Menu

Covid-19: Penderitaan yang Melahirkan Harapan



Pengantar
Di manakah Allah saat ini? Apakah Allah yang menciptakan bencana ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bermunculan tatkala penderitaan merundung kehidupan manusia. Sebuah konsep yang menyalahkan eksistensi Allah tatkala penderitaan yang dihadapi tidak memiliki jalan keluar. Semakin besar penderitaannya, semakin banyak manusia yang menyebut nama Allah, entah untuk penguatan, atau pun dalam kemarahan.[1] Mereka menyebut Allah untuk sebuah pertolongan atau pun untuk menyalahkan atas situasi yang dialami.
Situasi serupa mungkin dihadapi oleh sebagian manusia yang hidup pada masa Covid-19 melanda dunia. Sekadar informasi tentang Covid-19, Covid-19 merupakan sebuah Virus yang berasal dari sebuah kota China, yaitu Wuhan. Virus ini dapat dengan mudah menyebar ke tubuh manusia. Kematian seolah-olah menjadi sebuah candaan yang dapat dengan mudah direnggutnya.
Kehadiran virus ini telah menimbulkan ketakutan, keresahan, dan kecemasan bagi banyak orang. Berhadapan dengan situasi seperti ini, tatkala manusia tidak menemukan jalan keluarnya, banyak di antara mereka mempertanyakan eksistensi Allah. Jargon-jargon yang disematkan pada diri Allah seperti Maha baik, Maha pengasih, Maha pengampun dan lain-lain seketika hilang. Eksistensi Allah pun terus dipertanyakan. Tentang Allah, manusia bertanya, bahkan menuntut: Apakah Allah ada? Jika Ia ada, mengapa Ia tega membiarkan tragedi ini menimpa manusia?[2]
 Benarkah Allah menciptakan bencana ini? Untuk menjawab itu, mungkin perlu melihat kembali perkataan tokoh klasik, yaitu santo Agustinus. Agustinus mengatakan, penderitaan dan kejahatan yang ada di dunia ini tidak boleh pernah diterangkan sebagai yang berasal dari Allah, karena itu bertentangan dengan hakikat Allah sebagai yang maha baik.[3] 


Allah pada hakikatnya adalah pribadi yang baik. Penderitaan yang menimpa manusia pada saat ini berasal dari kebebasan yang dimiliki manusia. Kebebasan membuat manusia mampu melakukan apa pun sesuai dengan kemampuannya, bahkan menciptakan kejahatan dan penderitaan. Penderitaan dan kejahatan di dunia ini disebabkan oleh manusia yang salah menggunakan kebebasannya.[4] Allah tidak pernah menciptakan penderitaan karena Allah adalah kasih.

Allah  yang  Mahabaik
Allah pada hakikat adalah pribadi yang baik. Mungkin banyak di antara kita yang mempertanyakan, apakah Allah benar-benar baik? Jika Allah itu sungguh baik, mengapa Ia menciptakan bencana? Allah tidak pernah menciptakan penderitaan dan bencana.
Allah menciptakan hukum alam yang ketika dilanggar mendapat hukum karma. Ia menciptakan kebebasan kepada manusia untuk berkuasa atas ciptaan yang lain. Namun, manusia dituntut untuk bertanggung jawab terhadap ciptaan lain. Di lain pihak, manusia tidak dapat menyangkal bahwa ia ciptaan yang lemah, dan betapa sering ia tak setia pada komitmen merawat bumi serta solider dengan sesama.[5] 
Ciptaan-Nya mencerminkan wajah Allah. Dalam kosa kata santo Bonaventura, di balik alam semesta tersembunyi rasio kekal yang mengatur, yaitu kebijaksanaan Allah.[6] Namun, banyak manusia juga berpendapat bahwa bencana dan penderitaan merupakan peringatan dari Allah.
Frankil Graham putra penginjil Billy Graham pernah mengatakan “'Tuhan akan menggunakan badai itu untuk membawa bangunan rohani. Tuhan punya rencana, Tuhan memiliki tujuan.''[7] Hal ini ia ungkapkan seminggu setelah badai Kartrina melanda Amerika Serikat, seminggu setelah New Orleands dilanda banjir dan membunuh banyak orang di Amerika Serikat. 

Lalu, terkait situasi Covid-19, apakah kehadiran virus itu merupakan ciptaan Allah? Tidak, Allah tidak pernah menciptakan penderitaan. Seperti yang St. Agustinus katakan, kebebasan yang dimiliki manusia justru menciptakan hadirnya penderitaan. Namun, bagaimana dengan kebebasan yang dimiliki manusia, apakah kebebasan itu berasal dari Allah? Karena ketika kebebasan itu berasal dari Allah, dengan sendirinya Allah bertanggung jawab atas penderitaan tersebut. Inilah problem yang kita hadapi pada saat ini. Pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi Allah bermunculan tatkala penderitaan berhadapan dengan situasi batas serta buntunya jawaban atas penderitaan tersebut.


Sejarah pun telah membuktikan kebaikan hati Allah. Dalam kitab Keluaran dikisahkan campur tangan Allah atas kehidupan bangsa Isreal. Allah menuntun bangsa Israel melalui Musa untuk keluar dari Mesir dan menuju tanah terjanji. Kebaikan diri Allah pun nyata terwujud dalam diri Putra-Nya Yesus Kristus. Yesus telah menderita untuk keselamatan manusia. Yesus mengorbankan diri untuk menghapus dosa manusia.

