Menu
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

[Resensi Buku] Sejarah Singkat Riwayat Hidup Umat Manusia [2]

                          (Ket: Buku Homo Sapiens)


Judul Buku             : Sapiens -- Riwayat Singkat Umat Manusia
Penulis                   : Yuval Noah Harari
Tahun Terbit           : 2014
Penerbit                 : Kepustakaan Populer Gramedia
Diterjemahkan pada: 2017
Jumlah Hal             : 525 hal

Yuval Noah Harari memulai tulisannya tentang sejarah umat manusia dalam bukunya berjudul Sapiens dengan pembahasan tentang persaingan antara ras homo sapiens dengan jenis ras homo (homo: manusia) lainnya. 
Harari berusaha merekonstrusi istilah homo dengan sapiens. Homo adalah terminologi yang lebih umum untuk menyebut semua jenis manusia, termasuk homo sapiens, neanderthal, erectus dan lain-lain.


Saat ini memang ras manusia yang lain seperti neanderthal dan erectus sudah tidak ada, akan tetapi menurut Harari kita tidak bisa mengklaim bahwa manusia sapiens satu-satunya jenis manusia yang ada di dunia. Ribuan tahun yang lalu jenis menusia juga pernah hidup di planet ini.
Sapiens adalah jenis yang tersisa di dunia dan telah berevolusi dari rantai makanan terendah hingga berada di puncak rantai makanan dan pada akhirnya mengubah arah kehidupan dunia.

Domestikasi Gandum dan Kesalahan Besar Sejarah Agrikultur
Harari menyatakan bahwa kita pada dasarnya telah dibohongi oleh sebuah dongeng tentang revolusi agrikultur sebagai salah satu keberhasilan manusia. Menurut Harari dongeng itu justru merupakan sebuah pembohongan besar terhadap sejarah umat manusia. 
Sejak 9500 sampai 8500 SM, sapiens telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan transisi kehidupan dari berburu dan mengumpulkan makan ke pola kehidupan pertanian.
Domestifikasi gandum yang kemudian menyebabkan perubahan pola kehidupan sapiens ke arah agrikultur menyebabkan ketergantungan sapiens terhadap tumbuh-tumbuhan tersebut. Menurut Harari justru hal ini yang lebih sulit dibanding model kehidupan berburu dan berpindah-pindah dengan mengumpulkan makanan karena model berburu tidak menjadikan sapiens terikat di satu tempat.
Berbeda dengan model kehidupan agrikultur yang mengharuskan sapiens untuk menetap dan terikat pada iklim serta alam di mana tanaman agrikultur tersebut bisa tumbuh. 
Artinya, pada era agrikultur bukan sapiens yang mendomestifikasi gandum dan tanaman agrikultur lainnya, melainkan tanaman-tanaman tersebut telah mendomestifikasi sapiens


Sapiens kemudian menetap untuk mengurusi seluruh keperluan gandum. Gandum yang awalnya hanya sebatas rumput liar di wilayah Timur Tengah, akhirnya menjadi tanaman yang tersebar hampir di seluruh dunia. 
Gandum yang mendomistifikasi sapiens kemudian menyebabkan berhentinya pola hidup sapiens yang berpindah-pindah. Mereka kemudian menetap dan membentuk masyarakat, hukum dan ekonomi untuk saling melindungi kehidupannya yang semakin terbatas.
Menurut Harari, revolusi agrikultur adalah titik balik di mana sapiens membuang keintimannya dengan alam dan beralih menuju alienasi serta ketamakan. Konsep perladangan membuat populasi meningkat drastis dan kehidupan menjadi semakin kompleks. Sebab tidak memungkinkan lagi bagi masyarakat agraris untuk kembali ke model kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan.

Cikal Bakal Sistem Negara
Konsep politik awal pun berkembang berdasarkan konsekuensi dari agrikultur. Perladangan menuntut sapiens harus mengembangkan rasa aman untuk menjaga ladang dan hasilnya. 
Kebutuhan akan rasa aman ini kemudian dikerjakan oleh mereka yang tidak mendapatkan area untuk menanam atau tidak punya lahan ladang. Mereka mendapatkan pembagian hasil ladang sebagai upahnya untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. 
Pola ini adalah dasar dari semua konsep kehidupan bernegara saat ini. Ada proses transaksi simbiosis bahwa orang-orang yang bertugas untuk mengatur masyarakat berhak mendapatkan upah dari hasil kerjanya melindungi masyarakat. Mereka awalnya dibiayai oleh hasil bumi yang surplus dari hasil kerja masyarakat.
Akan tetapi, surplus-surplus tersebut serta perkembangan teknologi transportasi menyebabkan semakin banyaknya orang-orang bisa dengan leluasa untuk berinteraksi membuka jaringan-jaringan kerja sama baru. 


