Menu
Showing posts with label resensi buku. Show all posts
Showing posts with label resensi buku. Show all posts

[Resensi Buku] Sejarah Singkat Riwayat Hidup Umat Manusia [1]


                                                 (Ket: Cover buku Homo Sapiens)

Judul Buku             : Sapiens -- Riwayat Singkat Umat Manusia
Penulis                   : Yuval Noah Harari
Tahun Terbit           : 2014
Penerbit                 : Kepustakaan Populer Gramedia
Diterjemahkan pada: 2017
Jumlah Hal             : 525 hal


Yuval Noah Harari memulai tulisannya tentang sejarah umat manusia dalam bukunya berjudul Sapiens dengan pembahasan tentang persaingan antara ras homo sapiens dengan jenis ras homo (homo: manusia) lainnya. 

Harari berusaha merekonstrusi istilah homo dengan sapiens. Homo adalah terminologi yang lebih umum untuk menyebut semua jenis manusia, termasuk homo sapiens, neanderthal, erectus dan lain-lain.

Saat ini memang ras manusia yang lain seperti neanderthal dan erectus sudah tidak ada, tetapi menurut Harari kita tidak bisa mengklaim bahwa manusia sapiens satu-satunya jenis manusia yang ada di dunia. Sapiens adalah jenis yang tersisa di dunia dan telah berevolusi dari rantai makanan terendah hingga berada di puncak rantai makanan dan pada akhirnya mengubah arah kehidupan dunia. 

Baca Juga: [Resensi Buku] Memahami Pemikiran Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas


Ada dua teori yang dibahas oleh Harari dalam buku ini yang menjelaskan tentang alasan mengapa yang tersisa sekarang hanyalah sapiens dan manusia-manusia genus lain punah. Pertama, teori penggantian yang menyatakan bahwa sapiens menggantikan semua ras manusia sebelumnya tanpa campur tangan apapun. 

Kedua, yaitu teori perkawinan silang di antara sapiens dengan ras manusia yang lain sehingga terjadi percampuran dan menghasilkan jenis manusia berbeda dan pada akhirnya terpisah karena seleksi alam. 

Lalu pertanyaannya adalah, mengapa ras manusia lain punah? Di sini Harari memberikan sebuah perspektif menarik. Dijelaskan bahwa ketika terjadi jalur evolusi dari berbagai jenis ras manusia, ras-ras manusia terpisah dan berjalan masing-masing. Kemungkinan terjadi sebuah proses genosida besar-besaran di mana sapiens membantai seluruh ras manusia lainnya. 

Bagi Harari, motif yang memungkinkan terjadinya pembantaian ini karena terjadi perebutan sumber makanan. Harari menyatakan bahwa toleransi bukanlah karakter khas dari sapiens. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan sekarang dimana perbedaan kecil seperti warna kulit, agama, atau suku sudah cukup untuk menjadi pemicu sekelompok sapiens mengenyahkan kelompok sapiens lainnya.  

Baca Juga: [Resensi Buku] Absurditas dalam Novel Sampar


Sapiens adalah ras manusia yang paling maju dari segi pemikiran dan sumber daya. Faktor inilah yang kemudian membuat sapiens dapat dengan mudah memusnahkan ras manusia yang lain ketika mereka mulai menyebar ke seluruh daratan di seluruh dunia. Evolusi dan seleksi alam memampukan sapiens memusnahkan ras-ras manusia lainnya dalam rangka merebut sumber makanan dan bertahan hidup.


Mutasi Pohon Pengetahuan

Kemampuan kognitif sapiens juga akhirnya membuat mereka mampu berpikir dengan cara yang belum ada sebelumnya. Termasuk penciptaan bahasa untuk mengkomunikasikan ide dan isi kepala mereka sebagai sebuah pintu masuk ke dunia yang lebih baru dan maju. 

Bahasa sapiens adalah bahasa yang sangat luwes menurut Harari, karena mampu menghubungkan sejumlah keterbatasan bunyi dan tanda sehingga menghasilkan kata dan kalimat dalam jumlah yang tak terbatas dan masing-masing memiliki makna berbeda. Hal ini yang membuat sapiens mulai bergerak naik mengungguli ras-ras manusia lainnya.

Bahasa sapiens adalah suatu yang unik karena selain dapat mengkomunikasikan hal-hal yang luar biasa kompleks, kompleksitas informasi yang dapat ditransfer melalui bahasa yang menyebabkan revolusi kognitif sapiens berkembang lebih cepat. Termasuk melalui munculnya gagasan tentang seni, agama dan adat istiadat serta ritual akibat berkembangnya cara berpikir manusia. Hal-hal tersebut tentu saja tidak bisa tersebar luas tanpa bahasa yang mumpuni. 

Selain itu, menurut Harari agama pun lahir karena bahasa. Kompleksitas bahasa dan informasi yang kemudian bisa hadir dan mengupgrade cara berpikir sapiens membuat mereka mudah melakukan proses pertukaran informasi dan membentuk keyakinan mereka. 

Sebagai contoh, bisa saja awalnya sapiens hanya menyatakan ada singa yang siap menerkam kelompok mereka. Namun, berkat perkembangan bahasa informasi yang disampaikan bisa lebih detail. Misalnya, singa itu ada di posisi mana, jam berapa dia biasanya berkeliaran di sekitar mereka dan detail-detail lainnya. Berkat kemampuan itu, akhirnya bisa membuat mereka tidak hanya berpikir untuk menghindar tetapi juga cara untuk mengantisipasi dan berlindung.


