami penderitaan atau membayar pajak terhadap Kaisar.
Arti lain dari silence menurut saya adalah para misionaris merasa ditinggalkan. Ketika mereka dalam kesulitan dan harus mengambil keputusan yang sulit, Tuhan justru ‘tidak ada’. Baik Ferreira maupun Rodrigues dibiarkan berjuang sendirian. 
“Hentikan! Hentikan! Tuhan, sekaranglah Kau harus menghentikan keheningan-Mu. Kau tidak boleh tetap bungkam. Buktikan Kau adil, mahabaik, penuh kasih. Kau harus membuka suara, untuk menunjukkan pada dunia bahwa Kau mahakuasa.”[6]
Mengapa Tuhan terus berdiam diri sementara hamba-Nya harus menghadapi pilihan yang menentukan kehidupan banyak orang. Apakah Tuhan hanya mengejek Rodrigues dan misionaris lainnya? Tidak ada yang tahu selain Tuhan sendiri.
Orang Katolik Jepang merasa mereka menderita tanpa “ada keterlibatan Allah” yang kelihatan. Mereka dibiarkan menanggung sendirian penderitaan itu. Penderitaan yang mungkin saja tidak mereka alami seandainya mereka bukan Katolik. 
Saya juga melihat arti silence sebagai operasi hening orang Katolik. Orang Katolik dalam menyebarkan ajaran agama Katolik di sana dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Pengalaman mereka seperti orang Katolik pada masa pengejaran di wilayah kekaisaran Roma.

Baca Juga: Kotak Pandora di Balik Kehancuran Jepang di Tangan Sekutu

Mereka adalah warga negara ‘bawah tanah’ dalam menyebarkan ajaran agamanya. Keheningan dalam menyebarkan ajaran agama Katolik karena takut diketahui oleh pemerintah Jepang yang sangat memusuhi agama Katolik saat itu.
Umat Katolik Jepang dengan penuh kehati-hatian dalam menyebarkan agama Katolik. “Iman Anda memberi saya kekuatan, Mokichi[7],” katanya kepada seorang Katolik yang siap dibawa menuju tempat penyiksaan. Tapi, berapa lama mereka sanggup bertahan dalam tempat yang tersembunyi, sedang otoritas senantiasa mengincar dan mencari orang Katolik hingga ke tempat tersembunyi sekalipun.
Selain itu arti silence bagi saya adalah agama Katolik tidak mendapat respon pemerintah. Meskipun agama Katolik telah lama hadir di Jepang mereka tidak pernah mendapat tanggapan dari pemerintah. Orang-orang Katolik Jepang adalah korban perselisihan politik antara Jepang versus Spanyol.
Meskipun jumlah orang Katolik Jepang sempat mencapai 400.000 orang, tetapi itu hanyalah tampak luar. “Ibarat kupu-kupu yang terjerat di jaring laba-laba. Mulanya kau yakin dia kupu-kupu—sayapnya, badannya. Realitasnya yang sejati sudah hilang dan menjadi sekadar kerangka. Di Jepang, Tuhan kita persis seperti kupu-kupu yang terjerat jaring laba-laba itu. Hanya bentuk luar Tuhan yang tersisa, tetapi sudah menjadi kerangka.”[8]

Daftar Pusataka
https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Catholic_Church_in_Japan. Diunduh Selasa 05 September 2017, pkl 08.13 WIB.
Endo, Shusaku. Silence. Penter. Tanti Lesmana. Jakarta: Kompas, 2009.




[1] Shusaku Endo, Silence, 234.
[2] Shusaku Endo, Silence, 235.
[3] Shusaku Endo, Silence, 235.
[4] Shusaku Endo, Silence, 238-242.
[5] Shusaku Endo, Silence, 183.
[6] Shusaku Endo, Silence, 164.
[7] Seorang Katolik yang menjadi Katekis ketika Rodriques tiba di Jepang.
[8] Shusaku Endo, Silence, 237

Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam? [1]

                                       Ket: Novel Silence karya Shusako Endo
                         
Pengantar
Novel ini merupakan salah satu novel terlaris karya Shusako Endo. Banyak orang yang mengapresiasi novel silence, akan tetapi banyak juga yang menganggap karya Shusako Endo ini hanyalah untuk ketenaran semata. Novel silence telah membawa kita pada suatu sejarah yang mungkin selama ini dilupakan bahwa agama Katolik pernah hadir di negeri Matahari Terbit.
Novel ini menghadirkan secuil kisah dari perjuangan orang Katolik pada zaman itu. Orang-orang Katolik di Jepang mengalami nasib seperti jemaat Katolik ketika ditindas oleh kekaisaran Romawi. Penulis memberikan judul novelnya tentu saja memiliki maksud tertentu, sehingga saya pun tertarik mengulas novel ini dengan judul “Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam?”

