Menu

Membangun Bangsa Dimulai Dengan Membangun Pendidikan



Bangsa yg besar adalah bangsa yang mampu menguasai pendidikan. Ketika pendidikan bisa dikuasai, maka perkembangan SDM di negaranya akan dengan mudah diukur. Perkembangan SDM tidak dapat dilakukan tanpa didukung oleh kualitas pendidikan di negaranya. Karena itu, jika ingin menjadi bangsa yang kuat, maka tingkatkanlah kualitas pendidikannya.

Akan tetapi, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang pendidikan kita perlu mengetahui apa saja permasalahan pendidikan di negeri ini.

Kualitas pendidikan yang rendah adalah fakta yang harus kita terima bersama. Untuk itu, presiden Jokowi memilih Nadiem Makarim seorang yang tidak memiliki backround di bidang pendidikan menjadi menteri Pendidikan. Kita semua tahu sebelum beliau menjadi Menteri Pendidikan dia adalah CEO Gojek, perusahan startup yang sedang berkembang saat ini. Mengapa seorang CEO perusahan startup dipilih menjadi menteri Pendidikan?

Alasannya karena kemampuan beliau dalam mengembangkan perusahan itu. Presiden ingin agar bukan hanya seorang Nadiem Makarim yang bisa berkembang di perusahan strartup, tetapi semakin banyak orang. Untuk mewujudkan impiannya itu, maka pendidikan menjadi sektor penting yang harus dikembangkan. Metode dan sistem pendidikan yang dikembangan oleh para menteri-menteri sebelumnya ternyata belum mampu menjawab kebutuhan real di lapangan dan di masa depan. Karena itu, butuh suatu terobosan baru di bidang pendidikan.

Bukan untuk mengatakan bahwa pendidikan kita jelek, tetapi jika diperhatikan secara fair, kita akan mengamini kalau pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Dari hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 dan dirilis pada Selasa (3/12/2019). Hasil survei menempatkan Indonesia di urutan ke-72 dari 79 negara. Studi ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak.


Untuk kategori kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, sedangkan peringkat pertama diduduki oleh China dengan skor rata-rata 555. Posisi kedua ditempati oleh Singapura dengan skor rata-rata 549 dan Makau, China peringkat tiga dengan skor rata-rata 525. Sementara Finlandia yang kerap dijadikan percontohan sistem pendidikan, berada di peringkat 7 dengan skor rata-rata 520.

Lantas, untuk kategori matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Kemudian untuk peringkat satu, masih diduduki China dengan skor rata-rata 591. Lalu untuk kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat 9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Lagi-lagi peringkat satu diduduki China dengan rata-rata skor 590.


Apa Penyebabnya?
Ada beberapa alasan kenapa pendidikan kita bisa terlihat begitu memprihatinkan. Mulai dari kemampuan literasi baik dari para siswa maupun para guru. Memang mempelajari sesuatu yang baru sangat tidak enak. Tetapi, justru di situlah pendidikan kita ditantang. 

Kita diajak untuk belajar sehingga keluar dari zona nyaman. Ketika guru maupun para pemberi kebijakan tidak punya keinginan untuk mengembangkan dirinya dengan meningkatkan kemampuan literasi, maka pendidikan kita sedang berjalan di jalan yang salah.

Selain itu masalah lain yang sedang dihadapi adalah orientasi kebijakan politik pendidikan yang masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi. Orientasi kebijakan pendidikan di Indonesia masih cenderung penyeragaman administrasi sistem pendidikan.

Sharusnya orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam mengajar. Kemudian membangun siswa sesuai dengan kodrad manusia secara optimal. Menurut dosen sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal kodrad manusia adalah rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, dan kolaborasi, serta menciptakan sesuatu.


Penilaian PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya Ujian Nasional. Tetapi mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan. Jadi ketika hasil survei PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh disalahkan.

Sebagaimana diketahui PISA mengukur kemampuan literasi siswa. Kemampuan ini bukan sekadar membaca. Tetapi memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual. Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar kritisnya.

Metodologi pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya guru cenderung mengejar aspek administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya. Hasil PISA yang terus menurun, kontras dengan dana pendidikan yang terus meningkat.

Apa yang Harus Dilakukan?
Berkaca dari hasil survei PISA dan kualitas pendidikan kita saat ini mungkin tepat jika keputusan mas Menteri menjadikan tahun ini sebagai tahun terakhir UN. Ujian Nasional hanya membelenggu kreativitas siswa untuk menciptakan sesuatu. Tidak bisa jika setiap tahun siswa dibelenggu mempersiapkan diri mengikuti UN. Karena mempelajari sesuatu yang tidak disukai adalah neraka. Kita pun pasti tidak ingin seperti itu. Dipaksa untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu yang tidak kita senangi hanya membuat kita menderita.

