Menu

Memperbaiki Kualitas Pendidikan Menyongsong Revolusi Industri 4.0

                          (Ket: pelajar dengan gaya belajar modern)

Indonesia saat ini tengah menghadapi revolusi industri 4.0. Sederet upaya untuk menghadapinya mulai dipersiapkan, misalnya dengan mengubah metode pembelajaran atau juga kurikulum pendidikan yang ada saat ini.

Dalam kurikulum itu pembelajaran informatika mulai diterapkan di sekolah-sekolah. Alasannya, mata pelajaran informatika menjadi pintu masuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Mengapa demikian? Karena untuk menghadapi perkembangan zaman, maka metode pembelajaran juga harus sesuai dengan kebutuhan zaman. Di antaranya, mempersiapkan model pembelajaran science, technology, engineering, art, dan math (STEAM) untuk mengejar ketertinggalan.

Menurut praktisi pendidikan Indonesia, Indra Charismiadji ada tiga poin yang perlu diubah dari sisi edukasi:

Pertama dan paling utama adalah mengubah pola pikir generasi muda Indonesia. Melalui perubahan pola pikir, anak-anak akan mencari aktivitas lain selain bermain gedget karena mereka menggunakan gedget untuk bekerja.

Penggunaan gedget untuk bekerja akan membuat anak bosan, jika gedget juga digunakan untuk bermain. Oleh karena itu, untuk menyambut revolusi 4.0 langkah yang perlu dilakukan adalah mengubah pola pikir anak.

Baca juga: Memahami Tri Sentra Pendidikan dan Kegalauan Orang Tua

Jika pola pikir sebelumnya menggunakan gedget untuk bermain menjadi gedget sebagai lahan mereka menciptakan sesuatu yang baru dan menjawab kebutuhan publik.

Kedua, pentingnya peran sekolah dalam mengasah dan mengembangkan bakat siswa. Di sini sekolah memfasilitasi dan memberikan dukungan. Akan tetapi, rupanya ada yang keliru dengan sistem pendidikan kita saat ini.

Anak-anak ke sekolah seharusnya untuk belajar dan mempersiapkan mereka menghadapi dunia nyata yang berubah dengan sangat cepat. Tetapi, sekolah tidak banyak berubah selama ratusan tahun.

Para ahli setuju bahwa pendidikan saat ini dirancang di era industri untuk pekerjaan di pabrik. Dan mentalitas sebagai pekerja masih bertahan di sekolah-sekolah.

Ketiga, pengembangan kemampuan institusi pendidikan untuk mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman ini. Menyiapkan siswa sesuai dengan kebutuhan zaman adalah langkah positif yang sebaiknya dilakukan oleh semua sekolah. 

Pembelajaran berbasis teknologi atau mengarahkan siswa untuk belajar berbasis teknologi adalah cara sekolah menyiapkan siswanya untuk menghadapi tantangan zaman.

Pembelajaran pada abad 21 hendaknya disesuaikan dengan kemajuan dan tuntutan zaman. Begitu juga dengan metode yang dikembangkan oleh sekolah agar mengubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru atau pendidik menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan anak bahwa mereka harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar. Kemampuan berkomunikasi, kreatif, problem solving dan berkolaborasi adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa.

Persoalan yang Dihadapi
Dari penjelasan di atas sebenarnya terdapat beberapa persoalan yang dihadapi oleh pendidikan kita saat ini:

1. Anak-anak dididik dengan setumpuk tugas dan mengatur kehidupan mereka dengan bunyi lonceng. Sepanjang hari siswa tidak melakukan apa pun selain mengikuti petunjuk. “Silahkan duduk, berhenti berbicara dengan temanmu, ambil buku dan kerjakan tugas halaman sekian.”

Di sekolah siswa akan dihargai sejauh dia mampu menghafal semua pelajaran yang diberikan guru. Keberhasilan mereka tergantung pada instruksi dan melakukan persis dengan apa yang diperintahkan.

Di dunia modern orang-orang harus menjadi kreatif, dapat menyampaikan ide-ide dan kolaborasi dengan orang lain. Sayangnya, siswa tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam suatu sistem sekolah yang didasarkan pada nilai-nilai era industri.

Keterampilan dan minat siswa kurang diberi perhatian sehingga tak jarang siswa terpaksa mengembangkan dirinya dengan melakukan kursus-kursus di luar sekolah yang tentu saja menguras banyak tenaga dan biaya tambahan.

2. Sebagian pembelajaran yang terjadi di sekolah tidak otentik karena masih menggunakan metode menghafal. Sistem ini mendefinisikan satu set generik pengetahuan bahwa semua anak harus tahu dan menghafal materi yang diberikan guru.

Beberapa bulan kemudian guru mengukur berapa banyak pengetahuan yang bertahan dengan memberikan ujian atau ulangan. Kita tahu bahwa sistem belajar tersebut tidak otentik karena sebagian besar setelah ulangan atau ujian, materi hafalan kita itu akan hilang.

Belajar bisa jauh lebih dalam dan otentik. Hal ini bisa menjadi jauh lebih dari sekedar menghafal. Sayangnya itulah yang satu-satunya yang diukur oleh pihak sekolah dan ulangan atau ujian adalah jalan untuk menghargai kualitas siswa.

Baca juga: Pendidikan Indonesia dan Sisi Positif Corona

Anak-anak menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghafal dan kemudian mereka akan segera melupakannya. Tidak ada ruang untuk mengembangkan passion dan hobi.

Kita memiliki sistem pembelajaran di mana setiap anak harus belajar hal yang sama pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama. Hal ini sebenarnya bertentangan karena kita semua memiliki passion dan ketertarikan yang berbeda.

Akan tetapi, apakah saat ini sekolah-sekolah telah membantu peserta didiknya untuk menemukan dan mengembangkan passion mereka? Apa keahlianku? Apa yang ingin aku lakukan? Apakah keahlianku sesuai dengan kebutuhanku di masa depan? Sistem ini tampaknya tidak adil dan tidak peduli dengan kebutuhan masa depan manusia.

Begitu banyak orang berbakat gagal dalam sistem sekolah tradisional. Untungnya mereka mampu mengatasi kegagalan ini ketika berada dalam lingkungan masyarakat. Tetapi tidak semua orang mampu melakukannya.