Baca Juga:[Resensi Buku] Søren Aabye Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri


Perkembangannya kemudian mengarah ke arah terbentuknya struktur kehidupan yang sederhana. Di era pra agrikultur, sebelum manusia melakukan kesalahan besar yaitu mendomestifikasi gandum, pola-pola kehidupan bersama dilakukan dengan skala kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari puluhan dan paling banyak ratusan orang.

Mereka hidup berpindah-pindah dan menjelajah untuk mencari kehidupan dengan cara yang oportunistik. Di era ini menurut Harari sapiens melakukan dua hal utama yaitu berburu dan mengumpulkan makanan. 

Sapiens hidup dalam kelompok-kelompok penjelajah dan mendomestifikasi tidak hanya makanan namun juga binatang. Anjing adalah contoh hewan yang pertama kali didomestifikasi oleh sapiens.

Pola kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan ini pula yang kemudian membuat interaksi sapiens dengan alam semakin intim. Muncul kesadaran untuk melestarikan alam yang lahir dari kesadarannya bahwa mereka bergantung pada alam agar alam tetap menyediakan makanan untuk mereka. 

Maka bagi Harari, sapiens kemudian menyusun norma-norma tentang yang mengatur interaksi antara sapiens dengan alam. Para ahli pun sepakat bahwa kepercayaan animisme adalah kepercayaan yang mulai berkembang di masyarakat penjelajah. 

Bersambung......

Sumber gambar: berdikaribook.red

[Resensi Buku] Memahami Pemikiran Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas


(Ket gambar: Sampur buku Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas)

Judul buku : Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas
Penulis       : Dr. Simplesius Sandur, CSE
Penerbit     : Kanisius
Cetakan     : 2019
Tebal         : xi + 355

Thomas Aquinas (1124-1274) tampil sebagai tokoh terdepan yang menggagas esensi politik dan hukum pada zamannya. Baik politik maupun hukum dalam pandangan Aquinas memiliki satu tujuan, yaitu bonum commune (kebaikan bersama). Hal ini dikarenakan politik dan hukum selalu berkaitan dengan suatu societas, di mana kita juga ambil bagian di dalamnya. Titik tolak pandangan politik Thomas Aquinas adalah konsep zoon politikon Aristoteles.
Selanjutnya hukum dalam pandangan Aquinas tidak melulu dilihat sebagai suatu kekuatan untuk menghukum tetapi dalam artinya yang terdalam, yaitu sebagai suatu perintah akal budi (ratio). Bagi Aquinas akal budi adalah aturan sekaligus ukuran tindakan manusia. Kebaikan yang menjadi akhir dari hukum berkaitan dengan kebenaran. Kebaikan itu haruslah kebaikan yang mengandung kebenaran, bukan karena diiming-imingi sesuatu atau hanya kelihatannya baik.


Bagi Aquinas lakukan yang baik dan tolaklah yang jahat menjadi prinsip pertama dalam hukum. Prinsip ini mendesak manusia untuk mencari dan mengejar kebaikan serta secara bersamaan menjauhi kejahatan. Oleh karena itu, tindakan kejahatan tidak akan pernah dibenarkan meskipun bertujuan mulia. Sehingga, dalam buku ini ditegaskan pentingnya melakukan tindakan baik dan menghindari kejahatan.

Konteks Penulisan
Untuk memahami pemikiran dan tulisan Thomas Aquinas, maka kita harus kembali zaman abad pertengahan. Perlu diketahui Thomas Aquinas adalah Filsuf sekaligus Teolog besar dalam Gereja Katolik. Karena itu, Aquinas lebih banyak menghasilkan karya-karya filsafat dan teologi dibandingkan karya politik. Tidak hanya itu, kondisi politik pada zaman itu posisi Gereja Katolik sangat kuat, sehingga tidak ada alasan bagi Aquinas untuk menulis traktat politik dibanding Filsafat dan teologi.
Pada zaman Aquinas karya Aristoteles, Plato dan filsuf Yunani lainnya mulai dipelajari di Eropa. Aquinas pun salah seorang yang mempelajari tokoh-tokoh ini. Sehingga tidak mengherankan jika karyanya tentang filsafat hukum dan politik sangat dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan Aristoteles. Pemikiran para filsuf ini menjadi titik pijaknya dalam menulis entah filsafat, teologi maupun politik. Baik Plato maupun Aristoteles mengedepankan konsep pengertian yang mendalam tentang recta ratio (akal budi benar). Sehingga untuk memahami pandangan politik dan hukum Aquinas, terlebih dahulu kita memahami filsafatnya karena semuanya punya keterkaitan.