Kalau dalam model kehidupan berpindah-pindah sapiens hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang semuanya pasti saling mengenal. Dengan demikian, pola kehidupan agraris memungkinkan sapiens untuk hidup dengan orang-orang yang tidak dikenal dalam jumlah yang jauh lebih besar. 
Menurut Harari, hal ini dimungkinkan karena jaringan-jaringan yang menghubungkan kerja sama antara sapiens yang tidak saling kenal dilandasi pada adanya kesamaan kebutuhan. Mereka membutuhkan rasa aman dari berbagai ancaman yang datang dari luar entah ancaman dari binatang buas atau pun sesama sapiens

Sejarah Tidak Pernah Adil
Namun, sekali lagi sejarah perkembangan manusia adalah sejarah tentang ketidakadilan. Pembentukan masyarakat pada era agrikultur bukanlah tentang keadilan pembagian hasil kerja. Bukan pula tentang hasil bumi yang kadang buntung. 
Akan tetapi, hal tersebut justru lebih mengarah pada terciptanya dominasi dan kelas-kelas sosial tertentu. Dari sini kemudian muncul hierarki dalam tatanan masyarakat. Hal itu disebabkan adanya persepsi akan hak-hak istimewa kelompok tertentu berkat penciptaan mitos-mitos sebagai pengikat utama sebuah sistem masyarakat.
Sapiens mulai mengenal konsep budak sebagai konsekuensi dari dominasi kelompok tertentu atas kelompok yang lain. Dominasi itu pun lahir atas imajinasi akan adanya hak-hak tertentu yang lebih mulia kelompok yang satu atas kelompok yang lain. Meski pun dalam aspek biologis hal tersebut tidak memiliki rujukan apa pun.

Hierarki imajinatif itu akhirnya berkembang menjadi sebuah lingkaran setan bagi golongan tertentu. Pada akhirnya menjadi hukum umum yang membawa evolusi sapiens bergerak ke tahap selanjutnya yaitu penciptaan imperium atau kerajaan.

Sumber gambar: berdikaribook.red

[Resensi Buku] Sejarah Singkat Riwayat Hidup Umat Manusia [1]


                                                 (Ket: Cover buku Homo Sapiens)

Judul Buku             : Sapiens -- Riwayat Singkat Umat Manusia
Penulis                   : Yuval Noah Harari
Tahun Terbit           : 2014
Penerbit                 : Kepustakaan Populer Gramedia
Diterjemahkan pada: 2017
Jumlah Hal             : 525 hal


Yuval Noah Harari memulai tulisannya tentang sejarah umat manusia dalam bukunya berjudul Sapiens dengan pembahasan tentang persaingan antara ras homo sapiens dengan jenis ras homo (homo: manusia) lainnya. 

Harari berusaha merekonstrusi istilah homo dengan sapiens. Homo adalah terminologi yang lebih umum untuk menyebut semua jenis manusia, termasuk homo sapiens, neanderthal, erectus dan lain-lain.

Saat ini memang ras manusia yang lain seperti neanderthal dan erectus sudah tidak ada, tetapi menurut Harari kita tidak bisa mengklaim bahwa manusia sapiens satu-satunya jenis manusia yang ada di dunia. Sapiens adalah jenis yang tersisa di dunia dan telah berevolusi dari rantai makanan terendah hingga berada di puncak rantai makanan dan pada akhirnya mengubah arah kehidupan dunia. 

Baca Juga: [Resensi Buku] Memahami Pemikiran Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas


Ada dua teori yang dibahas oleh Harari dalam buku ini yang menjelaskan tentang alasan mengapa yang tersisa sekarang hanyalah sapiens dan manusia-manusia genus lain punah. Pertama, teori penggantian yang menyatakan bahwa sapiens menggantikan semua ras manusia sebelumnya tanpa campur tangan apapun. 