Mereka sukses karena mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan harus bekerja lebih keras lagi dibandingkan dengan orang lain. Mereka berkembang karena tahu apa bakat dan passion yang dimiliki sehingga saat berada di tengah masyarakat bakat dan passion itu yang terus dikembangkan.

Pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar belum dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kita masih belum mampu berbuat banyak.

Pendidikan sebagai ujung tombak pembangunan suatu bangsa belum digarap dengan semestinya. Akan tetapi, segala sesuatu diukur berdasarkan apa yang ditulis di kertas.

Passion dan bakat yang dimiliki siswa kurang diberi tempat. Alhasil, setelah menyelesaikan kuliah banyak di antara kita yang belum mengenal passionnya sendiri. Sebab sejak TK selalu diajarkan untuk menghafal beragam materi pelajaran sehingga tidak mampu untuk mengetahui bakat dan passionnya.

3. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi sebaiknya menjadi wadah yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dalam kelas karena media internet dan digital, anak-anak dapat memiliki akses ke semua informasi di dunia.

Baca juga: STEAM Sebagai Dasar Pendidikan di Masa New Normal

Teknologi telah memungkinkan siapa saja untuk mempelajari sesuatu. Tetapi, karena takut kehilangan kontrol sistem ini belum digunakan secara luas. Sistem pendidikan kita yang berkembang di era industri menjadi tidak relevan dan kurang efektif lagi untuk zaman sekarang.

Jika kita ingin belajar yang efektif dan menarik, maka tidak ada keraguan agar kita secara fundamental mengubah sistem pendidikan kita dalam menyambut revolusi 4.0.

Besar harapan agar pemerintah lebih giat lagi dalam mengurus pendidikan negeri ini agar kita dapat berdiri sejajar dengan negara maju lainnya dalam hal pendidikan.

Dari seratus perguruan tinggi terbaik dunia, tidak satu pun berasal dari Indonesia. Padahal kita negara besar dan punya potensi alam yang besar pula. Kini kita bersama-sama berlari sekencang mungkin mengejar ketertinggalan itu.

Sumber gambar: eduaksi.com

Memahami Tri Sentra Pendidikan dan Kegalauan Orang Tua

                                      (Ket: Ki Hajar Dewantara)

Pandemi covid-19 mengharuskan sektor pendidikan menyelenggarakan pembelajaran dalam jaringan (daring), telah memunculkan berbagai keluhan dan keresahan orang tua murid. Keluhan-keluhan itu antara lain, tugas siswa yang terlalu banyak, pembelajaran kurang maksimal, orang tua kewalahan mendampingi sang buah hati, dan masih banyak keluhan lainnya.
Sekian lama orang tua melihat sekolah sebagai lembaga outsourcing untuk belajar sehingga segala beban belajar anak diberikan kepada pihak sekolah. Orang tua seolah "lepas tangan" dan memberikan sepenuhnya kepada pihak sekolah tugas yang berkaitan dengan "isi kepala" anak mereka.  Para orang tua lupa bahwa keluarga merupakan tempat pertama dan terutama bagi anak-anak. Merekalah pendamping atau guru pertama dan utama bagi anak-anak.
Pertama kali seseorang belajar berbicara, berjalan, tata krama, dan lainnya adalah di rumah bukan di gedung sekolah. Dengan demikian, keresahan yang timbul pada anak-anak selama belajar dari rumah seharusnya tidak terjadi.

Baca Juga: STEAM Sebagai Dasar Pendidikan di Masa New Normal

Sejatinya pembelajaran dari rumah yang ramai terjadi sekarang ini memberi kesempatan kepada orang tua untuk mengenal anaknya lebih baik dan meningkatkan kualitas hubungan dengan anak. Lebih dari pada itu, bagi saya sekarang menjadi momen untuk mengenalkan kembali pemikiran bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Buah pemikirannya turut mempengaruhi pendidikan Indonesia.
Dia telah meletakkan pondasi pendidikan Indonesia. Di atas pondasi inilah seharusnya pendidikan kita dibentuk dan diarahkan meskipun dalam praktiknya terkadang melenceng. Salah satu pemikirannya yang menjadi pondasi pendidikan kita adalah Tri Sentra Pendidikan.
Tri Sentra Pendidikan (Tiga Pusat Pendidikan) merupakan tanggung jawab terhadap pendidikan anak yang berlangsung di tiga lingkungan, yaitu keluarga, masyarakat, dan sekolah. Ketiganya berperan penting dalam proses pendidikan anak dan ketiganya saling mengisi serta memperkuat satu sama lain. Melalui pendidikan daring, kita pun disadarkan bahwa tanggung jawab mendidik anak sebenarnya tidak hanya menjadi tugas pihak sekolah, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat. 

Keluarga
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat terdiri dari suami, istri dan anak -- ayah dan anak -- atau ibu dan anak (lih. UU No. 52 thn 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga). Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam perkembangan individu karena dalam keluargalah anak tumbuh dan berkembang.
Dalam dunia pendidikan, pembelajaran dalam keluarga disebut sebagai pendidikan informal. Pembelajaran itu dilakukan setiap hari pada saat terjadi interaksi antara anak dengan anggota keluarga lainnya. Pada momen ini peran orang tua sebagai panutan bagi anak-anaknya sangat vital.

Baca Juga: Melakukan Revolusi Pendidikan

Orang tua berperan penting dalam membentuk dan mengembangkan karakter serta kepribadian anak. Semakin baik kualitas keluarga, maka kemungkinan semakin besar pula kualitas kepribadian dan karakter anak. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar. Karena itu, apa yang dipelajarinya di dalam keluarga akan berdampak pada kehidupan sosialnya baik di masyarakat maupun di sekolah.

