Menu

Sketsa Manusia Indonesia dalam Novel Cantik Itu Luka (2)



Novel Cantik itu luka karya Eka Kurniawan telah menampilkan secara binal sejarah Indonesia yang selama ini sering ditutupi. Halimunda, kota di selatan pulau Jawa yang konon menjadi pintu selatan pelarian ke Australia menduduki posisi sentral. Di sanalah Dewi Ayu salah satu tokoh utama dalam novel ini lahir dan dibesarkan. Di sini pula dia dibesarkan menjadi seorang ibu sekaligus pelacur yang sohor.
Di Halimunda pula tiga tokoh yang mewakili tiga kelompok besar dalam sejarah bangsa ini. Shodanco mewakili Militer, Kamerad Kliwon mewakili partai komunis dan Maman Gendeng mewakili kelompok preman liar.  Meskipun ketiganya adalah beristrikan anak-anak Dewi Ayu, ternyata latar belakang masing-masing tidak mampu menyatukan mereka untuk menjadi saudara yang saling melindungi. Bahkan mereka akhirnya harus meninggal secara mengenaskan.

Sketsa Manusia Indonesia
Sketsa manusia Indonesia masih dihantui bayang-bayang masa lalu sejarah bangsa yang belum tuntas-jelas terartikulasikan. Dari kisah Kamerad Kliwon tampak suatu puzzle sejarah bangsa di sekitar tahun 1965. Puzzle itu antara lain keberlanjutan kisah tragis generasi demi generasi korban ‘65 akibat kesimpangsiuran narasi tentang fakta peristiwa 1965.
Nasib Kamerad Kliwon dalam novel ini merepresentasikan para korban ‘65. Dikejar bagai binatang buas, tidak mendapatkan fasilitas umum dan bahkan akhirnya dibuang ke pulau Buru. Pemaparan tentang Kamerad Kliwon yang begitu lugas menunjukkan situasi korban manusia Indonesia pada masa itu tidak menentu. Semua yang pernah terhubung dengan partai komunis dijadikan anak haram oleh negara ini.
Rekam sejarah lain yang dapat ditemukan dalam novel ini adalah perseteruan antara Shudanco dan Kamerad Kliwon hingga berujung kepada Maman Gendeng. Masing-masing tiga pria tersebut mewakili perbedaan zaman namun menyambung ibarat benang merah yang tidak dapat terputuskan.
Karena saat ini kita sedang membicarakan mengenai konstruksi sejarah dalam Cantik itu Luka maka semua dimulai dengan berkembangnya kelompok golongan kiri yang kala itu dikenal dengan sebutan Komunisme - para simpatisan Marxis yang setia hingga akhir hayat.

Baca Juga: Sketsa Manusia Indonesia dalam Novel Cantik Itu Luka (1)

Adalah Kamerad Kliwon yang merupakan simbol dari Kekuasaan Komunis di wilayah Halimunda yang berseteru dengan Sang Shodanco, perwakilan dari lambang kekuatan tentara poros kanan atau veteran pejuang yang haus pengakuan. Bahkan bisa dibilang Shodanco haus akan kekayaan dan rela mengorbankan masyarakat lemah.
Dikisahkan dalam Cantik itu Luka, Komunisme muncul sejak masa perang dan kependudukan Belanda namun akhirnya kembali ke panggung politik setelah Jepang menyerah pada tahun 1945. Di sela-sela pertumbuhannya terdapat pergerakan buruh nelayan yang merasa bahwa para penguasa di Halimunda (dalam hal ini Shodanco) sangat rakus dengan menggunakan kapal-kapal besar untuk mengeruk hasil kekayaan laut sehingga para nelayan hidup penuh kekurangan.
Di sinilah peran Kamerad Kliwon dalam membangun perspektif mengenai komunisme yang serba adil dan sama rata. Lambat-laun banyak masyarakat, terutama buruh yang mengikuti jalan sang Kamerad menjadi seorang komunis. Terjadilah perselisihan antara dua menantu Dewi Ayu, yaitu Shodanco dan Kamerad Kliwon. Puncaknya adalah pembantaian masal anggota partai komunis di Halimunda. Hal itu, dilukiskan Eka Kurniawan bahwa:
Semua laporan tampaknya begitu simpang-siur, dan satu-satunya informasi yang bisa didapat hanyalah radio yang sama sekali tak bisa dipercaya, sebab sejak pagi mereka melaporkan hal yang sama seolah itu telah direkam dan kasetnya diputar berulang-ulang: Telah terjadi kudeta yang gagal dari Partai Komunis karena tentara segera menyelamatkan negara dan mengambil-alih-kekuasaan untuk sementara. Laporan baru datang: Presiden berada dalam tahanan rumah. Semuanya serba membingungkan“. (hal.302)
Terkenallah kemudian peristiwa berdarah Gerakan 30 September, sebagai ‘kudeta komunis’, membunuh jenderal golongan kanan TNI dan mayatnya dibuang di lubang buaya. Sampai saat ini spekulasi kebenaran mengenai keterlibatan partai komunis dalam pembunuhan para jenderal belum menemukan titik terang.