Untuk memacu prestasi pendidikan Indonesia, sistem pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics atau STEAM mulai diterapkan dalam pendidikan kita. Ini merupakan sebuah model pembelajaran populer di tingkat dunia yang efektif dalam menerapkan Pembelajaran Tematik Integratif (PTI) karena menggabungkan lima bidang pokok dalam pendidikan yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, seni dan rekayasa.


Metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarir.


Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap dalam persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, art and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan keseharian kita. Keempat bidang itu, saling kait mengait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal, keempatnya penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.


Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat



Judul Asli                    : The Subtle Art Of Not Giving F*ck
Judul                           : Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis                         : Mark Manson
Penerjemah                  : F. Wicaksono
Penerbit                       : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan                       : ke-3
Tahun Terbit               : 2018
Tempat Terbit             : Jakarta
Hal                              : 246 halaman

Buku karya Mark Manson dengan judul “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat” ternyata lumayan panjang. Tak cuma judul, tapi dalam versi terjemahan bahasa Indonesia-nya, buku ini juga memiliki tagline tambahan, yaitu "pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik."
Dari judul dan tagline-nya saja, kita tentu bisa menebak bahwa buku ini berisikan hal-hal yang perlu pembaca tahu agar bisa menjalani hidup yang bahagia. Sebenarnya buku ini berisikan tentang bagaimana cara pandang mayoritas manusia dalam menjalani kehidupannya, baik pada permasalahan yang dihadapinya saat ini hingga cara untuk meraih kesuksesan.
Tentu saja dengan penyajiannya yang menarik dan eksentrik melalui cerita-cerita inspiratif yang ketika membacanya seolah memberi tamparan keras! Buku ini memberi solusi yang berbeda ketika kita dihadapkan dengan suatu masalah dan cara terbaik menyikapi masalah tersebut.
Manson melontarkan argumen bahwa manusia tak sempurna dan terbatas. Begini tulisnya, "tidak semua orang bisa menjadi luar biasa ada para pemenang dan pecundang di masyarakat, dan beberapa diantaranya tidak adil dan bukan akibat kesalahan Anda." Manson mengajak kita untuk mengerti batasan-batasan diri dan menerimanya baginya, inilah sumber kekuatan yang paling nyata.
Bersikap bodo amat menjadi salah satu sikap yang sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Sebab dengan sikap bodo amat menjadikan diri kita seorang yang apatis, abai dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekeliling. Sementara saat kita kecil, guru dan orangtua kita sibuk memberikan pelajaran agar kita peduli dengan keadaan sekitar.
Kita selalu dilatih untuk peka dengan kebutuhan orang-orang di sekitar kita, apalagi mereka miskin, terlantar dan berkebutuhan khusus. Karena itu, peduli dengan lingkungan sekitar menjadi nilai yang paling penting dan ditanamkan sejak dini.

Berikut beberapa hal penting yang bisa dipelajari dari buku ini.
1. Kita berhak untuk bahagia
Bahagia di sini tentunya secara lahir batin. Seseorang bisa saja terlihat punya gaya hidup yang glamor, namun dalam hatinya terasa hampa. Manson pun berujar “untuk berbahagia, kita membutuhkan sesuatu untuk dipecahkan. Oleh karena itu, kebahagiaan adalah bentuk tindakan.” Sebab kita akan mendapatkan suatu sensasi tersendiri dengan apa yang kita perjuangkan. Suatu proses permasalahan harus diselesaikan dengan bijaksana.
Bagi Manson, hidup yang baik dan bahagia bisa dirasakan jika seseorang bisa bodo amat pada hal-hal yang memang sepantasnya diabaikan.
Kini semua keputusan ada di tangan kita masing-masing memilih untuk bahagia sepenuhnya atau tidak. Karena mungkin saja kebahagiaan terasa tidak lengkap karena terlalu fokus pada hal-hal yang sebenarnya tidak penting bagi hidup kita.

2. Terlalu fokus pada hal-hal yang seharusnya bisa diabaikan
"Saat kita terlalu peduli pada hal-hal ini, kita menghabiskan banyak waktu untuk lari dari masalah kita daripada berdamai dengan masalah itu sendiri," ujar Manson.
Hal-hal yang dimaksud Manson itu berjumlah delapan poin, yaitu; membuat orang kagum, selalu benar, menjadi sukses, menyenangkan serta sopan, senang, selalu merasa baik-baik saja, menjadi sempurna, dan semua aman juga pasti.

Menurut Manson, kunci hidup tenang tak perlu memikirkan semua poin-poin tersebut. Fokus pada hal yang benar-benar kalian pedulikan. Karena kita tidak mungkin baik-baik saja atau bahagia selalu sepanjang waktu. Fokus pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang berguna, jauh lebih baik dibandingkan hanya memikirkan hal-hal di atas.