Sekolah
Sekolah merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara formal atau disebut sebagai pendidikan formal. Tiga elemen penting di sekolah antara lain para guru, sarana dan prasarana, dan terutama siswa siswi.
Di sekolah, peran guru dalam memfasilitasi peserta didik dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah guru tidak lagi memberikan informasi satu arah seperti ketika ceramah. Guru saat itu menjadi fasilitator, motivator sekaligus tutor. Materi pelajaran yang disampaikan pun tidak hanya berasal dari guru. Guru dapat melibatkan siswa untuk aktif mencari informasi entah itu di perpustakaan, internet, maupun penelitian laboratorium. Dengan demikian, materi ajar pun lebih bervariasi dan pembelajaran menjadi lebih hidup.
Selain materi ajar yang bervariasi, guru dapat melakukan kolaborasi di antara mereka sehingga memperkaya materi dan metode ajar kepada siswa. Diharapkan dengan adanya kolaborasi dengan sesama guru, para siswa pun diajak untuk berkolaborasi ketika menyelesaikan tugas sekolah.
Tujuan dilakukannya kolaborasi agar peserta didik dapat mempelajari hubungan antara satu bidang studi dengan bidang studi lainnya. Karena pada kenyataannya yang dialami di dunia nyata banyak bidang studi yang tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait.
Oleh karena itu, sekolah pun perlu melakukan pembinaan pendidikan untuk peserta didiknya berdasarkan tuntutan zaman siswa di masa depan. Jadi, sejak di bangku sekolah mereka diajarkan untuk mempelajari sesuatu secara holistik dan kerja dalam tim.
Di masa pandemi sekarang, peran guru dalam kelas maya sebagai fasilitator, kolaborator, mentor, pengarah, dan teman belajar siswa. Selain itu, metode pengajaran pun tidak bisa statis seperti pembelajaran tatap muka karena hanya akan meningkatkan stress orang tua dan anak. Guru tidak hanya berkolaborasi dengan sesama guru, tetapi juga dengan orang tua. Sebab, selama pandemi dan belajar dari rumah orang tualah yang mendampingi anak belajar.

Masyarakat
Secara sederhana, masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang yang saling berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Anak dalam pergaulannya di masyarakat tentu banyak berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan orang lain. Interaksi secara langsung anak bermain dengan temannya, sedangkan secara tidak langsung anak melihat kejadian yang terjadi di masyarakat.


Baca Juga: Menakar Kesiapan Pendidikan di Era New Normal

Lingkungan masyarakat adalah laboratorium anak untuk belajar lebih luas lagi. Berbagai macam hal yang dipelajari anak di dalam keluarga dan sekolah mendapat kesempatan untuk mempraktiknya dalam hidup bermasyarakat. Dengan demikian, komitmen masyarakat untuk mendukung anak-anak belajar sangatlah berpengaruh dan menentukan perkembangan kualitas kemanusiaan seseorang.
Salah satu contoh positif di mana lingkungan masyarakat turut mendukung pendidikan anak adalah apa yang dilakukan sekelompok masyarakat di Jogja pada beberapa tahun silam. Mereka bersepakat semua TV di desa itu tidak dinyalakan pada jam belajar anak-anak pada malam hari, mulai pkl 10.00-20.00 WIB. Anak-anak fokus belajar tanpa gangguan apa pun. Bahkan, di rumah yang punya TV dan tidak ada anak yang sedang duduk di bangku sekolah pun ikut menjalankan program tersebut.

Akhirulkalam
Untuk mendidik anak bukan hanya menjadi tugas sekolah atau guru semata, melainkan menjadi tugas keluarga dan masyarakat. Keluarga merupakan komunitas pertama bagi anak untuk belajar. Demikian halnya dengan masyarakat yang merupakan ruang bagi anak untuk mempraktikkan apa yang mereka dapat dalam keluarga dan sekolah. Pengalaman-pengalaman itu sekaligus mencerap apa yang ia dapat di lingkungan masyarakat dan dibawanya serta dalam kehidupan di keluarga dan sekolah.
Keresahan orang tua dalam mendampingi anak belajar selama pembelajaran daring menyadarkan semua pihak bahwa tugas mendidik anak tidak bisa dibebankan kepada guru saja. Keluarga dan masyarakat turut berpengaruh dalam pendidikan anak. Ketiganya saling terkait dan membutuhkan untuk mendidik anak secara holistik dan mendukung berkembangnya pendidikan bagi generasi muda.

Sumber gambar: akupaham.com




Pendidikan Indonesia dan Sisi Positif Corona

                                (Ket: Seorang anak melakukan pembelajaran daring)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menguasai pendidikan. Ketika pendidikan bisa dikuasai, maka perkembangan SDM di negaranya akan dengan mudah diukur. Perkembangan SDM tidak dapat dilakukan tanpa didukung oleh kualitas pendidikan di negaranya.
Oleh karena itu, jika ingin menjadi bangsa yang kuat, maka tingkatkanlah kualitas pendidikannya. Akan tetapi, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang pendidikan kita perlu mengetahui apa saja permasalahan pendidikan di negeri ini.
Kualitas pendidikan yang rendah adalah fakta yang harus kita terima bersama. Untuk itu, presiden Jokowi memilih Nadiem Makarim seorang yang tidak memiliki backround di bidang pendidikan menjadi menteri Pendidikan.
Kita semua tahu sebelum beliau menjadi Menteri Pendidikan dia adalah CEO Gojek, perusahan startup yang sedang berkembang saat ini. Mengapa seorang CEO perusahan startup dipilih menjadi menteri Pendidikan?
Alasannya karena kemampuan beliau dalam mengembangkan perusahan itu. Presiden ingin agar bukan hanya seorang Nadiem Makarim yang bisa berkembang di perusahan strartup, tetapi tetapi lebih banyak lagi manusia Indonesia. Dengan jumlah startup 2.193 buah pada 2019, setelah Amerika Serikat, India, Inggris Raya (United Kingdom), dan Kanada Presiden Jokowi berharap agar mas Menteri mampu membuat aturan yang out of the box untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.