Maksud Shusaku Endo Menulis Novel Silence
Bapa kami bukan mempermasalahkan benar dan salahnya doktrinmu. Di Spanyol dan Portugis dan negeri-negeri lain semacamnya, doktrin itu mungkin benar. Sebabnya kami melarang Kristianitas di Jepang adalah setelah menimbang-nimbang dengan saksama dan mendalam, kami mendapati ajaran itu tidak ada gunanya untuk Jepang masa kini.”[1]

Baca Juga: Kotak Pandora di Balik Kehancuran Jepang di Tangan Sekutu

Shusako Endo selain ingin menceritakan kembali kepada pembaca tentang sejarah kelam kekatolikan di Jepang juga sebenarnya mengkritik agama Katolik. Kritik yang disampaikan memang tidak disampaikan secara langsung, tetapi agama Katolik perlu beradaptasi dengan setiap tempat jika ingin menyebarkan ajarannya.
Jepang adalah rawa-rawa[2], maka pohon yang harus ditanam di sana adalah Bakung atau Hidrila bukannya Mahoni atau Jati. Jika pohon Mahoni atau Jati yang ditanam dapat dipastikan pohon itu akan segera mati karena bukan habitatnya untuk tumbuh di rawa-rawa. Demikian juga dengan agama Katolik. Para misionaris harus bisa memahami situasi dan kondisi suatu tempat jika ingin menyebarkan ajarannya.
Kesalahan para misionaris waktu itu adalah mereka tidak mampu menemukan bentuk kristianitas yang sesuai dengan karakter nasionalnya. Pohon Kristianitas Hellenistik tidak bisa begitu saja dicabut di Eropa dan ditanam begitu saja di rawa-rawa Jepang yang mempunyai tradisi budaya yang sepenuhnya berbeda. Kalau hal itu dilakukan, tunas pohon yang masih muda itu akan layu dan mati. Perbedaan latar tempat penyebaran ajaran kekatolikan harus dipahami oleh para misionaris.

Baca juga: Memaknai Trinitas dalam Kehidupan Berpancasila

Shusako Endo hanya ingin menggarisbawahi kegagalan agama Katolik dalam mendapatkan tempat ‘istimewa’ di hati pemerintah Jepang adalah kegagalan mereka untuk melakukan inkulturasi dengan budaya setempat. Budaya Barat yang Hellenistik terlalu dipaksakan kepada Jepang. Siapapun pasti akan menolak jika seorang tamu memaksakan kehendaknya kepada tuan rumah. Singkatnya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijinjing.

Konteks Situasi Sosial[3]
Situasi sosial pada masa itu adalah terjadinya ketidakpercayaan orang-orang Jepang terhadap orang-orang Eropa yang ingin menguasai Jepang. Hal ini bermula dari hubungan perdagangan yang mulai renggang antara kekaisaran Jepang dengan para pedagang Barat.
Tahun 1579 merupakan puncak aktivitas misionaris Katolik di sana karena sekitar 130.000 orang yang menjadi Katolik. Data yang diperoleh di kemudian hari menunjukkan jumlah orang Katolik di Jepang pernah mencapai 400.000 orang.
Menjelang akhir abad ke-16, Jepang menjadi komunitas Katolik luar Eropa terbesar yang tidak berada di bawah kekuasaan Eropa. Jepang adalah salah satu negara di luar Eropa di mana semua anggota Jesuit penduduk lokal, seperti halnya dengan misi Katolik di Meksiko, Peru, Brasil, Filipina, atau India, terlepas dari kehadiran elit kolonial.
Agama Katolik diterima oleh banyak orang di sana karena semua orang dari berbagai kelas sosial berhasil dirangkul, seperti orang miskin, kaya, petani, pedagang, pelaut, pejuang, atau pelacur. Sebagian besar kegiatan harian Gereja dilakukan oleh orang Jepang, dan ini adalah salah satu alasan keberhasilannya. Pada tahun 1590, terdapat tujuh puluh Putra asli Jepang menjadi biarawan setengahnya adalah Yesuit di Jepang dan lima belas persen dari 70 orang itu berkarya di luar Jepang.
Situasi berubah ketika Toyotomi Hideyoshi menjadi Shogun. Ketika menjadi penguasa Jepang, Hideyoshi mulai memperhatikan ancaman eksternal, terutama perluasan kekuatan Eropa di Asia Timur. Titik balik untuk misi Katolik adalah insiden di San Felipe, kapten kapal dagang Spanyol mengklaim bahwa para misionaris yang ada di sana mempersiapkan penaklukan Jepang. Klaim ini membuat Hideyoshi curiga terhadap agama asing tersebut. Ia berusaha untuk mengekang Katolik, tetapi tetap menjaga hubungan perdagangan dengan Portugis dan Spanyol.

Baca Juga: Manusia Menurut Victor E. Frankl

Pada tanggal 5 Februari 1597, dua puluh enam orang Katolik - enam Fransiskan Eropa, tiga Jesuit Jepang dan tujuh belas awam termasuk tiga anak muda disalibkan di Nagasaki.  Setelah itu terjadi pengejaran terhadap orang Katolik dan martir yang paling terkenal dari antara mereka adalah Paulus Miki yang diperingati setiap tanggal 6 Februari. Penganiayaan terus berlanjut secara sporadis, pecah lagi pada tahun 1613 dan 1630. Pada tanggal 10 September 1632, 55 orang Katolik menjadi martir di Nagasaki. 