3. Cari tahu apa yang sebenarnya layak dipedulikan dan diinginkan
Benarkah kamu memaknai sesuatu dengan segenap hati? Para orangtua selalu mengatakan anak mereka adalah segalanya. Tapi tak jarang, ibu-ibu menomorduakan menjemput anak sekolah, demi diskon brand kesayangan di mall atau hangout dengan teman.
Kamu selalu memilih apa yang lebih berharga, dari waktu ke waktu. Menurut Manson, begitulah perubahan terjadi. Perlahan-lahan, dari waktu ke waktu, dengan setiap pilihan yang kamu buat akan berubah sesuai prioritas.

4. Fokus pada hal yang lebih penting
Misalkan saja, sebagai orangtua kamu pada akhirnya akan menyadari tentang diskon yang seharusnya bisa diabaikan. Seberapa besar barang itu mempengaruhi hidupku atau seberapa pentingnya barang itu dalam kehidupanku.
Langkah selanjutnya adalah membentuk kesadaran dengan pertanyaan "seandainya". "Seandainya saya tidak peduli dengan diskon di mall, apa yang akan terjadi selanjutnya?". Apakah dengan saya tidak membelinya saya akan terlihat tidak mengikuti perkembangan zaman? Terkadang kita hanya sibuk memikirkan apa yang orang lain katakana, bukan apa yang dikatakan suara hati kita masing-masing. Kita lebih memilih suara dari luar dan mengabaikan suara hati kita sendiri.

Kita bisa membuat beberapa kalimat "seandainya" yang lain, yang masih berhubungan dengan hidup kita, dan bayangkan kira-kira apa yang akan terjadi dengan hidup. Pertanyaan-pertanyaan itu akan membantu kita untuk menentukan langkah hidup kita selanjutnya.

5. Semua akan baik-baik saja dengan bersikap bodo amat
Pada akhirnya, kalian akan memahami bahwa semua yang tadinya penting itu ternyata tidak begitu berpengaruh pada hidup kita. Pelan-pelan akan muncul hal-hal di luar kebiasaan, yang bisa membuat kita lebih hidup, yang selaras dengan nilai-nilai yang membuat hidup lebih tenang.
Nilai-nilai itu yang nantinya akan tumbuh bersama kita dan membuat kita bisa memaknai kebahagiaan lewat sikap bodo amat. Karena perjuangan kita menentukan keberhasilan kita. Jika hanya meratapi keterbatasan kita, hal itu hanya akan membunuh kita.
Ternyata kesulitan dan kegagalan itu sebenarnya berguna dan bahkan diperlukan untuk mengembangkan orang dewasa yang berpikiran kuat dan sukses. Orang mencapai puncak kesuksesan pasti memiliki kegagalan, tinggal bagaimana kamu mampu kebal dengan kegagalan tersebut. Lawan kegagalan dengan belajar, bukan menghakim kebodohanmu.

Sudah Saatnya Ujian Nasional Dihapus



Niat baik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan menghapus Ujian Nasional (UN) ternyata memunculkan pro dan kontra. Namun, Menteri Nadiem yakin penghapusan UN akan lebih mengukur kemampuan siswa, guru dan juga sekolah. Benarkah ini langkah yang benar dalam memperbaiki mutu pendidikan?
Mas menteri memutuskan mengganti Ujian Nasional dengan metode asesmen kompetensi minimum. Hal ini turut didukung dengan hasil survei yang dikeluarkan oleh asesmen Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS). Penilaian yang dilakukan dalam survei itu terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.
Kebijakan tersebut diharapkan mendorong peserta didik berpikir logis, berprestasi sesuai kompetensi dan mengasah karakter siswa lebih baik. Selain itu, guru juga ditantang agar menerapkan proses belajar dua arah. Proses belajar yang dapat dipahami siswa dan bukan sekadar hafalan semata. Sehingga pembelajaran dalam kelas lebih hidup dan komunikatif.
Menurut pengamat pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis, Indra Charismiadji, metode PISA dan TIMSS berupa ujian dengan soal yang mengandalkan nalar. Dia menyatakan soal-soal ini bukan tipe yang bisa dijawab dengan hafalan. “Jadi, siswa tidak bisa menyontek,” dalam Koran Tempo, Sabtu, 14 Desember 2019.
Menurutnya selama ini UN tidak dapat menunjukkan ukuran dan kualitas siswa yang sesungguhnya. Sebab, dalam banyak pengalaman ketika UN ternyata ada manipulasi. Terdapat dua konteks manipulasi yakni manipulasi negatif seperti bocoran (kunci jawaban) dan nilai serta manipulasi positif dengan model bimbel (bimbingan belajar) yang mengajarkan cara mengerjakan soal UN. Indra menuturkan adanya UN membuat anak belajar bagaimana mengerjakan soal secara cepat dibanding memahami penerapan materi yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya siswa yang dihasilkan adalah siswa yang mampu mengerjakan soal dengan cepat, tetapi gagap menerapkan materi pelajarannya dalam kehidupan nyata. Nilai bagus memang terlihat keren, tetapi jika tidak mampu mengaplikasinya dalam kehidupan nyata akan menjadi nihil. Itulah problem utama yang sedang dihadapi oleh pendidikan kita.
Salah satu contoh paling nyata saat ini adalah siswa/I Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mereka dituntut untuk mendapatkan nilai UN setinggi-tingginya, tetapi sekolah lupa untuk menyiapkan mereka kompentensi dan soft skill yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Soft skill yang seharusnya sudah diajarkan sejak bangku sekolah tidak diperhatikan.