Untuk mewujudkan impiannya itu, maka pendidikan menjadi sektor penting yang harus dikembangkan. Metode dan sistem pendidikan yang dikembangkaan oleh menteri-menteri sebelumnya ternyata belum mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan dan di masa depan. Karena itu, butuh suatu terobosan baru di bidang pendidikan.
Bukan untuk mengatakan bahwa pendidikan kita jelek, tetapi jika diperhatikan secara fair, kita akan mengamini kalau pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 dan dirilis pada Selasa (3/12/2019).
Hasil survei menempatkan Indonesia di urutan ke-72 dari 79 negara. Studi ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak.
Untuk kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, sedangkan peringkat pertama diduduki oleh China dengan skor rata-rata 555.
Posisi kedua ditempati oleh Singapura dengan skor rata-rata 549 dan Makau, China peringkat tiga dengan skor rata-rata 525. Sementara Finlandia yang kerap dijadikan percontohan sistem pendidikan, berada di peringkat 7 dengan skor rata-rata 520.
Lantas, untuk kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Kemudian untuk peringkat satu, masih diduduki China dengan skor rata-rata 591. Lalu untuk kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat 9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Lagi-lagi peringkat satu diduduki China dengan rata-rata skor 590.

Apa Penyebabnya?
Ada beberapa alasan kenapa pendidikan kita bisa terlihat begitu memprihatinkan. Mulai dari kemampuan literasi baik dari para siswa maupun para guru. Memang mempelajari sesuatu yang baru sangat tidak enak. Tetapi, justru di situlah pendidikan kita ditantang.
Kita diajak untuk belajar sehingga keluar dari zona nyaman. Ketika guru maupun para pemberi kebijakan tidak punya keinginan untuk mengembangkan dirinya dengan meningkatkan kemampuan literasi, maka pendidikan kita sedang berjalan di jalan yang salah.
Selain itu masalah lain yang sedang dihadapi adalah orientasi kebijakan politik pendidikan yang masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi. Orientasi kebijakan pendidikan di Indonesia masih cenderung penyeragaman administrasi sistem pendidikan.


Seharusnya orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam mengajar. Kemudian membangun siswa sesuai dengan kodrad manusia secara optimal. Menurut dosen sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal kodrad manusia adalah rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, dan kolaborasi, serta menciptakan sesuatu.
Penilaian PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya Ujian Nasional. Tetapi mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan. Jadi ketika hasil survei PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh disalahkan.
Sebagaimana diketahui PISA mengukur kemampuan literasi siswa. Kemampuan ini bukan sekadar membaca. Tetapi memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual. Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar kritisnya.
Metodologi pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya guru cenderung mengejar aspek administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya. Hasil PISA yang terus menurun, kontras dengan dana pendidikan yang terus meningkat.

Apa yang Harus Dilakukan?
Pandemi Corona seperti membawa angin segar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia secara perlahan-lahan dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Jika sebelum pandemi sekolah menerapkan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran cenderung satu arah, maka di masa pandemi ini semua sekolah di Indonesia menerapkan Pembelajaran Dalam Jaringan.
Jauh sebelum corona merebak di negara kita, banyak pendidik di negeri ini entah guru atau dosen dengan keras menolak gadget digunakan selama jam pelajaran. Bahkan di media masa pun mereka menulis sekolah anti gadget. Dalam praktik sehari-hari pun tidak jarang HP siswa yang kedapatan dibawa ke sekolah dihancurkan oleh pihak sekolah.


Mungkin terdengar cukup aneh ketika terlontar pernyataan bahwa siswa dididik untuk persiapan masa depan mereka. Tetapi cara didik yang dilakukan oleh para pendidik masih mengikuti pola pendidikan zaman revolusi industri. Jika demikian, masih relevankah pernyataan Ali bin Abi Thalib agar "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zamanmu"? 

Bagi saya pernyataan ini akan selalu relevan sepanjang zaman sebab dunia akan terus berubah. Oleh karena itu, metode dan materi pembelajaran pun perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Corona telah “membantu” untuk melakukan transformasi pendidikan di Indonesia. Selama pandemi, sekolah-sekolah terpaksa harus harus melakukan pembelajaran daring. Para guru yang sebelumnya anti gadget dalam pembelajaran terpaksa harus belajar agar bisa tetap mengajar.
Suatu usaha awal yang baik, tetapi pada dasarnya tidak sesuai dengan pedagogi digital (e-pedagogy). Sebab, konten sudah tidak penting lagi karena dengan adanya internet betapa mudahnya mendapatkan konten untuk dipelajari dan sebagian besar gratis.
Fokus pendidikan era 4.0 bukan lagi apa yang dipelajari (what to learn), melainkan bagaimana caranya belajar (how to learn). Di sinilah pentingnya posisi seorang pendidik karena mereka harus membimbing peserta didik agar memahami caranya belajar termasuk belajar dengan memanfaatkan internet.
Perkembangan dan penyebaran Covid-19 adalah musibah bagi umat manusia. Akan tetapi, di balik itu ternyata ada dampak positif bagi dunia pendidikan Indonesia. Proses pembelajaran di lembaga pendidikan di Tanah Air akan menjadi lebih modern, karena dipaksa untuk melakukan kegiatan belajar mengajar dalam jaringan dan memanfaatkan gawai. Karena itu, kita pun melihat banyak guru yang terpaksa belajar konsep e-pedagogy, semua karena the power of kepepet. Inilah negara “+62”. Ketika keadaan kepepet, maka saat itulah baru akan belajar.

STEAM Sebagai Dasar Pendidikan di Masa New Normal

                       Ket: Model Pembelajaran abad-21

Kita mungkin masih asing dengan istilah STEAM (science, technology, engineering, art, and mathematich) yang akhir-akhir ini sering disampaikan oleh mendikbud Nadiem Makarim. STEAM adalah metode pembelajaran berbasis teknologi yang dikolaborasikan dengan sains, matematika, seni dan rekayasa. Pendidikan berbasis STEAM menjadi penting karena mampu menjawab tantangan di masa depan.
Manusia zaman batu belajar dengan melukis di dinding gua menggunakan batu. Manusia era pertanian belajar menulis di atas kertas yang terbuat dari kulit hewan atau daun-daunan seperti papirus. Manusia era manufaktur belajar menggunakan kertas yang terbuat dari kayu. Di situlah segala sesuatu ditulis dan kemudian menjadi arsip yang masih dipakai hingga sekarang.
Bagaimana dengan manusia yang hidup di zaman yang sering disebut era digital? "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka bukan hidup di zamanmu." Demikian nasihat yang disampaikan Ali bin Abi Thalib.