Tokugawa Ieyasu
Setelah kematian Toyotomi Hideyoshi, Tokugawa Ieyasu berkuasa atas Jepang, pada tahun 1600. Seperti Toyotomi Hideyoshi, ia tidak menyukai kegiatan Katolik di Jepang tetapi ia tetap mengutamakan perdagangan dengan Portugis dan Spanyol. Dia membangun perdagangan dengan Filipina. Relasi dagang dengan pihak Katolik membuat kebijakannya tidak konsisten. 
Pada saat yang sama, dalam usaha untuk merebut kendali perdagangan di Jepang, pedagang Belanda dan Inggris menasehati bahwa Spanyol memang memiliki ambisi teritorial, dan bahwa Katolikisme adalah sarana utama Spanyol. Sebaliknya, Belanda dan Inggris berjanji bahwa mereka akan membatasi diri hanya untuk berdagang dan tidak akan melakukan kegiatan misionaris di Jepang.
Tokugawa akhirnya memutuskan untuk melarang penyebaran agama Katolik tahun 1614, dan pada pertengahan abad ke-17 menuntut pengusiran semua misionaris Eropa.  Hal ini menandai akhir dari Katolik terbuka[4] di Jepang. Penyebab langsung dari larangan adalah kekuatiran Tokugawa terhadap kemungkinan invasi oleh Spanyol dan Portugis, yang sebelumnya terjadi di Amerika Latin dan Filipina. 
Pada tahun 1615, seorang Fransiskan utusan Raja Muda Baru Spanyol meminta kepada Shogun tanah untuk membangun sebuah benteng dan ini memperdalam kecurigaan Jepang terhadap Katolik dan Spanyol. Orang Katolik dianggap membawa gangguan kepada masyarakat Jepang dan pengikut mereka "bertentangan dengan peraturan pemerintah, menolak Shinto, dan mempergunjingkan Undang-undang". Pada abad ke-19 Jepang kembali menerima orang-orang Katolik berkarya di sana.

Makna Sosial Penindasan
Sasaran dari penyiksaan terhadap orang Katolik di Jepang adalah pengingkaran atas iman Kristiani. Membunuh tak pernah menjadi tujuan; kematian hanya menjadi akibat paling akhir ketika tawaran untuk mengingkari menemui jalan buntu. Penguasa Jepang pun mencari variasi penyiksaan.

Baca juga: [Resensi Buku] Memahami Pemikiran Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas

Pada akhirnya mereka berusaha untuk mencabut akar agar tunas Kristianitas yang telah tumbuh. Itulah sebab, sasaran rayuan dialihkan kepada para Padre Rodrigues. Dia adalah pemimpin sekaligus kepalanya. Itu artinya, tanpa harus mengorbankan lebih banyak nyawa jika Padre Rodrigues menyangkal imannya.
Dari novel, makna sosial yang hendak disampaikan adalah pemerintah akan melakukan apa saja untuk membendung wilayah kekuasaanya yang dirasanya dapat menggangu pemerintahannya. Agama Katolik dipandang sebagai pengganggu kestabilan pemerintahan Jepang. Jalan terbaik yang dilakukan adalah memusnahkan agama Katolik dari bumi Jepang. Caranya adalah dengan menyiksa dan penidasan yang dilakukan tiada henti.
Penindasan yang dilakukan secara terus-menerus diharapkan menumbulkan efek jera bagi yang disiksa. Akan tetapi, dari sejarah ternyata agama Katolik mampu bertahan dan melewati masa-masa penyiksaan itu dengan sangat hebat.
Masa penyiksaan dilewati hingga pada akhirnya bangsa Jepang kembali membuka diri untuk berelasi dengan dunia luar dan agama Katolik menghirup udara segar. Tetapi, dari semua itu yang patut dilihat adalah solidaritas di antara orang Katolik itu sendiri. Di sini sangat berlaku teori Emile Durhkeim tentang solidaritas mekanik.
Solidaritas mekanik ini adalah masyarakat atau kelompok sosial yang didasarkan pada kesadaran kolektif, kebersamaan, dan hukum yang bersifat menekan. Ikatan dalam solidaritas mekanik terjadi karena kesamaan aktivitas dan merasa memiliki tanggung jawab yang sama, sehingga ikatannya sangat erat.
Kesamaan nasib sebagai orang tertindas memampukan komunitas Katolik Jepang bertahan. Solidaritas di antara mereka tidak dapat diragukan lagi. Mereka adalah simbol keberhasilan kelompok yang selalu tertindas, tetapi masih dapat bertahan di tengah penindasan itu.

Sumber Gambar: bluebook.life

[Resensi Buku] Memahami Pemikiran Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas


(Ket gambar: Sampur buku Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas)

Judul buku : Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas
Penulis       : Dr. Simplesius Sandur, CSE
Penerbit     : Kanisius
Cetakan     : 2019
Tebal         : xi + 355

Thomas Aquinas (1124-1274) tampil sebagai tokoh terdepan yang menggagas esensi politik dan hukum pada zamannya. Baik politik maupun hukum dalam pandangan Aquinas memiliki satu tujuan, yaitu bonum commune (kebaikan bersama). Hal ini dikarenakan politik dan hukum selalu berkaitan dengan suatu societas, di mana kita juga ambil bagian di dalamnya. Titik tolak pandangan politik Thomas Aquinas adalah konsep zoon politikon Aristoteles.
Selanjutnya hukum dalam pandangan Aquinas tidak melulu dilihat sebagai suatu kekuatan untuk menghukum tetapi dalam artinya yang terdalam, yaitu sebagai suatu perintah akal budi (ratio). Bagi Aquinas akal budi adalah aturan sekaligus ukuran tindakan manusia. Kebaikan yang menjadi akhir dari hukum berkaitan dengan kebenaran. Kebaikan itu haruslah kebaikan yang mengandung kebenaran, bukan karena diiming-imingi sesuatu atau hanya kelihatannya baik.