Langkah selanjutnya adalah pembantaian massal terhadap anggota partai komunis di seluruh Indonesia. Tidak hanya sang komunis yang dieksekusi bahkan para keluarga, kerabat atau temannya sekalian ikut dieksekusi karena dituduh sebagai simpatisan dan pendukung komunis.
Melalui Cantik itu Luka, sketsa pembunuhan para anggota komunis di Halimunda disajikan secara lantang, tegas dan frontal. Semua itu dimulai dari secara mendadak dengan tidak datangnya koran pada pagi hari di halaman rumah partai PKI Halimunda. Kamerad Kliwon tetap menunggu walau kabar burung mengatakan para dewan utama Partai Komunis telah ditangkap dan ditahan karena dituduh melakukan kudeta.
Mereka dibunuh, baik oleh tentara reguler dan terutama oleh orang-orang anti-komunis yang bersenjata golok dan pedang dan arit dan apapun yang bisa membunuh, di tepi jalan dan membiarkan mayat mereka di sana sampai membusuk. Kota Halimunda seketika dipenuhi mayat-mayat seperti itu, tergeletak di selokan dan kebanyakan di pinggiran kota, di kaki bukit dan di tepi sungai, di tengah jembatan dan di semak belukar. Mereka kebanyakan terbunuh ketika mencoba melarikan diri setelah menyadari Partai Komunis hanya meninggalkan sisa-sisa reputasinya yang telah usang. (Hal. 312-313)
Namun Eka nyatanya memiliki sense of humor yang satir, dengan menampilkan wujud propagandanya (pasca pembantaian) sebagai hantu-hantu komunis yang kembali bangkit dan menghantui para tentara dan seluruh warga di pelosok Halimunda.
Serangan hantu-hantu orang komunis, paling dahsyat dirasakan oleh Sang Shodancho. Selama bertahun-tahun sejak peristiwa pembantaian tersebut, ia menderia insomnia yang parah, dan kalau-pun tidur ia menderita tidur berjalan [...] semua orang di kota itu merasakan hantu-hantu tersebut, mengenali dan takut oleh mereka“ (hal.354)
Kisah lantas segera bergulir menuju perseteruan antara polisi dengan para preman yang menimbulkan kekerasan dan keresahan di Halimunda. Maman Gendeng sebagai pemimpin para kelompok preman merupakan kelompok ikonik Gabungan Anak Liar yang dimasa kejayaannya harus dihentikan dengan penembakan misterius (petrus). Kasus ini ramai terjadi pada tahun 1980-an karena meresahkan masyarakat.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Pada zaman petrus dalam sehari, di berbagai kota hampir dipastikan ada  saja mayat-mayat dalam keadaan tangan terikat atau dimasukkan dalam karung yang diletakkan begitu saja di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai dan kebun. Mereka adalah korban petrus entah karena tergabung dalam kelompok yang dicurigakan atau melawan pemerintah. Mayat-mayat para korban petrus selalu identik dengan tato di dada dan kepala berlubang ditembus peluru.
Operasi itu dilakukan pada malam hari, untuk tidak menimbulkan kepanikan massal, penduduk kota. Para prajurit menyebar dalam pakaian sipil bersenjata, juga para penembak gelap, menuju kantong-kantong para begundal […] Pembantaian berlangsung di malam kedua, dan malam ketiga, serta malam keempat, kelima, dan keenam serta ketujuh. Operasi itu berlangsung sangat cepat, nyaris menghabiskan seluruh persediaan begundal di Halimunda“ (hal. 445-446)

Tragedi Keluarga
Pokok yang ingin disampaikan dari narasi tentang Kamerad Kliwon adalah ketidakadilan dan kehidupan tragis menyedihkan yang dialami oleh para mantan penganut Komunisme. Pasca selamat dari pembunuhan para anggota PKI, Kamerad Kliwon harus menjalani sisa hidupnya sebagai pemuda yang amat menyedihkan. Di tengah pengawasan yang ketat dari militer, ia memilih menjadi penjual kolor dan bertransformasi menjadi borjuis kecil di wilayah tersebut.
Suatu hari, kios-kios yang menjajakan kolornya digusur pemerintah demi program pembangunan. Kejadian tersebut membangunkan jiwa kirinya dan ia berencana kembali melakukan pemberontakan. Malangnya, ia justru kembali digebuk dan ditangkap sebagai sisa-sisa hantu komunis. Ia pun mesti diasingkan ke Pulau Buru. Beberapa tahun setelah penyiksaan yang panjang, Kamerad Kliwon dikembalikan ke Halimunda sebagai lelaki yang hidup segan mati tak mau. Hingga pada akhirnya dia memilih untuk bunuh diri.


Sketsa Manusia Indonesia dalam Novel Cantik Itu Luka (1)




Judul                           : Cantik itu Luka
(English Version)        : ‘Beauty is A Wound’
Pengarang                   : Eka Kurniawan
Tebal Halaman            : 479
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kesepuluh, Juni 2016
Diterbitkan pertama kali oleh AKYPress dan Penerbit Jendela, Desember 2002

Novel dibuka dengan kisah magis kebangkitan sang tokoh sentral, Dewi Ayu. “Ketika pada suatu sore di akhir pekan bulan maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematiannya”. Dewi Ayu adalah perempuan keturunan Indo-Belanda. Bergidik ngeri namun menimbulkan sejumlah deretan pertanyaan terutama mengenai waktu latar belakang kejadian yang sengaja tidak disajikan oleh sang penulis.
Lambat laun, pelan dan pasti sesuai dengan sinopsisnya terceritakanlah mengenai bagaimana kematian sosok Dewi Ayu, seorang pelacur yang terkenal akan kecantikannya di seluruh pelosok Halimunda. Dia mati setelah beberapa hari melahirkan anak keempatnya yang tidak diketahui siapa gerangan ayahnya.
Anak tersebut lahir begitu buruk rupanya tidak seperti dengan ketiga kakaknya yang semuanya cantik. Itulah yang terjadi, meskipun secara cukup ironis ia memberikan nama Si Cantik kepada anak yang baru dilahirkannya. Tampang dan bentuk tubuh yang buruk ternyata tidak menjadi soal bagi seorang Ayu Dewi memberikan nama Si Cantik kepada putri bungsunya yang buruk rupa.
Hingga suatu masa dia hidup kembali, bertemulah Dewi Ayu dengan Si Cantik yang kini telah menjadi perempuan dewasa dengan sosok sesuai dengan doa-doanya: Anak bayi yang hidungnya menyerupai colokan listrik, telinganya sebagai telinga panci, mulutnya bagaikan mulut celengan dan rambutnya menyerupai sapu dengan kulit serupa komodo dan kaki serupa kura-kura. Maka, berbanggalah dia atas itu semua.
Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin.” - Dewi Ayu. (hal. 4)
Kenyataannya mau cantik atau tidak, kutukan tersebut selalu mengitari kehidupan Dewi Ayu. Ketika Si Cantik ternyata hamil secara misterius tanpa gerangan mengetahui ayahnya - sama seperti yang terjadi dengan ibunya sendiri sepanjang hayat.
Maka, ketimbang melanjutkan perjalanan hidup Si Cantik, Eka selaku penulis memundurkan waktu pada masa sebelum Dewi Ayu menjadi sesosok pelacur.  Semua itu berawal ketika Dewi Ayu hanyalah sosok gadis Belanda yang jatuh cinta pada seorang pria tua bernama Ma Gedik yang belum pernah ditemuinya.


