kualitas pendidikan,
pendidikan,
wei ji
Wei Ji dan Krisis Kualitas Pendidikan
"Wei Ji," kosa
kata bahasa Cina yang artinya krisis. Kata ini merupakan gabungan dari Wei (bahaya)
dan Ji (peluang). Artinya, dalam setiap krisis selalu
tersimpan peluang. Di saat orang-orang sedang berkutat dengan dampak yang
disebabkan oleh krisis, orang Tionghoa sudah memikirkan PELUANG apa yang ada di balik krisis itu.
Di saat yang lain mengeluh akan
lambatnya perekonomian gara-gara pandemi corona, di saat yang bersamaan ada
orang lain yang memahami Wei Ji dengan perspektif yang
berbeda. Orang-orang ini berpikir taktis untuk melewati masa krisis dan bersiap
untuk memenangkan peluang selepas badai berlalu.
Baca juga:Memahami Tri Sentra Pendidikan dan Kegalauan Orang Tua
Baca juga:Memahami Tri Sentra Pendidikan dan Kegalauan Orang Tua
Pandemi corona menyebabkan
penutupan ribuan sekolah di seluruh dunia dan memaksa sekolah untuk menyediakan
pembelajaran jarak jauh bagi lebih dari 32,5 juta jiwa siswa yang ada di rumah.
Karena krisis inilah kita terbantu untuk melihat kualitas pendidikan kita dan
apa yang mungkin terjadi di masa depan.
Banyak sekolah membuat
pembelajaran online untuk murid-murid mereka yang terpaksa
tinggal di rumah. Meskipun konsep pembelajaran jarak jauh telah ada selama
setidaknya 30 tahun terakhir, tetapi bagi sebagian besar sekolah di Indonesia hal itu cukup baru sebagai model pembelajaran instruksional utama. Sehingga tidak mengherankan jika kita sering menemukan banyak keluhan dari orang tua.
Akan tetapi, sesuai dengan pepatah China di atas keadaan sekarang menyadarkan bahwa kualitas pendidikan kita masih kalah jauh dibanding negara-negara lain. Pandemi covid-19 menampar para pemangku kebijakan, pemerintah, dan para pendidik bahwa pendidikan kita telah tertinggal jauh. Kita telah ketinggalan beberapa langkah di belakang negara-negara lain di Asia.
Selama ini pemerintah atau pendidik selalu bangga dengan kualitas pendidikan kita dan anehnya publik pun percaya saja. Apalagi ketika presiden Jokowi mengajak sakyat Indonesia untuk menghadapi revolusi 4.0. Dana triliunan rupiah digelontorkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sayangnya dana sebanyak itu tidak didukung oleh SDM yang memadai. Alhasil kualitas pendidikan kita setia untuk berjalan di tempat.
Pendidikan yang terus berubah-ubah ternyata tidak berpengaruh terhadap metode ajar guru. Alhasil, ketika pemerintah menerapkan pembelajaran jarak jauh banyak sekolah gelagapan. Banyak sekolah belum siap dengan perubahan-perubahan demikian.
Pandemi ini selain menampilkan kelemahan serta kualitas pendidikan kita, juga memberi satu peluang bahwa era digital mengharuskan semua tenaga pendidik beradaptasi. Jika selama ini banyak tenaga pendidik cenderung menolak ketika diminta untuk mempelajari metode pengajaran baru, selama pandemi mereka dipaksa untuk belajar.
Satu poin yang disyukuri adalah pandemi ini membantu pemerintah dan pihak sekolah untuk memetakan langkah apa yang hendak diambil. Untuk sepuluh hingga 20 tahun yang akan datang, sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya akan berada di mana.
Keadaan mendesak adalah ibu dari segala peluang. Itulah ungkapan dari seorang penulis Mark Twain (1835-1910). Covid-19 ini mau tidak mau mendesak para pendidik untuk meningkatkan kompetensi mereka.
Keadaan yang berbuah peluang ini sebenarnya lebih tepat jika kita manfaatkan sebagai momen pemerataan pendidikan kita karena mungkin salah satu ibu permasalahan pendidikan kita ialah ketidakmerataan.
Tidak meratanya pendidikan bagi anak miskin dan kaya menjadi salah satu sorotan dalam hasil kajian Programme for International Student Assessment (PISA). Laporan PISA menunjukkan, 64 persen siswa dari keluarga miskin bersekolah di sekolah yang kurang baik --kekurangan guru dan bahan ajar.
Keadaan mendesak adalah ibu dari segala peluang. Itulah ungkapan dari seorang penulis Mark Twain (1835-1910). Covid-19 ini mau tidak mau mendesak para pendidik untuk meningkatkan kompetensi mereka.
Keadaan yang berbuah peluang ini sebenarnya lebih tepat jika kita manfaatkan sebagai momen pemerataan pendidikan kita karena mungkin salah satu ibu permasalahan pendidikan kita ialah ketidakmerataan.
Tidak meratanya pendidikan bagi anak miskin dan kaya menjadi salah satu sorotan dalam hasil kajian Programme for International Student Assessment (PISA). Laporan PISA menunjukkan, 64 persen siswa dari keluarga miskin bersekolah di sekolah yang kurang baik --kekurangan guru dan bahan ajar.
Apakah akan berjalan di tempat atau berlangkah maju? Jika pihak sekolah dan pemerintah peka dengan keadaan saat ini sebenarnya pandemi covid-19 membantu mereka untuk menentukan langkah dan target sekolah 10-20 yang akan datang. Agar cita-cita menjadi Indonesia emas di tahun 2045 dapat tercapai.
Sumber gambar: tatkala.co
Sumber gambar: tatkala.co
August 15, 2020

No comments:
Post a Comment