Bagi Aquinas lakukan yang baik dan tolaklah yang jahat menjadi prinsip pertama dalam hukum. Prinsip ini mendesak manusia untuk mencari dan mengejar kebaikan serta secara bersamaan menjauhi kejahatan. Oleh karena itu, tindakan kejahatan tidak akan pernah dibenarkan meskipun bertujuan mulia. Sehingga, dalam buku ini ditegaskan pentingnya melakukan tindakan baik dan menghindari kejahatan.

Konteks Penulisan
Untuk memahami pemikiran dan tulisan Thomas Aquinas, maka kita harus kembali zaman abad pertengahan. Perlu diketahui Thomas Aquinas adalah Filsuf sekaligus Teolog besar dalam Gereja Katolik. Karena itu, Aquinas lebih banyak menghasilkan karya-karya filsafat dan teologi dibandingkan karya politik. Tidak hanya itu, kondisi politik pada zaman itu posisi Gereja Katolik sangat kuat, sehingga tidak ada alasan bagi Aquinas untuk menulis traktat politik dibanding Filsafat dan teologi.
Pada zaman Aquinas karya Aristoteles, Plato dan filsuf Yunani lainnya mulai dipelajari di Eropa. Aquinas pun salah seorang yang mempelajari tokoh-tokoh ini. Sehingga tidak mengherankan jika karyanya tentang filsafat hukum dan politik sangat dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan Aristoteles. Pemikiran para filsuf ini menjadi titik pijaknya dalam menulis entah filsafat, teologi maupun politik. Baik Plato maupun Aristoteles mengedepankan konsep pengertian yang mendalam tentang recta ratio (akal budi benar). Sehingga untuk memahami pandangan politik dan hukum Aquinas, terlebih dahulu kita memahami filsafatnya karena semuanya punya keterkaitan.


Pandangan Politik dan Hukum
Lalu bagaimana memahami politik dan hukum dalam filsafat Thomas Aquinas? Eksposisi penulis buku ini mengambil jalan pikiran sistematika Aquinasian. Cukup gamblang dari sudut sistem logika, tetapi memiliki delikasi kerumitan yang menarik bila orang membaca karya-karya Aquinas (hal 2). Terminologi hukum dalam bahasa Latin Lex yang berasal dari kata kerja baik ligare yang berarti mengikat, maupun legere yang berarti menghimpun. Sulit untuk membedakan mana yang lebih tepat karena bukan soal distingsi sebab hukum itu bersifat mengikat dalam satu kesatuan.
Aquinas menjabarkan tema politik dalam traktatnya berjudul De Regno yang ditujukan kepada raja Siprus. Harus diakui pandangan politik Aquinas mungkin dapat dikategorikan ketinggalan zaman kalau dibandingan dengan demokrasi modern. Akan tetapi, Simplesius Sandur mencoba mendalami teori mendasar Aquinas tentang politik dan hakikat terdalam tujuannya untuk bonum commune. Pendalaman ini akan menjadi aktual ketika Aquinas dan para pemikir abad pertengahan melihat politik sebagai tema yang tak terpisahkan dari etika (hal. 11). Dengan kata lain keduanya harmonis.
Perlu diketahui Aquinas tidak banyak menulis tema politik sehingga tidak banyak pemikirannya dalam dunia politik. Hanya dalam De Regno, Aquinas menjelaskan tentang bagaimana manusia yang hidup bersama membentuk sebuah komunitas sosial yang dalam skala besar disebut negara dan perlu ada pemimpinnya. Politik dalam pandangan Aquinas adalah tindakan yang didasarkan pada tujuan tertentu. Tujuan yang menjadi landasan seseorang bertindak. Karena aktivitas politik memiliki tujuan, maka seluruh potensi yang ada akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Selain itu, Aquinas yang banyak dipengaruhi oleh filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles berpandangan bahwa filsafat politik sebagai ilmu praktis berkaitan juga dengan scientiae morales, ilmu moral atau kalau lebih netral ilmu etika. Pandangan ini adalah pandangan klasik tetapi mendeskripsikan substansi dari ilmu ini. Aquinas mengatakan bahwa politik berada di bawah ilmu yang berkaitan dengan tindakan-tindakan manusia seperti ilmu moral atau etika. Dan hal ini sangat berbeda kalau menggunakan pandangan Nietzsche yang melihat politik sebagai ajang pencarian kekuasaan atau kehendak untuk berkuasa.