Salah satu metafora utama untuk menjelaskan makna kematian Kristus adalah korban atau lebih tepat korban penghapus dosa.[8] Allah telah mengutus putra-Nya untuk menghapus dosa manusia melalui penderitaan-Nya di salib. Yesus bangkit dari kematian dan mengalahkan maut dosa. Manusia pun demikian, manusia pun akan dibangkitkan bersama Kristus. Penderitaan dan kebangkitan Kristus inilah yang perlu kita refleksikan dalam menghadapi situasi manusia zaman ini, secara khusus dalam menghadapi situasi Covid-19.

Penderitaan dan Kebangkitan Kristus: Refleksi atas Covid-19
Situasi Covid-19 telah menimbulkan ketakutan dalam diri manusia, takut terkena virus lalu meninggal dunia. Bukan hanya itu, efek lain dari kehadiran virus ini berdampak pula pada tatanan ekonomi, sosial, dan politik. Kecemasan yang berlebihan pun mulai muncul, penyakit-penyakit yang memiliki indikasi seperti Covid-19 akan dicurigai, ketika bersin atau flu biasa pun diindikasikan gejala terserang Covid-19. Para kriminal melancarkan aksi dengan alasan di-PHK dari kantor.
Semua orang menggunakan segala cara agar dapat bertahan hidup, kematian sesuatu yang sangat ditakutkan. Namun, ketika  kita merefleksikan salib dan Kebangkitan Kristus, kita tidak perlu cemas dan takut akan kematian itu, karena kita yakin dan percaya bahwa kita pun akan diselamatkan oleh Kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus melahirkan pengharapan yang besar. Demikian pun dalam situasi saat ini, keyakinan umat beriman akan kebangkitan Kristus menguatkan mereka dalam menghadapi Covid-19.
Melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah membuktikan diri-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan. Ia manusia sekaligus Allah. Kebangkitan yang menjadi momen mengungkapkan jati diri Yesus.[9] Melalui kebangkitan-Nya pula, Yesus memberi pengharapan kepada umat beriman sebuah keselamatan kekal.
Kebangkitan Kristus juga merupakan wujud nyata kebaikan hati Allah kepada manusia. Allah menyerahkan Putra-Nya untuk menderita, disalib, wafat, dan bangkit demi dosa dan keselamatan manusia. Kebangkitan Kristus adalah satu-satunya harapan umat manusia pada saat ini.


Di tengah masalah Covid-19 yang belum menemukan jalan akhir, penawar Covid-19 yang belum ditemukan, rusaknya tatanan ekonomi, sosial, dan politik, serta banyak manusia yang meninggal, tentunya harapan kita ada pada keselamatan yang Yesus tawarkan. Bagi seorang Kristen, sumber dari harapan manusia ialah Yesus Kristus.[10] Yesus adalah kebangkitan yang membawa keselamatan. Ia telah bangkit dari maut, demikian pun umat-Nya akan di bangkitkan bersama-Nya.

Penutup
Situasi Covid-19 telah menimbulkan keresahan bagi manusia pada saat ini. Covid-19 telah menimbulkan kecemasan dan ketakutan, ketakutan terbesar adalah terkena virus lalu meninggal. Untuk itu, semua manusia berusaha semampu mereka untuk dapat bertahan hidup. Kehidupan akibat Covid-19 ini seperti seorang pujangga yang berpetualang di hutan sendirian dan kapan saja hidupnya dapat direnggut oleh binatang buas.
Setiap orang memikirkan bagaimana cara agar dapat bertahan hidup di tengah pandemi ini. Namun di balik semua itu, mereka memiliki harapan besar agar masalah ini dapat selesai. Satu-satunya harapan manusia pada saat ini ada pada campur tangan Allah. Sebab hingga saat, pengetahuan sains belum menemukan penawar dari Covid-19. Allah adalah pengharapan satu-satunya. [Apri Lowa]



DAFTAR PUSAKA

Sunarko, Adrianus. Teologi Kontekstual. Jakarta: OBOR, 2016.
..........., Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik. Jakarta: OBOR, 2017.
Stern, Gary. Can God Intervene?: How Religiom Explains Natural Disaster. London: Praeger, 2007.
Andreas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/.

Sumber gambar 1: localprayers.com
Sumber gambar 2: teepublic.com



[1] Gary Stern, Can God Intervene?: How Religion Explains Natural Disaster, (London: Praeger, 2007), hal. 2.
[2] Bdk. Andreas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.
[3] Adrianus Sunarko, Teologi Kontekstual, (Jakarta: OBOR, 2016), hal. 55.
[4] Adrianus Sunarko, Teologi Kontekstual, hal. 56.
[5] Bdk. Andeas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.
[6] Andreas B. Atawolo, Hasrat Allah akan Jiwa Manusia: Belajar dari Teknologi St. Bonaventura, (Jakarta: OBOR, 2017), hal. 25.
[7] Gary Stern, Can God Intervene?: How Religiom Explains Natural Disaster, (London: Praeger, 2007), hal. 6.
[8] Adrianus Sunarko, Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik, (Jakarta: OBOR, 2017), hal. 13.
[9] Adrianus Sunarko, Kristologi: Tinjauan Historis-Sistematik. hal. 10.
[10] Bdk. Andeas Atawolo, “Corak Harapan Kristiani”, dalam https://andreatawolo.id/2020/04/teologi-harapam/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2020, pukul 20:35.