Kedua, yaitu teori perkawinan silang di antara sapiens dengan ras manusia yang lain sehingga terjadi percampuran dan menghasilkan jenis manusia berbeda dan pada akhirnya terpisah karena seleksi alam. 

Lalu pertanyaannya adalah, mengapa ras manusia lain punah? Di sini Harari memberikan sebuah perspektif menarik. Dijelaskan bahwa ketika terjadi jalur evolusi dari berbagai jenis ras manusia, ras-ras manusia terpisah dan berjalan masing-masing. Kemungkinan terjadi sebuah proses genosida besar-besaran di mana sapiens membantai seluruh ras manusia lainnya. 

Bagi Harari, motif yang memungkinkan terjadinya pembantaian ini karena terjadi perebutan sumber makanan. Harari menyatakan bahwa toleransi bukanlah karakter khas dari sapiens. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan sekarang dimana perbedaan kecil seperti warna kulit, agama, atau suku sudah cukup untuk menjadi pemicu sekelompok sapiens mengenyahkan kelompok sapiens lainnya.  

Baca Juga: [Resensi Buku] Absurditas dalam Novel Sampar


Sapiens adalah ras manusia yang paling maju dari segi pemikiran dan sumber daya. Faktor inilah yang kemudian membuat sapiens dapat dengan mudah memusnahkan ras manusia yang lain ketika mereka mulai menyebar ke seluruh daratan di seluruh dunia. Evolusi dan seleksi alam memampukan sapiens memusnahkan ras-ras manusia lainnya dalam rangka merebut sumber makanan dan bertahan hidup.


Mutasi Pohon Pengetahuan

Kemampuan kognitif sapiens juga akhirnya membuat mereka mampu berpikir dengan cara yang belum ada sebelumnya. Termasuk penciptaan bahasa untuk mengkomunikasikan ide dan isi kepala mereka sebagai sebuah pintu masuk ke dunia yang lebih baru dan maju. 

Bahasa sapiens adalah bahasa yang sangat luwes menurut Harari, karena mampu menghubungkan sejumlah keterbatasan bunyi dan tanda sehingga menghasilkan kata dan kalimat dalam jumlah yang tak terbatas dan masing-masing memiliki makna berbeda. Hal ini yang membuat sapiens mulai bergerak naik mengungguli ras-ras manusia lainnya.

Bahasa sapiens adalah suatu yang unik karena selain dapat mengkomunikasikan hal-hal yang luar biasa kompleks, kompleksitas informasi yang dapat ditransfer melalui bahasa yang menyebabkan revolusi kognitif sapiens berkembang lebih cepat. Termasuk melalui munculnya gagasan tentang seni, agama dan adat istiadat serta ritual akibat berkembangnya cara berpikir manusia. Hal-hal tersebut tentu saja tidak bisa tersebar luas tanpa bahasa yang mumpuni. 

Selain itu, menurut Harari agama pun lahir karena bahasa. Kompleksitas bahasa dan informasi yang kemudian bisa hadir dan mengupgrade cara berpikir sapiens membuat mereka mudah melakukan proses pertukaran informasi dan membentuk keyakinan mereka. 

Sebagai contoh, bisa saja awalnya sapiens hanya menyatakan ada singa yang siap menerkam kelompok mereka. Namun, berkat perkembangan bahasa informasi yang disampaikan bisa lebih detail. Misalnya, singa itu ada di posisi mana, jam berapa dia biasanya berkeliaran di sekitar mereka dan detail-detail lainnya. Berkat kemampuan itu, akhirnya bisa membuat mereka tidak hanya berpikir untuk menghindar tetapi juga cara untuk mengantisipasi dan berlindung.


Baca Juga:[Resensi Buku] Søren Aabye Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri


Perkembangannya kemudian mengarah ke arah terbentuknya struktur kehidupan yang sederhana. Di era pra agrikultur, sebelum manusia melakukan kesalahan besar yaitu mendomestifikasi gandum, pola-pola kehidupan bersama dilakukan dengan skala kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari puluhan dan paling banyak ratusan orang.

Mereka hidup berpindah-pindah dan menjelajah untuk mencari kehidupan dengan cara yang oportunistik. Di era ini menurut Harari sapiens melakukan dua hal utama yaitu berburu dan mengumpulkan makanan. 