Baca Juga:Melakukan Revolusi Pendidikan 

Nasihat yang baik dan sangat logis ini mendorong kebutuhan untuk memordenisasi sistem pembelajaran kita. Kita tidak bisa menggunakan sistem dan metode pendidikan zaman manufaktur untuk diterapkan di era digital. Karena itu, sistem pendidikan perlu diubah dan disesuaikan dengan zamannya.
Mulai tahun ajaran baru 2019/2020 ini, anak-anak Indonesia akan dikenalkan dengan mata pelajaran baru dengan nama Informatika. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 35, 36, dan 37 tahun 2018 yang ditandatangani di penghujung tahun 2018 yang lalu oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Indonesia telah mengikuti langkah progresif negara-negara lain yang telah lebih dahulu menerapkan mata pelajaran ini dalam kurikulum nasional mereka.
Mata pelajaran Informatika yang dikembangkan adalah pelajaran yang berbasis STEAM. Kenapa harus berbasis STEAM? Karena metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. 
Proses pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarier.
Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap menghadapi persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, art and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan keseharian kita.
Keempat bidang itu, saling terkait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah. Jadi, seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal keempatnya penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.

Persiapan Menghadapi New Normal
Terhitung sejak Maret sebagian besar sekolah-sekolah mengadakan pembelajaran dalam jaringan. Karena itu, sekolah-sekolah melakukan banyak persiapan dalam rangka memasuki tahun ajaran baru. 
Berkaca pada pengalaman pembelajaran dalam jaringan selama tiga bulan terakhir yang ternyata mengalami banyak kendala dan kekurangan, maka di tahun ajaran baru nanti pembelajaran dalam jaringan diharapkan lebih baik lagi.

Baca Juga: STEAM Sebagai Dasar Pendidikan Masa Depan

Menyikapi masalah dan persiapan pembelajaran selama new normal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) telah meluncurkan Seri Webinar Guru Belajar dengan Tema “Adaptasi Pembelajaran Masa Pandemi”.  
“Memasuki tahun ajaran baru, kita harus bersiap untuk menyiapkan seluruh kondisi sebaik mungkin, sehingga kita siap mendampingi seluruh peserta didik kita menyambut tahun ajaran baru yang akan datang,” ungkap Nunuk pada peluncuran webinar tersebut, Senin (29/6/2020) sebagaimana disampaikan dalam beritasatu.com.
Dalam menghadapi tahun ajaran baru di era new normal saya menemukan beberapa poin penting yang sebaiknya disiapkan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) secara daring (dalam jaringan).
Pertama, infrastruktur. Artinya, peralatan apa yang dipakai sekolah saat ini untuk pembelajaran jarak jauh. Apalagi di tahun ajaran baru PJJ dalam jaringan masih tetap diberlakukan. 

Oleh karena itu, infrasruktur yang digunakan oleh sekolah dan siswa harus sama. Jangan sampai lembaga pendidikan kurang informasi terkait infrastruktur yang digunakan oleh siswa dalam pembelajaran.
Poin penting kedua adalah infostruktur. Maksud dari infostruktur adalah aplikasi atau platform apa yang digunakan untuk proses PJJ dalam jaringan. Dengan keadaan seperti sekarang ini, maka aplikasi yang digunakan harus mampu memenuhi kebutuhan belajar siswa. Selain itu platform yang digunakan untuk siswa dan guru sebaiknya satu dan sama agar tidak membingungkan siswa.
Infostruktur juga menyangkut learning management system (LMS) yang sebaiknya dimiliki setiap satuan pendidikan. Namun, bagi sekolah yang belum mampu memilikinya dapat menggunakan Rumah Belajar milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dengan LMS kita dapat menjalankan pembelajaran yang asinkrosnis. Maksudnya adalah pembelajaran itu tidak harus dilakukan pada waktu yang sama, pada tempat yang sama, dan melakukan hal yang sama. Jadi, siswa diberi kesempatan untuk membuat project dengan melakukan kolaborasi beberapa mata pelajaran.

Baca Juga: Akankah Coronavirus Mengubah Pengalaman Belajar Tatap Muka?

Ketiga, infokultur. Maksud dari infokultur PJJ daring memiliki prinsip any time, any where, dan any device. Any time adalah setiap siswa tidak harus belajar pada waktu yang sama dan mengerjakan hal yang sama. Any where adalah siswa dapat belajar di mana saja asal terkoneksi internet. 

Sedangkan, any device maksudnya media yang digunakan sebaiknya multifungsi. Dalam pedagogi konvensional disebutkan media tersebut berfungsi menerima informasi seperti buku, TV maupun materi multimedia.
Konsep ini tentunya berbeda dengan pedagogis konvensional karena dalam pedagogis konvensional hanya mengenal sinkronis learning, sedangkan di sini akan menggunakan asinkronis learning. Hal itu yang harus kita pahami dalam PJJ daring di tahun ajaran baru nanti.
Poin-poin yang disampaikan di atas merupakan pengejawantahan dari STEAM. Di era Industri 4.0 ini kebutuhan akan para inovator dan kreator menempati urutan utama. 

Untuk itu kurikulum harus disesuaikan menjadi seperti berikut: Penguatan kemampuan calistung sebagai pondasi pembelajaran Pendidikan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art Mathematic). Selain itu, pemanfaat teknologi secara optimal dalam pembelajaran Kompetensi inti; penalaran tingkat tinggi, serta kemampuan 4K (Komunikasi, Kolaborasi, Kritis dan Kreatif).


Sumber gambar: https://www.kompasiana.com/

Melakukan Revolusi Pendidikan

             (Ket: Meningkatkan kualitas pendidikan melalui literasi)

Gavin Alexander Williamson CBE MP adalah politisi Konservatif Inggris yang menjabat sebagai Sekretaris Negara untuk Pendidikan sejak 2019 menyadari setidaknya satu hal dalam pidatonya di mana ia menjanjikan revolusi di sektor pendidikan. "Banyak sekretaris pendidikan selama bertahun-tahun mengatakan mereka ingin mendukung pendidikan lebih lanjut," katanya dalam pidato virtual. "Saya tahu beberapa dari Anda akan merasa Anda pernah mendengar semua ini sebelumnya."
Siapa pun yang mendengarkan pidato Williamson akan memiliki perasaan deja vu, dari ratapan untuk "50% orang muda Inggris dilupakan." Mereka adalah orang-orang yang tidak masuk bisa masuk ke jenjang pendidikan tinggi, bahkan keinginan untuk mengenyam pendidikan kejuruan seperti SMK masih mengalami kesulitan.