Lalu apakah hukum? Hukum adalah tentang perintah dan larangan. Aquinas menggagas hukum sebagai ordo rationis (tata akal budi). Yang dimaksud dengan akal budi oleh Aquinas adalah recta ratio atau right reason. Manusia sejauh manusia memiliki akal budi, artinya memiliki segala yang perlu untuk berpikir dan menghendaki yang benar bagi dirinya dan sesamanya akan mengantar manusia kepada Allah.
Bagi Aquinas hukum itu tentang akal budi yang benar, artinya daya ikat atau wajib dalam hukum didasarkan pada kebenaran sejauh akal budi manusia dapat memikirkannya. Konsekuensi dari pemikiran seperti ini adalah tidak semua peraturan hukum yang diberlakukan mengikat, hanya perintah atau larangan yang masuk akal yang memiliki daya ikat. Karena pada dasarnya peraturan tidak pernah untuk peraturan itu sendiri. Peraturan hanya untuk manusia. Peraturan harus menjadikan manusia baik, damai, adil, dan sejahtera (hal 3).
Pembuat dan yang memberlakukan hukum adalah instansi atau pribadi yang bertindak sebagai penangggung jawab atas kesejahteraan umum. Dari mana hukum berasal? Dalam perumusan Aquinas hukum berasal dari yang bertanggung jawab atas kesejahteraan umum seluruh komunitas. Thomas Aquinas belum mengenal pembagian kekuasaan yang secara praktis membedakan pembuat hukum, pelaksana hukum, dan instansi yang mengadili pelanggaran hukum. Akan tetapi, apa pun namanya lembaga pemerintahan itu yang membuat undang-undang adalah pihak yang bertanggung jawab atas komunitas. Oleh karena itu, tidak semua orang dapat bertindak sebagai pembuat hukum atau penjaga hukum.
Hukum tidak lain dari pada suatu peraturan akal budi untuk kebaikan bersama yang dibuat oleh mereka yang bertanggung jawab atas komunitas dan dipromulgasikan. Ada 4 elemen penting dalam definisi ini yang kehadirannya adalah suatu keharusan. Artinya, absennya salah satu dari elemen-elemen ini membuat hal itu bukanlah sebuah hukum dalam arti yang sesungguhnya. Keempat elemen ini menyatakan suatu esensi dari hukum.
Hukum adalah ‘peraturan akan budi’ atau bonum commune; dibuat oleh suatu otoritas yang bertanggung jawab atas sebuah komunitas; suatu hukum akan memiliki daya ikat untuk suatu komunitas kalau dipromulgasikan. Poin berikutnya, berdasarkan elemen hukum, Aquinas menganalisis jenis-jenis hukum, yaitu, hukum abadi (lex aeterna), hukum kodrat (lex naturalis), hukum positif (lex humana atau ius positivum), dan hukum ilahi (legem divinam). Tampak jelas sebagaimana dipresentasikan Aquinas dalam Treatise on Law bahwa keempat jenis hukum ini memiliki keempat elemen dasar sebagaimana ditampilkan di atas, karena itu keempatnya adalah hukum dalam arti yang sesungguhnya (hal 13).

Sumber gambar: dokumentasi pribadi



Memaknai Trinitas dalam Kehidupan Berpancasila


                            (Ket: Lambang Garuda Pancasila)
Berbicara tentang Trinitas berarti berbicara tentang persekutuan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Persekutuan ketiganya membentuk komunitas kasih karena Bapa selalu mengasihi Putra dan Roh Kudus, Putra selalu mengasihi Bapa serta Roh Kudus dan Roh Kudus selalu mengasihi Bapa dan Putra. Akan tetapi, banyak orang kemudian menganggap orang Kristen sebagai penyembah tiga allah (triteisme).
Mereka berpendapat demikian karena Allah Bapa dipisahkan dari Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Jika ketiga-Nya dipisahkan akan jatuh pada triteisme. Akan tetapi, dalam kekristenan ketiganya tidak dapat dipisahkan, malahan persekutuan ketiganya membentuk monoteisme radikal dan komunitas Ilahi.
Keistimewaan beriman pada Allah Trinitas, akan misteri perichoresis, dan persekutuan Trinitaris adalah karena Allah Trinitas merupakan model bagi kehidupan masyarakat yang adil, yang mengindahkan persamaan dan menghormati perbedaan. Atas dasar iman akan Trinitas, orang Kristen dituntun pada sebuah bentuk masyarakat yang mengikuti model persekutuan Trinitas.

Baca juga: Manusia Menurut Victor E. Frankl

Konsep Allah sebagai persekutuan inilah yang menjadi dasar kita berelasi dengan orang-orang lain. Persekutuan Allah Trinitas merupakan persekutuan pribadi Ilahi atas dasar kasih yang dapat kita jadikan sumber inspirasi untuk pengamalan Pancasila. Tujuannya agar tercipta masyarakat yang harmonis dan saling menghargai. Kita sebagai masyarakat Katolik pun sangat diharapkan agar berlaku adil kepada sesama. Latar belakang tiap pribadi bukan menjadi alasan bertindak diskriminasi. Karena Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus selalu berlaku adil kepada kita.
Umat Katolik mendukung Pancasila bukan hanya sebagai sarana pemersatu, melainkan juga sebagai ungkapan nilai-nilai dasar hidup bernegara, yang berakar di dalam budaya dan sejarah suku-suku bangsa kita. Pancasila, baik sebagai keseluruhan maupun ditinjau sila demi sila, mencanangkan nilai-nilai dasar hidup manusiawi, sejalan dengan nilai yang dikemukakan oleh ajaran dan pandangan Gereja Katolik.”[1]
Kenapa pada akhirnya orang-orang Kristen umumnya dan Katolik khususnya menyetujui Pancasila sebagai dasar negara? Karena Pancasila sebagai dasar negara Indonesia mampu merangkul semua perbedaan yang ada dalam masyarakat baik itu suku, agama, ras maupun golongan.  Pancasila menjadi ideologi yang mengayomi semua golongan masyarakat. Perbedaan latar belakang entah itu ras, agama, golongan atau budaya adalah kekayaan yang harus dipelihara. Seperti persekutuan Allah Trinitas yang dibangun atas dasar kasih, diharapkan juga persatuan masyarakat Indonesia dibangun atas dasar kasih dan dan menghargai perbedaan.