[Resensi Buku] Søren Aabye Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri



Judul              : Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Penulis            : Thomas Hidya Tjaya
Penerbit          : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan          : III, April 2018
Tebal              : xviii + 178 hlm

Buku Kierkegaard dan pergulatan menjadi diri sendiri merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Thomas Hidya Tjaya. Buku ini ditulis atas kebutuhan penulis untuk mempersiapkan bahan kuliah seminar filsafat eksistensialisme pada semester genap tahun 2004 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Berkaitan dengan aliran tersebut, pokok pembahasannya dimulai dengan Kierkegaard filsuf eksistensial pertama dan kritiknya terhadap Hegel. Kritik ini memberi warna baru bagi perkembangan filsafat modern dan mengundang orang untuk memikirkan eksistensinya sebagai manusia.
Sebelum membahas lebih jauh isi buku ini, akan diperkenalkan riwayat hidup Kieregaard. Kierkegaard lahir pada 5 Mei 1813 di Kopenhagen, Denmark. Dia anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah Michael Pedersen Kierkegaard dan ibunya Ane Sorensdatter Lund. Kierkegaard adalah pribadi yang tegas, pendiam, dan serius dalam beragama
Dia juga dikenal sebagai anak yang pintar dan cerdas. Selain itu, Kierkegaard kecil dikenal sebagai orang yang memiliki punuk di punggungnya dan kedua kaki tidak sama panjang. Dalam hidupnya, Kierkegaard mengalami pengalaman yang menyakitkan, ibu dan kelima kakaknya meninggal  sebelum ia berumur 21 tahun. Oleh karena itu, dia sendiri pun beranggapan bahwa ia akan meninggal sebelum berusia 35 tahun. 

Filsafat Hegel dan Kritik Kierkegaard
Dalam buku ini dijelaskan kritik Kierkegaard terhadap filsafat Hegel yang lebih menekankan filsafat sebagai sistem ilmu pengetahuan yang komprehensif.
Menurut Hegel berbagai unsur dan pengalaman manusia akan mendapat tempat masing-masing, yang bersifat komprehensif, sistematik, serta rasional. Selain itu, Hegel berpendapat bahwa ada Roh yang bergerak dalam sejarah. Roh ini adalah kesadaran yang menyadari dirinya sendiri yang membawa manusia pada kebenaran objektif.

Baca Juga: Pingin Kuliah? Makanya Kaya

Ada dua konsep penting dalam filsafat Hegel, yaitu Roh dan Absolut. Kata Absolut ini berarti lengkappenuh, dan menyeluruh. Bagi Hegel Absolut adalah keseluruhan realitas yang hadir pada dirinya sendiri dan  dapat diketahui manusia. Kata Absolut sendiri dekat dengan kata Roh, maka dalam filsafatnya, Hegel kadang membicarakan Roh Absolut. 
Roh adalah kesadaran yang mengenal dirinya sendiri. Roh Absolut adalah pengetahuan manusia mengenai realitas sesungguhnya.  Menurut pendapat Hegel, kebenaran hanya dapat dicapai melalui perjalanan panjang dalam sejarah nama Roh Absolut.
Bagi Hegel struktur akal budi selalu berkembang. Demikian juga kesadaran akan selalu berevolusi, entah dalam akal budi individu maupun dalam akal budi universal. Kesadaran itu terwujud dalam institusi-institusi sosial, politik, dan ekonomi maupun dalam filsafat, sains, seni, dan agama dalam zaman tertentu. Namun, kesadaran akan mencapai puncaknya pada kebenaran objektif melalui perjalanan panjang dan dialektis. Pada akhirnya kebenaran objektif akan dicapai. Pada titik ini pulalah yang Absolut telah dicapai. 
Hal inilah yang dikritik Kierkegaard. Bagi Kierkegaard filsafat bukan merupakan kumpulan pengetahuan yang sistematik atau Roh yang bergerak dalam sejarah, melainkan tentang pergulatan manusia dalam membuat keputusan yang benar mengenai hidupnya. Bagi Kierkergaard filsafat Hegal tidak menjawab personal mengenai pergulatan manusia. 
Filsafat Hegel menekankan sistem pengetahuan. Misalnya dibuat sistem eksistensial yang dapat menjelaskan mengapa ibu dan kelima kakaknya meninggal saat ia masih muda. Ataukah pemutusan pertunangannya dengan Regina suatu yang harus terjadi. Bagi Kierkegaard sistem filsafat demikian tidak masuk akal dan ambisius.
Dalam Filsafatnya, Hegel hanya berdiri sebagai pengamat terhadap realitas alam dan manusia yang ada. Sedangkan, Kierkegaard hadir secara personal dalam pergulatan manusia. Dalam analogi pentas drama, Hegel hanya berdiri sebagai penonton dan berada di luar panggung. Hal ini berbeda dengan Kierkegaard yang terjun langsung dalam drama, menyelami eksistensi manusia, merasakan penderitaan, dan kegembiraan yang dialami manusia. Kierkegaard juga menyadari keinginan manusia akan kebenaran Objektif.

Baca Juga: Akankah Coronavirus Mengubah Pengalaman Belajar Tatap Muka?

Manusia ingin mengetahui hakikat dunia ini sebagaimana adanya, bahkan juga keingintahuan akan kehidupan setelah kematian. Praktisnya, dalam diri manusia ada hasrat untuk mengetahui realitas objektif, realitas yang apa adanya, tidak dipengaruhi penilaian kita sebagai manusia. Bagi Kierkegaard realitas objektif itu memang ada, tetapi hanya Allah yang mengetahui realitas tersebut. Dalam hal ini, ia sependapat dengan Kant bahwa realitas pada dirinya sendiri tidak diketahui oleh manusia.
Manusia adalah makhluk terbatas, karena keterbatasannya itulah manusia tidak dapat mengetahui kebenaran objektif. Keterbatasan inilah yang membuat manusia memiliki kesulitan dalam mengambil keputusan penting mengenai hidupnya. Maka itu, bagi Kierkegaard kebenaran adalah suatu yang subjektif, yakni masalah diri manusia dengan suatu yang melampauinya. Dalam keterbatasan manusia untuk mengetahui kebenaran objektif, yang penting adalah relasi manusia sebagai subjektif dengan kebenaran yang diketahuinya.
Kebenaran subjektif dalam pemahaman Kierkegaard adalah kebenaran yang secara konkret cara manusia dalam menjalani hidupnya, yaitu kebenaran moral dan religius. Dalam kebenaran moral dan religius, manusia dapat menentukan bagaimana ia menjalani hidup sehari-hari dan nilai apa yang harus dipeluknya. Bagi Kierkegaard, ilmu filsafat bukanlah mengenai kodrat manusia, melainkan apa yang harus dilakukan manusia supaya dapat menemukan kedamaian dan makna hidup.