Pandangan Politik dan Hukum
Lalu bagaimana memahami politik dan hukum dalam filsafat Thomas Aquinas? Eksposisi penulis buku ini mengambil jalan pikiran sistematika Aquinasian. Cukup gamblang dari sudut sistem logika, tetapi memiliki delikasi kerumitan yang menarik bila orang membaca karya-karya Aquinas (hal 2). Terminologi hukum dalam bahasa Latin Lex yang berasal dari kata kerja baik ligare yang berarti mengikat, maupun legere yang berarti menghimpun. Sulit untuk membedakan mana yang lebih tepat karena bukan soal distingsi sebab hukum itu bersifat mengikat dalam satu kesatuan.
Aquinas menjabarkan tema politik dalam traktatnya berjudul De Regno yang ditujukan kepada raja Siprus. Harus diakui pandangan politik Aquinas mungkin dapat dikategorikan ketinggalan zaman kalau dibandingan dengan demokrasi modern. Akan tetapi, Simplesius Sandur mencoba mendalami teori mendasar Aquinas tentang politik dan hakikat terdalam tujuannya untuk bonum commune. Pendalaman ini akan menjadi aktual ketika Aquinas dan para pemikir abad pertengahan melihat politik sebagai tema yang tak terpisahkan dari etika (hal. 11). Dengan kata lain keduanya harmonis.
Perlu diketahui Aquinas tidak banyak menulis tema politik sehingga tidak banyak pemikirannya dalam dunia politik. Hanya dalam De Regno, Aquinas menjelaskan tentang bagaimana manusia yang hidup bersama membentuk sebuah komunitas sosial yang dalam skala besar disebut negara dan perlu ada pemimpinnya. Politik dalam pandangan Aquinas adalah tindakan yang didasarkan pada tujuan tertentu. Tujuan yang menjadi landasan seseorang bertindak. Karena aktivitas politik memiliki tujuan, maka seluruh potensi yang ada akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Selain itu, Aquinas yang banyak dipengaruhi oleh filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles berpandangan bahwa filsafat politik sebagai ilmu praktis berkaitan juga dengan scientiae morales, ilmu moral atau kalau lebih netral ilmu etika. Pandangan ini adalah pandangan klasik tetapi mendeskripsikan substansi dari ilmu ini. Aquinas mengatakan bahwa politik berada di bawah ilmu yang berkaitan dengan tindakan-tindakan manusia seperti ilmu moral atau etika. Dan hal ini sangat berbeda kalau menggunakan pandangan Nietzsche yang melihat politik sebagai ajang pencarian kekuasaan atau kehendak untuk berkuasa.


Lalu apakah hukum? Hukum adalah tentang perintah dan larangan. Aquinas menggagas hukum sebagai ordo rationis (tata akal budi). Yang dimaksud dengan akal budi oleh Aquinas adalah recta ratio atau right reason. Manusia sejauh manusia memiliki akal budi, artinya memiliki segala yang perlu untuk berpikir dan menghendaki yang benar bagi dirinya dan sesamanya akan mengantar manusia kepada Allah.
Bagi Aquinas hukum itu tentang akal budi yang benar, artinya daya ikat atau wajib dalam hukum didasarkan pada kebenaran sejauh akal budi manusia dapat memikirkannya. Konsekuensi dari pemikiran seperti ini adalah tidak semua peraturan hukum yang diberlakukan mengikat, hanya perintah atau larangan yang masuk akal yang memiliki daya ikat. Karena pada dasarnya peraturan tidak pernah untuk peraturan itu sendiri. Peraturan hanya untuk manusia. Peraturan harus menjadikan manusia baik, damai, adil, dan sejahtera (hal 3).
Pembuat dan yang memberlakukan hukum adalah instansi atau pribadi yang bertindak sebagai penangggung jawab atas kesejahteraan umum. Dari mana hukum berasal? Dalam perumusan Aquinas hukum berasal dari yang bertanggung jawab atas kesejahteraan umum seluruh komunitas. Thomas Aquinas belum mengenal pembagian kekuasaan yang secara praktis membedakan pembuat hukum, pelaksana hukum, dan instansi yang mengadili pelanggaran hukum. Akan tetapi, apa pun namanya lembaga pemerintahan itu yang membuat undang-undang adalah pihak yang bertanggung jawab atas komunitas. Oleh karena itu, tidak semua orang dapat bertindak sebagai pembuat hukum atau penjaga hukum.
Hukum tidak lain dari pada suatu peraturan akal budi untuk kebaikan bersama yang dibuat oleh mereka yang bertanggung jawab atas komunitas dan dipromulgasikan. Ada 4 elemen penting dalam definisi ini yang kehadirannya adalah suatu keharusan. Artinya, absennya salah satu dari elemen-elemen ini membuat hal itu bukanlah sebuah hukum dalam arti yang sesungguhnya. Keempat elemen ini menyatakan suatu esensi dari hukum.
Hukum adalah ‘peraturan akan budi’ atau bonum commune; dibuat oleh suatu otoritas yang bertanggung jawab atas sebuah komunitas; suatu hukum akan memiliki daya ikat untuk suatu komunitas kalau dipromulgasikan. Poin berikutnya, berdasarkan elemen hukum, Aquinas menganalisis jenis-jenis hukum, yaitu, hukum abadi (lex aeterna), hukum kodrat (lex naturalis), hukum positif (lex humana atau ius positivum), dan hukum ilahi (legem divinam). Tampak jelas sebagaimana dipresentasikan Aquinas dalam Treatise on Law bahwa keempat jenis hukum ini memiliki keempat elemen dasar sebagaimana ditampilkan di atas, karena itu keempatnya adalah hukum dalam arti yang sesungguhnya (hal 13).