Pemerintah malah asyik meningkatkan tuntutan mereka kepada siswa agar mendapatkan nilai bagus saat UN. Alhasil generasi yang dihasilkan adalah generasi yang penuh tekanan. Siswa tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat karena adanya tuntutan mendapatkan nilai UN yang tinggi.
Menurut Indra Charismiajdi untuk mencetak SDM unggul, yang harus diajarkan kepada generasi saat ini adalah keterampilan sosial-emosional, antara lain Problem Solving (Mampu memecahkan masalah), Ressilience (Ketangguhan), Control (Pengendalian), Teamwork (Kerja sama tim), Initiative (Prakarya), Confidence (Kepercayaan diri) dan Ethics (Etika).
Sifat-sifat tersebut harus tertanam dengan baik agar generasi masa depan yang dihasilkan baik melalui sistem pendidikan formal maupun nonformal bisa mencetak SDM unggul, yang berdaya kreatifitas tinggi dan mampu berinovasi.
Jika dilihat secara jernih UN telah membuat siswa hanya mengalir dalam sebuah sistem. Siswa dituntut mendapatkan nilai tinggi, tetapi ketika terjun ke dunia kerja malah tidak bisa melakukan apa-apa. Yang sering kita temukan adalah peserta didik hanya disiapkan untuk mengikuti UN bukan menyiapkan sotfskill dan tuntutan di dunia kerja. 
Tidak adil jika sekolah hanya menyiapkan siswanya menghafal dan mengerjakan soal-soal dengan baik tetapi tidak melatih softskill. Padahal soft sklill itulah yang dibutuhkan ketika mereka berada di luar sekolah. 

Pendidikan Seperti Apa yang Kita Harapkan?
Mencetak pemimpin masa depan sebagaimana yang disampaikan oleh Mentri Nadiem Makarim bertujuan untuk menciptakan SDM yang unggul. Sebagaimana disampaikan oleh Liputan 6.com pada Rabu (4/12/2019) semuanya diawali dengan "Kemerdekaan harus turun terus. Lembaga perguruan tinggi merdeka dari berbagai macam regulasi dan birokratisasi. Para pendidik dan dosen juga dimerdekakan dari birokrasi. Sebab kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, agreditasi tidak menjamin mutu, masuk kelas tidak menjamin belajar.”
Kita tidak bisa terus-terusan berada dalam situasi buruk seperti ini. Sistem pendidikan yang diterapkan selama ini adalah system Pendidikan untuk menyiapkan generasi pekerja. Karena itu, materi dan sistem pelajaran untuk ke depannya diharapkan agar menyiapkan siswa untuk menjadi inovator dan pencipta. Karena itu, perlu ada pembaharuan dalam pendidikan kita agar apa yang menjadi kecemasan dan harapan presiden Jokowi dapat terwujud.
Untuk memacu prestasi pendidikan Indonesia, sistem pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics atau STEAM mulai diterapkan dalam pendidikan kita. Ini merupakan sebuah model pembelajaran populer di tingkat dunia yang efektif dalam menerapkan Pembelajaran Tematik Integratif (PTI) karena menggabungkan lima bidang pokok dalam pendidikan yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, seni dan rekayasa.

Metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan enam keahlian utama bagi siswa di abad ke-21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, berpikir secara komputasional, pemahaman budaya, serta mandiri dalam belajar dan berkarir.
Pembelajaran STEAM adalah langkah selanjutnya dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan siap dalam persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, art and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan keseharian kita. Keempat bidang itu, saling kait mengait dan tak bisa berdiri sendiri. 
Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori. Padahal, keempatnya penting dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam berbagai aspek kehidupan.
Kita tidak akan mampu menciptakan 1000 startup baru jika sistem pendidikan kita masih seperti ini. Belum lagi jika kita berbicara tentang kesejahteraan guru. Atau tugas mereka yang semakin menumpuk karena tuntutan dari pemerintah yang pada akhirnya mereka tidak bisa fokus untuk mengajar. Maka masalahnya akan semakin banyak.  Karena itu, sistem pendidikan kita perlu diubah agar apa yang menjadi cita-cita bersama, yaitu Indonesia Emas di tahun 2045 nanti dapat terwujud.
Jika UN tidak mampu menghasilkan siswa yang bisa berinovasi, kolaborasi, dan pencipta, masihkah UN diperlukan?