Eksistensi Otentik
Bagi Kierkegaard, setiap manusia dalam hidupnya tentu pernah mengalami pergulatan, entah itu pergulatan dalam pekerjaan, relasi, pilihan hidup, keluarga, cita-cita dan sebagainya. Kalau pada akhirnya manusia itu dapat menentukan pilihannya dari pergulatan tersebut, pilihan tersebut berasal dari keotentikan dirinya, keyakinan pribadi, atau keputusan subjektivitas.
Dalam hal ini, kebenaran tidak bertindak sebagai objektif, universal, dan berada di luar diri manusia, melainkan suatu yang berada dalam dirinya. Dalam Subjektivitas, Kierkegaard yakin manusia mencapai keotentikan dirinya, karena kebenaran memang digulati dan dipeluk secara eksistensial dan tidak berada di luar diri sang subjek.

Melawan Berhala Kepalsuan
Dalam kehidupannya, manusia seringkali menampilkan kepalsuan dihadapan manusia lain. Apa yang tampak tidak mengandaikan apa yang terjadi dalam hatinya. Bagi Kierkegaard, orang seperti itu tidak menunjukan keotentikan dirinya. Hal tersebut pun berasal dari pengalaman hidupnya, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya yang selama ini dipercaya sebagai orang taat agama, ternyata telah hidup bersama ibu (karena ibunya pembantu di rumah ayah) sebelum akhirnya menikahi ibunya. Dia tidak percaya bahwa ayahnya telah hidup bersama perempuan yang belum dinikahinya, karena dengan demikian ayahnya melanggar kesucian perkawinan.

Baca Juga: Manusia Indonesia yang Terjajah dalam Novel Bumi Manusia (2)

Pengalaman ini pun membuat Kierkegaard berhati-hati dalam hidupnya, termasuk keputusannya untuk meninggalkan Regina. Ia takut relasi dengan Regina dipenuhi kepalsuan, karena ia menyadari siapa ia sebenarnya, secara khusus sifat melankolisnya. Bagi Kierkegaard, ketidakberaniannya untuk menceritakan siapa ia sebenarnya kepada Regina merupakan kepalsuan. Ia merasa hubungan antara mereka palsu. Menurut Kierkegaard, ketika melanjutkan perkawinannya dengan Regina, sebenarnya dia sedang menipu dan munafik, karena ia sendiri tidak menginginkan cara hidup seperti itu.

Kritik Terhadap Publik
Selain melepaskan diri dari kepalsuan, perjuangan untuk menjadi pribadi yang otentik juga harus keluar dari kehidupan kerumunan atau publik. Menurut Kierkegaard, kerumunan akan menghilangkan identitas pribadi manusia. Manusia akan bertindak sesuai sifat kerumunan. Contohnya ketika melihat sekelompok masa yang berkumpul di suatu tempat. Dalam situasi seperti itu, individu-individu tenggelam dalam kerumunan dan pribadi yang otentik tidak nampak.
Dalam pandangan Kierkegaard, individu sejati tidak berkerumun. Kerumunan akan meniadakan identitas individu. Ketika manusia bergabung dalam kerumunan, ia akan menjadi milik kerumunan, individunya pun dengan sendirinya akan hilang. Bagi Kierkegaard, kerumunan tidak dapat memperbaiki diri manusia, karena pergulatannya bukan merupakan pergulatan individu, melainkan universal. keputusan yang diambil pun berdasarkan kerumunan.
Untuk itu, bagi Kierkegaard untuk mencapai keotentikan diri, manusia harus keluar dari kepalsuan dan cara hidup kerumunan. Untuk hidup secara otentik, manusia harus berani menyatakan siapa dirinya lewat keputusan-keputusan yang diambilnya secara individu melalui pergulatannya. Untuk menghidupi eksistensi yang sejati, manusia juga harus memiliki pengetahuan terkait makna hidupnya. Hal ini bertujuan agar orang tersebut dapat menentukan pilihan hidup seperti apa yang hendak dijalaninya.
Bagi Kierkegaard pribadi yang patut ditiru sebagai pribadi yang otentik adalah Socrates. Socrates meskipun dituduh memberikan pengajaran yang menyesatkan kepada kaum muda, ia tetap berpegang pada kebenaran yang dipeluknya. Ia tidak takut terhadap ancaman penguasa Athena pada zaman itu, tetapi berani menyatakan kebenaran dan membela dirinya.
Menurut pandangan Kierkegaard, keberanian seperti itu datang dari kebulatan tekat untuk mewujudkan keputusan eksistensial. Dengan pilihan seperti itu, orang memperoleh makna hidupnya. Itulah mengapa pilihan yang kita ambil merupakan suatu masalah yang serius. Menurut Kierkegaard, manusia dapat menjadi otentik melalui pilihan-pilihan yang dapat menentukan hidupnya.    

Wilayah Eksitensi dan Keputusan
Pada pembahasaan ini, kita akan melihat tiga wilayah eksistensi menurut Kierkegaard, yaitu hidup estatis, hidup etis, dan hidup religius. Bagi Kierkegaard, tiga wilayah eksistesi ini merupakan cara hidup atau cara berada manusia di dunia ini. Dalam artian bahwa setiap wilayah eksistensi memiliki pandangan dan pengandaian tertentu yang merasa di dalamnya terdapat kepuasan dan kepenuhan hidup.