Sapiens hidup dalam kelompok-kelompok penjelajah dan mendomestifikasi tidak hanya makanan namun juga binatang. Anjing adalah contoh hewan yang pertama kali didomestifikasi oleh sapiens.

Pola kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan ini pula yang kemudian membuat interaksi sapiens dengan alam semakin intim. Muncul kesadaran untuk melestarikan alam yang lahir dari kesadarannya bahwa mereka bergantung pada alam agar alam tetap menyediakan makanan untuk mereka. 

Maka bagi Harari, sapiens kemudian menyusun norma-norma tentang yang mengatur interaksi antara sapiens dengan alam. Para ahli pun sepakat bahwa kepercayaan animisme adalah kepercayaan yang mulai berkembang di masyarakat penjelajah. 

Bersambung......

Sumber gambar: berdikaribook.red

Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam? [1]

                                       Ket: Novel Silence karya Shusako Endo
                         
Pengantar
Novel ini merupakan salah satu novel terlaris karya Shusako Endo. Banyak orang yang mengapresiasi novel silence, akan tetapi banyak juga yang menganggap karya Shusako Endo ini hanyalah untuk ketenaran semata. Novel silence telah membawa kita pada suatu sejarah yang mungkin selama ini dilupakan bahwa agama Katolik pernah hadir di negeri Matahari Terbit.
Novel ini menghadirkan secuil kisah dari perjuangan orang Katolik pada zaman itu. Orang-orang Katolik di Jepang mengalami nasib seperti jemaat Katolik ketika ditindas oleh kekaisaran Romawi. Penulis memberikan judul novelnya tentu saja memiliki maksud tertentu, sehingga saya pun tertarik mengulas novel ini dengan judul “Silence: Tuhan yang Diam atau Gereja yang Diam?”

Maksud Shusaku Endo Menulis Novel Silence
Bapa kami bukan mempermasalahkan benar dan salahnya doktrinmu. Di Spanyol dan Portugis dan negeri-negeri lain semacamnya, doktrin itu mungkin benar. Sebabnya kami melarang Kristianitas di Jepang adalah setelah menimbang-nimbang dengan saksama dan mendalam, kami mendapati ajaran itu tidak ada gunanya untuk Jepang masa kini.”[1]

Baca Juga: Kotak Pandora di Balik Kehancuran Jepang di Tangan Sekutu

Shusako Endo selain ingin menceritakan kembali kepada pembaca tentang sejarah kelam kekatolikan di Jepang juga sebenarnya mengkritik agama Katolik. Kritik yang disampaikan memang tidak disampaikan secara langsung, tetapi agama Katolik perlu beradaptasi dengan setiap tempat jika ingin menyebarkan ajarannya.
Jepang adalah rawa-rawa[2], maka pohon yang harus ditanam di sana adalah Bakung atau Hidrila bukannya Mahoni atau Jati. Jika pohon Mahoni atau Jati yang ditanam dapat dipastikan pohon itu akan segera mati karena bukan habitatnya untuk tumbuh di rawa-rawa. Demikian juga dengan agama Katolik. Para misionaris harus bisa memahami situasi dan kondisi suatu tempat jika ingin menyebarkan ajarannya.
Kesalahan para misionaris waktu itu adalah mereka tidak mampu menemukan bentuk kristianitas yang sesuai dengan karakter nasionalnya. Pohon Kristianitas Hellenistik tidak bisa begitu saja dicabut di Eropa dan ditanam begitu saja di rawa-rawa Jepang yang mempunyai tradisi budaya yang sepenuhnya berbeda. Kalau hal itu dilakukan, tunas pohon yang masih muda itu akan layu dan mati. Perbedaan latar tempat penyebaran ajaran kekatolikan harus dipahami oleh para misionaris.

Baca juga: Memaknai Trinitas dalam Kehidupan Berpancasila

Shusako Endo hanya ingin menggarisbawahi kegagalan agama Katolik dalam mendapatkan tempat ‘istimewa’ di hati pemerintah Jepang adalah kegagalan mereka untuk melakukan inkulturasi dengan budaya setempat. Budaya Barat yang Hellenistik terlalu dipaksakan kepada Jepang. Siapapun pasti akan menolak jika seorang tamu memaksakan kehendaknya kepada tuan rumah. Singkatnya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijinjing.