Meskipun nada yang lebih mengancam ditujukan pada pendidikan tinggi, terutama universitas di Inggris, karena entah terlalu populer meskipun juga mahal sayangnya kurang memadai. Tetapi, hal itu merupakan kesalahan Tony Blair dan janji pendidikan tingginya yang 50%, daripada siapa pun yang berkuasa di Inggris selama 10 tahun terakhir.
Beberapa waktu sebelumnya serangan pertama datang dari Michelle Donelan, menteri untuk universitas. “Sejujurnya, anak muda kita telah dimanfaatkan, terutama mereka yang tidak memiliki sejarah keluarga yang kuliah. Alih-alih membantu mereka keluar dari keterpurukan, beberapa orang malah dibiarkan untuk berhutang investasi yang tidak menghasilkan apa-apa. ”Pendidikan yang seharusnya membantu untuk meningkatkan kualitas hidup malah pada akhirnya meninggalkan hutang.
Kemudian Williamson melangkah lebih jauh. Dalam pidatonya - preview buku putih untuk Departemen Pendidikan tentang pendidikan pasca sekolah yang akan diterbitkan pada musim gugur dan dirancang untuk meningkatkan pendidikan lebih lanjut - target utamanya tampaknya adalah universitas. Suatu rencana "untuk menangani pendidikan tinggi yang berkualitas rendah" entah bagaimana dimasukkan antara pembicaraan tentang pungutan untuk membangun kembali perguruan tinggi.
"Sudah terlalu lama kami melatih orang untuk pekerjaan yang tidak ada," kata Williamson, tanpa menyebut nama pekerjaan yang tidak ada. Mungkin dia cemas akan masa depan pendidikan di dunia. Mungkin Williamson belum menyadari bahwa banyak pekerjaan yang saat ini hits, di masa depan mungkin akan digantikan oleh robot. 
Untuk memperbaiki kualitas pendidikan, perlu keberanian untuk melakukan revolusi besar-besaran. Pendidikan tidak akan bergerak maju, jika pelaku dan pengambil kebijakan tidak berani keluar dari zona nyaman atau tidak menawarkan program yang berkualitas.


Kalimat dalam pidato Williamson dapat didengar kata-kata penasihat Downing St. seperti Alison Wolf, yang telah lama mengeluh tentang kompleksitas pendidikan kejuruan di Inggris. Karenanya, ia menyebutkan "kualifikasi yang tidak diambil oleh siapa pun, atau yang berkualitas buruk," dihapuskan.
Suara lain datang dari Nick Timothy, penasihat khusus Theresa May yang bernasib buruk di Home Office. Setelah gagal terpilih sebagai anggota parlemen tahun lalu, Timothy dijanjikan sebagai direktur non-eksekutif dari Departemen Pendidikan. Tegas anggota brigade "lebih berarti lebih buruk", pandangan Timothy dikonfirmasi ketika ia menemukan bahwa tukang cukurnya memiliki gelar sarjana dalam bidang studi sepak bola.
Tetapi Williamson tampaknya memiliki rencana untuk pendidikan lebih lanjut, selain dari bashing universitas. Dalam pidatonya, dia berulang kali mengatakan bahwa perguruan tinggi Inggris harus dipimpin oleh dan disesuaikan dengan komunitas lokal mereka. Tentu saja agar pendidikan (kurikulum atau cetak biru sekolah) itu mampu menyesuaikan diri dengan kekayaan lokal dan yang menjadi kekhasan daerah itu.


Rupanya masalah pendidikan bukan hanya dialami oleh Indonesia atau negara-negara berkembang lainnya. Inggris sebagai salah satu negara dengan tradisi pendidikan yang luar biasa ternyata masih mengalami masalah seperti ini. Jika demikian, mungkin pasca corona virus dunia pendidikan perlu melakukan revolusi besar-besaran. 
Williamson sendiri mengakui bahwa ketika dia awal-awal menjadi sekretaris pendidikan, dia terkejut melihat seberapa jauh angka pendidikan orang dewasa telah jatuh. Pendidikan yang diidam-idamkannya ternyata tidak banyak bergerak maju. Malah yang ditemukan di lapangan, biaya pendidikan semakin mahal tetapi tidak dibarengi dengan kualitas yang ditawarkan. Alhasil, investasi orang tua untuk pendidikan anak terasa nihil.

Tulisan ini diinspirasi dari tulisan di https://www.theguardian.com/politics/2020/jul/09/what-kind-of-revolution-can-follow-the-tories-education-crisis


[Resensi Buku] Sejarah Singkat Riwayat Hidup Umat Manusia [2]

                          (Ket: Buku Homo Sapiens)


Judul Buku             : Sapiens -- Riwayat Singkat Umat Manusia
Penulis                   : Yuval Noah Harari
Tahun Terbit           : 2014
Penerbit                 : Kepustakaan Populer Gramedia
Diterjemahkan pada: 2017
Jumlah Hal             : 525 hal

Yuval Noah Harari memulai tulisannya tentang sejarah umat manusia dalam bukunya berjudul Sapiens dengan pembahasan tentang persaingan antara ras homo sapiens dengan jenis ras homo (homo: manusia) lainnya. 
Harari berusaha merekonstrusi istilah homo dengan sapiens. Homo adalah terminologi yang lebih umum untuk menyebut semua jenis manusia, termasuk homo sapiens, neanderthal, erectus dan lain-lain.


Saat ini memang ras manusia yang lain seperti neanderthal dan erectus sudah tidak ada, akan tetapi menurut Harari kita tidak bisa mengklaim bahwa manusia sapiens satu-satunya jenis manusia yang ada di dunia. Ribuan tahun yang lalu jenis menusia juga pernah hidup di planet ini.
Sapiens adalah jenis yang tersisa di dunia dan telah berevolusi dari rantai makanan terendah hingga berada di puncak rantai makanan dan pada akhirnya mengubah arah kehidupan dunia.