Baca Juga: Sketsa Manusia Indonesia dalam Novel Cantik Itu Luka (2)

Menurut Kierkegaard, setiap kita memiliki identitas dan integritasnya sendiri. Tahap Estetis merupakan cara hidup atau pandangan tanpa mendefinisikan antara yang baik dan yang jahat. Artinya, ketika seseorang melakukan sesuatu, ia melakukannya tanpa memikirkan sesuatu baik atau buruk. Keputusan yang diambil oleh manusia hanya berdasarkan sensasi (dalam bahasa Yunani aishesis), dan terutama perasaan.
Contohnya: ingin makan bakso pada malam hari, ia langsung pergi ke warung untuk makan bakso, berhasrat membaca buku atau mendengarkan musik, akan dilakukan saat itu juga. Dalam hal ini, keinginan yang muncul merupakan keinginan spontan dan dipenuhi saat itu juga. Ciri khas dari tahap estetis adalah pembunuhan atas keinginan langsung dan spontan.
Wilayah eksistensi kedua ialah Tahap Etis. Pada tahap ini, manusia mulai menghitung apakah yang ia lakukan baik atau jahat. Dalam artian, keputusan yang diambil tidak lagi melalui keputusan langsung seperti pada tahap estetis, melainkan memulai suatu pertimbangan antara yang baik dan yang jahat. Dalam hal ini, ia menggunakan rasio, suara hati, dan refleksi dalam menentukan suatu pilihan akan tindakannya.
Wilayah eksistensi ketiga ialah tahap religius. Pada tahap ini, manusia tidak lagi mempersoalkan atau mempertimbangkan sesuatu itu baik atau buruk. Tapah etis tidak memadai lagi pada tahap ini, karena yang terpenting adalah relasi manusia dengan yang Ilahi. Dalam tahap ini, kepuasan diri, perhatian terhadap diri sendiri atau keinginan untuk kebahagian abadi bukan merupakan tujuan.
Manusia mulai menyadari bahwa semestinya tujuan dari hidupnya bukan untuk dirinya, dalam hal ini segala bentuk kepuasan diri. Menurut Kierkegaard dalam pelaksanaannya, ketiga tahap di atas masih memiliki hubungan dan keterkaitan. Ketika manusia beranjak ke tahap lebih tinggi, misalnya dari estetis ke etis, tahap estetis tidak ditinggalnya, melainkan diubah ke dalam cara yang baru.
Lalu, mungkin akan timbul pertanyaan terkait tahap mana yang harus dijalankan manusia. Kierkegaard sendiri pun tidak menentukan tahap mana yang harus dipilih. Tetapi seperti yang dijelaskan di atas, menurut Kierkegaard ketika manusia memilih untuk hidup pada tahap estetis, hidup menurut hasrat, ia tidak memilih dan menunda kepuasannya untuk sesuatu yang lebih besar.
Setelah kategori yang baik dan jahat masuk ke dalam dirinya, manusia mulai mengabaikan hasrat untuk dapat menentukan sesuatu baik atau jahat untuk dilakukan. Namun, Kierkegaard yakin tahap hidup estetis akan gagal dalam upaya menuju kepenuhan diri. Mengapa gagal? Karena seseorang akan bertindak sesuai hasratnya dan itu bersifat sementara. Namun, dalam kenyataannya, banyak orang yang menganut tahap ini, siapa yang tidak tertarik dengan makanan, minuman, seks atau apa saja yang langsung menyentuh perasaan dan menyenangkan hati. [April Lowa]


Sumber gambar: tokopedia.com
         

Akankah Coronavirus Mengubah Pengalaman Belajar Tatap Muka?


Sejauh ini jawabannya tidak. Tetapi beberapa media pendidikan yang dapat digunakan secara online cenderung akan bertahan bahkan terus digunakan di masa depan. Masalah yang disebabkan oleh pandemi coronavirus telah mendorong banyak pihak untuk bersama-sama berjuang dalam belajar dan mengajar.
Seorang profesor di Loyola University, New Orleans mengajarkan kelas virtual pertamanya dari halaman rumahnya. Uniknya dia mengenakan pakaian santai sambil menyeruput segelas anggur. Mungkin dia merindukan kesempatan seperti ini, mengajar sambal meneguk segelas anggur.
“Apa yang kita bicarakan ketika berbicara tentang pendidikan online adalah menggunakan teknologi digital untuk mengubah pengalaman belajar,” kata Vijay Govindarajan, seorang profesor di Sekolah Bisnis Tuck di Dartmouth. Dalam proses belajar mengajar semuanya dilakukan secara online. Bahkan ujian pun harus dilakukan secara online. Apakah ini pertanda pendidikan tatap muka, akan dikurangi atau ditiadakan?
Akan ada beberapa dampak penting yang bertahan lama, seperti: sekolah dapat memasukkan media pembelajaran online ke dalam kelas konvensional. Selain itu, siswa mengalami jenis pembelajaran fleksibel yang mungkin tidak mereka sukai, sehingga mereka bisa menggantinya dengan memilih memperlajari materi lain yang mereka sukai.