Ola Nue Tradisi Berburu Paus Masyarakat Lamalera



Back to Nature adalah semboyan yang sering kita dengar.  Back to nature mengajak kita untuk kembali ke asal usul. Kembali ke tradisi yang mungkin mulai telah ditinggalkan. Dan semboyan ini mengajak kita untuk berbalik dan mengenal budaya atau tradisi kita masing-masing. Indonesia terlalu kaya akan budaya. Sangat disayangkan jika kita tidak mengenal budaya kita sendiri dan pada akhirnya gagap untuk menjelaskan budaya kita kepada orang lain.
Beberapa hari yang lalu beberapa teman melakukan perjalanan ke salah satu pulau di NTT. Pulau yang menyimpan sejuta pesona dan tradisi. Perjalanan yang melelahkan setelah melintasi lautan Sawu, jalanan yang cukup jelak dan savana yang indah akhirnya tiba juga di tempat tujuan.
Lamalera begitu mereka menyebutnya. Perkampungan pemburu di selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, itu dikenal karena aksi warga berburu ikan paus secara tradisional. Bagi pria Lamalera berburu ikan paus tak ubahnya bertemu leluhur yang turun ke laut.
Kampung Lamalera terbagi atas dua yaitu kampung Bawah (dekat laut) dan kampung Atas (pegunungan). Setiap suku yang ada di sana masing-masing memiliki rumah adat, rumah perahu (na jeng) dan tali penangkap paus (tali leo).


Di bibir pantai berdiri sekitar 30 rumah perahu semi permanen beratap anyaman lontar dan disangga tiang kayu seadanya. Tanpa dinding, rumah perahu yang juga disebut naje menjadi tempat melakukan berbagai aktivitas. Di situ, warga menganyam berbagai kerajinan dari daun lontar, membuat tali-temali untuk alat tangkap, dan membuat sampan yang digunakan untuk menangkap ikan-ikan kecil.
Di situlah pria Lamalera menghabiskan waktunya sehari-hari untuk mempersiapan lefa atau berburu paus entah mempersiapkan peledang (perahu) ataupun layar. 
Setiap tahun selalu ada ritual adat untuk melaut yaitu berburu paus atau dikenal dengan sebutan lefa. Tradisi melaut menjadi unik karena rentetan upacara yang harus dijalankan. Misalnya malam sebelum melaut akan ada sharing pengalaman dari tua-tua yang berpengalaman, kemudian dilanjutkan dengan upacara liturgi Katolik. 

 Ola Nue: Kekhasan Masyarakat Lamalera
Dari informasi yang diperoleh saat asyik berbincang tentang ritual penangkapan ikan paus masyarakat Lamalera diketahui bahwa ternyata periode penangkapannya hanya bulan Mei hingga Oktober. Jadi tidak setiap saat ikan paus boleh diburu.
Ada aturan tak tertulis bahwa setelah upacara dimulai hingga kembalinya para nelayan setelah berburu ikan paus tidak boleh ada pertengkaran antara suami-istri. Selain itu, tidak boleh bertengkar dengan tetangga atau dengan anak dan juga mereka harus menjaga tutur kata.
Ola nue dalam bahasa setempat diartikan sebagai kerja mencari ikan di laut. Ola Nue adalah tradisi penangkapan ikan paus yang sudah dilakukan sejak turun temurun oleh nenek moyang masyarakat Lefo Lamalera. Tradisi telah menyatu dengan nilai-nilai keagamaan sejak masuknya agama Katolik di Lembata pada tahun 1886.
Penangkapan ikan paus pun tidak dilakukan secara sembarangan. Ada aturan dan patokan waktunya. Penangkapan itu biasanya dilakukan sejak 1 Mei hingga 31 Oktober.
Sebelum melaut, pada 27–29 April, mereka melakukan upacara adat. Selanjutnya pada 30 April sore, masyarakat melakukan misa untuk memohon keselamatan bagi arwah semua orang yang meninggal di laut. Barulah tanggal 1 Mei diadakan misa memohon keselamatan bagi yang akan melaut. Nelayan Lamalera beramai-ramai melaut dan melakukan perburuan sejak tanggal 2 Mei.
Uniknya mereka hanya boleh berburu mulai hari Senin hingga Jumat karena Sabtu dan Minggu waktu untuk istirahat dan beribadah. Ikan yang ditangkap juga hanya sesuai yang dibutuhkan. Jika ikannya berontak, maka akan dilepaskan kembali. Selain itu, jenis paus yang ditangkap pun hanya paus sperma dan sedang tidak hamil.
Jika mereka tanpa sengaja menangkap ikan paus yang hamil maka di perburuan tahun berikutnya akan diadakan upacara permohonan maaf atas ketidaksengajaan itu. Tujuannya agar laut sebagai ibu masyarakat Lamalera tetap memberikan rejeki.
Para leluhur menetapkan, bahwa kotekelema dan ikan-ikan besar ditangkap untuk pau lefo (memberi makan seluruh kampung). Secara khusus disebutkan kaum kide-knuke (yatim piatu/fakir miskin) dan para janda. Dagingnya dibagikan kepada semua orang karena diyakini itu sebagai rejeki yang diberikan oleh alam semesta.