Sumber gambar: dokumentasi pribadi



[Resensi Buku] Absurditas dalam Novel Sampar


Judul            : Sampar (judul asli: La Peste)
Penulis         : Albert Camus
Penerjemah  : NH. Dini
Penerbit       : Yayasan Pusataka Obor Indonesia
Cetakan       : III, November 2013
Tebal           : x + 386 halaman

Setelah menulis novel L’Etranger (Orang Asing) novel pertamanya terbit tahun 1942, Albert Camus menulis novel La Peste (Sampar). Sepuluh tahun setelah novel ini terbit, Camus mendapat nobel sastra tahun 1957. Novel Sampar bercerita tentang epidemi sampar di kota Oran, Aljazair. Sebuah kota yang pada awalnya tenang dan kalem-kalem saja kemudian ditimpa wabah sampar. Diawali dengan kemunculan masif tikus-tikus yang linglung kemudian mati dan diikuti angin panas lalu hadirlah sampar di kota Oran.
Dokter Rieux (tokoh utama) hampir putus asa melihat epidemi yang merajalela ini. Dokter Rieux tidak berambisi untuk menjadi juru selamat dari Sampar. Ia hanya melakukan kewajibannya sebagai manusia dengan keahlian yang dia miliki. Para dokter tidak dapat menyembuhkan penyakit, tetapi hanya dapat mendiagnosa, memutuskan kemudian memerintahkan untuk karantina. Nasib masyarakat Oran benar-benar tragis. Mungkin setragis kondisi pandemi Covid-19 sekarang.

Baca Juga: [Resensi Buku] Lamafa: Pahlawan dari Lamalera

Sampar mengurung kota Oran. Kota ini ditutup dan tidak boleh ada penduduk yang keluar masuk atau dengan istilah sekarang lockdown. Terjadi banyak pengucilan, penyingkiran, dan pengasingan karena Sampar. Dalam alur cerita, Rieux bertemu Tarrou yang menjadi lawan bicaranya. Selain itu ada tokoh bernama Cottard yang mencerminkan watak egois dan licik. Namun tiga karakter utama dalam novel Sampar adalah Pencerita, Kota dan Penyakit Sampar. Pada dasarnya melalui novel Sampar ini Albert Camus ingin menunjukan bahwa manusia akan mengeluarkan protesnya ketika berhadapan dengan kondisi-kondisi absurdnya.
Novel ini merupakan karya terlaris dari Albert Camus. Paham Absurditasnya jelas diwakilkan dalam novel ini. Sebagai karya sastra dan filsafat, Camus sukses menjadikan novelnya ini sebagai senyawa. Wabah Sampar adalah sesuatu yang absurd, tidak ada yang dapat menjelaskan mengapa kota Oran yang awalnya tenang saja kemudian diserbu Sampar. Sampar yang datang mendadak membuat penduduk Oran tidak sanggup berbuat apa-apa selain pasrah.

Baca Juga: Covid-19: Penderitaan yang Melahirkan Harapan

Tidak ada yang dapat menjelaskan ketenangan kota Oran yang tiba-tiba terusik dan bagaikan kota akibat merebaknya sampar. Tidak ada yang dapat menerangkan pula sebab penyakit sampar yang telah menyerang kota Oran. Penyakit sampar datang secara mendadak dan membuat seluruh penduduk kota cemas. Akan tetapi, penduduk kota seakan tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya dapat menerimanya saja.
Permasalahan menjadi absurd karena penyakit sampar bukanlah akibat dari suatu sebab. Apalagi sebagai hasil konspirasi oknum-oknum tertentu. Penyakit sampar benar-benar misteri. Apalagi penyakit ini pun membunuh anak-anak yang tidak berdosa. Penderitaan yang ada di dunia ini semakin tidak bisa dimengerti ketika korbannya adalah anak-anak kecil yang tidak bersalah belum berdosa.
Bila diungkap latar sejarahnya, cara Camus mengelaborasi suasana kota Oran yang terserang epidemi merupakan proyeksi keadaan negeri Prancis yang sedang dalam cengkeraman pendudukan Nazi. Kuantitas epidemi Sampar dan perang yang terjadi di dunia sama banyaknya. Keduanya juga sama-sama menyerang tanpa disadari manusia.

Baca Juga: [Resensi Buku] Søren Aabye Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri

Sama dengan novelnya Orang Asing, Camus memotret absurditas yang menjadi wajar. Deskripsi latar pada Sampar tidak lebai untuk menggambarkan sebuah kota yang terkurung oleh wabah penyakit Sampar. Sederhana dan apa adanya. Selain itu karakter tokoh-tokohnya juga tidak terlihat sebagai superman, mereka hanya ibarat mewakili unsur-unsur: Pencerita, Kota, dan Sampar. Novel ini juga dapat dipandang sebagai paket seni, sastra dan filsafat. Camus membungkusnya dalam sampar yang menyajikan absurditas dengan cara yang sama sekali tidak absurd. Secara keseluruhan novel sampar menjadi pintu gerbang untuk memasuki pemikiran-pemikiran Albert Camus yang identik dengan pembahasan penderitaan, pemberontakan dan solidaritas.

Sumber gambar: shopee.co.id


[Resensi Buku] Søren Aabye Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri



Judul              : Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Penulis            : Thomas Hidya Tjaya
Penerbit          : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan          : III, April 2018
Tebal              : xviii + 178 hlm

Buku Kierkegaard dan pergulatan menjadi diri sendiri merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Thomas Hidya Tjaya. Buku ini ditulis atas kebutuhan penulis untuk mempersiapkan bahan kuliah seminar filsafat eksistensialisme pada semester genap tahun 2004 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Berkaitan dengan aliran tersebut, pokok pembahasannya dimulai dengan Kierkegaard filsuf eksistensial pertama dan kritiknya terhadap Hegel. Kritik ini memberi warna baru bagi perkembangan filsafat modern dan mengundang orang untuk memikirkan eksistensinya sebagai manusia.
Sebelum membahas lebih jauh isi buku ini, akan diperkenalkan riwayat hidup Kieregaard. Kierkegaard lahir pada 5 Mei 1813 di Kopenhagen, Denmark. Dia anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah Michael Pedersen Kierkegaard dan ibunya Ane Sorensdatter Lund. Kierkegaard adalah pribadi yang tegas, pendiam, dan serius dalam beragama
Dia juga dikenal sebagai anak yang pintar dan cerdas. Selain itu, Kierkegaard kecil dikenal sebagai orang yang memiliki punuk di punggungnya dan kedua kaki tidak sama panjang. Dalam hidupnya, Kierkegaard mengalami pengalaman yang menyakitkan, ibu dan kelima kakaknya meninggal  sebelum ia berumur 21 tahun. Oleh karena itu, dia sendiri pun beranggapan bahwa ia akan meninggal sebelum berusia 35 tahun. 