Trinitas Sebagai Model dalam Pengamalan Pancasila
Menurut Boff masyarakat manusia merupakan petunjuk ke arah Trinitas dan sebaliknya misteri Trinitas menjadi petunjuk arah untuk kehidupan masyarakat.[2] Trinitas sebagai model bagi setiap bentuk masyarakat yang mencari hubungan agar dapat berpartisipasi dan mendapatkan kesederajatan.
Taymans d’Eypernon menggariswabawahi bahwa masyarakat merupakan hasil dari kemajemukan pribadi dan tindakan. Interaksi semua unsur masyarakat dapat menciptakan keadian sosial[3]. Interaksi ini merupakan analogi bagi keesaan Allah, di dalamnya Pribadi-pribadi ilahi membangun persekutuan kekal.

Baca juga: Mengenal Khazanah Islam

Menurut Soekarno persatuan nasional memerlukan identitas nasional dan kepribadian nasional. Dengan mudah kita akan temukan jawaban dari pernyataan ini, yaitu gotong royong sebagai kekhasan masyarakat kita. Semua identitas kita dengan sangat gamblang disampaikan dalam Pancasila. Sila-sila dalam Pancasila pun menjadi bukti bahwa para founding fathers ingin agar Indonesia ini berdiri atas kerja keras dan perjuangan semua golongan. Sebab dalam kenyataannya, bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, adat istiadat, kebudayaan dan agama yang berbeda.
Lalu, kenapa Trinitas sebagai model dalam pengamalan Pancasila? Jawaban sederhananya karena Allah sebagai persekutuan (persekutuan Bapa, Putra dan Roh Kudus) selaras dengan sila ketiga Pancasila yaitu, Persatuan Indonesia. Maksudnya persekutuan ketiganya sebagai relasi ilahi coba diwujudnyatakan dalam relasi sesama manusia Indonesia melalui sila ketiga. Sehingga, boleh dikatakan Allah sebagai Communio menjadi inspirasi untuk menciptakan perdamaian dan kesatuan.
Paham Allah Trinitas dan Pancasila paling sederhana dapat kita temukan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi satu jua). Kedua paham ini yang satunya sangat religius dan yang lain sangat politis mempunyai visi dan misi yang sama, yaitu merangkul semua perbedaan yang ada tanpa ada yang diistimewakan. Mengistimewakan yang satu hanya akan menganak-tirikan yang lain. Itulah konsekuensi jika ada yang diistimewakan. Karena itu, untuk menghindari perpecahan lahirlah semboyan Bhineka Tunggal Ika. Semboyan yang diharapkan dapat merangkul semua entitas di bumi pertiwi.
Sebagai orang Kristiani patut bersyukur bahwa mengakui Pancasila sebagai dasar ideologi negara punya dasar teologisnya. Artinya, apa yang pernah disampaikan oleh MGR. Albertus Soegijapranata berpuluh-puluh tahun lalu, yaitu seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia masih relevan untuk dipraktikan di zaman sekarang. Setidaknya persekutuan Allah Trinitas atas dasar kasih dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk juga melakukan hal yang sama kepada sesama kita. Jika Allah telah mengasihi kita, adakah alasan kita tidak mengasihi sesama?
Apalagi saat ini kita sedang menghadapi pandemi covid-19 yang telah menelan banyak korban jiwa. Keadaan sekarang dapat menjadi momen untuk terus meningkatkan persatuan dan kesatuan tanpa harus melihat latar belakang sosial, agama, suku, atau ras. Keadaan pandemi ini menjadi kesempatan untuk semakin menunjukkan kepada semua orang bahwa kita adalah masyarakat penganut Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sebab Pancasila akan semakin bermakna ketika dapat diaktualisasikan dalam kehidupan bersama.

Baca juga: Dialog dan Hidup Bersama Menurut Filsafat Politik Immanuel Kant dan John Rawls

Tolong menolong dengan meringankan beban tetangga di sekitar rumah atau mendukung protokol yang dikeluarkan oleh pihak berwenang juga merupakan salah satu bentuk penghayatan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jika Yesus taat kepada Bapa-Nya hingga mati, adakah alasan bagi kita untuk tidak taat kepada pemerintah yang kita pilih ketika mereka mengeluarkan larangan untuk menyelamatkan banyak orang? Pancasila tetap berdiri kokoh karena mayoritas masyarakat Indonesia percaya bahwa ini adalah ideologi yang mampu merangkul semua perbedaan dalam masyarakat. Oleh karena itu, wujud konkret pengamalan Pancasila dengan berani menanggalkan ego masing-masing.
Sekarang, saat menghadapi wabah Covid-19, kita tidak mampu menghindarinya. Tentu kita semua ingin selamat. Saat ini pandemi, Covid-19 menggantikan peran malaikat pencabut nyawa. Akan tetapi, layakkah kita pesimis dan terus berharap ada mukjizat? Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia, mengatakan, “…Orang-orang berdoa kepada Tuhan agar menurunkan keajaiban, tetapi mereka sendiri tidak berbuat serius untuk menghentikan kelaparan, wabah dan perang.”[4] Jadi, kita semua punya peran masing-masing untuk menghentikan penyebaran wabah ini dengan mengikuti arahan pemerintah dan pihak medis.

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/users/ibnuamaru



[1] Ignatius Suharyo, “Catatan Atas Seluruh Proses Penyusunan ArDas KAJ 2016-2020”, dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta Tahun 2016-2020, 97.                                                
[2] Leonardo Boff, Allah Persekutuan: Ajaran Tentang Allah Tritunggal, Ende: Percetakan Arnoldus, 1999, 23.
[3] Leonardo Boff, Allah Persekutuan: Ajaran Tentang Allah Tritunggal, 24.
[4] Yuval Noah Harari, Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia, Judul asli, Homo Deus – a Brief History of Tomorrow, Pent. Yanto Musthofa, (Jakarta: Alvabet, 2018), 21.