Dewi Ayu pun memaksa Ma Gedik kawin dengannya akibat terobsesi dengan kisah cinta pria itu dengan Ma Iyang, yang menghilang ditelan kabut ketika lari bersama Ma Gedik ke atas bukit demi cinta mereka berdua. Walaupun akhirnya, di hari selepas pernikahan mereka, Ma Gedik memutuskan kabur menjerit-jerit bagai dikejar setan dan terjun dari puncak bukit, terhempas ke bebatuan dan wajah-nya babak belur seperti daging cincang.

Awal Mula Menjadi Pelacur
Setelah itu cerita berjalan bagaikan mozaik yang terkonstruksi dengan dinamis. Pelan-pelan para pembaca akan dibawa kembali kepada masa kekuasaan Jepang di tanah ibu pertiwi.
Dalam situasi pendudukan Jepang, Dewi Ayu tetap memilih bertahan di Halimunda, walau semua anggota keluarganya kembali pulang ke negeri Belanda. Ia mengambil resiko untuk ditundukkan dalam pendudukan Jepang. Ternyata tentara Jepang tahu juga bahwa meskipun memiliki nama lokal, Dewi Ayu adalah orang Belanda.
Sebagaimana nasib orang Belanda lainnya pada waktu itu, Dewi Ayu ditangkap dan ditahan di suatu tahanan yang digambarkan sangat tidak manusiawi: gelap, becek, persediaan makanan yang mini, ancaman malaria. Bahkan dikisahkan ia mesti merebus darah kutu sapi sebagai makanan di tahanan agar bisa bertahan hidup.
Dalam rasa frustrasi di penjara itu, nasib baru menjemput Dewi Ayu dan beberapa perempuan lain. Setelah lolos serangkaian seleksi, Dewi Ayu dan beberapa perempuan cantik lain diam-diam dijadikan pelacur untuk memenuhi kebutuhan birahi para tentara Jepang yang tak tertahankan dalam situasi perang. Penderitaan jenis lain lantas menimpa perempuan-perempuan cantik ini.
Gedung yang indah dan disediakan perawatan layaknya perempuan istana, tidak bisa mengkompensasi begitu saja luka yang mendalam akibat perkosaan tentara-tentara Jepang yang dilakukan setiap malam.
Banyak perempuan yang tidak tahan sampai mencoba bunuh diri. Tapi lain halnya dengan Dewi Ayu. Diam-diam Dewi Ayu bisa beradaptasi dengan dunia prostitusi ini sebagai jalan bertahan hidup. Bahkan ia pun menerima kehamilannya oleh salah seorang petinggi tentara Jepang. Dengan sabar ia merawat janinnya hingga terlahir seorang anak cantik, bernama Alamanda.
Masa pendudukan Jepang lewat. Dewi Ayu tetap menjadi pelacur. Awalnya pilihan itu merupakan keterpaksaan sebagai satu-satunya jalan membayar hutang kepada Mama Kalong (pengelola tempat pelacuran) untuk mendapatkan lagi rumahnya dulu yang masih amat dia cintai. Tapi ia juga sebenarnya menikmati menjadi pelacur profesional (mematok bayaran paling mahal), bahkan justru kian hari ia menjadi pelacur paling ternama dan disegani di Halimunda.
Selain karena Dewi Ayu teramat cantik, tidak bisa dimungkiri juga ia memang selalu bercinta dengan penuh cinta dengan para pelanggan yang sengaja ia batasi perharinya. Hal ini yang lantas membuatnya menjadi sumber kebahagiaan kota sebab para laki-laki selalu mengalami persetubuhan dengan Dewi Ayu menghadirkan sensasi malam pertama mereka.
Meskipun menjadi pelacur, Dewi Ayu tidak menolak kehamilan. Dari seorang pejuang revolusi ia melahirkan satu orang anak perempuan lagi. Dan dari seorang lain lagi, Dewi Ayu mempunyai anak perempuan juga. Keduanya, Adinda dan Maya Dewi mewarisi kecantikannya yang amat mempesona.
Plot novel lalu digerakkan oleh peristiwa-peristiwa yang katakanlah manjadi konsekuensi kecantikan Dewi Ayu, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Masing-masing anaknya tersebut memiliki kisah asmara tersendiri yang pada akhirnya berakhir tragis dan mengenaskan.
Melalui kisah asmara yang dibalut orkes sakit hati keempat putri Dewi Ayu ini pembaca akan melihat jalinan plot novel yang berkelindan dengan kompleksitas situasi sosial, politik, ekonomi dan carut marut realitas Halimunda dari waktu ke waktu.