Filsafat Hegel dan Kritik Kierkegaard
Dalam buku ini dijelaskan kritik Kierkegaard terhadap filsafat Hegel yang lebih menekankan filsafat sebagai sistem ilmu pengetahuan yang komprehensif.
Menurut Hegel berbagai unsur dan pengalaman manusia akan mendapat tempat masing-masing, yang bersifat komprehensif, sistematik, serta rasional. Selain itu, Hegel berpendapat bahwa ada Roh yang bergerak dalam sejarah. Roh ini adalah kesadaran yang menyadari dirinya sendiri yang membawa manusia pada kebenaran objektif.

Baca Juga: Pingin Kuliah? Makanya Kaya

Ada dua konsep penting dalam filsafat Hegel, yaitu Roh dan Absolut. Kata Absolut ini berarti lengkappenuh, dan menyeluruh. Bagi Hegel Absolut adalah keseluruhan realitas yang hadir pada dirinya sendiri dan  dapat diketahui manusia. Kata Absolut sendiri dekat dengan kata Roh, maka dalam filsafatnya, Hegel kadang membicarakan Roh Absolut. 
Roh adalah kesadaran yang mengenal dirinya sendiri. Roh Absolut adalah pengetahuan manusia mengenai realitas sesungguhnya.  Menurut pendapat Hegel, kebenaran hanya dapat dicapai melalui perjalanan panjang dalam sejarah nama Roh Absolut.
Bagi Hegel struktur akal budi selalu berkembang. Demikian juga kesadaran akan selalu berevolusi, entah dalam akal budi individu maupun dalam akal budi universal. Kesadaran itu terwujud dalam institusi-institusi sosial, politik, dan ekonomi maupun dalam filsafat, sains, seni, dan agama dalam zaman tertentu. Namun, kesadaran akan mencapai puncaknya pada kebenaran objektif melalui perjalanan panjang dan dialektis. Pada akhirnya kebenaran objektif akan dicapai. Pada titik ini pulalah yang Absolut telah dicapai. 
Hal inilah yang dikritik Kierkegaard. Bagi Kierkegaard filsafat bukan merupakan kumpulan pengetahuan yang sistematik atau Roh yang bergerak dalam sejarah, melainkan tentang pergulatan manusia dalam membuat keputusan yang benar mengenai hidupnya. Bagi Kierkergaard filsafat Hegal tidak menjawab personal mengenai pergulatan manusia. 
Filsafat Hegel menekankan sistem pengetahuan. Misalnya dibuat sistem eksistensial yang dapat menjelaskan mengapa ibu dan kelima kakaknya meninggal saat ia masih muda. Ataukah pemutusan pertunangannya dengan Regina suatu yang harus terjadi. Bagi Kierkegaard sistem filsafat demikian tidak masuk akal dan ambisius.
Dalam Filsafatnya, Hegel hanya berdiri sebagai pengamat terhadap realitas alam dan manusia yang ada. Sedangkan, Kierkegaard hadir secara personal dalam pergulatan manusia. Dalam analogi pentas drama, Hegel hanya berdiri sebagai penonton dan berada di luar panggung. Hal ini berbeda dengan Kierkegaard yang terjun langsung dalam drama, menyelami eksistensi manusia, merasakan penderitaan, dan kegembiraan yang dialami manusia. Kierkegaard juga menyadari keinginan manusia akan kebenaran Objektif.

Baca Juga: Akankah Coronavirus Mengubah Pengalaman Belajar Tatap Muka?

Manusia ingin mengetahui hakikat dunia ini sebagaimana adanya, bahkan juga keingintahuan akan kehidupan setelah kematian. Praktisnya, dalam diri manusia ada hasrat untuk mengetahui realitas objektif, realitas yang apa adanya, tidak dipengaruhi penilaian kita sebagai manusia. Bagi Kierkegaard realitas objektif itu memang ada, tetapi hanya Allah yang mengetahui realitas tersebut. Dalam hal ini, ia sependapat dengan Kant bahwa realitas pada dirinya sendiri tidak diketahui oleh manusia.
Manusia adalah makhluk terbatas, karena keterbatasannya itulah manusia tidak dapat mengetahui kebenaran objektif. Keterbatasan inilah yang membuat manusia memiliki kesulitan dalam mengambil keputusan penting mengenai hidupnya. Maka itu, bagi Kierkegaard kebenaran adalah suatu yang subjektif, yakni masalah diri manusia dengan suatu yang melampauinya. Dalam keterbatasan manusia untuk mengetahui kebenaran objektif, yang penting adalah relasi manusia sebagai subjektif dengan kebenaran yang diketahuinya.
Kebenaran subjektif dalam pemahaman Kierkegaard adalah kebenaran yang secara konkret cara manusia dalam menjalani hidupnya, yaitu kebenaran moral dan religius. Dalam kebenaran moral dan religius, manusia dapat menentukan bagaimana ia menjalani hidup sehari-hari dan nilai apa yang harus dipeluknya. Bagi Kierkegaard, ilmu filsafat bukanlah mengenai kodrat manusia, melainkan apa yang harus dilakukan manusia supaya dapat menemukan kedamaian dan makna hidup.