Covid-19: Penderitaan yang Melahirkan Harapan



Pengantar
Di manakah Allah saat ini? Apakah Allah yang menciptakan bencana ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bermunculan tatkala penderitaan merundung kehidupan manusia. Sebuah konsep yang menyalahkan eksistensi Allah tatkala penderitaan yang dihadapi tidak memiliki jalan keluar. Semakin besar penderitaannya, semakin banyak manusia yang menyebut nama Allah, entah untuk penguatan, atau pun dalam kemarahan.[1] Mereka menyebut Allah untuk sebuah pertolongan atau pun untuk menyalahkan atas situasi yang dialami.
Situasi serupa mungkin dihadapi oleh sebagian manusia yang hidup pada masa Covid-19 melanda dunia. Sekadar informasi tentang Covid-19, Covid-19 merupakan sebuah Virus yang berasal dari sebuah kota China, yaitu Wuhan. Virus ini dapat dengan mudah menyebar ke tubuh manusia. Kematian seolah-olah menjadi sebuah candaan yang dapat dengan mudah direnggutnya.
Kehadiran virus ini telah menimbulkan ketakutan, keresahan, dan kecemasan bagi banyak orang. Berhadapan dengan situasi seperti ini, tatkala manusia tidak menemukan jalan keluarnya, banyak di antara mereka mempertanyakan eksistensi Allah. Jargon-jargon yang disematkan pada diri Allah seperti Maha baik, Maha pengasih, Maha pengampun dan lain-lain seketika hilang. Eksistensi Allah pun terus dipertanyakan. Tentang Allah, manusia bertanya, bahkan menuntut: Apakah Allah ada? Jika Ia ada, mengapa Ia tega membiarkan tragedi ini menimpa manusia?[2]
 Benarkah Allah menciptakan bencana ini? Untuk menjawab itu, mungkin perlu melihat kembali perkataan tokoh klasik, yaitu santo Agustinus. Agustinus mengatakan, penderitaan dan kejahatan yang ada di dunia ini tidak boleh pernah diterangkan sebagai yang berasal dari Allah, karena itu bertentangan dengan hakikat Allah sebagai yang maha baik.[3] 


Allah pada hakikatnya adalah pribadi yang baik. Penderitaan yang menimpa manusia pada saat ini berasal dari kebebasan yang dimiliki manusia. Kebebasan membuat manusia mampu melakukan apa pun sesuai dengan kemampuannya, bahkan menciptakan kejahatan dan penderitaan. Penderitaan dan kejahatan di dunia ini disebabkan oleh manusia yang salah menggunakan kebebasannya.[4] Allah tidak pernah menciptakan penderitaan karena Allah adalah kasih.

Allah  yang  Mahabaik
Allah pada hakikat adalah pribadi yang baik. Mungkin banyak di antara kita yang mempertanyakan, apakah Allah benar-benar baik? Jika Allah itu sungguh baik, mengapa Ia menciptakan bencana? Allah tidak pernah menciptakan penderitaan dan bencana.
Allah menciptakan hukum alam yang ketika dilanggar mendapat hukum karma. Ia menciptakan kebebasan kepada manusia untuk berkuasa atas ciptaan yang lain. Namun, manusia dituntut untuk bertanggung jawab terhadap ciptaan lain. Di lain pihak, manusia tidak dapat menyangkal bahwa ia ciptaan yang lemah, dan betapa sering ia tak setia pada komitmen merawat bumi serta solider dengan sesama.[5] 
Ciptaan-Nya mencerminkan wajah Allah. Dalam kosa kata santo Bonaventura, di balik alam semesta tersembunyi rasio kekal yang mengatur, yaitu kebijaksanaan Allah.[6] Namun, banyak manusia juga berpendapat bahwa bencana dan penderitaan merupakan peringatan dari Allah.
Frankil Graham putra penginjil Billy Graham pernah mengatakan “'Tuhan akan menggunakan badai itu untuk membawa bangunan rohani. Tuhan punya rencana, Tuhan memiliki tujuan.''[7] Hal ini ia ungkapkan seminggu setelah badai Kartrina melanda Amerika Serikat, seminggu setelah New Orleands dilanda banjir dan membunuh banyak orang di Amerika Serikat. 

Lalu, terkait situasi Covid-19, apakah kehadiran virus itu merupakan ciptaan Allah? Tidak, Allah tidak pernah menciptakan penderitaan. Seperti yang St. Agustinus katakan, kebebasan yang dimiliki manusia justru menciptakan hadirnya penderitaan. Namun, bagaimana dengan kebebasan yang dimiliki manusia, apakah kebebasan itu berasal dari Allah? Karena ketika kebebasan itu berasal dari Allah, dengan sendirinya Allah bertanggung jawab atas penderitaan tersebut. Inilah problem yang kita hadapi pada saat ini. Pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi Allah bermunculan tatkala penderitaan berhadapan dengan situasi batas serta buntunya jawaban atas penderitaan tersebut.


Sejarah pun telah membuktikan kebaikan hati Allah. Dalam kitab Keluaran dikisahkan campur tangan Allah atas kehidupan bangsa Isreal. Allah menuntun bangsa Israel melalui Musa untuk keluar dari Mesir dan menuju tanah terjanji. Kebaikan diri Allah pun nyata terwujud dalam diri Putra-Nya Yesus Kristus. Yesus telah menderita untuk keselamatan manusia. Yesus mengorbankan diri untuk menghapus dosa manusia.