Konteks Situasi Sosial[3]
Situasi sosial pada masa itu adalah terjadinya ketidakpercayaan orang-orang Jepang terhadap orang-orang Eropa yang ingin menguasai Jepang. Hal ini bermula dari hubungan perdagangan yang mulai renggang antara kekaisaran Jepang dengan para pedagang Barat.
Tahun 1579 merupakan puncak aktivitas misionaris Katolik di sana karena sekitar 130.000 orang yang menjadi Katolik. Data yang diperoleh di kemudian hari menunjukkan jumlah orang Katolik di Jepang pernah mencapai 400.000 orang.
Menjelang akhir abad ke-16, Jepang menjadi komunitas Katolik luar Eropa terbesar yang tidak berada di bawah kekuasaan Eropa. Jepang adalah salah satu negara di luar Eropa di mana semua anggota Jesuit penduduk lokal, seperti halnya dengan misi Katolik di Meksiko, Peru, Brasil, Filipina, atau India, terlepas dari kehadiran elit kolonial.
Agama Katolik diterima oleh banyak orang di sana karena semua orang dari berbagai kelas sosial berhasil dirangkul, seperti orang miskin, kaya, petani, pedagang, pelaut, pejuang, atau pelacur. Sebagian besar kegiatan harian Gereja dilakukan oleh orang Jepang, dan ini adalah salah satu alasan keberhasilannya. Pada tahun 1590, terdapat tujuh puluh Putra asli Jepang menjadi biarawan setengahnya adalah Yesuit di Jepang dan lima belas persen dari 70 orang itu berkarya di luar Jepang.
Situasi berubah ketika Toyotomi Hideyoshi menjadi Shogun. Ketika menjadi penguasa Jepang, Hideyoshi mulai memperhatikan ancaman eksternal, terutama perluasan kekuatan Eropa di Asia Timur. Titik balik untuk misi Katolik adalah insiden di San Felipe, kapten kapal dagang Spanyol mengklaim bahwa para misionaris yang ada di sana mempersiapkan penaklukan Jepang. Klaim ini membuat Hideyoshi curiga terhadap agama asing tersebut. Ia berusaha untuk mengekang Katolik, tetapi tetap menjaga hubungan perdagangan dengan Portugis dan Spanyol.

Baca Juga: Manusia Menurut Victor E. Frankl

Pada tanggal 5 Februari 1597, dua puluh enam orang Katolik - enam Fransiskan Eropa, tiga Jesuit Jepang dan tujuh belas awam termasuk tiga anak muda disalibkan di Nagasaki.  Setelah itu terjadi pengejaran terhadap orang Katolik dan martir yang paling terkenal dari antara mereka adalah Paulus Miki yang diperingati setiap tanggal 6 Februari. Penganiayaan terus berlanjut secara sporadis, pecah lagi pada tahun 1613 dan 1630. Pada tanggal 10 September 1632, 55 orang Katolik menjadi martir di Nagasaki. 

Tokugawa Ieyasu
Setelah kematian Toyotomi Hideyoshi, Tokugawa Ieyasu berkuasa atas Jepang, pada tahun 1600. Seperti Toyotomi Hideyoshi, ia tidak menyukai kegiatan Katolik di Jepang tetapi ia tetap mengutamakan perdagangan dengan Portugis dan Spanyol. Dia membangun perdagangan dengan Filipina. Relasi dagang dengan pihak Katolik membuat kebijakannya tidak konsisten. 
Pada saat yang sama, dalam usaha untuk merebut kendali perdagangan di Jepang, pedagang Belanda dan Inggris menasehati bahwa Spanyol memang memiliki ambisi teritorial, dan bahwa Katolikisme adalah sarana utama Spanyol. Sebaliknya, Belanda dan Inggris berjanji bahwa mereka akan membatasi diri hanya untuk berdagang dan tidak akan melakukan kegiatan misionaris di Jepang.
Tokugawa akhirnya memutuskan untuk melarang penyebaran agama Katolik tahun 1614, dan pada pertengahan abad ke-17 menuntut pengusiran semua misionaris Eropa.  Hal ini menandai akhir dari Katolik terbuka[4] di Jepang. Penyebab langsung dari larangan adalah kekuatiran Tokugawa terhadap kemungkinan invasi oleh Spanyol dan Portugis, yang sebelumnya terjadi di Amerika Latin dan Filipina. 
Pada tahun 1615, seorang Fransiskan utusan Raja Muda Baru Spanyol meminta kepada Shogun tanah untuk membangun sebuah benteng dan ini memperdalam kecurigaan Jepang terhadap Katolik dan Spanyol. Orang Katolik dianggap membawa gangguan kepada masyarakat Jepang dan pengikut mereka "bertentangan dengan peraturan pemerintah, menolak Shinto, dan mempergunjingkan Undang-undang". Pada abad ke-19 Jepang kembali menerima orang-orang Katolik berkarya di sana.