Baca Juga: Pembelajaran Online Harus Bermanfaat bagi Semua Siswa

Semester ini "memiliki potensi untuk meningkatkan harapan dalam menggunakan sumber daya online untuk melengkapi apa yang kami lakukan sebelumnya, dengan cara evolusi, bukan cara revolusi," kata Eric Fredericksen, wakil presiden asosiasi untuk pembelajaran online di University of Rochester. 
Pendidikan online memungkinkan siswa bergerak dengan langkah mereka sendiri dan memasukkan fitur seperti penilaian berkelanjutan sehingga mereka dapat melompat ke depan segera setelah mereka menguasai keterampilan atau materi belajar, kata Dr. Fredericksen. Menyusun, merencanakan, merancang, dan mengembangkan kursus atau program online secara profesional dapat menghabiskan waktu dan seringkali membutuhkan orientasi dan dukungan siswa serta infrastruktur teknologi yang memadai.
Pengalaman selama ini menunjukkan adanya kesalahan atau “keliru” dengan pembelajaran online. Ada keluhan seperti pertemuan kelas panjang di ruang konferensi video, paket data atau jaringan yang kurang memadai. Tidak bisa menyamakan metode pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online. Pandemi ini menjadi kesempatan bagi guru atau para pendidik untuk lebih kreatif memberikan pengajaran kepada siswa seperti memberikan tugas kelompok atau tugas yang membutuhkan nalar kritis dan guru hanya sebagai fasilitator.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Eduventures di Amerika Serikat memperkirakan hanya sekitar 20 persen peserta didik di sana yang mengikuti kursus online pada musim gugur 2018. Ketika menghadapi pandemi seperti sekarang, hanya orang-orang ini yang memahami apa yang harus dilakukan. Mereka sudah memiliki pengalaman kursus online. Karena itu, mereka tidak akan kaget ketika melakukan pembelajaran online.

Baca Juga: Tahun 2019 Rekor Jumlah Pengungsi Terbanyak dalam Sejarah

Menurut survei  terhadap hampir 1300 siswa di Amerika Serikat oleh penyedia persiapan ujian online OneClass menunjukkan lebih dari 75% mengatakan mereka tidak berpikir mereka mendapatkan pemahaman belajar yang berkualitas. Dalam jejak pendapat terpisah terhadap 14.000 mahasiswa pada awal April oleh situs niiche.com, yang memberikan peringkat sekolah dan perguruan tinggi, fakta mencengangkan menunjukkan ternyata 67% mengatakan mereka tidak merasakan kelas online sama efektifnya ketika melakukan pembelajaran konvensional.
Sudah, lebih dari setengah orang dewasa Amerika yang berharap membutuhkan lebih banyak pendidikan atau pelatihan setelah pandemi ini mengatakan mereka akan melakukannya secara online, menurut survei terhadap 1.000 orang oleh Strada Education Network, yang menganjurkan koneksi antara pendidikan dan pekerjaan. 
Bahkan mereka yang sudah lama menghindari pembelajaran atau kursus online harus melakukannya semester ini, dalam beberapa bentuk atau lainnya. Tidak ada pilihan lain, agar dapat mengikuti pembelajaran dalam kelas maka pilihan belajar via online mutlak dilakukan.

Baca Juga: Beberapa Catatan Penting Dunia Pendidikan Indonesia Tahun 2020

Menarik pernyataan berikut bahwa bersama siswa mereka, para staf pengajar “dilempar ke ujung kolam untuk belajar media digital dan diminta untuk berenang,” kata Pak Moe. "Beberapa akan tenggelam, beberapa akan berenang ke tepi kolam dan memanjat keluar dan mereka tidak akan pernah kembali ke kolam lagi. Tetapi banyak yang akan mencari tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana berenang dan bagaimana tetap bertahan.”
Pada akhirnya, pandemi ini mengharuskan dunia pendidikan untuk menentukan langkah selanjutnya. Apakah mereka akan tetap bertahan dengan cara konvensional total atau mulai mengadopsi cara pembelajaran online dan memadukannya dengan cara konvensional. Memang belajar dengan tatap muka tidak akan tergantikan, tetapi tidak salah jika juga mulai mengadopsi metode pembelajaran via online.

Sumber gambar: https://online.jwu.edu


Pembelajaran Online Harus Bermanfaat bagi Semua Siswa



Pada pertengahan April, UNESCO memperkirakan bahwa 190 negara telah menutup sekolah secara nasional karena pandemi COVID-19. Penutupan sekolah sebagai langkah strategis untuk menghindari penyebaran virus corona. Bahkan, beberapa sekolah di berbagai negara sudah menegaskan bahwa tidak akan mengadakan pertemuan tatap muka di kelas hingga akhir semester ini. 
Akibatnya, sistem pendidikan telah bergeser menggunakan alat pembelajaran jarak jauh - terutama melalui media digital - baik untuk melanjutkan pembelajaran di semester ini atau untuk memastikan peserta didik tidak melakukan kesalahan besar. Sayangnya, yang sering ditemukan adalah para pendidik hanya memindahkan media pembelajaran. Jika sebelumnya pembelajaran dilaksanakan melalui tatap muka, maka sekarang harus dilakukan di depan gadget.
Tentu perubahan media pendidikan yang dilakukan tanpa persiapan telah membawa pendidikan kita pada jalan yang hampir sesat. Butuh keberanian bagi para guru untuk mempelajari media pembelajaran online agar proses belajar mengajar menjadi efektif. Keadaan sekarang memang mengharuskan semua orang tua untuk menjadi guru yang baik, tetapi para guru professional tetap harus bisa memberikan sesuatu yang lebih berkualitas.