Bangunan Cerita
Tampak bahwa novel ini mendasarkan cerita pada sebuah tragedi keluarga. Ada penggunaan silsilah keluarga sebagai kerangka. Ada kontinuitas yang jelas antar tokoh dalam novel ini. Tokoh-tokoh yang ada terjalin dengan keluarga Dewi Ayu. Tragedi selalu menjadi kata akhir kehidupan para tokoh dalam novel ini. Semua tokoh dibunuh oleh penulisnya dan meninggalkan janda-janda menyedihkan.
Kedua, dalam pengkisahan keluarga Dewi Ayu, tampak tema sakit hati ikut menentukan alur cerita. Hal ini misalnya kuat dalam kisah asmara Kamerad Kliwon sang pujaan dengan Alamanda, sang penakhluk. Relasi-relasi antara tokoh, misalnya Maman Gendeng – Shodanco dan juga Shodanco dengan Kamerad Kliwon sangat kental suasana konflik dan logika sakit hati.

Unsur ketiga yang juga kuat dalam novel ini adalah erupsi-erupsi irasionalitas manusia. Ada banyak penggambaran sisi dalam diri manusia yang kadang terasa irasional. Erupsi-erupsi irasionalitas manusia ini tampak jelas dalam kehidupan seksualitas para tokoh dalam novel.
Unsur yang kental juga dalam novel ini adalah narasi sejarah bangsa Indonesia. Kelindan antara plot novel dan perjalanan sejarah bangsa ini misalnya terlihat dari dinamika tiga laki-laki dalam suatu pertarungan menikahi anak Dewi Ayu. Hasrat birahi dianalogkan dengan gejolak pertarungan kekuatan politik dalam sejarah Indonesia.
Ketiga laki-laki tersebut memiliki latar sosial politik berbeda. Shodanco adalah seorang komandan militer yang pernah melakukan pemberontakan pada masa pendudukuan Jepang dan lalu dipuja sebagai pahlawan kota karena berhasil menumpas babi hutan yang merajalela waktu itu. Kamerad Kliwon seorang pemuda pujaan yang lantas menjadi aktivis partai komunis. Dan Maman Gendeng seorang preman yang paling disegani di Halimunda karena kekuatan bertarungnya. Ketiga tokoh yang berdinamika mendapatkan hati anak-anak Dewi Ayu ini seolah memberi ilustrasi pertarungan kekuatan-kekuatan politik yang pernah tercatat dalam sejarah indonesia.


Membangun Bangsa Dimulai Dengan Membangun Pendidikan



Bangsa yg besar adalah bangsa yang mampu menguasai pendidikan. Ketika pendidikan bisa dikuasai, maka perkembangan SDM di negaranya akan dengan mudah diukur. Perkembangan SDM tidak dapat dilakukan tanpa didukung oleh kualitas pendidikan di negaranya. Karena itu, jika ingin menjadi bangsa yang kuat, maka tingkatkanlah kualitas pendidikannya.

Akan tetapi, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang pendidikan kita perlu mengetahui apa saja permasalahan pendidikan di negeri ini.

Kualitas pendidikan yang rendah adalah fakta yang harus kita terima bersama. Untuk itu, presiden Jokowi memilih Nadiem Makarim seorang yang tidak memiliki backround di bidang pendidikan menjadi menteri Pendidikan. Kita semua tahu sebelum beliau menjadi Menteri Pendidikan dia adalah CEO Gojek, perusahan startup yang sedang berkembang saat ini. Mengapa seorang CEO perusahan startup dipilih menjadi menteri Pendidikan?

Alasannya karena kemampuan beliau dalam mengembangkan perusahan itu. Presiden ingin agar bukan hanya seorang Nadiem Makarim yang bisa berkembang di perusahan strartup, tetapi semakin banyak orang. Untuk mewujudkan impiannya itu, maka pendidikan menjadi sektor penting yang harus dikembangkan. Metode dan sistem pendidikan yang dikembangan oleh para menteri-menteri sebelumnya ternyata belum mampu menjawab kebutuhan real di lapangan dan di masa depan. Karena itu, butuh suatu terobosan baru di bidang pendidikan.

Bukan untuk mengatakan bahwa pendidikan kita jelek, tetapi jika diperhatikan secara fair, kita akan mengamini kalau pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 dan dirilis pada Selasa (3/12/2019). Hasil survei menempatkan Indonesia di urutan ke-72 dari 79 negara. Studi ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak.


Untuk kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, sedangkan peringkat pertama diduduki oleh China dengan skor rata-rata 555. Posisi kedua ditempati oleh Singapura dengan skor rata-rata 549 dan Makau, China peringkat tiga dengan skor rata-rata 525. Sementara Finlandia yang kerap dijadikan percontohan sistem pendidikan, berada di peringkat 7 dengan skor rata-rata 520.

Lantas, untuk kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Kemudian untuk peringkat satu, masih diduduki China dengan skor rata-rata 591. Lalu untuk kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat 9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Lagi-lagi peringkat satu diduduki China dengan rata-rata skor 590.


Apa Penyebabnya?
Ada beberapa alasan kenapa pendidikan kita bisa terlihat begitu memprihatinkan. Mulai dari kemampuan literasi baik dari para siswa maupun para guru. Memang mempelajari sesuatu yang baru sangat tidak enak. Tetapi, justru di situlah pendidikan kita ditantang. 

Kita diajak untuk belajar sehingga keluar dari zona nyaman. Ketika guru maupun para pemberi kebijakan tidak punya keinginan untuk mengembangkan dirinya dengan meningkatkan kemampuan literasi, maka pendidikan kita sedang berjalan di jalan yang salah.

Selain itu masalah lain yang sedang dihadapi adalah orientasi kebijakan politik pendidikan yang masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi. Orientasi kebijakan pendidikan di Indonesia masih cenderung penyeragaman administrasi sistem pendidikan.

Sharusnya orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam mengajar. Kemudian membangun siswa sesuai dengan kodrad manusia secara optimal. Menurut dosen sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal kodrad manusia adalah rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, dan kolaborasi, serta menciptakan sesuatu.