Makna Sosial Penindasan
Sasaran dari penyiksaan terhadap orang Katolik di Jepang adalah pengingkaran atas iman Kristiani. Membunuh tak pernah menjadi tujuan; kematian hanya menjadi akibat paling akhir ketika tawaran untuk mengingkari menemui jalan buntu. Penguasa Jepang pun mencari variasi penyiksaan.

Baca juga: [Resensi Buku] Memahami Pemikiran Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas

Pada akhirnya mereka berusaha untuk mencabut akar agar tunas Kristianitas yang telah tumbuh. Itulah sebab, sasaran rayuan dialihkan kepada para Padre Rodrigues. Dia adalah pemimpin sekaligus kepalanya. Itu artinya, tanpa harus mengorbankan lebih banyak nyawa jika Padre Rodrigues menyangkal imannya.
Dari novel, makna sosial yang hendak disampaikan adalah pemerintah akan melakukan apa saja untuk membendung wilayah kekuasaanya yang dirasanya dapat menggangu pemerintahannya. Agama Katolik dipandang sebagai pengganggu kestabilan pemerintahan Jepang. Jalan terbaik yang dilakukan adalah memusnahkan agama Katolik dari bumi Jepang. Caranya adalah dengan menyiksa dan penidasan yang dilakukan tiada henti.
Penindasan yang dilakukan secara terus-menerus diharapkan menumbulkan efek jera bagi yang disiksa. Akan tetapi, dari sejarah ternyata agama Katolik mampu bertahan dan melewati masa-masa penyiksaan itu dengan sangat hebat.
Masa penyiksaan dilewati hingga pada akhirnya bangsa Jepang kembali membuka diri untuk berelasi dengan dunia luar dan agama Katolik menghirup udara segar. Tetapi, dari semua itu yang patut dilihat adalah solidaritas di antara orang Katolik itu sendiri. Di sini sangat berlaku teori Emile Durhkeim tentang solidaritas mekanik.
Solidaritas mekanik ini adalah masyarakat atau kelompok sosial yang didasarkan pada kesadaran kolektif, kebersamaan, dan hukum yang bersifat menekan. Ikatan dalam solidaritas mekanik terjadi karena kesamaan aktivitas dan merasa memiliki tanggung jawab yang sama, sehingga ikatannya sangat erat.
Kesamaan nasib sebagai orang tertindas memampukan komunitas Katolik Jepang bertahan. Solidaritas di antara mereka tidak dapat diragukan lagi. Mereka adalah simbol keberhasilan kelompok yang selalu tertindas, tetapi masih dapat bertahan di tengah penindasan itu.

Sumber Gambar: bluebook.life

Sketsa Manusia Indonesia dalam Novel Cantik Itu Luka (1)




Judul                           : Cantik itu Luka
(English Version)        : ‘Beauty is A Wound’
Pengarang                   : Eka Kurniawan
Tebal Halaman            : 479
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kesepuluh, Juni 2016
Diterbitkan pertama kali oleh AKYPress dan Penerbit Jendela, Desember 2002