Dengan seorang anak kecil di rumah, seperti banyak orang tua, terpaksa menjadi guru ketika sekolah tutup. Meskipun sudah bertahun-tahun meneliti kebijakan pembelajaran digital, ternyata masih banyak orang belum siap menghadapi tantangan ini. Pengalaman ini telah memperkuat keyakinan bahwa tiga faktor penting untuk setiap metode pembelajaran digital:
1. Inklusif
2. Mendukung (bukannya menggantikan) pengalaman belajar
3. Bukti metode apa yang berhasil dan dalam konteks mana harus menginformasikan intervensi pembelajaran digital

Pembelajaran Digital Harus Inklusif
Kita tahu selama ini pembelajaran online lazim digunakan untuk menjangkau siswa ketika mereka secara fisik tidak bisa ke sekolah. Hal Ini sebelumnya merupakan kasus untuk anak-anak yang sakit lalu terkurung di rumah atau di rumah sakit, mereka yang berada di lokasi terpencil yang tidak dapat bersekolah setiap hari, dan anak-anak migran. 
Akan tetapi, karena pandemi covid-19mengharuskan sekolah melaksanakan pembelajaran online dan ditemukan kesenjangan antara pelajar yang kurang beruntung dan yang lebih beruntung secara ekonomi. Coronavirus menyingkap kesenjangan ekonomi para peserta didik.
Ketersediaan perangkat keras adalah tantangan pertama untuk membuat pembelajaran online dapat diakses dan efektif untuk semua. Jika keluarga tidak dapat memberi gadget, setiap siswa tidak akan dapat berpartisipasi atau mendapatkan hasil maksimal dari pelajaran mereka. Demikian juga dengan masalah koneksi internet yang tidak memadai atau bahkan tidak ada sama sekali.


Kasus seperti ini sangat familiar di negara kita. Tol langit nampaknya belum bisa dinikmati semua anak bangsa. Hanya anak-anak dari kalangan ekonomi menengah ke atas dan terjangkau oleh tol langit yang dapat menikmati pembelajaran online. Kecuali pelajar yang rentan dibantu dengan masalah akses, pembelajaran digital hanya akan meningkatkan pengalaman belajar mereka yang sudah diuntungkan.
Dengan memenuhi kebutuhan semua peserta didik, pembelajaran digital tidak akan memperlebar kesenjangan yang merugikan, tetapi semoga menjembataninya. Memang itu tidak mudah, tetapi akan lebih baik dan memberi banyak manfaat. Karena pada dasarnya lembaga pendidikan perlu mulai melakukan evolusi.

Tidak Ada yang Mengganti Pendidik Profesional
Memainkan peran guru dalam beberapa minggu terakhir telah mengingatkan saya betapa pentingnya bagi anak-anak untuk didukung oleh para profesional dalam pembelajaran mereka. Intervensi digital adalah alat yang mendukung proses pembelajaran, tetapi mereka tidak dapat menggantikan guru. Media digital yang digunakan oleh para siswa sekarang, belum mampu menggantikan peran guru seutuhnya.
Selain itu, tidak realistis untuk berharap bahwa lingkungan digital, bahkan jika itu mencakup aspek sosial, dapat menggantikan pengalaman sekolah, terutama ketika menyangkut pengembangan keterampilan sosial dan emosional. Sistem pendidikan harus memikirkan cara untuk mendukung pengembangan ini dengan baik selama periode ini dan yang akan datang.
Peran profesional guru adalah menjadi fasilitator siswa dalam belajar jarak jauh. Guru tidak harus melakukan konferensi selama berjam-jam dan mengharuskan siswa untuk mendengarnya. Dalam keadaan sekarang, guru mengajar siswa untuk dapat berkolaborasi, berkomunikasi sesama mereka untuk memecahkan masalah dalam tugas yang diberikan guru serta berpikir kritis.

Mengumpulkan Bukti Vital Selama Krisis
Intervensi pembelajaran digital baru dan permasalahan yang telah bermunculan sejak krisis COVID-19 mulai memberi sebagian besar anak akses ke beberapa jenis pembelajaran jarak jauh dari sekolah. Sementara reaksi cepat ini disambut baik, mereka meninggalkan sedikit ruang untuk pengambilan keputusan berbasis bukti.


Bagaimana pun, kita tahu bahwa pembelajaran online tidak selalu berhasil. Misalnya evaluasi RAND Eropa tentang program umpan balik digital dalam matematika primer menunjukkan bahwa intervensi media digital dalam pembelajaran jarak jauh tidak meningkatkan kualitas murid. Malah yang sering ditemukan adalah murid sekolah menengah dan sekolah Dasar semakin stres dengan banyaknya tugas yang diberikan guru, tetapi tetap mewajibkan siswa untuk ikut dalam pembelajaran selama berjam-jam.
Bukti apa yang berhasil, untuk siapa, dan mengapa diperlukan untuk pembuatan kebijakan yang efektif dan pengembangan pendidikan yang memadai. Mengumpulkan data untuk mengevaluasi program-program ini, agar dapat menjadi bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang.
Kita dapat berharap bahwa ketika murid-murid di seluruh dunia akhirnya kembali ke sekolah, teknologi digital akan membantu mereka untuk terus semakin berkembang. Akan lebih baik jika pembuat kebijakan pendidikan juga datang dengan pengetahuan yang lebih dalam tentang keefektifan alat-alat digital dan bagaimana mereka dapat mendukung anak-anak yang paling rentan.
Sekolah mungkin telah berubah selamanya setelah COVID-19. Mari berharap pendidikan kita menjadi lebih baik.

Sumber Gambar: blibli.com




Jangan Lupa Bahagia!!!