Penilaian PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya Ujian Nasional. Tetapi mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan. Jadi ketika hasil survei PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh disalahkan.

Sebagaimana diketahui PISA mengukur kemampuan literasi siswa. Kemampuan ini bukan sekadar membaca. Tetapi memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual. Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar kritisnya.

Metodologi pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya guru cenderung mengejar aspek administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya. Hasil PISA yang terus menurun, kontras dengan dana pendidikan yang terus meningkat.

Apa yang Harus Dilakukan?
Berkaca dari hasil survei PISA dan kualitas pendidikan kita saat ini mungkin tepat jika keputusan mas Menteri menjadikan tahun ini sebagai tahun terakhir UN. Ujian Nasional hanya membelenggu kreativitas siswa untuk menciptakan sesuatu. Tidak bisa jika setiap tahun siswa dibelenggu mempersiapkan diri mengikuti UN. Karena mempelajari sesuatu yang tidak disukai adalah neraka. Kita pun pasti tidak ingin seperti itu. Dipaksa untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu yang tidak kita senangi hanya membuat kita menderita.

Untuk memacu prestasi pendidikan Indonesia, sistem pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics atau STEAM mulai diterapkan dalam pendidikan kita. Ini merupakan sebuah model pembelajaran populer di tingkat dunia yang efektif dalam menerapkan Pembelajaran Tematik Integratif (PTI) karena menggabungkan lima bidang pokok dalam pendidikan yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, seni dan rekayasa.


Metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarir.


Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap dalam persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, art and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan keseharian kita. Keempat bidang itu, saling kait mengait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal, keempatnya penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.


Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat



Judul Asli                    : The Subtle Art Of Not Giving F*ck
Judul                           : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis                         : Mark Manson
Penerjemah                  : F. Wicaksono
Penerbit                       : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan                       : ke-3
Tahun Terbit               : 2018
Tempat Terbit             : Jakarta
Hal                              : 246 halaman

Buku karya Mark Manson dengan judul “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” ternyata lumayan panjang. Tak cuma judul, tapi dalam versi terjemahan bahasa Indonesia-nya, buku ini juga memiliki tagline tambahan, yaitu "pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik."
Dari judul dan tagline-nya saja, kita tentu bisa menebak bahwa buku ini berisikan hal-hal yang perlu pembaca tahu agar bisa menjalani hidup yang bahagia. Sebenarnya buku ini berisikan tentang bagaimana cara pandang mayoritas manusia dalam menjalani kehidupannya, baik pada permasalahan yang dihadapinya saat ini hingga cara untuk meraih kesuksesan.
Tentu saja dengan penyajiannya yang menarik dan eksentrik melalui cerita-cerita inspiratif yang ketika membacanya seolah memberi tamparan keras! Buku ini memberi solusi yang berbeda ketika kita dihadapkan dengan suatu masalah dan cara terbaik menyikapi masalah tersebut.
Manson melontarkan argumen bahwa manusia tak sempurna dan terbatas. Begini tulisnya, "tidak semua orang bisa menjadi luar biasa ada para pemenang dan pecundang di masyarakat, dan beberapa diantaranya tidak adil dan bukan akibat kesalahan Anda." Manson mengajak kita untuk mengerti batasan-batasan diri dan menerimanya baginya, inilah sumber kekuatan yang paling nyata.
Bersikap bodo amat menjadi salah satu sikap yang sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Sebab dengan sikap bodo amat menjadikan diri kita seorang yang apatis, abai dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekeliling. Sementara saat kita kecil, guru dan orangtua kita sibuk memberikan pelajaran agar kita peduli dengan keadaan sekitar.
Kita selalu dilatih untuk peka dengan kebutuhan orang-orang di sekitar kita, apalagi mereka miskin, terlantar dan berkebutuhan khusus. Karena itu, peduli dengan lingkungan sekitar menjadi nilai yang paling penting dan ditanamkan sejak dini.

Berikut beberapa hal penting yang bisa dipelajari dari buku ini.
1. Kita berhak untuk bahagia
Bahagia di sini tentunya secara lahir batin. Seseorang bisa saja terlihat punya gaya hidup yang glamor, namun dalam hatinya terasa hampa. Manson pun berujar “untuk berbahagia, kita membutuhkan sesuatu untuk dipecahkan. Oleh karena itu, kebahagiaan adalah bentuk tindakan.” Sebab kita akan mendapatkan suatu sensasi tersendiri dengan apa yang kita perjuangkan. Suatu proses permasalahan harus diselesaikan dengan bijaksana.
Bagi Manson, hidup yang baik dan bahagia bisa dirasakan jika seseorang bisa bodo amat pada hal-hal yang memang sepantasnya diabaikan.
Kini semua keputusan ada di tangan kita masing-masing memilih untuk bahagia sepenuhnya atau tidak. Karena mungkin saja kebahagiaan terasa tidak lengkap karena terlalu fokus pada hal-hal yang sebenarnya tidak penting bagi hidup kita.

2. Terlalu fokus pada hal-hal yang seharusnya bisa diabaikan
"Saat kita terlalu peduli pada hal-hal ini, kita menghabiskan banyak waktu untuk lari dari masalah kita daripada berdamai dengan masalah itu sendiri," ujar Manson.
Hal-hal yang dimaksud Manson itu berjumlah delapan poin, yaitu; membuat orang kagum, selalu benar, menjadi sukses, menyenangkan serta sopan, senang, selalu merasa baik-baik saja, menjadi sempurna, dan semua aman juga pasti.