Etika ini tercermin pada pola pembagian tradisional yang memungkinkan sebanyak-banyaknya orang di kampung memperoleh bagiannya. Pada kotekelema, misalnya, selain para awak peledang, pemilik perahu, pembuat perahu, pemilik layar, juga tuan tanah (suku Langowudjo dan Tufaone).
Selanjutnya mereka yang mendapat bagian wajib memberikan juga kepada orang lain lewat bfene (pemberian kepada keluarga dekat atau orang-orang khusus), lamma (barter antara keluarga Lamalera), atau secara tak langsung lewat tukar-menukar ikan dengan rokok, tuak, dll. Konsep Ile Gole terwujud lewat barter antar-kampung.

Berburu Paus Sebagai Pertaruhan Hidup dan Mati
Saat tanggal 02 Mei ketika sang surya mengintip dari ufuk timur lamfa dan para lelaki yang akan melaut sudah bersiap di peledang masing-masing.
Peledang lalu didorong perlahan di atas balok-balok kayu yang sudah disusun. Para awak sigap meraih dayung, sambil berucap 'hilibe, hilibe, hilibe', keras kompak dan menghentak. Proses perburuan ikan paus pun dimulai.
Saat itulah awal perjuangan hidup dan mati mereka. Di tengah laut mereka akan berusaha untuk menaklukan si raksasa laut demi menghidupi masyarakat kampung. Jika berhasil menangkap seekor paus maka tugas itu telah usai.
Dengan bangga mereka akan kembali ke darat dan ditandai dengan bendera putih. Akan tetapi, jika terjadi musibah maka mereka akan pulang diiringi bendera hitam di ujung peledang.

Jika sukses dan berhasil membawa paus untuk seluruh warga kampung maka selama perjalanan menuju darat mereka akan menyanyikan lagu-lagu adat.
Di antara deburan ombak, lapat-lapat terdengar senandung pulang sang lamafa. 'Sora taran bala tala lefo rai tai/Tuba bera rai nai ribu lefo gole/Kide ina-fai tuba bera rai nai', yang berarti Kerbau yang bertanduk gading/Mari kita beranjak menuju kampung nun di sana/Seluruh masyarakat merindukan kehadiranmu/Ayo, segeralah kita ke sana.
Lantunan itu mengiringi helaan seekor ikan paus berukuran 15 meter. Ia akan memberi makan tidak hanya warga Lamalera, tetapi juga warga Lembata.

Resolusi Akhir Tahun: Antara Harapan dan Angan-angan di Tahun yang Baru



Tak terasa kita sudah memasuki penghujung tahun 2019 dan sebentar lagi memasuki tahun 2020. Telah banyak pengalaman yang sudah dilalui. Pengalaman-pengalaman selama tahun 2019 bisa menjadi momen untuk mengevaluasi diri.
Momen untuk melihat kembali apakah semua resolusi tahun 2018 lalu berhasil dijalankan atau masih ada yang lupa atau gagal. Jika itu menjadi alasannya, lakukan evaluasi diri agar tidak terjadi kesalahan yang sama di tahun yang baru.
Seperti biasa, setiap di penghujung tahun selalu ada resolusi untuk tahun yang baru. Beragam resolusi yang hendak dilakukan di tahun depan. Entah itu resolusi jangka pendek maupun resolusi jangka Panjang. Entah mengapa, kata resolusi selalu enak diucapkan di akhir tahun. Apa mungkin karena untuk mengevaluasi semua pengalaman setahun sebelumnya atau untuk sekadar menyampaikan harapan dan angan-angan di tahun yang baru.
Tujuan hidup yang lebih baik menjadi daftar yang ingin dicapai di tahun yang akan datang. Setelah berjibaku dengan semua tugas dan kesibukan, maka memasuki tahun yang baru menjadi momen untuk menyampaikan resolusi dan angan-angan yang hendak dicapai. Namun, seringkali resolusi dari tahun ke tahun tidak tercapai secara matang. Apakah resolusi hanya sebatas tradisi yang datang menjelang tahun baru?
Karena itu, alangkah baiknya kita tak perlu membuat resolusi muluk-muluk yang langsung dilupakan bahkan di pekan pertama tahun baru. Coba memulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan selama setahun. Percayalah, semua soal kebiasaan.
Biasakan diri melakukan hal-hal baik di awal tahun dan selalu ingat untuk terus memelihara komitmen. Komitmen menjadi kunci untuk meraih mimpi yang besar. Ketika komitmen terus dipelihara, yakinlah mimpi itu bisa diraih.