Salah satu metafora utama untuk menjelaskan makna kematian Kristus adalah korban atau lebih tepat korban penghapus dosa.[8] Allah telah mengutus putra-Nya untuk menghapus dosa manusia melalui penderitaan-Nya di salib. Yesus bangkit dari kematian dan mengalahkan maut dosa. Manusia pun demikian, manusia pun akan dibangkitkan bersama Kristus. Penderitaan dan kebangkitan Kristus inilah yang perlu kita refleksikan dalam menghadapi situasi manusia zaman ini, secara khusus dalam menghadapi situasi Covid-19.

Penderitaan dan Kebangkitan Kristus: Refleksi atas Covid-19
Situasi Covid-19 telah menimbulkan ketakutan dalam diri manusia, takut terkena virus lalu meninggal dunia. Bukan hanya itu, efek lain dari kehadiran virus ini berdampak pula pada tatanan ekonomi, sosial, dan politik. Kecemasan yang berlebihan pun mulai muncul, penyakit-penyakit yang memiliki indikasi seperti Covid-19 akan dicurigai, ketika bersin atau flu biasa pun diindikasikan gejala terserang Covid-19. Para kriminal melancarkan aksi dengan alasan di-PHK dari kantor.
Semua orang menggunakan segala cara agar dapat bertahan hidup, kematian sesuatu yang sangat ditakutkan. Namun, ketika  kita merefleksikan salib dan Kebangkitan Kristus, kita tidak perlu cemas dan takut akan kematian itu, karena kita yakin dan percaya bahwa kita pun akan diselamatkan oleh Kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus melahirkan pengharapan yang besar. Demikian pun dalam situasi saat ini, keyakinan umat beriman akan kebangkitan Kristus menguatkan mereka dalam menghadapi Covid-19.
Melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah membuktikan diri-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan. Ia manusia sekaligus Allah. Kebangkitan yang menjadi momen mengungkapkan jati diri Yesus.[9] Melalui kebangkitan-Nya pula, Yesus memberi pengharapan kepada umat beriman sebuah keselamatan kekal.
Kebangkitan Kristus juga merupakan wujud nyata kebaikan hati Allah kepada manusia. Allah menyerahkan Putra-Nya untuk menderita, disalib, wafat, dan bangkit demi dosa dan keselamatan manusia. Kebangkitan Kristus adalah satu-satunya harapan umat manusia pada saat ini.


Di tengah masalah Covid-19 yang belum menemukan jalan akhir, penawar Covid-19 yang belum ditemukan, rusaknya tatanan ekonomi, sosial, dan politik, serta banyak manusia yang meninggal, tentunya harapan kita ada pada keselamatan yang Yesus tawarkan. Bagi seorang Kristen, sumber dari harapan manusia ialah Yesus Kristus.[10] Yesus adalah kebangkitan yang membawa keselamatan. Ia telah bangkit dari maut, demikian pun umat-Nya akan di bangkitkan bersama-Nya.

Penutup
Situasi Covid-19 telah menimbulkan keresahan bagi manusia pada saat ini. Covid-19 telah menimbulkan kecemasan dan ketakutan, ketakutan terbesar adalah terkena virus lalu meninggal. Untuk itu, semua manusia berusaha semampu mereka untuk dapat bertahan hidup. Kehidupan akibat Covid-19 ini seperti seorang pujangga yang berpetualang di hutan sendirian dan kapan saja hidupnya dapat direnggut oleh binatang buas.
Setiap orang memikirkan bagaimana cara agar dapat bertahan hidup di tengah pandemi ini. Namun di balik semua itu, mereka memiliki harapan besar agar masalah ini dapat selesai. Satu-satunya harapan manusia pada saat ini ada pada campur tangan Allah. Sebab hingga saat, pengetahuan sains belum menemukan penawar dari Covid-19. Allah adalah pengharapan satu-satunya. [Apri Lowa]



DAFTAR PUSAKA

Sunarko, Adrianus. Teologi Kontekstual. Jakarta: OBOR, 2016.
..........., Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik. Jakarta: OBOR, 2017.
Stern, Gary. Can God Intervene?: How Religiom Explains Natural Disaster. London: Praeger, 2007.
Andreas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/.

Sumber gambar 1: localprayers.com
Sumber gambar 2: teepublic.com



[1] Gary Stern, Can God Intervene?: How Religion Explains Natural Disaster, (London: Praeger, 2007), hal. 2.
[2] Bdk. Andreas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.
[3] Adrianus Sunarko, Teologi Kontekstual, (Jakarta: OBOR, 2016), hal. 55.
[4] Adrianus Sunarko, Teologi Kontekstual, hal. 56.
[5] Bdk. Andeas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.
[6] Andreas B. Atawolo, Hasrat Allah akan Jiwa Manusia: Belajar dari Teknologi St. Bonaventura, (Jakarta: OBOR, 2017), hal. 25.
[7] Gary Stern, Can God Intervene?: How Religiom Explains Natural Disaster, (London: Praeger, 2007), hal. 6.
[8] Adrianus Sunarko, Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik, (Jakarta: OBOR, 2017), hal. 13.
[9] Adrianus Sunarko, Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik. hal. 10.
[10] Bdk. Andeas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.