Menurut Manson, kunci hidup tenang tak perlu memikirkan semua poin-poin tersebut. Fokus pada hal yang benar-benar kalian pedulikan. Karena kita tidak mungkin baik-baik saja atau bahagia selalu sepanjang waktu. Fokus pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang berguna, jauh lebih baik dibandingkan hanya memikirkan hal-hal di atas.

3. Cari tahu apa yang sebenarnya layak dipedulikan dan diinginkan
Benarkah kamu memaknai sesuatu dengan segenap hati? Para orangtua selalu mengatakan anak mereka adalah segalanya. Tapi tak jarang, ibu-ibu menomorduakan menjemput anak sekolah, demi diskon brand kesayangan di mall atau hangout dengan teman.
Kamu selalu memilih apa yang lebih berharga, dari waktu ke waktu. Menurut Manson, begitulah perubahan terjadi. Perlahan-lahan, dari waktu ke waktu, dengan setiap pilihan yang kamu buat akan berubah sesuai prioritas.

4. Fokus pada hal yang lebih penting
Misalkan saja, sebagai orangtua kamu pada akhirnya akan menyadari tentang diskon yang seharusnya bisa diabaikan. Seberapa besar barang itu mempengaruhi hidupku atau seberapa pentingnya barang itu dalam kehidupanku.
Langkah selanjutnya adalah membentuk kesadaran dengan pertanyaan "seandainya". "Seandainya saya tidak peduli dengan diskon di mall, apa yang akan terjadi selanjutnya?". Apakah dengan saya tidak membelinya saya akan terlihat tidak mengikuti perkembangan zaman? Terkadang kita hanya sibuk memikirkan apa yang orang lain katakana, bukan apa yang dikatakan suara hati kita masing-masing. Kita lebih memilih suara dari luar dan mengabaikan suara hati kita sendiri.

Kita bisa membuat beberapa kalimat "seandainya" yang lain, yang masih berhubungan dengan hidup kita, dan bayangkan kira-kira apa yang akan terjadi dengan hidup. Pertanyaan-pertanyaan itu akan membantu kita untuk menentukan langkah hidup kita selanjutnya.

5. Semua akan baik-baik saja dengan bersikap bodo amat
Pada akhirnya, kalian akan memahami bahwa semua yang tadinya penting itu ternyata tidak begitu berpengaruh pada hidup kita. Pelan-pelan akan muncul hal-hal di luar kebiasaan, yang bisa membuat kita lebih hidup, yang selaras dengan nilai-nilai yang membuat hidup lebih tenang.
Nilai-nilai itu yang nantinya akan tumbuh bersama kita dan membuat kita bisa memaknai kebahagiaan lewat sikap bodo amat. Karena perjuangan kita menentukan keberhasilan kita. Jika hanya meratapi keterbatasan kita, hal itu hanya akan membunuh kita.
Ternyata kesulitan dan kegagalan itu sebenarnya berguna dan bahkan diperlukan untuk mengembangkan orang dewasa yang berpikiran kuat dan sukses. Orang mencapai puncak kesuksesan pasti memiliki kegagalan, tinggal bagaimana kamu mampu kebal dengan kegagalan tersebut. Lawan kegagalan dengan belajar, bukan menghakim kebodohanmu.

Sudah Saatnya Ujian Nasional Dihapus



Niat baik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan menghapus Ujian Nasional (UN) ternyata memunculkan pro dan kontra. Namun, Menteri Nadiem yakin penghapusan UN akan lebih mengukur kemampuan siswa, guru dan juga sekolah. Benarkah ini langkah yang benar dalam memperbaiki mutu pendidikan?
Mas menteri memutuskan mengganti Ujian Nasional dengan metode asesmen kompetensi minimum. Hal ini turut didukung dengan hasil survei yang dikeluarkan oleh asesmen Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS). Penilaian yang dilakukan dalam survei itu terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.
Kebijakan tersebut diharapkan mendorong peserta didik berpikir logis, berprestasi sesuai kompetensi dan mengasah karakter siswa lebih baik. Selain itu, guru juga ditantang agar menerapkan proses belajar dua arah. Proses belajar yang dapat dipahami siswa dan bukan sekadar hafalan semata. Sehingga pembelajaran dalam kelas lebih hidup dan komunikatif.
Menurut pengamat pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis, Indra Charismiadji, metode PISA dan TIMSS berupa ujian dengan soal yang mengandalkan nalar. Dia menyatakan soal-soal ini bukan tipe yang bisa dijawab dengan hafalan. “Jadi, siswa tidak bisa menyontek,” dalam Koran Tempo, Sabtu, 14 Desember 2019.
Menurutnya selama ini UN tidak dapat menunjukkan ukuran dan kualitas siswa yang sesungguhnya. Sebab, dalam banyak pengalaman ketika UN ternyata ada manipulasi. Terdapat dua konteks manipulasi yakni manipulasi negatif seperti bocoran (kunci jawaban) dan nilai serta manipulasi positif dengan model bimbel (bimbingan belajar) yang mengajarkan cara mengerjakan soal UN. Indra menuturkan adanya UN membuat anak belajar bagaimana mengerjakan soal secara cepat dibanding memahami penerapan materi yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya siswa yang dihasilkan adalah siswa yang mampu mengerjakan soal dengan cepat, tetapi gagap menerapkan materi pelajarannya dalam kehidupan nyata. Nilai bagus memang terlihat keren, tetapi jika tidak mampu mengaplikasinya dalam kehidupan nyata akan menjadi nihil. Itulah problem utama yang sedang dihadapi oleh pendidikan kita.
Salah satu contoh paling nyata saat ini adalah siswa/I Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mereka dituntut untuk mendapatkan nilai UN setinggi-tingginya, tetapi sekolah lupa untuk menyiapkan mereka kompentensi dan soft skill yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Soft skill yang seharusnya sudah diajarkan sejak bangku sekolah tidak diperhatikan.