Alasan kita Gagal
Dari fakta yang ditemukan hanya segelintir orang yang mampu mempertahankan resolusi yang dibuat di akhir tahun. Tidak adanya komitmen, kemauan dan kepercayaan terhadap kemampuan diri menjadi senjata pembunuh yang menghancurkan rencana dan harapan. 
Keinginan untuk memperbaiki diri hanya eksis di fase awal sebagai syarat untuk menyambut pergantian tahun. Selanjutnya tidak ada langkah konkret untuk mencapai semuanya itu. Seperti halnya siklus daur ulang, evaluasi resolusi di akhir tahun akan sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah setiap tahun selalu ada ritus-ritus demikian? Hemat saya, hal itu dikarenakan sebagian besar orang belum benar-benar memikirkan tujuan mereka secara detail dan jelas. Hal inilah yang menyebabkan adanya ketidaksiapan dalam mengembangkan dan mempertahankan komitmen. Dengan kata lain, target yang dibuat terlalu tinggi atau sulit untuk dicapai sehingga hanya akan menjadi beban di tahun yang akan datang.
Pertanyaan sederhana untuk kita adalah apa yang menjadi impian atau resolusiku di tahun 2020? Silahkan dijawab dan tulis di tempat-tempat yang biasa anda lihat. Apapun resolusinya pastikan setiap langkah ke depannya dalam menggapai impian merupakan langkah-langkah yang terukur dan berada pada koridor yang benar. Pengalaman kegagalan di tahun-tahun yang lalu bisa menjadi pembelajaran agar harapan, angan-angan dan resolusi di tahun yang akan datang terwujud.
Jangan sampai setiap tahun kita menentukan resolusi dan selalu dengan semangat 45 untuk meraihnya. Namun seiring perjalanan waktu sampai akhir tahun masih sebatas keinginan hampa dan berhenti di angan-angan. Kalau pun dilakukan hanya pada minggu atau bulan-bulan awal di tahun depan.
Menjaga komitmen untuk mewujudkan resolusi di tahun baru bukanlah tugas mudah. Tapi, apapun tantangan, jika komitmen sudah dibulatkan maka semuanya bisa diraih. Waktu tidak pernah berputar ke belakang. Kita tidak bisa berteriak kepada sang empunya waktu agar waktu diputar kembali ke masa lampau agar harapan dan resolusi tahun lalu bisa diperjuangkan.
Pada akhirnya kita hanya bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya waktu yang ada. Agar di penghujung tahun tidak lagi ada penyesalah, dan sebait kata penyesalan yang selalu diucapkan, yaitu SEANDAINYA. Seandainya dulu saya melakukannya. Seandainya dulu saya mulai menyicilnya. Dan segudang seandainya lagi yang belum atau bahkan kita lupa melakukannya.
Terkadang hanya ada penyesalan di penghujung tahun. Dan penyesalan selalu pahit untuk dikenang. Karena itu, agar tidak ada penyesalan di penghujung tahun alangkah lebih elok untuk langsung gaspol di minggu pertama tahun 2020. Tetapi sebelum berbicara jauh ke sana sebaiknya perlu berpikir secara realistis ketika menuliskan resolusi tahun depan.
Sebab tidak semua rencana akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Menetapkan target kecil dan masuk akal untuk dicapai sepanjang tahun jauh lebih baik daripada segudang target yang tidak fokus. Bukan sejauh mana perubahan yang dicapai, melainkan adanya perubahan gaya hidup itu penting dan terus konsisten dalam mengusahakannya.

Beberapa Langkah yang Bisa Dilakukan
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar apa yang sudah kita rencanakan di awal dapat tercapai pada akhirnya: pertama, seperti yang telah disampaikan di atas paling utama dalam mewujudkan resolusi adalah komitmen dan konsisten. Komitmen dan konsisten pada apa yang sudah kita tulis dan tentukan agar kita pun fokus pada pencapaian target ke depannya.
Selain itu, perlu untuk proaktif dalam mengisi waktu yang ada tanpa banyak menunda-nunda. Kebiasaan menunda menjadi masalah klasik yang tak pernah lekang waktu. Seperti pepatah kuno Latin, Periculum latet mora yang berarti bahaya mengintai penundaan. Menunda menjadi pembunuh berdarah dingin sekaligus menyimpan bom waktu untuk kita semua. Jika tidak ingin gagal lagi, buanglah sejauh mungkin kebiasaan buruk ini.
Hal lain yang perlu disiapkan untuk mewujudkan resolusi tahun depan adalah memiliki kepribadian yang kokoh, tidak mudah goyah jika mengalami hambatan dan tantangan dalam meraih impian. Semua itu bertujuan agar kita melatih disiplin diri dalam menuntaskan tugas dan tidak setengah-setengah ketika melakukannya.
Pada akhirnya, semua itu perlu dilakukan secara kontinu dan berkesinambungan. Kenapa resolusi yang disarankan tidak muluk-muluk sangat luar biasa karena perlu juga mengetahui kapasitas diri. Mengetahui kemampuan diri agar resolusi itu bisa dipenuhi. Karena itu perlu aktifitas yang bisa dilakukan secara berkesinambungan untuk mewujudkan semua resolusi yang sudah dipikirkan dan diharapkan di tahun yang akan datang.