Novel dibuka dengan kisah magis kebangkitan sang tokoh sentral, Dewi Ayu. “Ketika pada suatu sore di akhir pekan bulan maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematiannya”. Dewi Ayu adalah perempuan keturunan Indo-Belanda. Bergidik ngeri namun menimbulkan sejumlah deretan pertanyaan terutama mengenai waktu latar belakang kejadian yang sengaja tidak disajikan oleh sang penulis.
Lambat laun, pelan dan pasti sesuai dengan sinopsisnya terceritakanlah mengenai bagaimana kematian sosok Dewi Ayu, seorang pelacur yang terkenal akan kecantikannya di seluruh pelosok Halimunda. Dia mati setelah beberapa hari melahirkan anak keempatnya yang tidak diketahui siapa gerangan ayahnya.
Anak tersebut lahir begitu buruk rupanya tidak seperti dengan ketiga kakaknya yang semuanya cantik. Itulah yang terjadi, meskipun secara cukup ironis ia memberikan nama Si Cantik kepada anak yang baru dilahirkannya. Tampang dan bentuk tubuh yang buruk ternyata tidak menjadi soal bagi seorang Ayu Dewi memberikan nama Si Cantik kepada putri bungsunya yang buruk rupa.
Hingga suatu masa dia hidup kembali, bertemulah Dewi Ayu dengan Si Cantik yang kini telah menjadi perempuan dewasa dengan sosok sesuai dengan doa-doanya: Anak bayi yang hidungnya menyerupai colokan listrik, telinganya sebagai telinga panci, mulutnya bagaikan mulut celengan dan rambutnya menyerupai sapu dengan kulit serupa komodo dan kaki serupa kura-kura. Maka, berbanggalah dia atas itu semua.
Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin.” - Dewi Ayu. (hal. 4)
Kenyataannya mau cantik atau tidak, kutukan tersebut selalu mengitari kehidupan Dewi Ayu. Ketika Si Cantik ternyata hamil secara misterius tanpa gerangan mengetahui ayahnya - sama seperti yang terjadi dengan ibunya sendiri sepanjang hayat.
Maka, ketimbang melanjutkan perjalanan hidup Si Cantik, Eka selaku penulis memundurkan waktu pada masa sebelum Dewi Ayu menjadi sesosok pelacur.  Semua itu berawal ketika Dewi Ayu hanyalah sosok gadis Belanda yang jatuh cinta pada seorang pria tua bernama Ma Gedik yang belum pernah ditemuinya.


Dewi Ayu pun memaksa Ma Gedik kawin dengannya akibat terobsesi dengan kisah cinta pria itu dengan Ma Iyang, yang menghilang ditelan kabut ketika lari bersama Ma Gedik ke atas bukit demi cinta mereka berdua. Walaupun akhirnya, di hari selepas pernikahan mereka, Ma Gedik memutuskan kabur menjerit-jerit bagai dikejar setan dan terjun dari puncak bukit, terhempas ke bebatuan dan wajah-nya babak belur seperti daging cincang.

Awal Mula Menjadi Pelacur
Setelah itu cerita berjalan bagaikan mozaik yang terkonstruksi dengan dinamis. Pelan-pelan para pembaca akan dibawa kembali kepada masa kekuasaan Jepang di tanah ibu pertiwi.
Dalam situasi pendudukan Jepang, Dewi Ayu tetap memilih bertahan di Halimunda, walau semua anggota keluarganya kembali pulang ke negeri Belanda. Ia mengambil resiko untuk ditundukkan dalam pendudukan Jepang. Ternyata tentara Jepang tahu juga bahwa meskipun memiliki nama lokal, Dewi Ayu adalah orang Belanda.
Sebagaimana nasib orang Belanda lainnya pada waktu itu, Dewi Ayu ditangkap dan ditahan di suatu tahanan yang digambarkan sangat tidak manusiawi: gelap, becek, persediaan makanan yang mini, ancaman malaria. Bahkan dikisahkan ia mesti merebus darah kutu sapi sebagai makanan di tahanan agar bisa bertahan hidup.
Dalam rasa frustrasi di penjara itu, nasib baru menjemput Dewi Ayu dan beberapa perempuan lain. Setelah lolos serangkaian seleksi, Dewi Ayu dan beberapa perempuan cantik lain diam-diam dijadikan pelacur untuk memenuhi kebutuhan birahi para tentara Jepang yang tak tertahankan dalam situasi perang. Penderitaan jenis lain lantas menimpa perempuan-perempuan cantik ini.
Gedung yang indah dan disediakan perawatan layaknya perempuan istana, tidak bisa mengkompensasi begitu saja luka yang mendalam akibat perkosaan tentara-tentara Jepang yang dilakukan setiap malam.
Banyak perempuan yang tidak tahan sampai mencoba bunuh diri. Tapi lain halnya dengan Dewi Ayu. Diam-diam Dewi Ayu bisa beradaptasi dengan dunia prostitusi ini sebagai jalan bertahan hidup. Bahkan ia pun menerima kehamilannya oleh salah seorang petinggi tentara Jepang. Dengan sabar ia merawat janinnya hingga terlahir seorang anak cantik, bernama Alamanda.
Masa pendudukan Jepang lewat. Dewi Ayu tetap menjadi pelacur. Awalnya pilihan itu merupakan keterpaksaan sebagai satu-satunya jalan membayar hutang kepada Mama Kalong (pengelola tempat pelacuran) untuk mendapatkan lagi rumahnya dulu yang masih amat dia cintai. Tapi ia juga sebenarnya menikmati menjadi pelacur profesional (mematok bayaran paling mahal), bahkan justru kian hari ia menjadi pelacur paling ternama dan disegani di Halimunda.
Selain karena Dewi Ayu teramat cantik, tidak bisa dimungkiri juga ia memang selalu bercinta dengan penuh cinta dengan para pelanggan yang sengaja ia batasi perharinya. Hal ini yang lantas membuatnya menjadi sumber kebahagiaan kota sebab para laki-laki selalu mengalami persetubuhan dengan Dewi Ayu menghadirkan sensasi malam pertama mereka.
Meskipun menjadi pelacur, Dewi Ayu tidak menolak kehamilan. Dari seorang pejuang revolusi ia melahirkan satu orang anak perempuan lagi. Dan dari seorang lain lagi, Dewi Ayu mempunyai anak perempuan juga. Keduanya, Adinda dan Maya Dewi mewarisi kecantikannya yang amat mempesona.
Plot novel lalu digerakkan oleh peristiwa-peristiwa yang katakanlah manjadi konsekuensi kecantikan Dewi Ayu, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Masing-masing anaknya tersebut memiliki kisah asmara tersendiri yang pada akhirnya berakhir tragis dan mengenaskan.
Melalui kisah asmara yang dibalut orkes sakit hati keempat putri Dewi Ayu ini pembaca akan melihat jalinan plot novel yang berkelindan dengan kompleksitas situasi sosial, politik, ekonomi dan carut marut realitas Halimunda dari waktu ke waktu.