Domestikasi Gandum dan Kesalahan Besar Sejarah Agrikultur
Harari menyatakan bahwa kita pada dasarnya telah dibohongi oleh sebuah dongeng tentang revolusi agrikultur sebagai salah satu keberhasilan manusia. Menurut Harari dongeng itu justru merupakan sebuah pembohongan besar terhadap sejarah umat manusia. 
Sejak 9500 sampai 8500 SM, sapiens telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan transisi kehidupan dari berburu dan mengumpulkan makan ke pola kehidupan pertanian.
Domestifikasi gandum yang kemudian menyebabkan perubahan pola kehidupan sapiens ke arah agrikultur menyebabkan ketergantungan sapiens terhadap tumbuh-tumbuhan tersebut. Menurut Harari justru hal ini yang lebih sulit dibanding model kehidupan berburu dan berpindah-pindah dengan mengumpulkan makanan karena model berburu tidak menjadikan sapiens terikat di satu tempat.
Berbeda dengan model kehidupan agrikultur yang mengharuskan sapiens untuk menetap dan terikat pada iklim serta alam di mana tanaman agrikultur tersebut bisa tumbuh. 
Artinya, pada era agrikultur bukan sapiens yang mendomestifikasi gandum dan tanaman agrikultur lainnya, melainkan tanaman-tanaman tersebut telah mendomestifikasi sapiens


Sapiens kemudian menetap untuk mengurusi seluruh keperluan gandum. Gandum yang awalnya hanya sebatas rumput liar di wilayah Timur Tengah, akhirnya menjadi tanaman yang tersebar hampir di seluruh dunia. 
Gandum yang mendomistifikasi sapiens kemudian menyebabkan berhentinya pola hidup sapiens yang berpindah-pindah. Mereka kemudian menetap dan membentuk masyarakat, hukum dan ekonomi untuk saling melindungi kehidupannya yang semakin terbatas.
Menurut Harari, revolusi agrikultur adalah titik balik di mana sapiens membuang keintimannya dengan alam dan beralih menuju alienasi serta ketamakan. Konsep perladangan membuat populasi meningkat drastis dan kehidupan menjadi semakin kompleks. Sebab tidak memungkinkan lagi bagi masyarakat agraris untuk kembali ke model kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan.

Cikal Bakal Sistem Negara
Konsep politik awal pun berkembang berdasarkan konsekuensi dari agrikultur. Perladangan menuntut sapiens harus mengembangkan rasa aman untuk menjaga ladang dan hasilnya. 
Kebutuhan akan rasa aman ini kemudian dikerjakan oleh mereka yang tidak mendapatkan area untuk menanam atau tidak punya lahan ladang. Mereka mendapatkan pembagian hasil ladang sebagai upahnya untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. 
Pola ini adalah dasar dari semua konsep kehidupan bernegara saat ini. Ada proses transaksi simbiosis bahwa orang-orang yang bertugas untuk mengatur masyarakat berhak mendapatkan upah dari hasil kerjanya melindungi masyarakat. Mereka awalnya dibiayai oleh hasil bumi yang surplus dari hasil kerja masyarakat.
Akan tetapi, surplus-surplus tersebut serta perkembangan teknologi transportasi menyebabkan semakin banyaknya orang-orang bisa dengan leluasa untuk berinteraksi membuka jaringan-jaringan kerja sama baru. 


Kalau dalam model kehidupan berpindah-pindah sapiens hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang semuanya pasti saling mengenal. Dengan demikian, pola kehidupan agraris memungkinkan sapiens untuk hidup dengan orang-orang yang tidak dikenal dalam jumlah yang jauh lebih besar. 
Menurut Harari, hal ini dimungkinkan karena jaringan-jaringan yang menghubungkan kerja sama antara sapiens yang tidak saling kenal dilandasi pada adanya kesamaan kebutuhan. Mereka membutuhkan rasa aman dari berbagai ancaman yang datang dari luar entah ancaman dari binatang buas atau pun sesama sapiens

Sejarah Tidak Pernah Adil
Namun, sekali lagi sejarah perkembangan manusia adalah sejarah tentang ketidakadilan. Pembentukan masyarakat pada era agrikultur bukanlah tentang keadilan pembagian hasil kerja. Bukan pula tentang hasil bumi yang kadang buntung. 
Akan tetapi, hal tersebut justru lebih mengarah pada terciptanya dominasi dan kelas-kelas sosial tertentu. Dari sini kemudian muncul hierarki dalam tatanan masyarakat. Hal itu disebabkan adanya persepsi akan hak-hak istimewa kelompok tertentu berkat penciptaan mitos-mitos sebagai pengikat utama sebuah sistem masyarakat.
Sapiens mulai mengenal konsep budak sebagai konsekuensi dari dominasi kelompok tertentu atas kelompok yang lain. Dominasi itu pun lahir atas imajinasi akan adanya hak-hak tertentu yang lebih mulia kelompok yang satu atas kelompok yang lain. Meski pun dalam aspek biologis hal tersebut tidak memiliki rujukan apa pun.

Hierarki imajinatif itu akhirnya berkembang menjadi sebuah lingkaran setan bagi golongan tertentu. Pada akhirnya menjadi hukum umum yang membawa evolusi sapiens bergerak ke tahap selanjutnya yaitu penciptaan imperium atau kerajaan.

Sumber gambar: berdikaribook.red

[Resensi Buku] Sejarah Singkat Riwayat Hidup Umat Manusia [1]


                                                 (Ket: Cover buku Homo Sapiens)

Judul Buku             : Sapiens -- Riwayat Singkat Umat Manusia
Penulis                   : Yuval Noah Harari
Tahun Terbit           : 2014
Penerbit                 : Kepustakaan Populer Gramedia
Diterjemahkan pada: 2017
Jumlah Hal             : 525 hal


Yuval Noah Harari memulai tulisannya tentang sejarah umat manusia dalam bukunya berjudul Sapiens dengan pembahasan tentang persaingan antara ras homo sapiens dengan jenis ras homo (homo: manusia) lainnya. 