Eksistensi Otentik
Bagi Kierkegaard, setiap manusia dalam hidupnya tentu pernah mengalami pergulatan, entah itu pergulatan dalam pekerjaan, relasi, pilihan hidup, keluarga, cita-cita dan sebagainya. Kalau pada akhirnya manusia itu dapat menentukan pilihannya dari pergulatan tersebut, pilihan tersebut berasal dari keotentikan dirinya, keyakinan pribadi, atau keputusan subjektivitas.
Dalam hal ini, kebenaran tidak bertindak sebagai objektif, universal, dan berada di luar diri manusia, melainkan suatu yang berada dalam dirinya. Dalam Subjektivitas, Kierkegaard yakin manusia mencapai keotentikan dirinya, karena kebenaran memang digulati dan dipeluk secara eksistensial dan tidak berada di luar diri sang subjek.

Melawan Berhala Kepalsuan
Dalam kehidupannya, manusia seringkali menampilkan kepalsuan dihadapan manusia lain. Apa yang tampak tidak mengandaikan apa yang terjadi dalam hatinya. Bagi Kierkegaard, orang seperti itu tidak menunjukan keotentikan dirinya. Hal tersebut pun berasal dari pengalaman hidupnya, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya yang selama ini dipercaya sebagai orang taat agama, ternyata telah hidup bersama ibu (karena ibunya pembantu di rumah ayah) sebelum akhirnya menikahi ibunya. Dia tidak percaya bahwa ayahnya telah hidup bersama perempuan yang belum dinikahinya, karena dengan demikian ayahnya melanggar kesucian perkawinan.

Baca Juga: Manusia Indonesia yang Terjajah dalam Novel Bumi Manusia (2)

Pengalaman ini pun membuat Kierkegaard berhati-hati dalam hidupnya, termasuk keputusannya untuk meninggalkan Regina. Ia takut relasi dengan Regina dipenuhi kepalsuan, karena ia menyadari siapa ia sebenarnya, secara khusus sifat melankolisnya. Bagi Kierkegaard, ketidakberaniannya untuk menceritakan siapa ia sebenarnya kepada Regina merupakan kepalsuan. Ia merasa hubungan antara mereka palsu. Menurut Kierkegaard, ketika melanjutkan perkawinannya dengan Regina, sebenarnya dia sedang menipu dan munafik, karena ia sendiri tidak menginginkan cara hidup seperti itu.

Kritik Terhadap Publik
Selain melepaskan diri dari kepalsuan, perjuangan untuk menjadi pribadi yang otentik juga harus keluar dari kehidupan kerumunan atau publik. Menurut Kierkegaard, kerumunan akan menghilangkan identitas pribadi manusia. Manusia akan bertindak sesuai sifat kerumunan. Contohnya ketika melihat sekelompok masa yang berkumpul di suatu tempat. Dalam situasi seperti itu, individu-individu tenggelam dalam kerumunan dan pribadi yang otentik tidak nampak.
Dalam pandangan Kierkegaard, individu sejati tidak berkerumun. Kerumunan akan meniadakan identitas individu. Ketika manusia bergabung dalam kerumunan, ia akan menjadi milik kerumunan, individunya pun dengan sendirinya akan hilang. Bagi Kierkegaard, kerumunan tidak dapat memperbaiki diri manusia, karena pergulatannya bukan merupakan pergulatan individu, melainkan universal. keputusan yang diambil pun berdasarkan kerumunan.
Untuk itu, bagi Kierkegaard untuk mencapai keotentikan diri, manusia harus keluar dari kepalsuan dan cara hidup kerumunan. Untuk hidup secara otentik, manusia harus berani menyatakan siapa dirinya lewat keputusan-keputusan yang diambilnya secara individu melalui pergulatannya. Untuk menghidupi eksistensi yang sejati, manusia juga harus memiliki pengetahuan terkait makna hidupnya. Hal ini bertujuan agar orang tersebut dapat menentukan pilihan hidup seperti apa yang hendak dijalaninya.
Bagi Kierkegaard pribadi yang patut ditiru sebagai pribadi yang otentik adalah Socrates. Socrates meskipun dituduh memberikan pengajaran yang menyesatkan kepada kaum muda, ia tetap berpegang pada kebenaran yang dipeluknya. Ia tidak takut terhadap ancaman penguasa Athena pada zaman itu, tetapi berani menyatakan kebenaran dan membela dirinya.
Menurut pandangan Kierkegaard, keberanian seperti itu datang dari kebulatan tekat untuk mewujudkan keputusan eksistensial. Dengan pilihan seperti itu, orang memperoleh makna hidupnya. Itulah mengapa pilihan yang kita ambil merupakan suatu masalah yang serius. Menurut Kierkegaard, manusia dapat menjadi otentik melalui pilihan-pilihan yang dapat menentukan hidupnya.    

Wilayah Eksitensi dan Keputusan
Pada pembahasaan ini, kita akan melihat tiga wilayah eksistensi menurut Kierkegaard, yaitu hidup estatis, hidup etis, dan hidup religius. Bagi Kierkegaard, tiga wilayah eksistesi ini merupakan cara hidup atau cara berada manusia di dunia ini. Dalam artian bahwa setiap wilayah eksistensi memiliki pandangan dan pengandaian tertentu yang merasa di dalamnya terdapat kepuasan dan kepenuhan hidup.