Pemerintah malah asyik meningkatkan tuntutan mereka kepada siswa agar mendapatkan nilai bagus saat UN. Alhasil generasi yang dihasilkan adalah generasi yang penuh tekanan. Siswa tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat karena adanya tuntutan mendapatkan nilai UN yang tinggi.
Menurut Indra Charismiajdi untuk mencetak SDM unggul, yang harus diajarkan kepada generasi saat ini adalah keterampilan sosial-emosional, antara lain Problem Solving (Mampu memecahkan masalah), Ressilience (Ketangguhan), Control (Pengendalian), Teamwork (Kerja sama tim), Initiative (Prakarya), Confidence (Kepercayaan diri) dan Ethics (Etika).
Sifat-sifat tersebut harus tertanam dengan baik agar generasi masa depan yang dihasilkan baik melalui sistem pendidikan formal maupun nonformal bisa mencetak SDM unggul, yang berdaya kreatifitas tinggi dan mampu berinovasi.
Jika dilihat secara jernih UN telah membuat siswa hanya mengalir dalam sebuah sistem. Siswa dituntut mendapatkan nilai tinggi, tetapi ketika terjun ke dunia kerja malah tidak bisa melakukan apa-apa. Yang sering kita temukan adalah peserta didik hanya disiapkan untuk mengikuti UN bukan menyiapkan sotfskill dan tuntutan di dunia kerja. 
Tidak adil jika sekolah hanya menyiapkan siswanya menghafal dan mengerjakan soal-soal dengan baik tetapi tidak melatih softskill. Padahal soft sklill itulah yang dibutuhkan ketika mereka berada di luar sekolah. 

Pendidikan Seperti Apa yang Kita Harapkan?
Mencetak pemimpin masa depan sebagaimana yang disampaikan oleh Mentri Nadiem Makarim bertujuan untuk menciptakan SDM yang unggul. Sebagaimana disampaikan oleh Liputan 6.com pada Rabu (4/12/2019) semuanya diawali dengan "Kemerdekaan harus turun terus. Lembaga perguruan tinggi merdeka dari berbagai macam regulasi dan birokratisasi. Para pendidik dan dosen juga dimerdekakan dari birokrasi. Sebab kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, agreditasi tidak menjamin mutu, masuk kelas tidak menjamin belajar.”
Kita tidak bisa terus-terusan berada dalam situasi buruk seperti ini. Sistem pendidikan yang diterapkan selama ini adalah system Pendidikan untuk menyiapkan generasi pekerja. Karena itu, materi dan sistem pelajaran untuk ke depannya diharapkan agar menyiapkan siswa untuk menjadi inovator dan pencipta. Karena itu, perlu ada pembaharuan dalam pendidikan kita agar apa yang menjadi kecemasan dan harapan presiden Jokowi dapat terwujud.
Untuk memacu prestasi pendidikan Indonesia, sistem pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics atau STEAM mulai diterapkan dalam pendidikan kita. Ini merupakan sebuah model pembelajaran populer di tingkat dunia yang efektif dalam menerapkan Pembelajaran Tematik Integratif (PTI) karena menggabungkan lima bidang pokok dalam pendidikan yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, seni dan rekayasa.

Metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarir.
Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap dalam persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, art and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan keseharian kita. Keempat bidang itu, saling kait mengait dan tak bisa berdiri sendiri. 
Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal, keempatnya penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.
Kita tidak akan mampu menciptakan 1000 startup baru jika sistem pendidikan kita masih seperti ini. Belum lagi jika kita berbicara tentang kesejahteraan guru. Atau tugas mereka yang semakin menumpuk karena tuntutan dari pemerintah yang pada akhirnya mereka tidak bisa fokus untuk mengajar. Maka masalahnya akan semakin banyak.  Karena itu, sistem pendidikan kita perlu diubah agar apa yang menjadi cita-cita bersama, yaitu Indonesia Emas di tahun 2045 nanti dapat terwujud.
Jika UN tidak mampu menghasilkan siswa yang bisa berinovasi, kolaborasi, dan pencipta, masihkah UN diperlukan?




Ola Nue Tradisi Berburu Paus Masyarakat Lamalera



Back to Nature adalah semboyan yang sering kita dengar.  Back to nature mengajak kita untuk kembali ke asal usul. Kembali ke tradisi yang mungkin mulai telah ditinggalkan. Dan semboyan ini mengajak kita untuk berbalik dan mengenal budaya atau tradisi kita masing-masing. Indonesia terlalu kaya akan budaya. Sangat disayangkan jika kita tidak mengenal budaya kita sendiri dan pada akhirnya gagap untuk menjelaskan budaya kita kepada orang lain.
Beberapa hari yang lalu beberapa teman melakukan perjalanan ke salah satu pulau di NTT. Pulau yang menyimpan sejuta pesona dan tradisi. Perjalanan yang melelahkan setelah melintasi lautan Sawu, jalanan yang cukup jelak dan savana yang indah akhirnya tiba juga di tempat tujuan.
Lamalera begitu mereka menyebutnya. Perkampungan pemburu di selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, itu dikenal karena aksi warga berburu ikan paus secara tradisional. Bagi pria Lamalera berburu ikan paus tak ubahnya bertemu leluhur yang turun ke laut.
Kampung Lamalera terbagi atas dua yaitu kampung Bawah (dekat laut) dan kampung Atas (pegunungan). Setiap suku yang ada di sana masing-masing memiliki rumah adat, rumah perahu (na jeng) dan tali penangkap paus (tali leo).