Temukan apa yang kamu cintai
Yakinlah bahwa semuanya akan indah pada waktunya
Ketahuilah bahwa kita semua punya tantangan,
Tantangan itu membuat kita lebih kuat
Karena itu cintailah apa yang kamu ingin lakukan
Niscaya itu akan membuatmu semangat melakukannya.


Beberapa Fakta Menarik Wae Rebo



Tak elok rasanya jika berkunjung ke Pulau Flores dan melewatkan kampung tradisional Wae Rebo. Keindahan alam dan pesona yang ditampilkan bisa memikat hati siapa pun. Nama Wae Rebo semakin menjulang tinggi sejak 27 Agustus 2012 lalu usai meraih Award of Excellence, anugerah tertinggi dalam UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation 2012 di Bangkok.
Penghargaan diberikan untuk Mbaru Niang (rumah kerucut) kampung Wae Rebo, sebagai bentuk pengakuan terhadap arsitektural tradisional yang tetap eksis dan dilestarikan oleh masyarakatnya.
Penghargaan diberikan berdasarkan beberapa kriteria, seperti bagaimana situs itu mencerminkan semangat local wisdom, kegunaan, kontribusinya terhadap lingkungan sekitar dan keberlangsungan budaya serta sejarah lokal.
Untuk itu, ada beberapa fakta menarik tentang Wae Rebo yang tidak diketahui banyak orang
1.      Mbaru Niang (rumah kerucut)
Mbaru niang merupakan satu-satunya warisan nenek moyang orang Manggarai yang masih bertahan hingga sekarang. Sejak tahun 1970 setelah bupati Manggarai mengumumkan agar masyarakatnya mendirikan rumah dengan gaya modern, hanya mbaru niang yang masih bertahan hingga sekarang.

2.    Usia kampung 1086
Wae Rebo ternyata menjadi salah satu kampung tertua di Manggarai. Dari hasil penelitian yang dilakukan arkeolog Jerman, usia kampung Wae Rebo 1086 tahun. Penelitian itu dilakukan terhadap compang (meja persembahan yang ada di tengah-tengah kampung) dan berhasil mengindentifikasi usia kampung itu.
3.    Asal Usul dari Minangkabau
Walaupun Wae Rebo adalah perkampungan di Manggarai, NTT, tetapi ternyata warga desanya mengklaim bahwa mereka adalah keturunan Minangkabau dari Sumatera Barat. Orang Wae Rebo meyakini bahwa nenek moyang mereka bernama Empo Maro telah berlayar dari tanah Minangkabau menuju Flores dan menetap di sana. Berdasarkan cerita yang diwariskan turun temurun, Empo Maro inilah yang merintis pembangunan kampung Wae Rebo dan bertahan hingga sekarang.
4.    Memiliki Tujuh Rumah Utama
Setiap rumah dihuni oleh enam hingga delapan keluarga. Mbaru Niang terdiri dari lima lantai dengan atap daun lontar dan ditutupi oleh ijuk. Setiap pengunjung yang datang akan dijamu dalam satu Mbaru Niang yang disediakan khusus untuk menyambut wisatawan yang datang melancong. Pengunjung akan diberikan jamuan berupa Kopi Flores sebagai minuman pembuka di Mbaru Niang ini!

5.    Salah satu desa tertinggi di Indonesia
Kampung Wae Rebo termasuk dalam daftar desa tertinggi di Indonesia. Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat Wae Rebo kerap dihiasi kabut tipis setiap paginya.
Karena lokasinya yang berada pada ketinggian, untuk bisa ke sana pengunjung harus melakukan trekking selama tiga hingga empat jam melalui medan yang cukup sulit. Karena tidak ada akses jalan raya untuk bisa ke sana.
6.    Kehidupan Masyarakat
   Wisatawan yang berkunjung kesini akan disuguhi potret kehidupan masyarakat lokal yang masih tradisional. Aktivitas harian mereka hanyalah bertani dan menenun. Kegiatan inilah yang banyak disukai oleh para wisatawan. Selain itu, para pengunjung bisa membeli kopi dari hasil tanam petani di sana, atau membawa pulang sehelai kain tenun hasil tenunan ibu-ibu di sana sebagai buah tangan.
   Demikian gambaran beberapa fakta menarik tentang Wae Rebo desa tersembunyi yang selalu menarik hati untuk dikunjungi. Keindahan alam, arsitektur rumah yang indah membuat Wae Rebo layak untuk dikunjungi.