Suatu waktu ketika saya sedang duduk santai sambil menyeruput kopi hitam di sebuah kantin dekat kampus, tiba-tiba seorang teman menghampiri saya dan mengeluh tentang banyak hal yang terjadi dalam hidup. Hal itu membuat saya bingung dan berpikir serta terus berpikir tentang hal-hal yang dia keluhkan.
Satu pertanyaan yang sempat terlintas dalam benak, apa yang membuat dia selalu mengeluh? Kapan bahagianya kalau terlalu banyak mengeluh? Padahal ada banyak hal yang sudah ia dapatkan dan sudah dicapai. Tetapi, masih saja mengeluh. Aneh tapi nyata. Tanpa dia sadari setiap orang di dunia ini pun memiliki beban hidup tersendiri. Tidak ada manusia tanpa memiliki beban hidup kawan.
Kalau saja sopi (arak) bisa membuat dia berhenti mengeluh bagaikan opium sebagai pereda rasa sakit, mungkin saya sudah membeli sebotol sopi agar dia meminumnya. Biar aman. Orang seperti ini, bisa dikatakan sebagai orang yang mengalami beban batin. Karena mereka merasa selalu ada beban dalam hidup tanpa mereka syukuri apa yang sudah mereka dapatkan selama ini. Mengeluh boleh saja, tapi jangan lupa syukuri apa yang sudah didapatkan selama ini. Jika tidak pernah bersyukur, maka tiap hari hanya akan mengeluh, mengeluh dan mengeluh.


Sebenarnya ada begitu banyak orang di dunia ini terlalu sering memikirkan soal hidup. Dan itu wajar-wajar saja. Tapi jangan sampai membuat kita lupa untuk bahagia. Terkadang kita selalu berpikir bahwa orang yang sudah kaya memiliki banyak uang, status sosial yang baik dalam masyarakat, rumah-rumah yang indah, serta posisi-posisi kuat dalam jabatan-jabatan tertentu akan membuat orang bahagia.
Akan tetapi, kenyataannya mereka belum juga bahagia dengan kelimpahan harta (uang), status sosial, rumah-rumah yang indah, dan jabatan yang mereka miliki. Bahkan mereka berpikir masih ada yang kurang. Sehingga mereka mencoba untuk mencapai serta mendapatkannya. Hal itu bisa saja disebabkan karena ketidakpuasaan terhadap apa yang dimiliki.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahagia ialah “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)”. Terkadang kita terlalu sering membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain dan hal itu membuat kita berkecil hati. Tanpa kita bertanya kepada diri sendiri "Apakah saya sudah bahagia?"


Jarang sekali kita mengajukan pertanyaan semacam itu kepada diri sendiri. Terkadang ketika melihat orang cacat, kita mungkin berpikir bahwa mereka tidak bahagia karena kekurangan fisik yang mereka miliki. Heloo??? Anda sehat?? Tanpa kita sadari sebetulnya mereka sangat bahagia, bukan karena uang, status sosial, rumah-rumah yang indah atau pun posisi-posisi kuat, tetapi karena mereka masih bisa menghirup nafas kehidupan.
Kita terlalu sering mengejar impian-impian yang belum dicapai dan juga belum didapatkan sehingga membuat kita kurang bahagia dan selalu berpikir masih ada yang kurang. Kebahagiaan yang sesungguhnya tidak bergantung pada kondisi-kondisi obyektif entah uang atau pun status sosial.
Namun, hal itu tergantung pada korelasi antara kondisi-kondisi obyektif dan ekspektasi-ekspektasi subjektif. Sebagai contoh, dalam suatu acara pembagian undian saya berharap mendapatkan motor baru, namun yang saya dapatkan ialah motor bekas, lalu saya pun kecewa.
Seperti dikutip dari Harari (2015: 454) dijelaskan bahwa ketika keadaan membaik, ekspektasi-ekspektasi menggelembung dan akibatnya bahkan perbaikan-perbaikan dramatis dalam hal kondisi-kondisi obyektif membuat kita tetap tidak puas.
Ketika keadaan memburuk, ekspektasi-ekspektasi surut, dan akibatnya bahkan sakit parah mungkin membuat kita tetap bahagia sebagaimana sebelumnya. Hemat penulis, satu hal yang perlu kita ketahui ialah ketika kita merasa puas dengan apa yang sudah diperoleh, itu jauh lebih penting ketimbang mendapatkan yang lebih banyak dari yang diinginkan.
Kultus-kultus New Age sering menyatakan: "Kebahagiaan tidak bergantung pada kondisi-kondisi eksternal. Ia (kebahagiaan) bergantung hanya pada apa yang kita rasakan di dalam. Orang harus berhenti mengejar pencapaian-pencapaian eksternal seperti kekayaan dan status, dan menghubungkannya dengan perasaan di dalam hati".


Sebagai penutup dari tulisan ini, ada sebuah argumen biologis yang dikutip dari buku Harrari (2015: 463) ialah kebahagiaan dimulai dari dalam. Uang, status sosial, rumah-rumah indah, posisi-posisi kuat tak satu pun dari semua ini akan membawakan kebahagiaan kepada Anda. Bahagia yang awet hanya datang dari serotonin, dopamin dan oxytocin.
1.  Serotonin mirip dengan dopamin, yang merupakan hormon sekaligus neurotransmitter dalam mengatur suasana hati. Selain perihal mood, serotonin juga berperan dalam siklus tidur, nafsu makan, pencernaan, kemampuan bernalar, dan daya ingat.
2.   Dopamin adalah hormon dan neurotransmitter (senyawa otak) yang berkaitan dengan penghargaan diri, seperti motivasi. Hormon ini turut memainkan peran terhadap suasana hati sehingga termasuk sebagai
Pada akhirnya, kebahagiaan ditentukan oleh diri sendiri bukan orang lain. Semua orang memang punya masalah, tetapi yang membedakan seorang dengan yang lain adalah bagaimana dia mengelola masalahnya itu. Apakah hanya dengan mengeluh saja atau mencari jalan keluar? Silahkan memilih. Keputusan dan masa depan ada di tanganmu sendiri!!! (Afin Gagu: Tinggal di Manggarai)

Sumber gambar: Free-Photos dari Pixabay