Di bibir pantai berdiri sekitar 30 rumah perahu semi permanen beratap anyaman lontar dan disangga tiang kayu seadanya. Tanpa dinding, rumah perahu yang juga disebut naje menjadi tempat melakukan berbagai aktivitas. Di situ, warga menganyam berbagai kerajinan dari daun lontar, membuat tali-temali untuk alat tangkap, dan membuat sampan yang digunakan untuk menangkap ikan-ikan kecil.
Di situlah pria Lamalera menghabiskan waktunya sehari-hari untuk mempersiapan lefa atau berburu paus entah mempersiapkan peledang (perahu) ataupun layar. 
Setiap tahun selalu ada ritual adat untuk melaut yaitu berburu paus atau dikenal dengan sebutan lefa. Tradisi melaut menjadi unik karena rentetan upacara yang harus dijalankan. Misalnya malam sebelum melaut akan ada sharing pengalaman dari tua-tua yang berpengalaman, kemudian dilanjutkan dengan upacara liturgi Katolik. 

 Ola Nue: Kekhasan Masyarakat Lamalera
Dari informasi yang diperoleh saat asyik berbincang tentang ritual penangkapan ikan paus masyarakat Lamalera diketahui bahwa ternyata periode penangkapannya hanya bulan Mei hingga Oktober. Jadi tidak setiap saat ikan paus boleh diburu.
Ada aturan tak tertulis bahwa setelah upacara dimulai hingga kembalinya para nelayan setelah berburu ikan paus tidak boleh ada pertengkaran antara suami-istri. Selain itu, tidak boleh bertengkar dengan tetangga atau dengan anak dan juga mereka harus menjaga tutur kata.
Ola nue dalam bahasa setempat diartikan sebagai kerja mencari ikan di laut. Ola Nue adalah tradisi penangkapan ikan paus yang sudah dilakukan sejak turun temurun oleh nenek moyang masyarakat Lefo Lamalera. Tradisi telah menyatu dengan nilai-nilai keagamaan sejak masuknya agama Katolik di Lembata pada tahun 1886.
Penangkapan ikan paus pun tidak dilakukan secara sembarangan. Ada aturan dan patokan waktunya. Penangkapan itu biasanya dilakukan sejak 1 Mei hingga 31 Oktober.
Sebelum melaut, pada 27–29 April, mereka melakukan upacara adat. Selanjutnya pada 30 April sore, masyarakat melakukan misa untuk memohon keselamatan bagi arwah semua orang yang meninggal di laut. Barulah tanggal 1 Mei diadakan misa memohon keselamatan bagi yang akan melaut. Nelayan Lamalera beramai-ramai melaut dan melakukan perburuan sejak tanggal 2 Mei.
Uniknya mereka hanya boleh berburu mulai hari Senin hingga Jumat karena Sabtu dan Minggu waktu untuk istirahat dan beribadah. Ikan yang ditangkap juga hanya sesuai yang dibutuhkan. Jika ikannya berontak, maka akan dilepaskan kembali. Selain itu, jenis paus yang ditangkap pun hanya paus sperma dan sedang tidak hamil.
Jika mereka tanpa sengaja menangkap ikan paus yang hamil maka di perburuan tahun berikutnya akan diadakan upacara permohonan maaf atas ketidaksengajaan itu. Tujuannya agar laut sebagai ibu masyarakat Lamalera tetap memberikan rejeki.
Para leluhur menetapkan, bahwa kotekelema dan ikan-ikan besar ditangkap untuk pau lefo (memberi makan seluruh kampung). Secara khusus disebutkan kaum kide-knuke (yatim piatu/fakir miskin) dan para janda. Dagingnya dibagikan kepada semua orang karena diyakini itu sebagai rejeki yang diberikan oleh alam semesta.


Etika ini tercermin pada pola pembagian tradisional yang memungkinkan sebanyak-banyaknya orang di kampung memperoleh bagiannya. Pada kotekelema, misalnya, selain para awak peledang, pemilik perahu, pembuat perahu, pemilik layar, juga tuan tanah (suku Langowudjo dan Tufaone).
Selanjutnya mereka yang mendapat bagian wajib memberikan juga kepada orang lain lewat bfene (pemberian kepada keluarga dekat atau orang-orang khusus), lamma (barter antara keluarga Lamalera), atau secara tak langsung lewat tukar-menukar ikan dengan rokok, tuak, dll. Konsep Ile Gole terwujud lewat barter antar-kampung.

Berburu Paus Sebagai Pertaruhan Hidup dan Mati
Saat tanggal 02 Mei ketika sang surya mengintip dari ufuk timur lamfa dan para lelaki yang akan melaut sudah bersiap di peledang masing-masing.
Peledang lalu didorong perlahan di atas balok-balok kayu yang sudah disusun. Para awak sigap meraih dayung, sambil berucap 'hilibe, hilibe, hilibe', keras kompak dan menghentak. Proses perburuan ikan paus pun dimulai.
Saat itulah awal perjuangan hidup dan mati mereka. Di tengah laut mereka akan berusaha untuk menaklukan si raksasa laut demi menghidupi masyarakat kampung. Jika berhasil menangkap seekor paus maka tugas itu telah usai.
Dengan bangga mereka akan kembali ke darat dan ditandai dengan bendera putih. Akan tetapi, jika terjadi musibah maka mereka akan pulang diiringi bendera hitam di ujung peledang.

Jika sukses dan berhasil membawa paus untuk seluruh warga kampung maka selama perjalanan menuju darat mereka akan menyanyikan lagu-lagu adat.
Di antara deburan ombak, lapat-lapat terdengar senandung pulang sang lamafa. 'Sora taran bala tala lefo rai tai/Tuba bera rai nai ribu lefo gole/Kide ina-fai tuba bera rai nai', yang berarti Kerbau yang bertanduk gading/Mari kita beranjak menuju kampung nun di sana/Seluruh masyarakat merindukan kehadiranmu/Ayo, segeralah kita ke sana.
Lantunan itu mengiringi helaan seekor ikan paus berukuran 15 meter. Ia akan memberi makan tidak hanya warga Lamalera, tetapi juga warga Lembata.