Harari berusaha merekonstrusi istilah homo dengan sapiens. Homo adalah terminologi yang lebih umum untuk menyebut semua jenis manusia, termasuk homo sapiens, neanderthal, erectus dan lain-lain.

Saat ini memang ras manusia yang lain seperti neanderthal dan erectus sudah tidak ada, tetapi menurut Harari kita tidak bisa mengklaim bahwa manusia sapiens satu-satunya jenis manusia yang ada di dunia. Sapiens adalah jenis yang tersisa di dunia dan telah berevolusi dari rantai makanan terendah hingga berada di puncak rantai makanan dan pada akhirnya mengubah arah kehidupan dunia. 

Baca Juga: [Resensi Buku] Memahami Pemikiran Filsafat Politik dan Hukum Thomas Aquinas


Ada dua teori yang dibahas oleh Harari dalam buku ini yang menjelaskan tentang alasan mengapa yang tersisa sekarang hanyalah sapiens dan manusia-manusia genus lain punah. Pertama, teori penggantian yang menyatakan bahwa sapiens menggantikan semua ras manusia sebelumnya tanpa campur tangan apapun. 

Kedua, yaitu teori perkawinan silang di antara sapiens dengan ras manusia yang lain sehingga terjadi percampuran dan menghasilkan jenis manusia berbeda dan pada akhirnya terpisah karena seleksi alam. 

Lalu pertanyaannya adalah, mengapa ras manusia lain punah? Di sini Harari memberikan sebuah perspektif menarik. Dijelaskan bahwa ketika terjadi jalur evolusi dari berbagai jenis ras manusia, ras-ras manusia terpisah dan berjalan masing-masing. Kemungkinan terjadi sebuah proses genosida besar-besaran di mana sapiens membantai seluruh ras manusia lainnya. 

Bagi Harari, motif yang memungkinkan terjadinya pembantaian ini karena terjadi perebutan sumber makanan. Harari menyatakan bahwa toleransi bukanlah karakter khas dari sapiens. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan sekarang dimana perbedaan kecil seperti warna kulit, agama, atau suku sudah cukup untuk menjadi pemicu sekelompok sapiens mengenyahkan kelompok sapiens lainnya.  

Baca Juga: [Resensi Buku] Absurditas dalam Novel Sampar


Sapiens adalah ras manusia yang paling maju dari segi pemikiran dan sumber daya. Faktor inilah yang kemudian membuat sapiens dapat dengan mudah memusnahkan ras manusia yang lain ketika mereka mulai menyebar ke seluruh daratan di seluruh dunia. Evolusi dan seleksi alam memampukan sapiens memusnahkan ras-ras manusia lainnya dalam rangka merebut sumber makanan dan bertahan hidup.


Mutasi Pohon Pengetahuan

Kemampuan kognitif sapiens juga akhirnya membuat mereka mampu berpikir dengan cara yang belum ada sebelumnya. Termasuk penciptaan bahasa untuk mengkomunikasikan ide dan isi kepala mereka sebagai sebuah pintu masuk ke dunia yang lebih baru dan maju. 

Bahasa sapiens adalah bahasa yang sangat luwes menurut Harari, karena mampu menghubungkan sejumlah keterbatasan bunyi dan tanda sehingga menghasilkan kata dan kalimat dalam jumlah yang tak terbatas dan masing-masing memiliki makna berbeda. Hal ini yang membuat sapiens mulai bergerak naik mengungguli ras-ras manusia lainnya.

Bahasa sapiens adalah suatu yang unik karena selain dapat mengkomunikasikan hal-hal yang luar biasa kompleks, kompleksitas informasi yang dapat ditransfer melalui bahasa yang menyebabkan revolusi kognitif sapiens berkembang lebih cepat. Termasuk melalui munculnya gagasan tentang seni, agama dan adat istiadat serta ritual akibat berkembangnya cara berpikir manusia. Hal-hal tersebut tentu saja tidak bisa tersebar luas tanpa bahasa yang mumpuni. 

Selain itu, menurut Harari agama pun lahir karena bahasa. Kompleksitas bahasa dan informasi yang kemudian bisa hadir dan mengupgrade cara berpikir sapiens membuat mereka mudah melakukan proses pertukaran informasi dan membentuk keyakinan mereka. 

Sebagai contoh, bisa saja awalnya sapiens hanya menyatakan ada singa yang siap menerkam kelompok mereka. Namun, berkat perkembangan bahasa informasi yang disampaikan bisa lebih detail. Misalnya, singa itu ada di posisi mana, jam berapa dia biasanya berkeliaran di sekitar mereka dan detail-detail lainnya. Berkat kemampuan itu, akhirnya bisa membuat mereka tidak hanya berpikir untuk menghindar tetapi juga cara untuk mengantisipasi dan berlindung.


Baca Juga:[Resensi Buku] Søren Aabye Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri


Perkembangannya kemudian mengarah ke arah terbentuknya struktur kehidupan yang sederhana. Di era pra agrikultur, sebelum manusia melakukan kesalahan besar yaitu mendomestifikasi gandum, pola-pola kehidupan bersama dilakukan dengan skala kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari puluhan dan paling banyak ratusan orang.

Mereka hidup berpindah-pindah dan menjelajah untuk mencari kehidupan dengan cara yang oportunistik. Di era ini menurut Harari sapiens melakukan dua hal utama yaitu berburu dan mengumpulkan makanan. 

Sapiens hidup dalam kelompok-kelompok penjelajah dan mendomestifikasi tidak hanya makanan namun juga binatang. Anjing adalah contoh hewan yang pertama kali didomestifikasi oleh sapiens.

Pola kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan ini pula yang kemudian membuat interaksi sapiens dengan alam semakin intim. Muncul kesadaran untuk melestarikan alam yang lahir dari kesadarannya bahwa mereka bergantung pada alam agar alam tetap menyediakan makanan untuk mereka. 

Maka bagi Harari, sapiens kemudian menyusun norma-norma tentang yang mengatur interaksi antara sapiens dengan alam. Para ahli pun sepakat bahwa kepercayaan animisme adalah kepercayaan yang mulai berkembang di masyarakat penjelajah. 

Bersambung......

Sumber gambar: berdikaribook.red