Baca Juga: Sketsa Manusia Indonesia dalam Novel Cantik Itu Luka (2)

Menurut Kierkegaard, setiap kita memiliki identitas dan integritasnya sendiri. Tahap Estetis merupakan cara hidup atau pandangan tanpa mendefinisikan antara yang baik dan yang jahat. Artinya, ketika seseorang melakukan sesuatu, ia melakukannya tanpa memikirkan sesuatu baik atau buruk. Keputusan yang diambil oleh manusia hanya berdasarkan sensasi (dalam bahasa Yunani aishesis), dan terutama perasaan.
Contohnya: ingin makan bakso pada malam hari, ia langsung pergi ke warung untuk makan bakso, berhasrat membaca buku atau mendengarkan musik, akan dilakukan saat itu juga. Dalam hal ini, keinginan yang muncul merupakan keinginan spontan dan dipenuhi saat itu juga. Ciri khas dari tahap estetis adalah pembunuhan atas keinginan langsung dan spontan.
Wilayah eksistensi kedua ialah Tahap Etis. Pada tahap ini, manusia mulai menghitung apakah yang ia lakukan baik atau jahat. Dalam artian, keputusan yang diambil tidak lagi melalui keputusan langsung seperti pada tahap estetis, melainkan memulai suatu pertimbangan antara yang baik dan yang jahat. Dalam hal ini, ia menggunakan rasio, suara hati, dan refleksi dalam menentukan suatu pilihan akan tindakannya.
Wilayah eksistensi ketiga ialah tahap religius. Pada tahap ini, manusia tidak lagi mempersoalkan atau mempertimbangkan sesuatu itu baik atau buruk. Tapah etis tidak memadai lagi pada tahap ini, karena yang terpenting adalah relasi manusia dengan yang Ilahi. Dalam tahap ini, kepuasan diri, perhatian terhadap diri sendiri atau keinginan untuk kebahagian abadi bukan merupakan tujuan.
Manusia mulai menyadari bahwa semestinya tujuan dari hidupnya bukan untuk dirinya, dalam hal ini segala bentuk kepuasan diri. Menurut Kierkegaard dalam pelaksanaannya, ketiga tahap di atas masih memiliki hubungan dan keterkaitan. Ketika manusia beranjak ke tahap lebih tinggi, misalnya dari estetis ke etis, tahap estetis tidak ditinggalnya, melainkan diubah ke dalam cara yang baru.
Lalu, mungkin akan timbul pertanyaan terkait tahap mana yang harus dijalankan manusia. Kierkegaard sendiri pun tidak menentukan tahap mana yang harus dipilih. Tetapi seperti yang dijelaskan di atas, menurut Kierkegaard ketika manusia memilih untuk hidup pada tahap estetis, hidup menurut hasrat, ia tidak memilih dan menunda kepuasannya untuk sesuatu yang lebih besar.
Setelah kategori yang baik dan jahat masuk ke dalam dirinya, manusia mulai mengabaikan hasrat untuk dapat menentukan sesuatu baik atau jahat untuk dilakukan. Namun, Kierkegaard yakin tahap hidup estetis akan gagal dalam upaya menuju kepenuhan diri. Mengapa gagal? Karena seseorang akan bertindak sesuai hasratnya dan itu bersifat sementara. Namun, dalam kenyataannya, banyak orang yang menganut tahap ini, siapa yang tidak tertarik dengan makanan, minuman, seks atau apa saja yang langsung menyentuh perasaan dan menyenangkan hati. [April Lowa]


Sumber gambar: tokopedia.com
         

[Resensi Buku] Filosofi Teras: Seni Manajemen Diri

Judul                           : FILOSOFI TERAS: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh         Masa Kini
Penulis                         : Henry Manampiring
Penerbit                       : Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit               : Cetakan 4, Januari 2019
Jumlah Halaman         : xxiv + 344 hal
  

Apakah kamu sering merasa kuatir akan banyak hal yang terjadi di luar dirimu? Baperan? Susah move on? Mudah tersinggung dan marah-marah tidak jelas di media sosial maupun di dunia nyata? Henry Manampiring menghadirkan kepada kita sebuah buku yang luar biasa. 
Filosofi Teras, buku yang membawa kita untuk belajar mengendalikan diri. Dalam salah satu bagian dikatakan bahwa “ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak bergantung pada) kita.”
Buku Filosofi Teras hadir untuk memberikan kepada kita jalan menuju ketenangan jiwa. Penulis buku ini telah mengalami sendiri stres dan kesulitan-kesulitan dalam hidupnya karena sering marah dan tidak mampu mengontrol dirinya sendiri. 
Meski bukan alumnus Fakultas Filsafat, penulis buku berhasil membuat buku menjadi menarik tentang Filsafat Stoa. Ini luar biasa. Filsafat sebagai praktik hidup ia jalani dalam kehidupannya sehari-hari.
Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik turunnya kehidupan.
Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan generasi milenial masa kini. Buku ini mengajak kita untuk berani menantang diri sendiri agar mengetahui batas-batas diri kita sendiri dan tidak merisaukan hal-hal yang ada di luar diri atau yang ada di luar kendali kita.  
Sebagaimana dikatakan oleh Marcus Aurelius dalam buku ini “jika seseorang bisa membuktikan kekeliruan saya dan menunjukkan kesalahan saya dalam berpikir dan bertindak, saya dengan senang hati berubah. Saya mencari kebenaran yang tidak pernah melukai siapa pun. Yang celaka adalah terus menerus bertahan dalam menipu diri sendiri dan ketidakpedulian.”
Jadi umpan balik, nasihat dan opini yang membangun dan memperbaiki diri kita sendiri harus kita hormati dan dengarkan. Yang dipertanyakan oleh penganut filsafat Stoa adalah ketika kita mengira bisa bahagia dan damai dengan terus menerus menyenangkan orang lain padahal sebenarnya kita sedang menderita.