Bangunan Cerita
Tampak bahwa novel ini mendasarkan cerita pada sebuah tragedi keluarga. Ada penggunaan silsilah keluarga sebagai kerangka. Ada kontinuitas yang jelas antar tokoh dalam novel ini. Tokoh-tokoh yang ada terjalin dengan keluarga Dewi Ayu. Tragedi selalu menjadi kata akhir kehidupan para tokoh dalam novel ini. Semua tokoh dibunuh oleh penulisnya dan meninggalkan janda-janda menyedihkan.
Kedua, dalam pengkisahan keluarga Dewi Ayu, tampak tema sakit hati ikut menentukan alur cerita. Hal ini misalnya kuat dalam kisah asmara Kamerad Kliwon sang pujaan dengan Alamanda, sang penakhluk. Relasi-relasi antara tokoh, misalnya Maman Gendeng – Shodanco dan juga Shodanco dengan Kamerad Kliwon sangat kental suasana konflik dan logika sakit hati.

Unsur ketiga yang juga kuat dalam novel ini adalah erupsi-erupsi irasionalitas manusia. Ada banyak penggambaran sisi dalam diri manusia yang kadang terasa irasional. Erupsi-erupsi irasionalitas manusia ini tampak jelas dalam kehidupan seksualitas para tokoh dalam novel.
Unsur yang kental juga dalam novel ini adalah narasi sejarah bangsa Indonesia. Kelindan antara plot novel dan perjalanan sejarah bangsa ini misalnya terlihat dari dinamika tiga laki-laki dalam suatu pertarungan menikahi anak Dewi Ayu. Hasrat birahi dianalogkan dengan gejolak pertarungan kekuatan politik dalam sejarah Indonesia.
Ketiga laki-laki tersebut memiliki latar sosial politik berbeda. Shodanco adalah seorang komandan militer yang pernah melakukan pemberontakan pada masa pendudukuan Jepang dan lalu dipuja sebagai pahlawan kota karena berhasil menumpas babi hutan yang merajalela waktu itu. Kamerad Kliwon seorang pemuda pujaan yang lantas menjadi aktivis partai komunis. Dan Maman Gendeng seorang preman yang paling disegani di Halimunda karena kekuatan bertarungnya. Ketiga tokoh yang berdinamika mendapatkan hati anak-anak Dewi Ayu ini seolah memberi ilustrasi pertarungan kekuatan-kekuatan politik yang pernah tercatat dalam sejarah indonesia.