Latihan Mengatasi Emosi
Setiap manusia mencari kebahagiaan dan hidup yang tenang. Filsafat bagi kaum Stoa bukanlah sekadar mengisi waktu atau menumpuk ide untuk bergaya di depan kaum awam. Filsafat adalah praktik dan latihan. 
Jangan suka menyebut diri anda sendiri sebagai filsuf, jangan banyak berbicara di depan orang awam tentang teori-teori filsafat karena yang pokok adalah bagaimana kita hidup sesuai dengan apa yang dipelajari. Sebab sebagaimana arti harafiah dari kata filsafat yaitu, cinta akan kebijaksanaan. 
Maka yang paling utama adalah bukan pemahaman konsep atau teori-teorinya saja tetapi cara hidup kita yang bijaksana dan menampilkan bahwa kita pernah belajar filsafat.
Bagaimana caranya agar bisa terus bahagia, terhindar dari rasa campur aduk yang memporakporandakan batin? Bagaimana bisa tenang, terbebaskan dari perasaan negatif? Filsafat Stoa mengajarkan untuk mencermati empat jenis perasaan negatif yang menjauhkan kita dari kebahagiaan, yaitu iri hati, takut, rasa sesal atau pahit, dan kenikmatan. Sebab kunci kebahagiaan bagi Stoa adalah tatkala kita terhindarkan dari nafsu-nafsu tidak jelas, kecanduan atau addicted pada sesuatu, angkara murka, kehilangan kendali, dendam kesumat, dan rasa sesal yang berlebihan.

Makna Filosofi Teras
 Belajar dari Filsafat Stoa kita diajak untuk selalu bersyukur dalam setiap kesempatan hidup. Kita perlu mensyukuri bahwa hari ini saya masih diberi kesempatan untuk hidup dengan tentram, tidak stress akibat berita hoax atau stres karena dibully, atau masih banyak hal lainnya yang patut kita syukuri dari kehidupan kita hari ini. 
Memang mensyukuri semua yang kita dapat hari ini bukanlah pekerjaan mudah. Sifat dasar manusia yang tidak pernah puas adalah sebabnya. Karena itu, ada baiknya kita mulai menata diri dan belajar mensyukuri apa yang kita terima. Diperlukan latihan secara berulang-ulang agar bisa menjadi kebiasaan.
Seperti kata penulis buku bahwa “sama seperti otot dengan berlatih berulang-ulang mengangkat barbel, maka batin pun bisa diperkokoh lewat latihan rutin setiap hari lewat STAR (Stop, Think, Assess, Respond)”. Setia pada filsafat sebagai praktik dan latihan mental supaya kita memiliki syaraf titanium dan tidak gampang KO ketika disambar galau.
Filosofi Teras percaya bahwa kita semua perlu hidup dengan penuh kebajikan. Bersama-sama dengan kemampuan mengendalikan emosi negatif, maka hidup yang tenteram, damai dan tangguh akan hadir. Namun, untuk bisa hidup dengan penuh kebajikan kita perlu berlatih dahulu mengetahui apa sebenarnya esensi dan peruntukan kita sebagai manusia.
Berbeda dari aliran filsafat lainnya, stoisisme lebih menekankan pada praktik hidup dan tidak melulu pada diskusi intelekstual menyangkut ide-ide dan konsep abstrak. Salah satu alasan kenapa buku ini menarik untuk dibaca karena siapapun bisa ikut mempraktikkannya tanpa harus bergantung pada atribut-atribut, seperti kekayaan, prestasi akademis, inteligensi bawaan, warna kulit, suku, karier, atau profesi.
“Seorang praktisi Stoa seharusnya merasakan keceriaan senantiasa dan sukacita terdalam, Karena ia mampu menemukan kebahagiaannya sendiri, dan tidak menginginkan sukacita yang lebih dari pada sukacita yang datang dari dalam”. 
Karena pada dasarnya tujuan dari Filosofi Teras adalah membebaskan kita dari emosi negatif, minimal menguranginya. Rasanya sangat relevan dengan kehidupan sekarang yang penuh dengan ketidakpastian.
Oleh karena itu, filsafat ini tidak menjanjikan materi atau damai di akhirat, tetapi damai dan tenteram yang kokoh karena berakar dari dalam diri kita, bukan pada hal-hal eksternal yang bisa berubah, hancur atau direnggut dari kita. 
Sebab tujuan utama dari Filosofi Teras adalah hidup dengan emosi negatif yang terkendali, dan hidup dengan kebajikan atau bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi manusia.
Sebagai bagian penutup mengutip pernyataan Epictetus “jangan menyebut dirimu sendiri seorang filsuf atau menggembar-gemborkan teori-teori yang kamu pelajari … karena domba tidak memuntahkan lagi rumput kepada sang gembala untuk memamerkan banyaknya rumput yang telah dimakannya; tetapi domba mencerna rumput tersebut di dalam tubuhnya, dan ia kemudian memproduksi susu dan bulu. Begitu juga janganlah kamu memamerkan apa yang sudah kamu pelajari, tapi tunjukkanlah tindakan nyata sesudah kamu mencernanya”.